Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
H - 1


__ADS_3

Tatapan Zidan masih tertuju pada dua makam di hadapannya. Tangan kanannya mengelus batu nisan yang bertulisan 'Cakra Budiman.'


"Aku sudah memenuhi janjiku. Aku juga sudah memenuhi semua permintaan Ayah. Aku menjaga dan menyayangi Manda seperti aku menjaga diriku sendiri." Zidan tersenyum sejak. Membayangkan wajah Cakra. Ayah Manda, atau Ayah mertuanya.


"Manda banyak berubah sekarang. Dia semakin cantik. Semakin dewasa dan juga pintar. Dan mulai besok, Kami akan menjadi pasangan suami istri yang sah secara hukum agama ataupun negara. Kami harap, restu Ayah dan Ibu selalu menemani langkah kami."


Zidan menyentuh batu nisan di sebelah makam Cakra. "Ibu, Manda sangat menyayangi dan merindukanmu. Dia tidak pernah lupa berdoa untukmu. Dia gadis yang baik, dan akan menjadi calon Ibu yang baik juga untuk anak-anak kami. Sama sepertimu."


Sekali lagi, Zidan menaburkan kelopak bunga di atas dua makam itu. Sebelum akhirnya dia melangkah menjauh. Meninggalkan kedua makam itu dalam kondisi bersih, tanpa ada rumput liar yang tumbuh di atasnya.


Zidan memang lebih sering datang sendiri. Kadang dia bisa datang sampai 3 atau 4 kali dalam sebulan. Dan satu di antara nya dia pasti mengajak Manda.


Tapi hari ini, dia memilih untuk membiarkan Manda menghabiskan waktu bersama Mama dan teman-temannya. Sedangkan Zidan sendiri sibuk mengurus persiapan pernikahan sejak dua minggu yang lalu. Dan mengunjungi makam orang tua Manda memang agenda terakhirnya hari ini. Dia datang untuk menyampaikan kabar gembira pada mereka. Walaupun Zidan tau, mereka tidak bisa menghadiri pernikahannya dengan Manda. Tapi setidaknya, Zidan bisa merasa lebih lega setelah melakukan apa yang ia inginkan.


Bicara tentang pernikahan Zidan dan Manda. Sebenarnya, sempat ada penolakan dari Zidan mengenai permintaan Cakra tentang menikah dengan Putrinya. Wajar saja Zidan menolak, karena saat itu dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Manda. Tapi karena Cakra terus mendesak dan hanya memberikan kepercayaan padanya. Maka Zidan pun tidak memiliki celah lagi untuk menolak permintaan Cakra.


Hari itu, tepatnya tanggal 08 Maret. Zidan dan Manda pun menikah secara Siri. Dengan Cakra yang langsung menjadi walinya. Tapi tidak lama setelah pernikahan itu, Cakra malah menyusul Istrinya. Dia meninggalkan Manda, yang saat itu masih berusia 17 tahun.


Hati Zidan pun ikut sakit ketika mendengar Isak tangis Istri kecilnya saat itu. Apalagi ketika melihat air mata jatuh membasahi pipi Manda. Zidan tidak suka dan tidak rela melihat Manda terluka.


Mulai sejak itulah, Zidan berjanji pada dirinya sendiri. Dia berjanji akan menjadi sosok Suami yang terbaik untuk Manda. Menjadi sosok Suami yang bisa menyayangi Manda. Sama seperti Cakra menyayanginya. Walaupun ada beberapa penghalang di hubungan mereka. Salah satunya restu dari keluarga Zidan. Terutama sang Mama yang sangat menolak kehadiran Manda dalam hidup Putrnya.


Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi Zidan. Dia tetap bersikeras untuk mempertahankan pernikahannya dengan Manda. Dan akan berusaha keras juga agar Mamanya bisa menerima kehadiran Manda, istrinya.


Dan walaupun butuh waktu yang cukup lama, Mama Zidan akhirnya luluh juga. Dan bisa menerima Manda sebagai menantunya. Bahkan sekarang sangat menyayangi Manda.


Jika ditanya. Sejak kapan Zidan mencintai Manda?

__ADS_1


Dia pasti akan menjawab. "Sejak aku tidak sengaja melihatnya mandi. Sejak itu aku jatuh cintanya padanya."


Jawaban itu memang terdengar aneh. Tapi itu nyata. Zidan memang mulai mencintai Manda karena itu. Berbeda dengan Manda yang mulai mencintai Zidan dengan bertahap tahap. Sampai rasa cinta itu benar-benar tertanam dan terpupuk subur di dalam hatinya.


Begitulah mereka. Dengan segala kekurangan dan kelebihan. Mereka tetap saling mencintai, menyayangi dan menghargai satu sama lainnya.


...* * *...


"Assalamu'alaikum." Zidan membuka pintu rumah yang memang tidak dikunci. Karena Mama dan Manda sudah pulang sejak satu jam yang lalu.


Zidan melangkah pelan mendekati dapur. Ia bersandar pada pintu dapur, sambil memperhatikan Mama dan Manda yang sedang masak sesuatu di sana. Terlihat Manda begitu bersemangat saat melakukannya. Karena tidak ingin mengganggu, Zidan pun tetap berdiri dan memperhatikan dari tempatnya saja. Sampai Manda tidak sengaja melihat ke arahnya.


"Sayang?" Gadis itu membersihkan tangannya. Tanpa melepas celemek ia berjalan menghampiri Zidan.


"Abang sejak kapan di sini?" tanya Manda sambil mencium tangan Zidan. Ia menatap wajah pria yang malah tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaannya itu.


"Belum lama kok." Zidan merapikan jilbab hitam yang Manda kenakan. Ia mengelus pelan kepala gadis itu, lalu mengecupnya keningnya. "Abang mandi dulu ya. Semangat, Sayang!!"


Manda kembali melanjutkan acara memasaknya setelah punggung Zidan tidak terlihat lagi. Hari ini, dia membuat makanan spesial untuk sang Suami. Resep masakan ini langsung ia dapatkan dari Mama. Dan Mama sendiri yang mengajarkan langsung proses memasaknya.


"Coba cicip dulu, Nak." Mama menyuapi Manda sesendok kuah sup ayam. Makanan kesukaan Zidan saat kecil dulu. Bahkan ini harus menjadi menu utamanya setiap makan.


"Emmm, enak banget Ma!" Gadis itu menghirup aroma sup ayam yang memenuhi dapur. Aroma yang khas dan rasa kuah yang kurih membuat Manda tak sabar untuk segera menikmatinya. Lupa sudah dengan tujuan utama. Memaksakan sup itu Zidan.


"Nah, kalo gitu sekarang kamu juga mandi. Dan ajak Zidan untuk makan."


"Iya, Mama. Terimakasih banyak ya!"

__ADS_1


"Sama-sama, Nak."


Mama tersenyum. Setidaknya dengan cara inilah dia bisa membalas semua tindakan tak pantas yang pernah ia lakukan pada Manda. Setidaknya sekarang Manda tersenyum karenanya.


"Terimakasih juga karena telah memaafkan semua kesalahan Mama."


...****************...


"Kemari, Sayang!" Zidan meminta Manda untuk duduk di dekatnya. Mereka baru saja selesai makan malam. Zidan ataupun Manda makan dengan lahap. Bahkan hampir menghabiskan satu panci sup ayam tadi. Mama yang melihat itu pun ikut tersenyum dan makan dengan lahap juga.


"Berikan tanganmu!"


Manda mengulurkan tangannya. Membiarkan Zidan mengelus dan memijat jari-jarinya. Manda tampak menikmati hal itu. Ia baru saja melakukan pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan, tapi Suaminya memperlakukan dia seolah-olah dia sudah berkerja keras seharian.


"Harusnya, tangan ini yang mendapatkan pijitan." Gadis itu balik memijat lengan dan juga bahu Zidan. Sesekali ia memeluk pria itu, lalu kembali memijat bahu dan kadang berlarih ke lengan kekarnya.


"Emmmggh..." Manda segera berlari begitu merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya. Zidan pun ikut menyusul gadis itu dengan wajah panik.


"Kenapa, Sayang?" Tangan Zidan sudah memijat tengkuk Manda.


"Masuk angin kayaknya." Manda kembali memuntahkan isi perutnya. Kepalanya terasa pusing. Dan badannya juga terasa tidak nyaman.


Zidan terus memijat tengkuk istrinya. Sampai rasa mualnya hilang. Dengan sekali gerakan Zidan membawa tubuh Manda ke dalam gendongannya. Lalu membaringkan gadis itu dia kasur dengan perlahan.


"Sini." Dengan telaten Zidan menggosokkan minyak kayu putih di atas perut, punggung dan tengkuk Manda. Tanpa banyak ngomel ataupun menyalahkan Istrinya. Karena mungkin selama jalan-jalan tadi pagi dia tidak memperhatikan kesehatannya.


"Sebentar!" Manda menahan tangan Zidan yang sedang mengelus perutnya. Ia terlihat sangat nyaman saat tangan itu tetap mengelus perutnya. Sampai akhirnya, ia terlelap sendiri. Dengan posisi tangan Zidan yang masih tertahan di sana.

__ADS_1


"Manis sekali." Zidan memutar tubuhnya, ia memposisikan dirinya berbaring di belakang Manda. Memeluk gadis itu, dengan tangan kanan yang masih menempel langsung di permukaan perut istrinya.


Keduanya terlelap dengan wajahnya yang terlihat begitu tenang. Dalam balutan kebahagiaan.


__ADS_2