
...----------------...
...Singapura, 28 April....
Dua minggu berlalu. Keadaan Zidan mulai membaik dan terus membaik. Tapi tidak dengan hatinya. Hatinya terus berteriak. Memberontak karena tak kuasa lagi menahan kerinduan pada gadis kecil yang entah di mana keberadaannya saat ini.
Dua minggu juga Melinda menyaksikan sendiri. Betapa hancur putranya tanpa kehadiran Manda. Keadaannya yang sekarang, jauh lebih parah bagi Melinda, dari pada saat dia sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Putranya yang sekarang sudah bagaikan jasad saja. Yang pikirannya entah melayang ke mana.
"Ma... Aku berangkat!"
"Mama ikut!" Melinda menghentikan langkah Zidan. Menatap putranya itu dengan penuh permohonan. "Izinin Mama untuk memperbaiki semuanya!"
"Mama yakin?"
"Ya, Mama yakin!"
Keduanya langsung melakukan penerbangan dari Singapura menuju Indonesia. Dengan tujuan yang sama. Yaitu mencari keberadaan Manda.
...----------------...
......................
"Aku janji akan jadi wanita yang kuat. Aku janji akan terus berjuang untuk Om Zidan. Aku sayang Om Zidan!"
Kata-kata itu terus terngiang dalam ingatanku. Seolah-olah mengingatkanku tentang semua janji yang sudah aku katakan pada Om Zidan. Janji yang aku buat dan aku ingkari sendiri sekarang.
"Sayang!" Aku terbangun dari tidurku. Mendekap tubuhku yang kurus ini. Saat aku menatap sekitar, ternyata aku masih sendiri di sini. Masih sendiri.
Sejak pulang dari Singapura. Aku memutuskan untuk tinggal di Villa. Villa yang Om Zidan berikan. Tempat yang tidakk akan ada lagi orang yang menghinaku atau bahkan menyakitiku lagi dengan kata-katanya.
Namun Villa ini juga sangat menyakiti hatiku. Terutama kamar ini. Kamar yang menjadi saksi kisah cinta kami.
Dan sejak kembali dari Singapura. Aku tidak pernah lagi memegang Handphone. Atau bahkan sekedar menanyakan keadaan Om Zidan. Mungkin, tidak ada satu orang pun yang tau, di mana keberadaanku sekarang.
......................
...----------------...
...Indonesia....
Mobil yang dikemudikan oleh Henny terus melaju menuju kediaman teman-teman Manda. Mengetuk pintu satu persatu. Menanyakan di mana keberadaan gadis itu.
Namun jawaban yang mereka dapatkan masih sama. Tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Manda. Sampai akhirnya, Zidan teringat dengan satu orang lagi.
"Gilang, apa mungkin Manda bersamanya?"
Tanpa pikir panjang lagi. Zidan langsung menghubungi Vino. Meminta nomor Gilang.
Saat sudah tersambung dengan orang yang ia cari. Zidan pun meminta Gilang untuk menemuinya sekarang juga. Atau dia yang akan menemui remaja itu.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanpa basa-basi Gilang langsung menanyakan apa tujuan Zidan ingin bertemu dengannya.
"Di mana istriku?!"
"Siapa? Manda? Aku nggak tau!"
"Bohong!" Bentak Zidan frustasi.
"Jadi, Anda pikir istri Anda sudi menghubungi saya? Anda pikir istri Anda akan berpaling semudah itu dari Anda?" Gilang menepuk bahu Zidan pelan.
"Saya yakin. Hanya Anda yang tau, di mana Istri Anda sekarang. Bukan kah Anda tau betul, tempat mana yang menjadi tempat ternyaman baginya?"
Remaja itu berlalu setelah mengatakan hal itu pada Zidan. Pelan, dia menyeka air mata yang hendak jatuh ke pipinya.
Dari perkataan Gilang. Zidan menemukan satu harapan lagi.
"Villa!"
Mobil itu langsung melesat menuju Villa. Jika bisa, Zidan ingin langsung sampai di sana. Dan bertemu dengan kekasih hatinya.
...----------------...
......................
"Sayang, bangun!"
Aku tersenyum saat mendengar seseorang menyatakan itu. Aku tau, ini pasti hanya Halusinasiku saja. Oleh sebab itu, aku hanya tersenyum. Tanpa berniat untuk membuka mata. Takut semua halusinasi ini hilang. Meninggalkanku.
"Sayang, bangunlah!"
"Bangun, atau aku akan menciummu!"
Miris, serindu inikah aku. Sampai aku merindukan sentuhan dari bibirnya itu.
Muach.
Deg. Mataku langsung terbuka begitu merasakan kecupan hangat jatuh di atas bibirku.
"Masih mau tidur lagi?" Pria yang sangat aku rindukan itu bertanya kepadaku. Dia menatapku.
Nyata. Tatapannya begitu nyata!
Untuk memastikan apakah dia nyata. Aku mencoba untuk menyentuh wajahnya. "Ini bukan mimpi?"
"Bukan, ini Aku, Sayang. Suamimu, Om Zidanmu!"
"Sungguh?"
"He'em. Sungguh, ini aku!"
Dengan penuh kerinduan aku memeluk tubuhnya. Memeluk dia sekuat tenaga yang tersisa. Aku katakan tidak, sekali lagi tidak. Aku tidak ingin kehilangan dia!!
__ADS_1
"Berani sekali kamu pergi tanpa izin dariku!" bisiknya lalu mengigit pelan telingaku.
Aku sendiri masih enggan menjawab ucapannya. Untuk saat ini, aku hanya ingin dia. Cukup dengan kehadirannya!!
"Jangan pergi lagi, ya?!"
Gelap. Semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap. Aku tidak bisa lagi mendengar dan melihat apapun lagi setelah itu.
...----------------...
......................
"Manda. Sayang!" Ayah memanggilku. Beliau tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku. Di samping Ayah juga ada Ibu. Yang sama-sama mengulurkan tangannya mereka ke arahku.
Namun, di saat aku hendak menyambut uluran tanganya mereka. Mereka malah menjauh.
"Ayah... Ibu..." Aku berlari mengejar kedua orang yang kusayangi itu. Tapi keduanya terus saja menjauh. Semakin jauh. Tidak menghiraukan teriakanku yang terus memanggil nama mereka.
Sedangkan di sisi yang berbeda. Ada Suamiku yang terus melambaikan tanganya ke padaku. Meminta agar aku berjalan ke arahnya.
"Ayah? Ibu?" Aku memutar tubuhku ke suruh sisi. Mencari sosok yang aku rindukan itu. Tapi mereka hilang. Benar-benar hilang sekarang.
Dan pada akhirnya, aku melangkah mendekati Suamiku. Menjatuhkan tubuhku pada pelukan hangatnya.
......................
...----------------...
"Manda... maafin Mama, ya? Maafin semua perkataan dan perbuatan Mama selama ini."
Pelan, tapi jelas, aku mendengar seseorang mengatakan itu. Perkataan yang membuatku ingin kembali membuka mata, dan melihat siapa yang mengatakan hal itu. Apakah dia benar Mama Mertuaku?
Aku tersenyum saat melihat Mama duduk di sampingku. Dia juga ikut tersenyum melihatku.
"Zidan... Zidan... Manda sadar!!" Teriak Mama. Membuat sosok pria yang aku sebut sebagai Suamiku itu langsung duduk di sampingku.
Dia menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mengelus kepalaku. Sekali-kali ia menatapku, mencium kening, tangan dan kedua pipi yang tak lagi berisi ini.
"Jangan. Jangan pernah berpikir untuk pergi. Aku nggak setegar kamu. Aku nggak sekuat kamu. Jadi, aku mohon... Jangan sekali-kali berpikir untuk pergi meninggalkanku!!"
Aku menoleh ke sisi kanan. Menatap Mama yang masih duduk di sampingku.
"Silahkan, Mama merestui kalian!!"
Aku menyatakan ini adalah sebagai sebuah keajaiban, yang disebut sebagai buah dari kesabaran seseorang.
Sekarang aku benar-benar percaya. Bahwa siapa saja yang sanggup menunggu terkabul do'a dengan kesabaran. Maka dia akan mendapatkan lebih dari apa yang dia harapkan.
"Mama sayang kalian!"
Sebuah pelukan hangat dari seseorang Mama mertua akhirnya bisa kurasakan sekarang. Walau untuk mendapatkan pelukan Ini, butuh pengorbanan dan penantian yang cukup menyakitkan.
__ADS_1
Tapi tidakak apa-apa. Aku ikhlas dengan semuanya. Dan juga sangat bersyukur dengan Kasih Sayang Sang Maha Kuasa. Yang sudah berkenan mengabulkan do'a Hamba-Nya.
...----------------...