
...Singapura...
Kabar tentang kedatangan Zidan dan Manda sudah sampai ke seluruh anggota keluarga besar, jadi sejak jam 4 sore, rumah utama sudah ramai. Para sepupu Zidan langsung berdatangan untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Manda, sekaligus menyambut kedatangan anggota baru di keluarga mereka??
"Selamat ya, Zidan, Manda. Kalian pasti akan menjadi orang tua terhebat untuk anak-anak kalian!"
"Selamat ya Kak Zidan. Sehat selalu Manda dan calon adek bayinya!"
Berbagai ucapan selamat dan do'a tercurahkan untuk Manda dan calon bayinya, bahkan Manda sampai berkedip-kedip karena masih tidak menyangka, bagaimana bisa mereka memperlakukan Manda seperti sekarang? Sangat berbanding terbalik dengan perlakuan mereka saat Zidan pertama kali mengenal Manda sebagai istrinya!
Luna, salah satu sepupu Zidan duduk di dekat Ahkam.
"Aku harus memanggilnya siapa, Kak?" tanyanya pada Zidan.
Zidan mengelus punggung Ahkam, lalu mendudukkan Ahkam di pangkuannya.
"Ahkam, ini Kak Luna."
Ahkam tersenyum saat Luna terus memperhatikannya.
"Nama lengkap Ahkam siapa?" tanya Luna.
"Muhammad Hafidzul Ahkam!"
"Oh, nama yang sangat bagus, Kakak menyukainya!"
Luna melakukan tos dengan Ahkam, ekspresi Luna terlihat begitu tulus, tanpa ada paksaan.
"Wah, ada Kak Zidan dan Manda!" Dea ikut duduk di hadapan Zidan. Gadis itu baru pulang kuliah dan langsung ikut nimbrung aja.
"Apa kabar Manda?" bertanya pada Manda, tapi tatapannya tertuju pada Ahkam yang kini duduk di dekat Luna.
"Alhamdulillah baik, kamu gimana, lancar kuliahnya?"
"Emm, begitulah, seperti biasa!" Dea berpindah duduk, lebih dekat dengan Manda, Zidan berdiri, memutuskan untuk berpindah tempat duduk, tidak nyaman duduk dikerumuni wanita, walaupun sepupunya sendiri!
"Bagaimana kandungannya, sehat?"
"Alhamdulillah sehat!"
"Emmm yang itu, Ahkam kan?" tanya Dea. Gadis itu sudah tidak asing lagi dengan nama Ahkam, karena Tante Melinda sering menceritakan tentang Ahkam padanya, Tante begitu menyayangi Ahkam, seperti cucunya sendiri.
"Iya, mau kenalan?"
"Harus kenalan sih!" Dea bangkit, kini duduk di dekat Luna.
Yang lain sedang sibuk mengganti pakaian, tadi hanya mengucapkan selamat dan duduk sebentar, lalu pergi ke kamar tempat pakaian mereka tersedia.
"Namaku, Ahkam. Nama kakak siapa?"
"Dea, panggil aja Kak Dea Yang Cantik Jelita!"
"Kok panjang banget nama panggilannya?"
"Hahaha, becanda, panggil Kak Dea aja!"
"Emmm, Kak Luna? Kenapa Kakak kenapa nggak pakek jilbab kayak Kak Dea dan Mama?" tanya Ahkam setelah memperhatikan Dea dan Luna secara bergantian.
"Gimana ya, Kakak belum siap aja!" jawab Luna sambil mengalihkan pandangannya, sungguh ini sangat memalukan!
__ADS_1
Mungkin jika orang dewasa yang bertanya padanya, Luna akan menjawab, 'Itu hakku, mau pakek jilbab atau nggak, itu bukan urusanmu!! Urus aja urusanmu, jangan ikut campur dengan urusan orang lain!'
Tapi sekarang malah anak kecil yang bertanya tentang hal itu padanya! Luna bingung harus memberikan jawaban seperti apa?!
"Kak Luna pasti tambah cantik kalo pakek jilbab, iya kan, Pa?" Ahkam menatap Zidan, meminta pendapat.
"Iya, cewek memang jauh terlihat lebih cantik jika menutup auratnya!"
Luna tertunduk mendengar ucapan Zidan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia mendengar Zidan mengatakan itu, dulu saat Luna masih duduk di bangku SMP, Zidan selalu mengingatkannya untuk memakai jilbab di setiap kesempatan mereka bertemu. Tak pernah bosan Zidan mengingatkan pada para sepupunya yang belum menggunakan hijab.
Kebetulan Zidan adalah cucu pertama dan satu-satunya cucu laki-laki di keluarga besarnya, semua anak paman dan bibinya perempuan, pernah ada cucu laki-laki selaim Zidan, tapi meninggalkan saat masih berusia 1 bulan lebih 5 hari.
Zidan meminta semua yang ada di rumah untuk bersiap-siap, setengah jam lagi adzan Maghrib, Ahkam sudah masuk kamar mandi duluan, sementara Manda menyiapkan baju sholat untuk Ahkam dan Zidan.
Di lantai bawah, dua pelayan sibuk menggelar karpet di ruang tengah, menyediakan sajadah dan mukena juga. Kalo ada Zidan, pasti semua orang akan kelihatan seperti orang Islam yang menjaga sholat 5 waktu. Selain itu, Agama Islam hanya ada di KTP saja!
"Kak Luna marah ya sama Ahkam?" tanya Ahkam saat Manda memakaikan kopiah hitamnya.
"Nggak kok, Kak Luna nggak marah sama Ahkam!" Manda membenarkan kancing dan kerah baju sholat Ahkam, agar semakin terlihat lebih rapi dan tampan.
"Kalo Kak Lunanya marah? Gimana dong, Ma?"
"Emmm, Ahkam tinggal minta maaf aja." Manda tersenyum, ia sedikit menarik tubuh Ahkam agar lebih dekat dengannya, lalu berbisik pada bocah itu.
"Kalo Ahkam ngerasa ada orang yang nggak suka sama ucapan Ahkam, Ahkam cepet-cepet minta maaf, ya, Nak. Terus, kalo ada orang yang buat Ahkam marah, Ahkam harus cepet-cepet juga maafin dia!"
"Walaupun dia nggak minta maaf ke Ahkam? Ahkam harus tetep maafin dia juga, Ma?"
"Iya, lebih bagus kalo Ahkam yang maafin dia duluan!"
"Ya udah, nanti Ahkam minta maaf ke Kak Luna, Mama temenin Ahkam ya?"
********
"Kamu aja, Paman belum siap jadi imam!" ucap Paman Syam saat Zidan menawarinya sebagai Imam, karena tidak ada yang mau, akhirnya Zidan pun maju, Paman Haidar yang Iqamah. Ahkam menggambil saf di samping Paman Syam.
Di barisan ke dua ada Mama Melinda, Manda, Dea, Shofia, Amira, Evi, Puspa, Tante Qiara dan Tante Hasna. Luna sedang tidak sholat katanya.
Tahun baru kali ini hanya kurang Stella saja, bahkan Evi dan Shofia datang dengan pasangan mereka, berniat untuk mengenalkan ke keluarga besar, rencananya tahun depan mereka akan menikah bersamaan. Evi menunggu sampai S2-nya selesai dulu.
Setelah selesai sholat, dzikir dan doa, dilanjutkan dengan membawa surah Yasin, sambil menunggu adzan Isya'. Intinya, perayaan tahun baru kali ini benar-benar paling berbeda dari tahun-tahun sebelumnya!
Ahkam berjalan menghampiri Luna, setelah selesai sholat Isya' berjamaah dan mengganti pakaian sholatnya dengan pakaian biasa, Zidan dan Manda berjalan di belakang Ahkam.
"Kak Luna?" panggil Ahkam sembari menyentuh tangan Luna dengan jari telunjuknya.
"Iya, kenapa Ahkam?" Luna mengalihkan pandangannya pada Ahkam, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang, siap-siap untuk acara bakar-bakar!
"Ahkam minta maaf ya." Ahkam tertunduk. "Kak Luna marah kan sama Ahkam? Gara-gara Ahkam tanya-tanya Kak Luna tadi?"
"Eh?" Luna menatap ke arah Zidan dan Manda, dia tidak marah kok, hanya sedikit tidak nyaman saja, lebih tepatnya, Luna malu jika ditanya oleh Ahkam! Terlebih Ahkam mengatakan dia pasti akan jauh lebih cantik jika memakai jilbab!
"Maafin Ahkam ya, Kak?"
Luna menggenggam tangan Ahkam, menatap Ahkam lekat. Cara Zidan mendidikan Ahkam tidak diragukan lagi, sekarang Luna semakin sadar, tidak ada gunanya ia menolak kehadiran siapapun di keluarga mereka, baik itu Manda ataupun Ahkam.
Menolak kehadiran orang-orang seperti Manda dan Ahkam, sama saja dengan ia menolak sebuah berlian, dan belum tentu berlian itu diberikan lagi pada keluarga mereka!
"Kak Luna udah maafin Ahkam kok. Sekarang sini, duduk sama Kak Luna!"
__ADS_1
Ahkam duduk di samping Luna yang sedang menusuk sosis yang akan dibakar, Dea dan Amira sibuk dengan peralatan grill mereka. Evi dan Shofia sibuk mengenalkan pasangan mereka masing-masing, sedangkan Puspa ikut membantu membawa beberapa makanan ringan ke halaman belakang.
Manda ingin ikut membantu juga, tapi dilarang oleh Mama Melinda dan Tante Qiara.
"Manda duduk aja, kan tamu adalah raja!" ucap Tante Hasna. Manda hanya mampu tersenyum mendengarnya.
"Pa, Ahkam boleh nyalain kembang api nggak?!" tanya Ahkam sambil menunjukkan kembang api yang Luna berikan.
"Jangan, Ahkam. Ahkam nggak boleh main api, nanti Papa aja yang nyalain, Ahkam nggak boleh ya nyalain sendiri!"
"Kalo sama Kak Luna? Boleh kan, Pa?"
"Nanti aja, ya. Tunggu Papa!"
"Emm, oke, Pa!" Ahkam pun memberitahu Luna, kalau Papa Zidan belum mengizinkannya untuk menyalakan kembang api, dan Ahkam tidak akan pernah menentang apa yang Papa dan Mamanya katakan!
"Manda! Sini, duduk di sini!" panggil Dea, semua bahan untuk ngegrill sudah siap, ada 6 kg daging sapi, 3 kg daging ayam, dan 5 bungkus sosis.
"Kak Zidan? Manda boleh kan makan ini?" tanya Puspa, Zidan memicingkan matanya, memperhatikan apa yang sedang gadis-gadis itu masak.
"Jangan banyak-banyak ya, Sayang!"
Manda tersenyum, Zidan membolehkannya.
Malam itu, para pria sibuk membakar ikan, para gadis sibuk dengan kegiatan mereka, ada yang sibuk masak ini dan itu, ada yang sempat-sempatnya mojok dengan pacar, ada yang sibuk mengambil foto dan video, yang joget-joget nggak jelas di depan Hp pun ada!
Sedangkan Tante Hasna dan Tante Qiara sibuk mengobrol dengan Mama Melinda.
"Bagaimana dengan anak itu, apakah harus kita menerimanya begitu saja? Tanpa mengetahui latar belakangnya seperti apa? Dia anak siapa dan dia lahir di lingkungan yang bagaimana?" ucap Tante Hasna, menyingung tentang Ahkam.
Mama Melinda mengembuskan napas pelan. "Dia anak dari orang baik-baik, Ibu dan Ayahnya adalah orang yang dikenang kebaikannya setelah meninggal dunia. Dari awal aku sudah menyetujui keputusan Zidan, bahkan aku ikut saat sedang mengurus hak asuh Ahkam!"
"Tapi---"
"Qiara, selama ini Zidan selalu menuruti dan memenuhi semua keinginanku, dia rela melakukan ini dan itu untukku, bahkan lihat dia, dia tetap menghormatiku sebagai seorang Ibu, seburuk apapun aku!"
"Kamu lupa? Gimana Zidan mengorbankan cita-citanya hanya demi menuruti keinginan Papa Mertua? Kamu lupa, bagaimana Zidan mengiyakan saat kita memaksa dia untuk bertunangan dengan Vanessa?"
"Atau kamu masih lupa juga, bagaimana kita memperlakukan Manda saat Zidan memperkenalkan gadis itu sebagai istrinya?!"
"Ya, mungkin saat itu aku juga ikut menolak kehadiran Manda, Karena aku menganggap Zidan sudah lancang menikahinya tanpa sepengetahuanku! Dan buruknya aku, aku sempat berniat untuk memisahkan mereka, membuang jauh Manda dari kehidupan anakku!"
"Tapi apa yang kudapat? Anakku lah yang membutuhkan Manda dalam hidupnya! Dia seperti mayat hidup tanpa kehadiran Manda, aku juga bisa melihat seberapa tulus gadis itu mencintai anakku!"
"Dia ada di saat anakku hanya terbaring lemah, dia selalu ada untuk anakku, bahkan sampai dia tidak memperhatikan kesehatannya sendiri!"
"Kamu tau, betapa mulia hatinya, dia tetap memaafkanku, dia tetap menghormatiku sebagai ibu mertuanya, dan aku juga sangat menyayanginya sekarang, dia bukan sekedar menantu, tapi juga seorang anak di mataku!"
Tante Qiara dan Tante Hasna diam seribu bahasa, mereka tertunduk, menatap jari jemari tangan mereka, tidak berani bertatapan dengan Mama Melinda.
"Zidan juga punya kehidupan pribadi, sama seperti kita, hidupnya bukan hanya tentang perkejaan dan perusahaan saja, dia juga ingin bahagia, dan kebahagiaannya ada pada Ahkam dan Manda!"
"Tidak bisakah kalian mendukung keponakan kalian sendiri? Tidak bisakah kalian menghargai keputusannya, sekali saja! Apakah masih kurang pengorbanan yang dia lakukan untuk kita semua? Apakah harus anakku mengorbankan seluruh hidupnya untuk perusahaan saja?"
"Aku mengatakan ini sebagai seorang Ibu yang hanya ingin melihat putranya hidup bahagia! Kalian juga seorang Ibu kan? Kalian pasti paham apa yang aku rasakan, aku sudah tidak semuda dulu, aku hanya ingin menikmati hari tua dengan anak dan cucuku, melihat mereka hidup bahagia dengan pasangan mereka!"
Mama Melinda tak kuasa menahan air matanya, ia menangis tanpa suara, Tante Qiara dan Tante Hasna langsung merangkul, ikut merasa bersalah karena telah bersikap tidak pantas pada Zidan dan Manda.
Zidan melihat ke arah mereka dengan ekspresi heran. Karena jarang jarang sekali Zidan melihat mereka berpelukan seperti itu.
__ADS_1
"Mama kenapa, ya?"