Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 06. Adiknya, ya?


__ADS_3

Manda tersenyum saat mengaitkan kancing terakhir seragam sekolah Ahkam. Ukuran seragamnya memang sedikit kebesaran, tapi tidak terlalu berpengaruh, karena Ahkam memiliki badan yang berisi dan juga tinggi, jadi mau kebesaran pun tidak masalah baginya.


Terakhir Manda menyisir rambut hitam Ahkam, lalu mengoleskan minyak wangi di seluruh tubuh Ahkam. Membuat Ahkam terlihat tampan dengan wangi yang menawan.


Karena ini adalah hari pertama Ahkam sekolah, maka Manda ingin memberikan kesan istimewa juga. Untuk hari pertama, Manda sendiri yang akan menemani Ahkam. Sama seperti saat pertama kali Ahkam menginjakkan kakinya di tempat ngaji, yang mana Zidan dengan setia menemaninya sampai selesai di sana.


"Sarapan dulu, Sayang!" Zidan menarik lengan Manda. Gadis itu terlalu bersemangat sejak tadi, ia bersemangat memperhatikan semua kebutuhan Ahkam dan perlengkapan sekolahnya mengecek ini dan itu. Sampai dia lupa kalau dirinya sendiri juga butuh diperhatikan.


"Duduk, sarapan dulu!" tegas Zidan.


Mau tidak mau, Manda kembali duduk di meja makan. Membiarkan Ahkam mengambil tasnya di dalam kamar dan memakai sepatu sendiri. Padahal Ahkam bisa melakukan sendiri, tapi Manda saja yang ingin membantu Ahkam melakukan semuanya.


"Sebagai seorang Mama, kamu butuh asupan tenaga yang lebih banyak, yang lebih bergizi!" Zidan mengarah satu suap nasi dengan lauk telur puyuh dan juga sayuran. Manda menerimanya, ia menguyah sambil menatap Zidan. Tidak salah memang Ayahnya memilih suami seperti Zidan. Pas, tidak ada kurang dan lecetnya sedikit pun.


"Habisin ini dulu!" Zidan kembali melotot, ia menunjuk sisa makanan yang belum Manda habiskan. Lagi lagi Manda mengalah, ia menerima setiap suapan dari Zidan, mengunyahnya sambil memperkirakan berapa suap lagi yang harus dia habiskan.


"Papa! Ahkam juga mau disuapin kayak Mama!" Goda Ahkam, membuat merah pipi Manda.


"Sini---" Zidan memberikan suapan terakhir untuk Ahkam, Ahkam malah berbanding terbalik dengan Manda, ia menerima suapan dari Zidan dengan penuh kebahagiaan.


"Ets... Minum dulu!" Zidan menarik ujung baju Manda. Gadis ini benar-benar ya!


"Udah tadi!" Manda melirik jam tangannya, sisa setengah jam lagi sebelum jam masuk Ahkam. Ia takut waktunya tidak akan mencukupi.


"Jangan panik begitu, Ahkam yang mau sekolah saja terlihat tenang, kenapa malah Mamanya yang panik dan mau buru-buru sampai ke sekolah?" Zidan menyodorkan segelas air lagi. Meminta Manda untuk minum sedikit saja.

__ADS_1


"Ayo berangkat!"


Zidan hanya bisa menggeleng pelan menghadapi tingkah istrinya. Sejak semalam dialah yang paling heboh, mulai dari memikirkan menu sarapan, bekal makan siang untuk Zidan, bahkan sampai menu makan malam sudah ia pikiran! Gadis itu ingin melakukan semua hal. Tanpa peduli dengan kemampuan dan tenaganya sendiri.


Hal itulah yang membuat Zidan juga harus siaga dalam memperhatikan istrinya. Zidan tidak ingin Manda sampai melupakan kesehatan dirinya sendiri.


Mobil putih yang Zidan kendarai sudah memasuki area sekolah. Bagunan dengan 3 lantai mengitari seluruh sudut sekolah ini. Di tengah-tengah terdapat lapangan yang begitu luas, lalu di sebelah kiri, di samping gedung sekolah khusus pria ada sebuah masjid besar. Dengan dua menara kembar yang menjulang tinggi.


Sekolah ini sebenarnya bukan sekolah pada umumnya. Ini lebih tepat di sebut sebagai islamic boarding school, yang mulai terdiri dari RA atau setara dengan TK, MI atau setara dengan SD, MTs atau setara dengan SMP dan terakhir MA yang setara dengan SMA. Bahkan di sini juga menerima pendaftaran untuk menetap di asrama, baik itu bagi perempuan ataupun pria. Dan dimulai dari kalangan MTs dan MA saja.


Asrama khusus untuk wanita berada di balik gerbang hijau, yang bisa dilihat dari lapangan, tempat Zidan sedang memarkirkan mobilnya. Sedangkan asrama pria berada di luar area sekolah, tepatnya di balik gedung sekolah MA. Kira-kira memakan waktu sekitar 7 menit berjalan kaki untuk sampai ke sana.


"Belajar yang rajin ya, Nak!" Zidan mengecup kening Ahkam lama. Ia tidak bisa menemani Ahkam di hari pertama sekolahnya, karena harus menghadiri beberapa rapat penting. Tapi do'a dan dukungan Zidan akan terus mengiringi setiap langkah Anaknya.


"Siap, Komandan!"


"Jaga diri kalian baik-baik. Papa sayang kalian berdua!"


Walaupun sedikit berat, Zidan tetap saja harus meninggalkan kedua orang itu. Melajukan mobil keluar dari area sekolah menuju kantor. Sebenarnya Henny sudah menghubungi dua kali, mengingatkan bahwa rapat akan segera di mulai.


"Ayo masuk!" Manda menggenggam tangan Ahkam. Menuntun Ahkam untuk memasuki sebuah ruangan, sesuai dengan apa yang tercantum di kartu identitas Ahkam, Ahkam ditempatkan di kelas A2.


"Semangat, Sayang!" Manda berdiri di ambang pintu ruangan. Memperhatikan Ahkam yang sedang mencari mejanya. Ternyata meja Ahkam terletak di baris kedua dan berada di tengah-tengah. Ahkam menoleh menatap Manda. Ia memberikan kiss jauh untuk sang Mama.


Manda sedikit mengembuskan napas lega. Hari pertama sekolah ternyata tidak seheboh yang ia bayangkan. Bahkan benar kata Zidan. Ahkam yang akan sekolah saja terlihat tenang, kenapa malah dia yang deg-degan!

__ADS_1


"Adiknya ya?" sapa seorang wali murid yang juga baru melepas anaknya ke dalam kelas.


Manda menggeleng pelan. "Anak saya!"


"Saya kirain adiknya tadi, soalnya Mbaknya masih keliatan muda banget!" sanjungnya setelah cukup lama memperhatikan penampilan Manda yang memang masih terlihat seperti remaja usia 18 tahunan.


"Dia anak angkat saya, dan yang tadi Suami saya!" jelas Manda karena takut orang itu berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Kebetulan Manda sempat melihat orang ini memperhatikan sejak Ia dan Zidan keluar dari mobil.


"Oooo, pantesan. Nama saya Desi, panggil aja Mbak Desi!" ucapnya sembari menjulurkan tangan pada Manda.


"Manda, senang bertemu dengan Mbak Desi!"


Keduanya memutuskan untuk duduk di kursi yang memang khusus disediakan untuk wali murid. Mbak Desi menceritakan sedikit tentang anak keduanya, yang sedang ia tunggu sekarang ini.


Ia menceritakan bahwa anaknya memiliki kelainan mental. Anaknya mudah panik dan takut jika ditinggal sendirian dengan orang-orang asing. Hal itulah menjadi alasan, kenapa Mbak Desi harus sampai menuggunya sampai pulang sekolah.


Manda sendiri mengakui alasannya kenapa ia memilih menemani Ahkam. Karena ia ingin selalu ada di setiap langkah Anaknya. Sama seperti Zidan yang selalu berusaha untuk selalu selangkah dengannya.


Mbak Desi yang mendengar itu pun tersenyum, jarang sekali ia bertemu dengan tipikal orang tua seperti Manda. Terlebih lagi Manda hanyalah orang tua angkat bagi Ahkam.


"Belum ada niatan kasih adek buat Ahkam?" tanya Mbak Desi, ia berani bertanya seperti itu karena melihat Manda tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain.


"Do'ain aja ya, Mbak!" jawab Manda. Sebenarnya dia sendiri belum berpikir ke sana. Mengurus Ahkam dan Zidan saja lumayan menguras tenaganya. Tapi jika memang sesuatu saat ia diberikan kepercayaan untuk merawat anaknya sendiri, Manda akan sangat senang dan menerimanya dengan sepenuh hati.


Kalau kata Zidan. Jalani saja, gimana pun ke depannya. Intinya kita akan terus bersama, melangkah menuju satu tujuan yang sama!

__ADS_1


__ADS_2