Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
Episode Spesial : Ayu & Gilang (3)


__ADS_3

Gempita membuka pintu kamar Ayu, masuk ke dalam kamar yang sudah dimatikan lampunya itu.


Gadis 17 tahun itu duduk di tepi kasur, menatap wajah Kakaknya yang terlihat tidur dengan begitu nyenyak.


"Maaf ya, Kak. Gempi bukannya mau ikut campur, tapi Gempi cuman mau liat Kakak senyum lagi, dan Gempi tau, apa yang bisa buat Kakak tersenyum!"


Gadis itu merasa begitu bahagia saat Ayu mengirim foto susu dan coklat yang Gilang berikan tadi pagi. Ternyata usaha Gempita nggak sia-sia! Dan beruntung, Gilang tipikal cowok yang peka.


"Bahagia terus, ya, Kakakku Sayang!" Gadis itu mengecup kening sang Kakak sebelum meninggalkan kamar. Ayu sama sekali tidak menyadari kehadiran Gempita, ia terlalu hanyut dalam mimpi indahnya.


*******


Masih subuh, Ayu sudah mulai membersihkan kamar, merapikan beberapa benda ke tempat semula, dan tak lupa juga membantu membersihkan rumah, terutama ruang tamu.


"Anak gadis Ibu, masih pagi udah rajin banget beres-beresnya." Bu Dewi yang sedang menyiapkan sarapan di dapur sendari tadi memperhatikan Ayu yang sibuk menyapu rumah dan bolak-balik dari ruang tamu.


"Hehehe, supaya bersih, Bu."


"Bilang aja, hari ini ada tamu spesial yang mau ke rumah, iya, 'kan?" Ibu anak dua itu menoel pipi anak perempuan pertamanya, senang sekali menggoda.


"Hemmm, itu Kak Gilang, kalo mau ke sini jangan lupa bawain Gempi coklat batang yang 1 Kilogram!" Sahut Gempita yang baru keluar kamar.


"Langsung minta aja ke orangnya, Dek," ucap Ayu, Ibu menggeleng, walaupun Gilang sering menuruti keinginan Gempita, tapi tetap saja Ibu merasa tidak enak pada pria itu.


"Adek?" Bu Dewi menatap Gempita, gadis itu pun segera memasukkan kembali Handphonenya ke dalam saku. Mengurungkan niatnya meminta coklat batang 1 Kilogram pada Gilang.


"Nanti Kakak yang beliin, ya?" Ayu mengelus kepala gadis itu sembari tersenyum.


"Nah, emang Kakak yang paling the best!"


Gempi memeluk Ayu, tidak mau lepas sebelum ia merasa puas!


Halaman depan, teras dan ruang tamu sudah bersih, bahkan ruang tamu itu tercium sangat wangi, tidak ada secuil debu pun di kursi dan meja. Bahkan lantainya terlihat bersih mengkilat.


Tepat jam 9 pagi, tamu spesial yang ditunggu-tunggu pun datang, lengkap dengan membawa semua persyaratan yang telah Gempita sebutkan. Tiga batang coklat untuk si Adek, dua kotak martabak spesial dengan keju yang melimpah untuk Ibu, dan jangan lupa, kopi favorit Ayah. Gilang membawa semuanya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam-" Ayu melotot melihat bawaan di tangan Gilang. "Kenapa harus repot-repot sih?!"


"Aku udah beli loh, masak malah dimarahin?"


"Hemmm, ya udah, ayok masuk! Ibu sama Ayah ada di rumah kok!"


Gilang tersenyum, ia melangkah dan langsung disambut oleh senyuman Bu Dewi, ada Gempita juga yang sudah menatap ke arah coklat pesanannya.


"Assalamu'alaikum, Bu." Gilang mencium punggung tangan Bu Dewi seperti biasa. Lalu hanya menaikkan alisnya saat tatapannya bertemu dengan Gempita.


"Wa'alaikumussalam, Nak. Silahkan duduk, Ibu buatin minum ya?"


"Udah Ayu buatin kok, Bu," sahut Ayu.


"Emmm, ini, Bu. Martabak kesukaan Ibu, dan ini, kopi favorit Ayah!"


"Ya Allah, nggak usah repot-repot gini, Nak!" ucap Bu Dewi, tapi dua kotak martabak sudah pindah ke tangan. Gempita melirik, menunggu bagiannya.

__ADS_1


"Coklat, untuk si Manis!" Gilang menyerahkan keresek yang ia pegang pada Gempita, gadis itu langsung menyambar sebelum dimarahi Kak Ayu dan Ibu.


"Makasih, ya, Nak."


"Sama-sama, Bu."


Ayu menarik tangan Gilang, mengajaknya untuk duduk di ruang tamu, Ayah masih ada urusan, belum sempat untuk menyapa.


"Kenapa ngeliatinnya kayak gitu sih!" Ayu mengusap wajah Gilang, karena tak tahan dengan tatapan pria itu.


"Kangen tau!" Gilang menahan tangan Ayu, tatapannya fokus pada gelang emas yang melingkar dipergelangan tangan kekasihnya.


"Gelang baru?"


"Iya." Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Gilang, semalam ia mencoba gelang yang Arzia berikan dan lupa membukanya tadi.


"Bagus, kok kamu nggak bilang, supaya aku temenin kamu pas beli?"


Ayu menatap Gilang, haruskah ia mengatakan kalau gelang ini dari Arzia?


"Emmm, sebenernya, ini hadiah dari Arzia," ucap Ayu, dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Gilang! Lebih suka untuk terbuka satu sama lain.


"Oh." Gilang memalingkan wajah, mengambil gelas di atas meja, menenguk isinya hingga setengah.


"Dia sering ke sini?"


Ayu menghembuskan napas pelan, salah, seharusnya dia tidak memakai gelang ini sekarang!


"Kemarin, dia pamit, mau balik lagi ke Amrik, terus ngasih gelang ini sebagai kado ulang tahun, nggak lebih, kok!" jelas Ayu.


Ayu berusaha menyentuh tangan Gilang, pria itu diam, tidak menolak.


"Kamu bakalan lama di sana?"


"Paling cuman seminggu." Gilang menatap Ayu lekat-lekat, gadis ini selalu mengerti dirinya, jadi Gilang tidak ingin mengambil pusing tentang Arzia. Bukan kah Ayu sendiri sudah memilih dia? Lalu untuk apa mempersalahkan orang lama yang sebatas sahabat kecil saja?


"Hari ini mau ke jalan-jalan ke mana? Aku temenin!" ucap Gilang sambil tersenyum.


"Ada kedai es krim yang baru buka di dekat rumah Qonita, terus kayaknya makan siang di Doremi enak, sih."


"Oke, ke mana pun, aku bakal temenin!"


"Makan malamnya di rumah ya, Ibu sama Ayah yang minta!"


"Siap, Nona Cantik!" Gilang menoel dagu Ayu sambil menaikkan alisnya, tak lupa dengan senyum tipis yang menggoda.


"Apaan, sih, Lang!"


"Ya udah sana, siap-siap, mau jalan sekarang, kan?"


"Iya, tunggu bentar ya, aku ambil tas dulu di kamar!"


"Iyaaa." Gilang menyandarkan punggung, menatap sekeliling ruang tamu, tidak banyak yang berubah dari ruangan ini, hanya ganti warna cat dinding dan ada beberapa pajangan baru di atas meja.


"Ternyata udah lama juga ya, aku nggak pernah ke sini!" gumam Gilang.

__ADS_1


Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan es krim, lalu di lanjut dengan makan siang di restoran Favorit Ayu dan yang terakhir, menikmati waktu bersama dengan pemandangan indah dari senja di pinggir pantai, sebelum akhirnya pulang untuk makan malam di rumah, sesuai permintaan Ibu dan Ayah.


"Makasih banyak ya buat hari ini," ucap Ayu saat ia mengantar Gilang yang hendak pamit pulang setelah makan malam.


"Sama-sama, kamu bahagia?"


"Banget."


"Itu udah lebih cukup buat aku!" Gilang mengelus kepala Ayu dengan tatapan mata yang terfokus pada wajah gadis itu. "Aku bakalan lakuin apapun buat kamu, Ay!"


"Makasih, ya, Lang."


"Iya, sama-sama."


"Kamu hati-hati di jalan, inget mandi dulu sebelum tidur!"


"Iyaaa, kalo gitu aku pulang ya?"


"Maaf, aku nggak bisa nganter kamu ke Bandara!"


"Nggak papa, besok ketemu lagi, kalo urusanku di sana udah selesai, aku langsung pulang kok!"


"Iya, jangan lama-lama!" Ayu maju selangkah, menatap Gilang. "Boleh minta peluk?"


Gilang tersenyum, ia membuka tangannya lebar-lebar. "Sini!"


Gempita yang mengintip dari jendela mengigit jarinya, bisa-bisanya dua orang itu malah berpelukan! Membuat iri jiwa jomlonya!


"Aku pulang, ya. Kalo kangen, bilang aja, jangan gengsi!"


"Hahaha, hati-hati!!"


Ayu melambaikan tangannya saat mobil Gilang mulai keluar dari halaman depan. Gadis itu menghembuskan napas lega. Lunas sudah kerinduan yang selama ini ia pendam.


*********


Pukul sebelas malam Gilang baru sampai rumah, ia tadi sempat mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan. Setelah mandi dan berganti pakaian, pria itu pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia masih kepikiran dengan apa yang ia bicarakan dengan Ayah Ayu tadi.


Sebelum makan malam, Ayah mengajak Gilang untuk mengobrol di ruang tamu, hanya mereka berdua, Ayu sedang membatu Ibunya menyiapkan makan malam.


"Gimana kabarmu, Nak?"


"Alhamdulillah baik, Yah. Ayah gimana?"


"Baik juga. Gimana pekerjaannya, lancar?"


"Alhamdulillah lancar, besok siang Gilang mau berangkat ke Bali, Villa yang di sana sedang tahap renovasi!"


Ayah manggut-manggut. Gilang berdehem, ia menatap Ayah sejenak, sebenarnya ada yang ingin Gilang sampaikan, tapi dia terlalu gerogi untuk menyampaikan ini!


"Emmm, gimana, ya?" Pria itu mengetuk pahanya. Melirik Ayah sekali lagi. Baiklah, dia harus berani menyampaikan ini, mumpung ada kesempatan!


"Sebenarnya, Gilang punya rencana-" Gilang menjelaskan semua rencana yang memang sudah ia pikirkan sejak tadi, lebih tepatnya sejak ia melihat Ayu memakai gelang yang katanya dari Arzia itu!


Ayah menyimak dengan seksama semua yang Gilang sampaikan. Setelah mendengar semuanya, Ayah pun setuju dan malah memberikan dukungan!

__ADS_1


"Huh, semua ini aku lakukan karena aku nggak mau kehilangan kamu, Ay!" Gilang mematikan lampu kamar, menambah volume AC dan menarik selimut hingga menutupi dada. Pria itu merasa begitu lega sekarang, setidaknya ada seseorang yang mendukung dan mengerti jalan pikirnya selain Ayu, yaitu Ayah dari gadis itu sendiri!


__ADS_2