Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
SI GILANG


__ADS_3

* * * * *


"Assalamu'alaikum, Cha."


"Sebelumnya, aku minta maaf untuk kejadian di kelas tadi. Dan aku juga minta maaf, karena udah ngaku jadi pacar kamu sama si Reyno, anak kelas X yang naksir kamu."


"Nggak ada niat lain kok. Cuman niat jagain kamu aja. Dan perlu kamu tau, Reyno sangat tergila-gila sama kamu. Dia sampai punya hampir 200 koleksi potomu. Termasuk poto sebelum kamu berhijab. Aku aja yang jadi MANTAN kamu udah nggak nyimpen poto-poto itu lagi! Udah aku apus semenjak aku tau kamu udah istiqomah pakek hijab."


"Tapi kamu tenang aja, Cha. Aku udah hapus semua poto-poto kamu di Hp si Reyno. Dan aku udah pastiin. Kalau nggak ada satu pun potomu yang tersisa. Dan dia nggak bakal berani ganggu ataupun ngambil poto kamu lagi!"


"Jangan ngerasa hutang budi sama aku. Sumpah, aku ngelakuin ini semua tulus untuk kamu. Aku juga nggak ngarep imbalan apapun. Cukup liat kamu hidup dengan tenang aja aku udah bahagia."


"Oh, ya. Aku tau semua ini gara-gara nggak sengaja pergokin Reyno poto kamu pas di kantin. Ditambah lagi pas aku ngeliat dia mau kasih coklat ke kamu di depan kelas tadi. Aku liat kamu nggak nyaman gitu. Jadi ya udah, aku terpaksa bilang kalau kita udah lama pacaran."


"Hehehe, maaf ya. Cuman itu jalan satu-satunya buat jagain kamu, Cha. Kalau kamu keberatan, kamu boleh marah. Asal kamu jangan ngelarang aku buat jagain kamu."


"Aku janji untuk nggak berharap lebih. Karena aku tau, ada pria lain yang sedang kamu perjuangkan."


"Btw, aku dapet nomer kamu dari grup kelas. Aku save ya? Ya? Oke, boleh! Terimakasih."


"Sekian dari aku. Kamu baca aja aku udah syukur :)"


"Wassalam."


Aku tertegun saat membaca semua pesan masuk dari nomer baru. Yang mana aku tau itu nomer Gilang. Jelas dari foto profil dan juga Bio-nya.


Cukup lama aku termenung. Ternyata ini alasan kenapa si Bocah itu sampai minta maaf padaku tadi siang! Dia ternyata takut sama Gilang!


Oh, awas aja, ya! Ketemu besok, aku buat dia jadi perkedel tempe!


Berani-beraninya dia mengoleksi fotoku! Yang nggak pakek hijab pun ada!!


"Thanks ya, Lang. Kamu udah bantu dan hapusin fotoku."


Hanya itu yang mampu ku katakan. Aku bingung harus mengatakan apa. Satu sisi aku terharu dengan tindakan yang Gilang lakukan. Tapi satu sisi lagi, aku tidak ingin memberikan sebuah harapan. Terlebihlagi, saat ini aku sudah menjadi istri orang!


"Yo, sama-sama, Cha!"


Bahkan dia masih sama seperti dulu. Selalu membalas dengan cepat chat dariku. Tidak pernah sampai membuatku menunggu.


"Bagaimana ini?" Kudekap benda pipih itu. Sebentar lagi Om Zidan akan pulang. Seperti biasa, dia pasti akan menanyakan dengan siapa saja aku chattingan hari ini!


"Tidak, aku tidak boleh menyembunyikan apapun dari Om Zidan. Ya, aku harus menjelaskannya!"


Aku sudah bertekad untuk tidak berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu lagi dari Om Zidan. Aku harus mengatakan dan menjelaskan semua ini!


Bagaimana tanggapan dan reaksi Om Zidan, itu adalah urusan belakang!


Yang terpenting. Aku sudah berusaha jujur padanya!


Benar begitu, kan?


________________


Dengan perasaan yang tak karuan aku menunggu Om Zidan pulang. Berdiri dan mondar-mandir di depan pintu sambil mengigit ujung kuku. Sampai akhirnya, Pak satpam membuka gerbang, dan muncul lah mobil Om Zidan.


'Tenang, Manda. Tenang!' Aku berusaha untuk menenangkan diri. Sebenarnya bukan berkata jujur yang aku takutkan. Melainkan tanggapan Om Zidan!


Tau sendiri kan, Om Zidan itu sangat sensitif hatinya! Salah memilih kata saja akan berat risikonya! Bisa-bisa dia akan melarangku menyebut nama pria lain lagi?! Atau yang lebih parahnya, dia akan mendatangi si Reyno dan memberikan pelajaran padanya? Atau mungkin juga, Gilang akan kena imbasnya?


"Assalamu'alaikum?" Aku tersentak saat Om Zidan mengucap salam tepat di depanku. Matanya mulai menatapku, seolah bertanya. "Lagi mikirin apa?!"


"Wa'alaikumussalam." Berusaha mengendalikan suasana. Aku langsung memeluk lengannya. Menempel layaknya cicak.


"Tumben? Ada udang di balik batu, ya?"


Om Zidan ini tau aja!


"Hehehe.... Lagi kangen aja sama Om!" Aku bergeser pelan untuk memeluk tubuhnya. "Om juga tumben nggak ngabarin Manda! Biasanya juga ngabarin sebelum jalan pulang!"


Dia terkekeh. Tangan kanannya mengelus kepala. Sementara tangan kirinya balas memeluk tubuhku.

__ADS_1


"Peluk aku sepuasmu! Tubuhku milikmu, Manda!"


'Uh, memang milikku, Om! Emang Om punya istri lain, selain aku?!' Namun sayang, aku hanya berani mengatakannya di dalam hati saja!


"Em, duduk dulu!" Dia mengendongku seperti induk kuala mengendong anaknya. Kakiku melingkar di pinggangnya. Kedua tanganku melingkar memeluk leher Om Zidan.


Om Zidan berjalan menuju ruang tengah, dengan aku yang masih dalam gendongannya. Kubenamkan wajahku di ceruk lehernya. Menghirup aroma tubuh Om Zidan yang khas.


'Hemmmm, aku suka aroma tubuhnya!'


Humps...


Tubuh Om Zidan terjatuh dia atas sofa. Dan jadilah aku duduk di atas pangkuannya. Dia tersenyum jahil lalu memberikan kecupan pada hidungku.


"Sekarang katakan, apapun yang ingin kamu katakan, Manda!"


Om Zidan menahan tubuhku agar tidak turun dari pangkuannya. "Tetap seperti ini!"


Oke, ikuti saja maunya. Agar dia puas dan bahagia!


Menarik napas pelan aku mulai menatap wajah Om Zidan. "Tapi, Om janji dulu!"


"Untuk?"


"Ya Om harus denger dulu, apa yang akan Manda sampaikan! Jangan marah ataupun cemberut sebelum Manda selesai bicara. Om bisa kan?"


"Ya tergantung. Manda mau bicara apa dulu?" ucapnya sambil menusuk-nusuk pipiku. Mengigit lalu menciumnya dengan gemas.


"Emm, ini tentang..... Emp!" Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku tapi Om Zidan malah menyerang bibirku terlebih dahulu!


"Jangan sebut namanya!" Dengan wajah tanpa dosa dia mengelap bibir bawahku dengan ibu jarinya! Dasar, Om-Om Tampan!


"Emang Om tau, siapa yang mau Manda omongin?!" tanyaku.


Om Zidan pun tersenyum dengan senyuman versi Serigala Mabuk-nya! Huh, dia suka sekali melihatku ketakutan, ya?!


"Mau ngomongin Gilang kan? Bagaimana? Apakah dia jadi pindah sekolah hari ini?"


"Iya...." Aku hendak menurunkan tanganku yang melingkar memeluk lehernya. Namun buru-buru Om Zidan tahan.


"Ngomong aja, aku dengerin kok." Om Zidan tersenyum meyakinkan. Bahkan tatapan yang sempat sagar dia hilangkan.


"Dia membantuku hari ini." Aku pun kembali mendekapnya. Menyadarkan daguku pada bahunya. Jujur saja, aku tidak sanggup bercerita sambil bersitatap dengan Om Zidan. Tatapan matanya terlalu kuat untuk hatiku yang lemah dan gampang meleleh ini.


"Jadi, ada adik kelas yang mau ngasi aku coklat. Dan tentu aja, aku tolak. Tapi dia terus berusaha, sampai dia rela mau jadi pacar keduaku, begitu katanya!"


"Hem, terus?!" Wajah Om Zidan sudah terlihat kesal. Tapi dia berusaha menahannya.


"Terus, gimana ya aku jelasinnya?!" Bingung juga. Tidak mungkin kan aku menceritakan bagian di mana Gilang malah hendak memberikan coklat itu untukku?


"Om baca ini dulu!" Aku pun menyerahkan Hp-ku pada Om Zidan. Chat dari Gilang masih tersimpan rapi di sana.


"Tunggu dulu!" Om Zidan menarik tubuhku semakin maju, menempel sempurna dengan dadanya. Tanganku bermain, meraba, dan sesekali aku menempelkan telingaku di sana. Hanya untuk mendengar detak jantungnya saja!


"Apa yang terjadi di kelasmu?"


"Emm...." Gagal sudah. Niat tidak mau bercerita. Malah ditanya!


"Dia nanya, kenapa aku nggak ngasih kesempatan sama Bocah itu. Ya aku jawab, kalau itu bukan urusan dia. Dia nanyak lagi, apa aku akan nerima coklat itu, kalo dia yang ngasih?"


"Lalu?" Om Zidan mulai melingkarkan tanyanya di pinggangku. Mengisyaratkan, kalau dia mulai terpancing api cemburu!


"Ayu tiba-tiba aja datang, dan akhirnya, terjadilah perdebatan antara Ayu dan Gil.... Emp!" Lagi dan lagi Om Zidan membungkam bibirku dengan bibirnya. Tapi nggak papa, karena aku juga suka dan menikmatinya. Hehehe.


"Jangan sebut nama! Terusin ceritanya!"


Ck. Lihatlah, tanpa dosa dan beban dia berkata!


"Ya, Dia dan Ayu pun berdebat. Udah, dia meminta maaf untuk itu!"


"Oke." Om Zidan kembali menatap layar Hp-ku. Aku pun membeku saat ekspresi kesalnya tidak bisa disembunyikan lagi.

__ADS_1


Tapi kali ini dia lanjut membaca tanpa bertanya.


"Berani sekali Bocah itu!" Geram Om Zidan dengan napas yang memburu.


"Om, tenang dulu!" Aku segera mendekap erat tubuh Om Zidan. Seirama dengan tanganku yang mengelus dan sesekali menepuk pelan punggungnya.


"Udah dia hapus kok, Om!" Kukecup pipinya. Dan dia tersenyum, walau wajahnya masih terlihat kesal!


"Aku ngasih tau hal ini, karena aku nggak mau ada hal yang aku sembunyiin dari Om, terutama hal yang menyangkut tentang Gi......"


Buru-buru aku menutup biburku dengan tangan kanan. Namun ternyata, usahaku untuk menghindar gagal juga. Om Zidan malah dengan mudah menyingkirkan tanganku. Menyerang dengan rakus bibirku.


"Jangan ada nama dia di antara kita." Dia melanjutkannya setelah memberiku jeda untuk bernafas!


Lantas tersenyum puas dengan wajah tanpa dosa lagi!


Huh, untuk aku suka dan sayang padanya!


"Aku akan coba untuk menoleransi Bocah itu. Mungkin dia baru aja mengenal cinta. Dan emang udah jadi hal yang biasa seseorang mengoleksi foto orang yang dicintainya. Tapi Bocah itu melakukan kesalahan. Dengan menyimpan foto yang mana, dia tidak memilik hak untuk melihatnya!"


Aku pun menghembuskan napas lega mendengar ucapan Om Zidan.


"Tapi...." Om Zidan menatapku dengan penuh keseriusan. "Nggak ada toleransi untuk Gilang! Aku katakan sekali lagi! Nggak ada toleransi untuk si GILANG!"


Oke-oke. Aku mengerti kalau Om Zidan paling anti dengan Gilang dan Mike! Level cemburunya pasti akan naik sepuluh tingkat jika sudah menyangkut dua orang ini!


"Manda ngerti, Om. Manda usahain buat jaga jarak sama dia!" Tegasku.


"Aku percaya sama kamu. Aku juga percaya, kalo kamu akan nepatin janji untuk selalu perjuangin Aku"


Syukurlah, kukira dia tidak akan berpikir dengan jernih. Maksudku, aku tadinya mengira Om Zidan akan mengedepankan rasa cemburunya. Yang mana jika itu sampai terjadi tadi. Masalah si Reyno dan si Gilang pasti akan berkepanjangan!


"Jangan kasi dia harapan Manda," bisiknya sambil kembali mendekap tubuhku. "Dia mungkin bilang nggaak mau imbalan apapun darimu. Tapi jelas sekali, kalo dia masih naruh harapan sama kamu. Dia masih mencintaimu, Manda! Dan aku harap, kamu nggak berpaling dari cintaku hanya karena terpikat oleh cinta yang masih dia simpan untukmu!"


Eh, apakah benar? Apakah benar, Gilang masih mencintaiku? Dan masih menyimpan harapan padaku?


"Om?" Aku tersentak saat tangan Om Zidan tiba-tiba saja mengangkat hijabku. Bibirnya mencium leher, lalu naik untuk menyapa bibirku.


Oh, Om! Apa yang kamu lakukan padaku?!


Jika seperti ini terus, yang ada aku yang tidak bisa mengontrol diri, Om!


Aku candu, Om!


Aku sungguh dibuat candu oleh sentuhan bibirmu!


"Udahlah, aku ke kamar mandi dulu!" Om Zidan tersenyum malu sambil menurunkanku dari pangkuannya.


"Om!" Aku menarik tangan kekar itu. "Aku di sini, aku milikmu!"


Kurang baik apalagi aku, Om?! Aku bahkan sudah memberi lampu hijau untukmu!


"Nggak Sayang. Aku nggak bisa....."


"Kenapa?"


Dia membungkuk, berbisik dengan lembut di depan telingaku. "Aku nggak mau ganggu sekolahmu, Manda. Percayalah, aku juga sangat menginginkan tubuhmu. Lebih dari apapun itu!"


Hiks, dia mengelus kepalaku sebelum akhirnya berlalu menaiki tangga.


"Yah, Om! Terus Aku gimana?" Aku tersenyum sambil menyentuh leher yang sudah penuh dengan stempel cantik dari Om Zidan. Sambil senyum-senyum aku menatap tangga.


"Astagfirullah!"


Bagaimana bisa terlintas di pikiranku untuk menyusul Om Zidan ke kamar mandi?!


Nggak, nggak, itu nggak boleh terjadi!


Huaa.... Aku takut-takut mau!


___________

__ADS_1


__ADS_2