
Assalamu'alaikum, Pembaca Tercinta<3
Sebelumnya Saya meminta maaf sebesar-besarnya, karena banyak sekali hal yang kurang dari cerita Manda & Om Zidan. Yang memang hal tersebut saya rasa tidak harus diceritakan lagi di sini. Jika ada yang merasa kecewa, sekali lagi maafkan saya.
Dan terima kasih buanyakkk buat pembaca yang masih stay nungguin cerita ini, padahal saya sering ilang ibarat ditelan bumi😭 Intinya terimakasih sebanyak-banyaknya buat yang udah ngikutin dari awal... Terimakasih, dan loveyou sekebon<3
Oke, dikesempatan ini, saya juga mau numpang promosi cerita baru, dengan judul 'Kamu (bukan) Pilihanku!'
Huhu... Semoga di cerita baru ini saya nggak gagal lagi memberikan yang terbaik buat pembaca semua🙂😭 Mohon dukungannya, ya🙏🏻
**********
Blurr :
Bunda meminta Fauzan untuk menikahi adik angkatnya, Karin. Awalnya Fauzan menolak dengan alasan dia sudah menganggap Karin sebagai adiknya sendiri. Namun, Bunda terus memintanya menikahi gadis itu. Demi Bunda dan demi menghentikan desakan dari Kakaknya juga, Fauzan pun menikahi Karin, tepat dua minggu sebelum kepergian Bunda!
Sejauh manakah pernikahan Fauzan dan Karin akan bertahan? Apakah Fauzan akan tetap mempertahankan Karin sebagai istrinya setelah Bunda tiada?
*Cuplikan Episode 1 :
Setelah dua hari sakit di rumah, Bunda Aisyah akhirnya dilarikan ke rumah sakit karena sudah tidak sadarkan diri sejak satu jam terakhir. Dan sekarang kondisinya sudah lebih membaik, hanya saja dia masih terlihat begitu pucat.
Karin, putri angkatnya masih setia menemani wanita paruh baya itu. Sementara Anggun, sang putri pertama sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, maklum dia sekarang sudah menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Harus pandai membagi waktu, antara mengurus anak dan suami, tak lupa untuk tetap mengunjungi sang Bunda tercinta. Sedangkan Fauzan, anak kedua Bunda sedang menyelesaikan biaya administrasi.
"Omaa..." Gita berlari begitu melihat sang Oma terbaring lemah, disusul oleh langkah Anggun yang sedang menggendong Alfi, anak keduanya yang masih berusia dua tahun setengah.
Bunda berusaha tersenyum saat sang cucu pertama mencium telapak tangannya. Lalu tatapannya beralih pada Anggun.
"Assalamu'alaikum, Bunda."
Alfi sudah beralih dalam gendongan Karin. Bocah itu terlihat begitu tenang dalam gendongan sang Aunty.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Nak," ucap Bunda nyaris tak terdengar. Anggun duduk di samping ranjang, Gita juga ikut naik ke pangkuannya.
"Apa yang Bunda rasain sekarang?" Tanya Anggun dengan air mata yang berlinang. Anggun mengelus tangan Bunda pelan.
"Bunda baik-baik aja, suamimu mana?" Bunda sudah berusaha mengeraskan suaranya. Namun tetap saja, terdengar seperti seseorang yang sedang berbisik.
"Bang Anam masih di kantor, tadi Anggun di anter supir ke sini. Sebentar lagi Bang Anam nyusul."
"Fauzan? Mana adikmu?"
Anggun menoleh ke arah Karin. "Fauzan mana?!"
"Emmm, Bang Fauzan lagi ngurus administrasi, Kak!" Jawab Karin pelan.
Bunda memperhatikan Karin yang sedang menggendong Alfi, lalu beralih pada Anggun. "Panggil adikmu!"
"Sebentar ya, Bun. Anggun panggilin."
Anggun menurunkan Gita dari pangkuannya. Lalu keluar ruangan, bermaksud untuk mencari adiknya, Fauzan.
"Iya, Bunda?"
Bunda meminta Karin mendekat dan berdiri di sampingnya. Tangan yang sudah mulai keriput itu menyentuh ujung hijab yang Karin gunakan. Spontan Karin sedikit menundukkan tubuh, agar bisa mendengar dengan jelas apa hendak Bunda sampaikan.
"Turuti semua permintaan Bunda, ya Nak. Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu!"
Tanpa pikir panjang Karin mengiyakan ucapan Bunda. Bahkan Karin sendiri belum tau apa yang sebenarnya Bunda inginkan.
"Bunda?" Fauzan masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Bunda. "Kenapa, Bun. Bunda mau apa?"
Bunda tersenyum sambil memberi isyarat agar Anggun mengambil alih Alfi dari gendongan Karin. Lalu bunda juga meminta agar Anggun membawa Gita untuk keluar sebentar. Kini hanya tersisa Karin, Fauzan, dan Bunda di dalam sana.
"Fauzan, anak Bunda." Bunda meraih tangan kekar Fauzan. Tatapannya terlihat begitu penuh kasih sayang, hal yang sama Bunda lakukan pada Karin. Tangan kiri Bunda menggenggam tangan Fauzan, sementara tangan Karin ada di sebelah kanan.
__ADS_1
"Menikahlah dengan Karin!"
"Hah?" Fauzan mengeluarkan ekspresi yang sangat tak terduga, ia langsung menatap Karin, lalu menggeleng pelan. Menolak permintaan Bunda.
Sementara Karin hanya tertunduk. Tak mampu membantah permintaan sang Bunda.
"Bunda-" Fauzan merasa sangat tidak enak ketika melihat ekspresi kecewa Bunda.
"Fauzan nggak bisa, Bun. Karin udah Fauzan anggap seperti adik Fauzan sendiri!"
Dusta, padahal selama ini Fauzan sangat menolak kehadiran Karin di tengah-tengah keluarga mereka. Bahkan Fauzan tak pernah mengizinkan Karin untuk memanggilnya dengan panggilan Abang!
"Menikahlah dengan Karin!" Pinta Bunda sekali lagi.
Fauzan mengalihkan pandangannya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Bunda.
"Kasih Fauzan waktu buat mikirin ini--" Pria itu meninggalkan ruangan. Tanpa menoleh lagi.
Karin menatap Bunda. Hati gadis itu terasa begitu sakit melihat Bunda yang seolah kecewa dengan jawaban Fauzan.
"Bunda-" Karin mengecup punggung tangan Bunda lembut.
"Kamu juga mau menolak permintaan Bunda?" Lirih Bunda.
"Nggak, Bun. Karin kan udah janji, Karin bakalan ikutin semua kemauan Bunda. Tapi Bunda juga harus janji sama Karin, Bunda harus terus ada untuk Karin!"
Seuntai senyum muncul di sudut bibir Bunda. Setidaknya masih ada Karin dan Anggun yang selalu menuruti semua permintaan.
*******
Bagi yang berkenan silahkan mampir, Saya sangat menanti kedatangan Anda sekalian 🙏🏻 Loveyou<3
Sekian dari Saya, Icha Annisa Amanda.
__ADS_1
~Lombok, 13 April 2022