Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
LAA TAHZAN


__ADS_3

Rintihan tangisannya begitu menyayat hatiku. Dia duduk dengan memeluk bocah kecil itu, satu tangannya lagi mengusap perutnya yang jelas terlihat besar.


Ingin sekali aku menghampirinya. Menenangkan dan juga menyemangatinya. Namun apa daya, tubuhku sendiri jatuh lemah dalam pelukan Kak Henny.


Dokter baru saja mengabarkan kepadanya. Bahwa suaminya juga tidak bisa diselamatkan. Karena mengalami pendarahan yang sangat parah di bagian kepala.


Mendengar kabar itu, membuat tangisannya dan anaknya semakin menjadi-jadinya. Tentu saja, istri mana yang rela ditinggal pergi oleh suaminya dalam keadaan hamil seperti itu? Nggak ada satu pun wanita yang menginginkan hal itu, termasuk Aku!


"Kasian dia," lirihku, mataku masih menatap ke arah Ibu dengan gamis hitam yang duduk tidak jauh dariku.


Dia dan anaknya terlihat sangat terpukul dengan kepergian sang Ayah. Bocah laki-laki yang aku perkirakan berusia sekitar 5 tahun itu terus menangis. Memaksa sang Ibu untuk mengantarnya melihat sang Ayah.


"Manda." Kak Henny tiba-tiba semakin mendekap tubuhku. Seolah-olah dia sedang menjadi benteng pelindung bagi tubuh lemah ini.


"Henny! Zidan mana!"


Aku tersentak begitu mendengar suara Mama. Ya, aku kenal betul suara itu.


Dan memang benar, Mama dan Stella sudah berdiri di hadapan kami berdua. Stella menatapku seakan-akan aku yang telah melukai Kakaknya.


"Tenang, Tante. Kak Zidan masih ditangani oleh Dokter!" ucap Kak Henny.


"Ma... ini semua gara-gara gadis pembawa sial ini! Sejak kehadiran gadis ini, Kak Zidan selalu kena sial! Dasar gadis licik pembawa sial!"


Dengan tatapan tajam Stella berkata. Jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajahku.


"Harusnya, Kak Zidan nggak pernah nikahin kamu!"


"Stella, jaga ucapanmu!" Bentak Kak Henny sembari menepis telunjuk Stella dari hadapanku.


"Kenapa? Mau belaian dia? Silahkan! Belain aja! Tapi asal Kak Henny tau! Sampai kapan pun aku nggak akan pernah nganggep dia sebagai bagian dari keluarga kita!"


Stella menghentakkan kakinya. Lalu memilih untuk duduk di kursi yang berbeda.


"Kamu!"


Mama juga menatapku dengan tatapan yang tak jauh berbeda dengan Stella. Masih dengan tatapan seperti saat Om Zidan mengenalkanku padanya dulu. Tatapan tidak suka.


"Sudah Manda, jangan dengerin kata Stella!" ucap Kak Henny.


"Iya, Kak. Manda udah biasa!"


Bohong jika aku berkata, kalo aku aku tidak tersakiti dengan apa yang Stella katakan tadi. Tapi mau gimana lagi? Aku nggak bisa maksa dia buat suka dan menghargai aku.

__ADS_1


Oleh sebab itu, biar aku aja yang diam dan sabar atas semua perkataan dan perlakukannya. Karena aku yakin, akan ada saat di mana dia sendiri yang akan menghapus semua kebenciaan di hatinya itu.


Kapan saat itu? Entah, aku sendiri nggak tau.


"Keluarga pasien atas nama Zidan?" tanya Dokter.


"Saya, Dok!" Mama langsung berdiri, menghampiri Dokter.


"Bisa ikut saya sebentar?"


"Iya."


Mama dan Stella mengikuti langkah Dokter tadi. Sementara Aku, aku masih mematung nggak bisa berbuat apapun di sini.


"Sabar, ya. Kakak ngerti kok perasaanmu saat ini!"


Iya. Semua orang pasti akan mengatakan itu. Mereka pasti akan mengatakan, kalo mereka mengerti dengan apa yang kita rasakan saat ini. Tapi, jika mereka di posisiku saat ini, apakah mereka masih sanggup untuk mengucapkan kata 'Sabar, ya?'


.


.


.


.


"Zidan masih belum sadar sampai sekarang. Dia mau Tante pindahin ke rumah sakit keluarga. Supaya dapat perawatan yang lebih baik!" tegas Mama.


"Di sini masih bisa kan, Tan. Kenapa harus dipindahin?"


"Di sini? Kamu yakin di sini ada yang jagain Dia? Kalo kamu ngarapin gadis ini-" Mama menunjukku. "Nggak mungkin! Dia nggak mungkin bisa!"


"Urusan sekolah aja belum kelar!" Sahut Stella.


Tenang Manda. Tenang, jangan kepancing, oke!!


"Ma..." Aku mencoba menyentuh tangannya. Tapi Mama mundur. Menjauhkan tangannya dariku.


"Kali ini. Manda mohon, kasih Manda kesempatan buat jagain dan ngerawat Suami Manda. Manda janji, Manda nggak akan ninggalin dia sendiri di sini!"


"Heh, terus sekolahmu? Kamu mau apain?" tanya Stella.


"Tan, Henny juga bisa gantiin Manda---"

__ADS_1


"Nggak. Kamu tetep fokus sama Kantor! Biarin dia yang tanggung jawab dengan ucapannya! Kamu mau Zidan tetap dirawat di sini kan?"


"Iya, Ma."


"Baiklah, Saya nggak akan pindahin dia sampai minggu depan. Tapi kalo sampai minggu depan keadaannya belum membaik juga. Jangan harap kamu bisa lagi ketemu sama anak saya!"


"Kamu dengarkan Mama ngomong apa!" Bentak Stella.


"Ya, aku denger!"


"Bagus deh!"


Setelah puas menatapku. Stella akhirnya pergi. Menyusul Mama ke ruang rawat Om Zidan. Yang bahkan aku sendiri belum diberi izin untuk masuk ke sana.


"Manda kamu mau ke mana?" Kak Henny menarik tanganku. Mencegahku untuk pergi.


"Manda mau ke Mushola, Kak. Sebentar lagi adzan!"


Aku menatap Kak Henny. "Om Zidan pernah bilang. Sebaik-baiknya pengaduan adalah pengaduan seorang hamba pada Rabb-nya!"


Kak Henny melepaskan tanganku seketika itu juga. "Silahkan!" Dia tersenyum padaku.


...----------------...


Ya Rabb, Hamba datang memenuhi panggilan dari-Mu. Engkaulah Dzat yang Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui Segalanya.


Wahai Dzat yang Maha Perkasa, Lindungilah kami, Hamba-Mu yang lemah ini. Berikanlah kami kesabaran, kekuatan dan keikhlasan dalam menghadapi semua ujian yang Engkau berikan.


Berikanlah kesembuhan bagi Suami Hamba. Dengan Kasih Sayang dan Pertolongan-Mu. Izinkan dia bersama lagi dengan kami. Izinkan lagi Hamba melihat senyumannya. Mendengar perkataannya. Dan izinkan lagi Hamba untuk tetap bersamanya. Aamiin.


Aku segera menyeka air mataku. Dan bersegara untuk kembali lagi ke rumah sakit.


"Dek!"


Seseorang memanggilku. Aku pun menoleh dan menghampirinya. Saat aku hendak bertanya ada apa? Ibu Bergamis Hitam itu tiba-tiba saja memelukku, mengelus pelan punggungku. Dan dia membisikkan kata-kata yang membuat bangkit kembali semangatku.


"Laa Tahzan, Innaallaha Ma'ana! Jangan sedih, ya. Allah bersama kita!"


Aku tidak pernah menyangka. Kalo Dia, orang yang sama sekali aku tidakak tau siapa namanya dan dari mana dia. Yang bakal merangkulku seperti ini. Bahkan orang yang sudah lama aku kenal, dia yang malah menjatuhkanku.


Tapi apapun yang udah Mama ataupun Stella katakan dan lakukan padaku, aku maafin. Karena gimana pun. Mereka tetap keluargaku. Dan lebihnya lagi. Aku bukanlah siapa-siapa yang berhak menghakimi kesalahan mereka. Biarlah itu menjadi urusan mereka dengan Rabb Yang Maha Adil Dan Maha Bijaksana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2