
Arina pernah berkata kepadaku, bahwa obat bagi hati yang sedang gelisah adalah membaca Al-Qur'an. Maka dengan itu, disinilah aku. Duduk di atas sajadah, mengadu pada Rabb-ku. Mengadukan segala kegelisahan di hati dan juga pikiran. Dengan ditemani heningnya malam dan sebuah cahaya redup lampu tidur dari arah kamar.
Detak jantungku semakin kencang ketika membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ia seolah mengirimkan sinyal ketenangan dan juga kedamaian. Menghilangakan semua rasa gelisah, sedih, dan takut. Mereka lenyap, entah kemana.
Bersamaan dengan tertutupnya mushaf ini, sebuah sentuhan lembut di bahuku pun mulai terasa.
"Kenapa nggak bangunin aku?" Suara yang tidak lagi familiar itu bertanya dengan penuh kelembutan.
"Manda cuman nyari ketenangan dan kekuatan. Maaf kalo ganggu...."
Deg. Jantungku kembali berdetak kencang. Ketika kedua tangan kekar itu merengkuh tubuhku. Membawa tubuh ini ke dalam pelukan hangatnya.
"Sekali lagi maaf, aku minta maaf...."
Penyesalan yang amat sangat bisa aku rasakan saat mendengar nada bicaranya. Tapi percuma saja. Semua sudah terjadi. Nggak ada yang perlu disalahkan dan disesalkan sekarang. Yang perlu kita lakukan sekarang, menguatkan diri untuk menghadapi apapun yang akan terjadi nanti!
"Manda faham, Om Zidan ngelakuin semua ini demi Manda. Manda faham itu. Dan satu hal lagi. Manda percaya kalo Om Zidan nggak akan pernah ngambil keputusan, sebelum Om Zidan yakin, kalo itu yang terbaik buat Manda!"
Aku berusaha untuk menatap wajah Om Zidan. Hingga mataku terkunci dalam tatapan hangat netra hitamnya.
"Manda nggak pernah nyalahin Om Zidan. Apa yang Om Zidan katakan tadi emang bener. Semua emang harus diperjelas, 'kan? Manda juga tau, Om Zidan pasti nggak mau ada kesalahpahaman. Tujuan Om Zidan hanya satu, buat ngelindungi Manda. Bener, kan?"
Hening. Nggak ada jawaban dari Om Zidan.
"Om Zidan, orang yang paaaling Manda sayang. Jangan ngerasa bersalah lagi, ya? Jangan ngerasa, kalo Om Zidan nggak bisa nepatin janji Om Zidan lagi. Biarin yang udah terjadi tadi, jadi pelajaran buat kita. Jadi penguat hubungan kita. Karena Manda yakin, pasti ada hikmah di balik kejadian tadi. Manda yakin itu!"
"Makasih, Sayang!" Tangan kekarnya kembali menarik tubuhku. Erat sekali. Dan aku sendiri hanya bisa tersenyum dalam pelukannya.
Di sini, bukan hanya Om Zidan yang harus jadi penguat. Melainkan aku juga. Aku tau, saat ini dia pasti dihantui rasa bersalah yang amat besar. Dan aku, aku nggak boleh egois, dengan ikut nyalahin Om Zidan. Karena seharusnya akulah yang menjadi obat ketenangan baginya. Sama seperti dia, yang selalu menjadi pelipur rara bagiku.
Kadang, ada saat di mana keadaaan memaksa kita untuk berpikir dan bertindak dewasa. Belajar untuk menurunkan dan membuang ego kita.
Seperti saat ini contohnya. Jika aku bertindak seperti bocah, maka habislah aku dan Om Zidan. Hancurlah semua hal yang ada di antara kita. Dan tentu saja, aku nggak mau semuanya hancur dengan semudah itu. Terutama hanya karena sebuah konflik yang nggak sebesar perasaan cinta dan sayangku pada Om Zidan.
Mari kita lupakan semuanya. Dan kita mulai hari esok dengan pribadi yang lebih baik lagi. Yang lebih dewasa lagi.
......................
Om Zidan menangkup kedua pipiku dengan tangan kekarnya. Menatapku dengan senyum indah yang menghiasi bibirnya. Lalu dia memberikan sebuah kecupan hangat di dahi, seperti biasa. Sebagai tanda perpisahan di antara kita. Bukan, maksudku sebagai sumber tenaga saat kita tidak bersama.
"Belajar yang rajin. Jaga dirimu.... Aku sayang kamu!"
__ADS_1
Ucapannya membuatku tersenyum malu.
"Om juga, hati - hati di jalan. And--" Aku sedikit memajukan tubuhku.
"I Love You, Sayang. Muach!" Aku langsung menjauh begitu berhasil mengecup pipinya. Dia malah tersenyum sambil menunjuk bibirnya.
"Yang ini?"
"Apaan sih, Om!" Aku mencubit lengan Om Zidan sambil menggeleng, dengan pipi yang mulai panas karena malu.
"Ya udah, masuk sana!" ucapnya. Bukannya pantuh, aku malah tetap membeku, sampai akhirnya mobil hitam yang ia kendarai hilang dari pandanganku.
"Dor!"
Suara cempreng Qonita mengagetkanku. Eh bukan hanya suaranya saja ternyata. Tapi juga penampilan barunya.
"Alhamdulillah, ya Allah..." ucapku sebagai tanda syukur melihat Qonita menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dia terlihat semakin cantik dan manis dengan hijab putihnya.
"Jangan dibuly, ya?"
"Nggak bakal! Nggak bakal ada yang yang ngebully kamu! Kecuali orang yang benci sama kamu!"
Aku berdoa semoga Qonita, aku atau kita semua diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah dalam menunaikan kewajiban kita. Aamiin.
......................
Entah kenapa sejak bel pergantian pelajaran kedua terdengar, aku tiba-tiba saja merasakan perasaan gelisah yang begitu jelas. Ditambah lagi, aku langsung teringat pada Om Zidan.
Dalam hati, aku tak henti berdo'a semoga Om Zidan baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya atau pada perusahaannya.
Saat Pak Hakam hendak menjelaskan materi baru. Bu Diah pun membuka pintu kelas. Beliau izin untuk masuk dan menyampaikan sesuatu pada Pak Hakam. Terlihat serius sekali.
"Annisa Amanda?" Panggil Pak Hakam begitu Bu Diah selesai bicara.
"Saya Pak?"
"Ikut Bu Guru, Nak!" ucap Bu Diah pelan.
Tanpa banyak bertanya, aku segara merapikan buku matematika dan mengikuti langkah Bu Diah menuju ruang guru.
Loh, Kak Henny? Apa yang dia lakuin di sini?
__ADS_1
Pertanyaan itu langsung muncul di benakku. Ketika melihat Kak Henny duduk di ruang guru.
"Kak?" sapaku. Tapi Kak Henny hanya membalasnya dengan senyuman. Namun bukan senyuman yang menunjukan kebahagiaan.
"Sekali lagi maaf ya, Bu. Saya izin jemput Manda," ucapnya
"I-iya. Silahkan, udah saya sampaikan juga pada wali kelasnya," jawab Bu Diah.
Entah benar atau tidak. Aku tadi sempat melihat ada pancaran kesedihan di netra Bu Diah. Ada apa dengannya?
"Ayo, nanti Kakak jelasin!"
Hah? Ada apa ini? Apa yang mau Kak Henny jelasin. Dan kenapa aku harus izin pulang cepat hari ini?
Aku pamit pada Ayu dan Arina. Ketika mereka bertanya ada apa? Aku pun hanya diam karena aku sendiri nggak tau ada apa!
Aku menatap Kak Henny dengan beberapa pertanyaan yang terus bermunculan di pikiranku. Dengan pelan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya, "Kak, sebenernya ada urusan apa? Kenapa sampai Kakqk yang jemput aku ke Sekolah? Kenapa bukan Om Zidan?"
Aku bisa mendengar Kak Henny menarik napas begitu dalam, sebelum dia mengucapkan kata-kata yang berhasil membuatku terdiam seribu bahasa.
"Tadi, pihak rumah sakit menghubungi Kakak. Mereka meminta Kakak datang ke rumah sakit. Em, Kak Zidan. dia mengalami kecelakaan beruntun sekitar satu jam yang lalu."
Sakit, perih, sesak. Semua rasa itu menghatap hatiku. Menghancurkannya, sama seperti saat di mana Ayah dan Ibu meninggalkanku.
Bibirku terasa kaku. Sementara air mata terus menetes, membasahi pipi dan juga hijabku.
"Ya Rabb, kali ini, aku benar-benar berserah diri pada-Mu. Aku yakin, Engkau lebih tau apa yang terbaik untukku. Tapi, jika boleh aku meminta, tolong.... Jangan dulu Engkau ambil Om Zidan dariku."
...----------------...
...Flash back...
Sekitar satu jam yang lalu.
Sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah timur. Sementara seorang pengendara motor tiba-tiba memutar arah, hendak kembali ke jalur kiri. Namun sayang, truk yang sudah melaju kencang itu malah menabrak sang pengendara motor dan sebuah mobil hitam yang sedang melaju di depannya. Sampai mobil itu terpental hingga pinggir jalan. Sedangkan truk terus melaju hingga menabrak beberapa tiga pengendara lain di depannya.
Seorang pria di dalam mobil hitam itu sempat berusaha untuk keluar. Namun semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap. Dia kehilangan kesadarannya.
Semua orang yang berasa di sekitar lokasi kejadian langsung bergegas untuk menyelamatkan para korban. Satu hal yang mereka sangat sesalkan. Mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa sang pengendara motor. Dia menghembuskan napas terakhirnya sebelum ambulans datang.
...----------------...
__ADS_1