
Muhammad Zidan Al-Ghazali. Aku menyebutnya pria tampan, gagah, berani, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Memiliki hati yang begitu lembut. Tidak hanya memperdulikan dirinya sendiri. Tapi juga orang-orang yang berada di sekitar dia.
Hari ini, aku menyaksikan sendiri. Bagaimana Om Zidan dengan gagahnya mengajukan permintaan pengasuhan anak, atas nama Muhammad Hafidzul Ahkam. Tanpa melakukan banyak pertimbangan terlebih dahulu. Dan tanpa rasa ragu.
Setelah melalui beberapa wawancara dan proses, akhirnya pengajuan kami diterima oleh yayasan. Dan sedang dalam proses pengurusan beberapa dokumen hak asuh. Insyaallah, pekan depan Ahkam sudah bisa tinggal bersama kami.
Aku merebahkan tubuhku di samping tubuh Om Zidan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku baru saja selesai belajar untuk persiapan ujian hari terakhir. Sedangkan Om Zidan baru selesai mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda hari ini.
"Sayang? Mendekatlah." Om Zidan menarik bajuku. Meminta agar aku lebih dekat lagi.
"Sini!" Om Zidan merentangkan lengangnya, membiarkan aku menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Pernah kebayang nggak, ada makhluk kecil di dalam sini." Tangan Om Zidan mengelus pelan permukaan perutku yang masih tertutup baju. "Bayanginnya aja aku udah bahagia. Gimana kalo dia benar-benar ada, ya?"
Aku menatap Om Zidan. Matanya terpejam, seolah sedang membayangkan apa yang baru saja ia katakan.
"Pasti lucu ya?" ucapku sambil mengukir alisnya. Turun ke hidung dan juga bibir.
"Bayi kecil secantek Mamanya. Sebaik Papanya. Sekuat dan setegar Kakaknya."
"Kakak?" Aku mengerutkan dahiku. Otakku belum konek dengan arah pembicaraan Om Zidan.
"Ahkam. Dia akan menjadi Kakak untuk anak-anak kita nanti."
Hatiku berdebar mendengar jawaban Om Zidan. "Em, Sayang. Manda mau tanya, boleh?"
"Iya, Manda mau tanyain apa?"
"Alasan apa yang buat Om langsung mantap untuk ngambil Ahkam?"
"Nggak ada. Aku nggak butuh alasan, cukup butuh rasa belas kasih sebagai sesama Makhluk Allah aja. Dan satu lagi, di dalam harta kita juga, ada hak milik sodara seiman kita. Menyayangi anak-anak seperti Ahkam juga kewajiban kita." Jelas Om Zidan sembari mengelus kepalaku pelan.
"Aku pernah ngerasain sakitnya kehilangan Papa. Aku pernah ngerasain sakitnya melihat orang yang kita cintai merindukan Ibu dan Ayahnya. Dan Ahkam? Dia juga sama, dia pasti butuh kasih sayang dari orang yang tulus, aku yakin, istriku bisa menggantikan peran Ibu untuknya."
"Insyaallah, Manda akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Ahkam."
"Dan untuk junior kita juga?" Om Zidan menaikkan kakinya. Menindih tubuhku.
"Emm, iya. Tapi, jangan sekarang dulu. Tahen dulu!" Aku menepuk-nepuk punggung Om Zidan. Mana mungkin sekarang kan? Bisa-bisa aku telat masuk sekolah besok!
"Dicicil boleh?" Rayu Om Zidan. Tangannya sudah berpetualang mendaki gunung kembar.
Aku mencoba untuk tidak menuntut lebih. Tapi sayang, semua sudah terlanjur jauh!
"Gas aja lah. Jangan nanggung-nanggung, Sayang!"
__ADS_1
...****************...
...Satu setengah jam kemudian....
"Manda, Zidan?"
Aku dan Om Zidan sama-sama terkejut mendengar sapaan dari Mama. Ekspresi wajah Om Zidan dan wajahku mungkin tak jauh berbeda. Seperti maling yang ketangkap basah oleh sang tuan rumah.
"Kalian?" Mama memperhatikanku, yang masih memakai handuk di atas kepala. Baru selesai keramas soalnya.
Mama menggeleng pelan begitu melihat jam dinding dan juga melihat penampilan Om Zidan. Sama seperti aku. Rambutnya masih basah.
"Kalian mau makan apa? Sini, biar Mama yang siapin!"
"Eh, jangan, Ma. Mama balik aja ke kamar, ya. Biar Manda." Aku mencegah Mama yang hendak membuka kulkas.
"Manda bisa kok, Ma," ucapku meyakinkan.
"Baiklah." Mama akhirnya mundur, ia menepuk pundak Om Zidan sambil berkata. "Jangan di tontonin aja, bantu sana. Tanggung jawab loh udah habisin tenaga Manda!"
Dengan cekikikan Mama meninggalkan kami berdua.
"Aaaa.... malunya." Aku menutup wajahku. Malu sendiri karena ketauan Mama.
"Kenapa wajah yang ditutup, di situ nggak ada apa-apa, Sayang. Tapi ini---" Dia menunjukkan leherku. "Udah terlanjur diliat Mama."
"Aaaaa.... pokoknya Manda nggak mau main lagi ya kalo ada Mama!!" Aku memukul dada Om Zidan pelan.
"Yang ngajakin siapa?"
"Yang nawarin siapa? Yang mulai siapa?" Aku melotot. Seolah menunjukkan sang pelaku utama dengan tatapanku.
"Iya-iya. Aku yang salah. Sekarang kamu duduk aja, biar aku yang siapin makanannya."
"Ih, Manda juga bisa!" Aku mundur dengan wajah cemberut. Kesal saja d'engan Om Zidan yang berkata seperti itu. Sama saja dengan tidak mempercayai kemampuanku.
"Manda, Kamu nggak denger tadi, Mama bilang apa?" Dia menahan tanganku. Berusaha membujuk, ceritanya. "Aku disuruh tanggung jawab loh, karena udah habisin tenaga kamu."
"Khemmm, Mama cuman suruh bantu aja, bukan suruh siapin sendiri makanannya!"
Om Zidan menarik napas lalu menghembuskan dengan pelan. "Oke, Sayangku ini mau masak apa? Sini biar aku bantu ambilin bahannya."
Aku pun tersenyum lalu meminta Om Zidan untuk mengambil telur. Rencananya mau buat nasi goreng. Tau sendiri kan, aku belum bisa masak menu lain, selain nasi, mie, dan telur goreng.
Akhirnya, setelah melewati banyak drama, dua piring nasi goreng pun tersaji di atas meja makan. Sebelum dihidangkan tadi. Aku sudah mencicipinya. Dan sudah pas di mulutku. Tidak tau bagaimana dengan Om Zidan.
__ADS_1
"Emm, gimana?" Aku menatap Om Zidan. Jariku bertautan. Takut sendiri jika Om Zidan tidak menyukai nasi goreng buatanku.
"Enak, kok." Dia memasukkan suapan kedua. Mengunyah sambil menatapku. Meyakinkan kalau ini benar-benar enak. Dan dia tidak berbohong tentang itu.
"Maaf ya, Manda cuman bisa buatin ini."
"Nggak papa, Sayang. Ini aja udah luar biasa. Semuanya butuh proses, Manda." Om Zidan menarik piring milikku. Menyendok nasi lalu mengarahkan sendok itu padaku.
"Aku nggak pernah nuntut kamu buat jadi sosok yang sempurna, Manda. Karena aku tau, setiap orang itu pasti punya keistimewaan dan kekurangan mereka masing-masing."
"Tapi--" Aku menghentikan ucapanku, saat jari telunjuk Om Zidan menempel di bibirku.
"Kita bisa saling melengkapi satu sama lain, kan?"
Aku hanya mengangguk pelan. Bukannya aku tidak menerima apa yang Om Zidan katakan tadi. Tapi sebagai seorang istri, aku juga ingin memanjakan Suamiku dengan masakan yang aku buat sendiri. Apakah aku salah untuk hal ini?
"Biar Manda aja." Aku langsung merapikan piring dan juga gelas. Mencucinya bersamaan dengan wajan yang kupakai tadi.
Aku tau, setiap orang memiliki kekurangan masing-masing. Tapi apa salahnya jika orang itu belajar untuk menutupi kekurangannya. Atau bahkan merubah kekurangan itu menjadi kelebihan?
Dan mulai saat ini. Aku akan melakukannya. Aku akan meminta Mama untuk mengajariku masak. Atau jika perlu aku akan mengikuti les masak juga.
"Manda hanya ingin memberikan versi terbaik Manda untuk Om Zidan. Jadi Manda mohon, tolong dukung Manda."
"Tentu aja, Sayang. Silahkan, lakuin apapun yang buat kamu merasa puas dan bahagia!"
"Makasih, ya--" Aku menatap Om Zidan sejenak. Melingkarkan tanganku memeluk tubuhnya. "Makasih ya, Bang."
"Hah? Kamu bilang apa tadi?"
Dia langsung menatapku lekat. "Ulangi."
"Makasih ya, Bang?"
"Kenapa diganti? Aku nggak marah kok kamu mau manggil aku apa."
"Ish, kan lucu, masak Manda manggilnya Om terus. Nanti kalo udah punya baby. Babynya mau manggil apa? Masak Om Papa, kan lucu!"
"Hahahaha, ya juga ya." Bang Zidan kembali memeluk tubuhku. Menepuk-nepuk pelan punggungku. "Tidur ya dedek gemes, besok sekolah!"
Hihi. Kenapa sekarang aku yang marah geli sendiri mendengar Om. Eh maksudnya Bang Zidan memanggil seperti itu.
Dedek gemes?
__ADS_1