
Abhizar duduk sambil memperhatikan sang Abang yang masih berlatih memanah, kemana Ahkam pergi, maka di sana pasti ada Abhizar, begitu pula sebaliknya, di mana kaki Abhizar berpijak pasti di sana ada Ahkam juga.
Bocah yang kini sudah berusia 5 tahun itu menyedot air minumnya sekali lagi, tatapannya masih terfokus pada Ahkam yang sedang menarik anak panah, sebelum melecat tepat sasaran.
"Abang hebat!!" teriak bocah itu, ia melepaskan botol minumnya. Bertepuk tangan untuk sang Abang.
"Mama, Abang By juga mau kayak Abang Ahkam!!" ucapnya sembari menarik ujung baju sang Mama.
"Iya, besok ya, kalo Abang By udah sebesar Abang Ahkam!" jawab Manda sembari tersenyum pada Abhizar.
"Dedek udah bobok, ya?" Abhizar menatap sang adik, Zahira yang hanya memiliki selisih usia dua tahun kurang dengannya.
"Iya, jangan dijahilin dong adeknya!"
"Hehehe." Bocah itu menjauh kan tangannya yang hendak mencubit pipi gembul Zahira.
"Mama... Abang hebat kan, Ma?" ucap Ahkam yang baru selesai mencuci tangannya. Semua perlengkapan memanah sudah ia rapikan dan simpan kembali di sebuah gudang khusus, tepat di samping taman.
"Abang Ahkam hebat!" Abhizar mengacungkan kedua jempolnya. Lalu minta di gendong oleh Ahkam, waktunya manja-manja, mumpung saingannya lagi tidur.
"Abang tetap hebat kok, yang bikin Abang kelihatan hebat itu karena usaha Abang, nggak pernah nyerah, terus mencoba sampai Abang bisa!" ucap Manda, tentu saja Ahkam semakin semangat untuk terus berlatih, bukan sampai bisa. Tapi sampai dia menjadi ahli dalam bidang itu.
"Besok ajarin Abhijar ya!!" ucap Abhizar, ia masih bergelayut manja dalam gendongan Ahkam.
"Pasti dong, sekarang mandi dulu, Abhizar bau!" Ahkam menurunkan Abhizar dari gendongannya.
"Ahkam---" Manda sudah melotot sebelum tangan jahil Ahkam mendarat di pipi Zahira.
"Sekali aja, Ma!!"
Bocah 12 tahun itu kabur setelah mencubit pipi adik perempuannya. Tindakannya itu tentu diikuti oleh Abhizar.
"Abang tunggu!!" Abhizar ikut berlari ke dalam rumah, kabur dari amukan sang Mama. Sementara bocah kecil yang dijahili oleh kedua Abangnya itu masih tidur dengan nyenyak, sama sekali tidak merasa terusik.
"Kalian ya!" Manda hanya tersenyum melihat kelakuan kedua putranya. Tidak terasa waktu ternyata sudah berjalan sejauh ini, kini ia sudah memiliki dua buah hati, hasil bercocok tanam dengan Zidan. Tak lupa juga dengan jagoan hebat andalan sang Papa, yaitu Ahkam.
Bocah kecil yang kini sudah tumbuh menjadi sosok anak yang penuh semangat dan kegigihan yang begitu besar.
"Assalamu'alaikum!" Seorang gadis dengan hijab abu muda mengucap salam sambil berjalan menghampiri Manda yang masih duduk di taman samping.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, ada Kakak Cantik ternyata!"
"Hehehe, ini, Bunda titipin ini buat Mama Manda," ucap Cila sambil meletakkan bingkisan yang ia bawa di samping Manda. "Ada brownies kesukaan Ahkam dan Abhizar juga!" imbuhnya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Kakak cantik!" Manda tersenyum pada gadis manis di hadapannya. Gadis itu melirik ke arah tempat latihan memanah Ahkam. Sayangnya, sang empu sudah tidak ada si sana.
"Ahkam lagi mandi, baru aja selesai latihan!" ucap Manda, berhasil membuat pipi gadis itu merah merona.
"Emmm, Cila pulang dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum---" Gadis itu mencubit pipi Zahira kemudian langsung berlari kecil menuju gerbang.
"Wa'alaikumussalam, titip salam buat Bunda---"
Manda menunduk menatap putrinya, lihatlah gadis kecil ini, dia sama sekali tidak terganggu, masih asyik memejamkan mata, dengan bibir yang sedikit terbuka.
"Ih kok Mama ikut gemes ya!"
Sekarang giliran dia yang menghujani pipi putrinya dengan ciuman! Gemas sendiri!
********
"Abhizar mau lagi! Mau, mau, mau!" Bocah itu menganggu Abangnya yang sedang menikmati brownies coklat, padahal yang Ahkam makan sekarang adalah sisa Abhizar tadi.
"Mau! Mau!" Si gembul Zahira ikut bersuara, gadis kecil itu bangun setelah diganggu oleh Papanya.
"Dihabisin loh!"
"Yey!" Zahira melahap brownies di tangannya, hingga memenuhi mulut mungilnya.
"Pelan-pelan, dek!" ucap Ahkam. Namun bocah kecil nan manis itu tetap saja membiarkan mulutnya penuh, lalu dengan jahil ia mengelap tangan kotornya di sarung yang sedang Ahkam gunakan.
"Zira?" Abhizar menggeleng, dia mengambil tissue lalu bersihkan tangan mungil Zahira.
"Sayang...." Zidan muncul dengan membawa pesanan anak-anaknya. Ahkam memesan satu kebab pedas, Abhizar dua roti bakar coklat, Zahira minta dibeliin es cream. Yang paling spesial adalah pesanan Manda. Karena dia memasan semua yang dipesan oleh anak-anaknya.
"Ayang, ayang!!" Zahira berlari ke arah Papa Zidan. Sedangkan Abhizar dan Ahkam membatu membawakan belanjaan yang Zidan bawa.
"Esykim?"
"Cium Papa dulu!" Zidan menunjuk pipinya.
__ADS_1
"Emmmuachhhhh!"
"Lagi, di sini!"
"Emmmuachhhhh!"
Zahira kecil mengikuti semua instruksi yang Papanya berikan.
"Esykim!!"
"Abang Ahkam, Abang By!" panggil Zidan.
"Bang Cam, Bang By!" Zahira ikut memanggil.
"Esykim?"
Ahkam langsung menyerahkan es krim buah yang ia pegang pada Zahira, setelah membuka bungkusnya.
"Cium Papa dulu dong!" ucap Zidan kepada kedua putranya itu. Ahkam tersenyum sambil menggeleng pelan. Si sulung itu memberikan dua kecupan hangat di pipi kiri dan kanan Papanya. Lalu di susul oleh Abhizar, yang malah mencium-cium bibir Zidan.
"Ma, jatah Mama diambil Abang By!!" Ucap Zidan, Manda hanya senyum-senyum melihat tingkah laku suami dan anak-anak.
"Sayang, Abang kangen!" Ahkam mengikuti gaya Zidan sembari memeluk pinggiran sopa. Zidan yang melihat itu pun merasa sedikit geli, tapi memang begitu faktanya. Hampir setiap pulang kerja ia selalu merasakan perasaan rindu yang begitu menggebu pada istrinya.
"Sayang cium!" Abhizar ikut-ikutan sambil berlari ke arah sang Mama, minta digendong. Jari telunjuk bocah itu menunjuk pipi kanan, ekspresi wajahnya sangat persis dengan ekspresi wajah Zidan.
"Emmmuachhhhh!"
"Di sini!"
Manda melotot tak percaya, ternyata Abhizar selama ini sering memperhatikan tingkah Papanya, lihatlah betapa mendalaminya dia berperan sebagai sang Papa!
"Emmmuachhhhh!"
"Makasih sayangkuhh!" Imbuh Ahkam setelah melihat Manda mendaratkan kecupan di pipi Abhizar.
"Hahahaha, kalian ya!" Zidan tersipu malu, ternyata begini ya rasanya diledek oleh anak-anak sendiri.
"Cium, cium!!" Zahira ikut bersuara sembari memukul wajah Papanya.
__ADS_1
"Emmmmmmuachh!" Seisi rumah memberikan kecupan pada gadis kecil itu, membuat dia tertawa dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
...- T A M A T -...