
...****************...
Masih pagi-pagi sekali. Aku sudah mulai bersiap-siap untuk turun ke dapur. Berniat untuk menyiapkan sarapan. Tapi saat aku sudah sampai di dapur, Mama ternyata sudah menyimpan sarapan terlebih dahulu. Dan melarangku untuk membantunya. Karena takut mengotori seragam sekolahku.
"Manda bisa ganti baju dulu kok, Ma."
"Jangan!" Mama menatapku. Menunjuk kursi, menyuruhku untuk duduk dengan tenang saja.
Bukannya duduk, aku malah berdiri. Memperhatikan Mama yang sedang asik dengan kegiatan memasaknnya.
"Ma?"
"Kenapa Sayang?"
"Manda mau dong diajarin masak sama Mama. Atau kalau Mama belum sempat, Mama bisa nggak rekomendasi orang buat ngajarin Manda masak?"
Mama meletakan piring yang ia pegang. Menatapku. "Nanti Mama ajarin, plus Mama siapin orang yang bakal ngajarin kamu kalo Mama balik nanti."
"Emang Mama balik kapan?"
"Emmm." Mama berpikir sejak. "Setelah pernikahan kalian."
Aku tersenyum mendengarnya. "Jadi, Mama pulang untuk ini?"
"Tentu saja. Mama sudah menunggu ini sejak lama."
Aku bergeser mendekati Mama. Memeluknya. "Makasih ya, Ma."
"Sama-sama, Sayang." Mama balas memelukku.
"Khemm. Itu punya Zidan ya Ma. Jangan kelamaan dipeluknya!"
Huh, si Abang. Gangguin aja. Nggak tau orang yang menikmati moment berharga.
"Udah ya Manda. Tukang cemburu nanti marah." Mama mencubit pipiku sambil melirik ke arah Bang Zidan.
Bang Zidan menarik lenganku. Mengusap pipiku yang tadi dicubit Mama. "Maklumin aja ya. Mama emang gitu orangnya."
"Nggak papa kok. Nggak sakit juga."
Bang Zidan tersenyum lalu menarik kursi. Ia menyiapkan sarapan untuk Mama terlebih dahulu. Baru untukku dan terakhir aku yang menyiapkan untuk dia.
"Oh ya. Nanti siang biar Mama aja yang jemput Manda."
Aku menatap Bang Zidan. Dia mengangguk setuju.
"Nanti Zidan susul," ucapnya sambil main kode-kodean sama Mama.
"Ada yang Manda lewatkan?" tanyaku sambil melihat keduanya.
"Kejutan!"
Aku menggeleng pelan. Mama dan Anak ternyata sama saja. Sama-sama senang buat orang penasaran.
Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk membantu Mama membereskan meja makan. Dan lagi-lagi, Mama melarangku untuk mencuci piring kotor. Sebenarnya aku sangat tidak enak dengan Mama.
Beliau sudah jauh-jauh ke sini, tapi aku malah belum bisa memberikan pelayanan yang baik sebagai seorang menantu untuknya. Yang ada malah Mama yang membantuku mengerjakan tugasku.
"Hati-hati ya di jalan." Mama melepaskan pelukannya. Ia mencium keningku dan juga memeluk Bang Zidan yang sedang kambuh manjanya.
"Yang semangat, Sayang!!!"
"Pasti, Ma!" Aku melambaikan tanganku dari jendela mobil. Mama balas melambaikan tangannya, sambil memberikan isyarat ciuman dari kejauhan.
"Aku seneng liat Mama sedeket itu sama kamu sekarang." Dia menggenggam tanganku. Menciumnya. "Aku juga seneng liat kamu bisa senyum tanpa beban pikiran lagi. Yang semangat ya. Kamu pasti bisa!"
__ADS_1
Aku juga seneng. Karena sebentar lagi, alias tinggal menghitung hari. Aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa pria tampan ini adalah suamiku. Suami yang sah secara agama ataupun hukum negara.
Nggak kebayangkan gimana senengnya, bisa jalan-jalan ke mana aja tanpa harus dikira simpanan atau pun gadis nakal.
"Semangat ya jawab soalnya, Dek!" Bang Zidan mengelus-elus pipiku sambil tersenyum jahil.
"Nggak mau dipanggil Dedek Gemes lagi!!!"
"Kan sebagai Abang yang baik----" Aku meletakkan jari telunjukku di depan bibir Bang Zidan.
"Suami yang baik. Harus nurutin kemauan istrinya, oke?!"
"Siap, Buk Komandan!"
Lagi-lagi aku yang dibuat gemas sendiri dengan tingkahnya. Semakin ke sini. Kan semakin cinta jadinya.
"Ya udah, sini kiss dulu!"
Aku memajukan tubuhku. Mencium kedua pipi Bang Zidan. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia malah memberikan apa yang aku inginkan tanpa harus meminta. Memang pria peka.
Seperti biasa, dia mencium keningku, lama. Memelukku, sebagai cara paling ampuh untuk menyalurkan dan mengisi tenaga cadangan, katanya.
"Jadi gadis baik ya di sekolah!"
"Iya, Abang juga."
Aku senyum-senyum sendiri saat keluar dari mobil. Ada yang aneh rasanya, yaitu panggilan baruku ke Om Zidan. Rasanya bibirku masih sedikit berat untuk mengucapkannya. Aku sudah terlalu nyaman dengan panggilan Om Zidan.
"Nah, masih pagi, tapi udah senyum-senyum sendiri!!"
Hah. Aku langsung menoleh, menatap gadis yang baru saja mengejekku itu. "Ayu...."
Dengan gemas aku memeluknya. Lalu menarik dan mengajak dia untuk menemaniku masuk ke dalam sekolah. Bahkan meminta dia untuk mengantarku sampai depan ruang ujian.
"Ini kan hari terakhir ujianmu. Aku, Arina sama Qonita udah janjian buat nungguin kamu sampai selesai ujian. Terus setelah itu, kita pergi jalan-jalan!"
"Sussst. Udah beres semuanya. Aku udah minta izin sama Om Zidan sama Mama mertuamu juga. Santai aja!" Ayu mendorong tubuhku untuk masuk ke dalam ruang ujian.
"Good luck, Manda!!!"
Aku tersenyum. Sudah tidak bisa kujabarkan lagi seperti apa rasa bahagia yang kurasakan di pagi ini. Dulu aku pernah mengorbankan banyak waktu bersama teman-temanku demi menjaga Bang Zidan di Singapura. Dan sekarang, mereka bahkan bisa mendapatkan izin dari Bang Zidan. Tanpa ada campur tanganku. Biasanya aku izin keluar saja tidak akan semudah itu.
Di tengah-tengah ujian. Arina dan Qonita datang. Keduanya melambaikan tangan dari luar ruangan. Membuatku ingin secepatnya menyelesaikan soal. Dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan mereka.
Aku membaca dan memeriksa ulang semua jawabanku. Setalah merasa yakin dengan semuanya. Aku pun menyerahkan lembar kertas jawaban pada Bu Eka.
"Mau langsung pulang?"
"Hehehe, iya, Bu."
"Silahkan kalo begitu!" Bu Eka tersenyum. Ia menyambut uluran tanganku yang hendak bersalaman dengannya.
"Bahagia terus ya, Manda."
"Bu Guru juga. Bahagia dan sehat selalu."
Aku melangkah mundur, setalah sedikit jauh, baru aku membalik tubuhku dan membuka pintu keluar ruangan.
"Manda ..." Qonita langsung nemplok di tubuhku. Dia menggandeng tanganku, menggiringku untuk segera keluar dari sekolah. Sementara si kalem Arina dan Ayu berjalan di belakang kami. Bahkan aku belum menyapa Arina tadi, gara-gara si Qonita ini!
"Loh?" Aku heran sendiri, kenapa bisa ada mobil Bang Zidan di parkiran sekolah.
"Kan Mama udah bilang. Mama yang bakal jemput kamu!" ucap Mama yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku.
"Teman-teman Manda?"
__ADS_1
"Kita udah janjian juga kan?" ucap Mama sambil menatap ketiganya. Mereka pun mengangguk sambil tersenyum, sebagai jawaban 'iya' dari pertanyaan Mama.
"Let's go, Baby Girls!!!" Mama memakai kacamata hitamnya. Dengan anggun ia masuk ke dalam mobil. Membuat aku dan yang lainnya diam terpana melihat pesona Mama.
"Come on!"
Aku duduk di kursi depan, di samping Mama. Sedangkan Ayu, Arina dan Qonita di belakang. Sampai saat ini, aku masih belum kebayangkan. Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan dan siapkan.
Dan ngomong-ngomong. Sejak kapan ya mereka mengenal Mama?
Cukup lama aku terdiam. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku. Sekali lagi, aku melirik Mama yang terlihat sangat menikmati hari ini. Ia tampak tenang saat mengemudikan mobil. Membawa laju mobil ini menuju pusat kota.
Aku juga menoleh pada ketiga temannya. Mereka sama, terlihat santai, tenang, dan sangat menikmati perjalanan ini.
"Manda? Kenapa ngelamun?" Mama menyentuh tanganku. "Kenapa ngelamun cantik?"
"Nggak kenapa-kenapa kok, Ma. Kita udah sampai ya?"
Mama tersenyum. Ia menangkup wajahku. Membelai pipiku pelan. "Nikmati hari ini Manda. Jangan pikirin apapun lagi, hari ini spesial untukmu!"
"Silahkan keluar Tuan Putri kami!" Ayu membukakan pintu mobil untukku. Ia berdiri tegap, siap mengawal tubuhku.
"Ayo." Mama dan Arina menggandeng tanganku. Sementara Ayu dan Qonita berjalan tepat di depan kami. Layaknya seorang pengawal yang sedang mengawal Tuannya.
Kami memasuki sebuah gedung. Aku tidak tau persis ini gedung apa. Karena di depan pun tidak ada spanduk nama gedung ataupun fungsi gedung ini. Lebih tepatnya seperti gedung khusus untuk menjaga privasi.
Memasuki lorong. Lalu lurus lagi. Sampai kami berhenti tepat di depan ruangan yang bertuliskan D'N COLLECTION. Seorang wanita dengan pakaian putih biru pun menyambut kami.
Wanita itu menunduk sebagai tanda hormatnya saat bertatapan dengan Mama.
"Astrid?"
"Iya, Bu," jawab wanita itu.
"Keluarkan gaun pengantin yang saya minta!"
"Baik, Bu." Wanita itu mundur beberapa langkah, lalu berjalan memasuki sebuah ruang kaca yang dipenuhi oleh pernak pernik pengantin. Mulai dari gaun yang dipajang, sepatu hak yang di susun rapi di lemari kaca, kalung, cincin, gelang dan mahkota yang tersusun rapi juga.
Selang beberapa menit. Dia kembali lagi. Sambil membawa gaun putih panjang yang terlihat begitu i
cantik dan indah.
"Cobain dulu, Manda."
Hah?
Aku mematung sambil menatap gaun itu, namun Mama langsung menggenggam tanganku. Mengajakku menuju ruang ganti.
"Biar saya aja!" ucap Mama saat wanita tadi ingin membantu. "Soalnya ini aset penting anak saya. Lecet sedikit, akan fatal akibatnya."
Wanita yang aku ketahui namanya Astrid itu malah tersenyum malu. Ia pun dengan patuh menunggu di luar ruangan. Membiarkan Mama saja yang membantuku.
Ternyata Mama punya alasan tertentu. Kenapa tidak mengizinkannya membantuku. Mama takut, nanti dia malah salfok dengan tanda merah yang masih membekas di leherku. Bahkan masih sangat jelas.
"Kalo sama Mama sih nggak apa-apa. Mama kenal anak-anak Mama seperti apa. Tapi kalo orang lain? Kita nggak bisa nebak apa yang mereka duga dan mereka pikirkan tentang kita."
Mama tersenyum saat melihat pantulan tubuhku di kaca. "Masyaallah, cantik sekali."
"Gaunnya kan, Ma?" ucapku sambil memperhatikan diriku sendiri. Mulai dari atas sampai bawah. Rambutku jatuh terurai.
"Bukan." Mama meraih tanganku. Ia menatapku lekat. "Kamu bukan sekedar cantik fisik aja, Manda. Tapi juga hati."
"Kamu bukan sekedar mengikat Zidan dengan kecantikanmu, tapi juga dengan sifat dan hatimu."
Air mataku menetes begitu saja. Terharu dengan semua hal yang sudah Mama dan Bang Zidan siapkan selama ini untukku. Bahkan semuanya sudah 95% siap. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja.
__ADS_1
Yang paling parahnya. Ternyata undangan sudah mulai disebarkan sejak tadi pagi.