
"Sayang, bangun. Aku di sini!"
Gemetar tanganku menyentuh wajah pucatnya. Wajah tampan yang biasanya tersenyum itu kini hanya terpejam tanpa ingin menyapaku. Tangan kekar yang selalu memelukku itu, tidak lagi bergerak untuk memeluk dan menyentuh pipiku. Tidak lagi mengusap setiap tetes air mata yang jatuh ini. Dia masih terpejam tenang. Sama sekali tidak terganggu oleh sentuhan tanganku.
"Kapan mau bangun?"
Aku terus bertanya. Walau aku tau. Dia tidak akan menjawab pertanyaanku. Jemariku aku arahkan untuk mengelus rambut hitamnya.
"Sayang, jangan lama-lama ya tidurnya. Nanti aku kangen lo," bisikku pelan. Berharap dia bisa mendengarnya.
Aku tidak pernah bayangin sebelumnya. Kalo kecupan tadi pagi adalah kecupan yang sangat berharga. Sampai-sampai aku sendiri tidak tahu, kapan lagi aku bisa merasakan kecupan hangat bibirnya.
Jemariku berpindah menyentuh keningnya. Ada tujuh jahitan di sana. Tepat di atas alis kirinya. Dengan pelan, aku menunduk, mengecup keningnya, menyalurkan tenaga. Seperti yang sering dia lakukan saat aku sakit dan dalam perawatannya.
"Manda?" Panggil Kak Henny pelan.
Aku melepaskan tangan Om Zidan dari genggamanku. Menyeka air mata ini terlebih dahulu.
"Ya, Kak?"
"Ayo makan, Kakak bawain makanan kesukaanmu. Dan ini, baju ganti untukmu." Kak Henny meletakkan kotak nasi di atas meja. Lalu menyerahkan tas yang berisi baju ganti padaku.
"Makasih, ya Kak."
"Ya, sama-sama, Manda. Kamu ganti baju dulu, terus makan, Ya! Kakak mau balik ngurus kerjaan di kantor dulu! Nanti kalo ada apa-apa, langsung hubungi Kakak!" Tegasnya.
"Iya, Kak."
"Ya udah, Kakak keluar dulu."
Aku tersenyum melihat kepergian Kak Henny. Setidaknya masih ada dia yang baik dan perhatian padaku saat ini.
Ternyata aku salah, jika aku mengganggap hanya Kak Henny yang perduli padaku. Aku salah besar tentang hal itu! Aku lupa, aku masih memiliki sosok sahabat sebaik Ayu dan Arina. Keduanya datang mengunjungiku. Memberikan semangat, bahkan menemaniku sampai Kak Henny pulang dari kantor.
"Kamu yakin mau nginep di sini?" tanya Kak Henny khawatir.
"Manda yakin, Kak!"
"Terus sekolahmu?"
__ADS_1
"Manda izin." Aku tertunduk saat mengatakannya.
"Sampai kapan? Sampai Kak Zidan sadar? Iya?"
Entah keberanian dari mana. Aku yang awal menciut tiba-tiba kembali menegakkan pandanganku.
"Mau gimana lagi, Kak? Manda nggak mau, Mama misahin Manda sama Suami Manda. Manda nggak mau Kak!"
"Tapi-- Sekolahmu juga penting Manda!"
"Untuk saat ini. Om Zidan yang lebih penting. Manda nggak mau pisah dari dia!"
Tubuhku jatuh ke atas sofa. Membayangkan perpisahan dengannya saja aku sudah tidak mampu. Apalagi sampai hal itu terjadi. Entah, aku tidak tahu seperti apa hidup tanpa dia.
"Oke-oke, Kakak nggak akan maksa kamu. Tapi kamu harus janji ya sama Kakak! Setelah Kak Zidan sadar nanti, kamu harus lebih semangat lagi sekolah, oke?!"
"Insya Allah."
Satu minggu. Aku punya waktu satu minggu. Urusan sehat, sakit dan sembuh memang ada di tangan Yang Maha Kuasa. Tapi apa salahnya, jika aku tetap menemani dia di sini. Tetap berada di sisinya, di saat dia terbaring lemah tak berdaya seperti ini!
Hari-hari berikutnya, ***** makanku mulai berkurang. Bahkan tidurku mulai terganggu. Bagaimana tidak, sudah 5 hari aku menunggu Om Zidan kembali menyapaku. Tapi nihil, dia masih terpejam tenang seperti hari-hari sebelumnya.
Tiga hari yang lalu, pernikahan Stella tetap dilaksanakan walau tanpa Om Zidan. Dan seperti yang sudah kuduga. Stella tetap saja menyalahkanku atas semua kejadian yang menimpa Kakaknya. Ternyata bukan hanya Stella, tapi hampir setengah orang dari bagian keluarga besar Om Zidan menudingku sebagai gadis pembawa sial.
"Sayang, aku udah ngalahin kamu lo. Masa aku udah di juz dua belas. Dan kamu masih di juz satu aja? Ayo bangun, aku udah bawain Al-Qur'anmu! Katanya dia kangen lo sama Kamu!"
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali.
"Awas aja ya! Aku bakal kasih hukuman yang berat buat kamu!"
Aku mendekap Al-Qur'an miliknya dengan erat. Karena aku tidak kuat lagi menahan perasaan sakit dan sesak yang memenuhi dada ini. Dalam diam, air mataku terus berjatuhan. Aku menangis tanpa berani mengeluarkan suara.
"Icha?"
Aku berbalik begitu merasakan seseorang menyentuh pundakku.
"Bu Guru?"
Bu Diah, aku tidak tau sejak kapan dia di sini. Aku tidak tau juga sejauh mana dia mendengar ucapanku tadi. Tapi satu hal yang membuatku terharu. Bu Diah ternyata datang untuk menyemangatiku. Dia memelukku penuh kelembutan.
__ADS_1
"Saya nggak nyangka. Selama ini saya menyukai suami anak didik saya sendiri." Dia tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Jadi Ibu tau?"
"Iya. Maaf ya. Sebenarnya saya ke sini setiap hari. Dan setiap hari juga, saya melihatmu seperti ini. Jadi nggak salah, jika orang seperti Zidan mendapatkan gadis sebaik kamu juga!"
Entah mengapa, ada perasaan lega di hatiku. Karena melihat respon positif dari Bu Diah.
Dan ternyata, selain Bu Diah aku juga kedatangan seseorang hari ini. Gilang, dia berdiri menatapku dari luar ruangan. Tatapannya terlihat begitu menyedihkan sekarang.
Dia mengepalkan tangannya sebagai isyarat semangat sembari berkata. "Kamu bisa!"
Setelah itu, bayangannya hilang tanpa kata. Dari awal mengenalnya, aku tau betul seperti apa dia. Dia memang pria yang baik. Bahkan sangat baik. Namun Sayang, dia bukan pria terbaik untukku. Mungkin untuk wanita yang lain, ya.
Aku kira ujian kesabaranku berakhir sampai di sini. Ternyata tidak, Rabb-ku masih ingin menguji sejauh mana kesabaranku.
Hari ini adalah hari di mana Mama menarik Om Zidan dari Rumah sakit kota. Dan sesuai dengan apa yang Mama katakan, dia akan memindahkan Om Zidan ke rumah sakit keluarga. Dan tentu saja, aku tidak diiziin untuk ikut ke sana.
"Mama..."
"Stop! Saya udah kasih kamu kesempatan, kan. Jadi saya rasa, saya sudah cukup baik sama Kamu!" Tegas Mama saat aku ingin bicara dengannya.
Dengan tarikan napas yang dalam. Aku pun dengan penuh keyakinan mengangkat suara.
"Manda akan turutin semua kemauan Mama! Asalkan Mama izinin Manda tetap jagain Su-suami Manda!"
"Hem, apapun keinginan saya?" Mama tersenyum bangga.
"A-apapun. Manda pasti turutin!"
"Pisah dengan anak saya! Masih sanggup?"
"Pisah? Maksud Mama, cerai?" Aku menggigit bibir bawah, takut.
"Iya, hilang dari hidup Zidan! Saya tau kamu nggak bakal sanggup. Jadi percuma saya membuang waktu!" Mama melangkah meninggalkanku begitu saja.
"Iya, Manda mau!" Aku sedikit meninggikan suaraku, agar Mama bisa mendengarnya.
"Cepat, kemas semua barangmu! Satu jam lagi kita berangkat!"
__ADS_1
Hups. Aku berpegangan pada dinding rumah sakit. Tidak tau harus dengan apa aku menanggapi keputusanku sendiri. Haruskah aku bangga? Atau mengutuk kebodohanku yang sanggup untuk berpisah dengan suamiku?!
"Kakak nggak percaya. Kalo kamu akan seberani ini!" Kak Henny menepuk pundakku. Entah, antara ejekan atau pujian. Aku nggak tau.