Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
IZIN


__ADS_3

"Sussst, kecilan ngomongnya, Yu! Nanti kalo ada yang denger gimana?!" bisikku sembari mencubit pelan lengan Ayu.


"Eh iya, maaf, maaf."


"Tapi serius loh, Manda. Kamu lagi ada masalah apa?" tanya Arina. Gadis polos itu memajukan wajahnya. Menyangga dagunya dengan telapak tangan.


"Emmm... ini hanya masalah kecil. Aku bisa selesain sendiri. Kalian tenang aja," ucapku tersenyum meyakinkan.


Ayu dan Arina menghela napas bersamaan. Tangan mereka meranggul bahuku. Sedikit mengelusnya. "Kamu bisa, kita yakin kamu pasti bisa. Yang semangat ya. Kalo mau cerita, kita akan selalu ada kok."


Sungguh, aku terharu dengan ucapan mereka. Mereka selalu ada. Selalu menjadi orang terdekat dan terdepan untukku.


"Terimakasih, ya." Kami berpelukan cukup lama. Dalam hati. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Ayu dan Arina.


***********


Jam pelajaran pertama sudah selesai sejak lima menit yang lalu. Namun Bu Diah, sebagai guru pengisi pelajaran kedua tak kunjung datang juga.


Maka sesuai dengan tata tertib kelas yang ada. Vino selaku ketua kelas mencari informasi di ruang guru. Menanyakan apakah Bu Diah masuk atau tidak? Ada tugas dari Bu Diah atau tidak?


"Khemmm." Vino berdehem. Ia berdiri di depan kelas. Memegang selembar kertas di tangannya.


"Bu Diah nggak bisa masuk. Beliau kurang sehat. Jadi..." Vino mengajungkan kertas di tangannya. "Kita dapat tugas."


"Hemmmm...." Desah serempak kami.


"Hehehe.... tenang dulu. Tugasnya nggak banyak kok. Sedikit!" ucap Vino sembari menuliskan beberapa kalimat di papan tulis.


"PELAJARI MATERI SEBELUMNYA. MINGGU DEPAN ULANGAN!"


"Sedikit, 'kan?" tanya pria tampan itu sambil cengegesan.


"Matamu!!!" Teriak kami dengan serentak.


Hahaha. Kasian juga Vino.


"Dih. Kalian ini!" ucapnya sebelum kembali duduk.


"Emmm, Vin!" Panggilku sedikit kencang. Dan bukan hanya Vino yang menoleh melainkan semua orang menatap ke arahku.


"Hehehe... sini bentar!" lirihku.


Sebagai pria baik. Vino pun bangun. Ia melangkah mendekati mejaku. "Ada apa, Manda?"


"Gimana sama tugas kelompok?" tanyaku.

__ADS_1


"Oh, ya. Aku hampir lupa!" Pria dengan lesung pipi di sebelah kiri itu menepuk jidatnya. "Nanti, jam dua kita kumpul ya?!"


"Hah? Nanti siang?"


"Iya. Lusa harus udah dikumpulin soalnya!"


Aku diam sejenak. Apakah Om Zidan akan memberiku izin keluar?


"Gimana, Manda?"


"Emmm, insyaallah bisa. Tapi Vin.... Kita kerjaain tugasnya di rumah siapa? Rumah kamu?"


Vino tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Kayaknya nggak bisa di rumah deh. Rumah Gilang aja, ya? Atau mau di mana? Di rumahmu, bisa?"


Di rumah Gilang? Aku kembali terdiam. Seratus persen. Aku yakin kalo Om Zidan tidak akan memberi izin. Tapi, kalo di rumahku? Apakah akan dapat izin?


"Emmm, di rumahku saja, Vin!" ucapku dengan yakin.


"Oke. Di rumahmu ya!!" Vino mengajukan dua jembolnya. "Jangan lupa cemilannya....." Bisik pria itu lalu kembali ke mejanya.


Aku melihat Vino membisikan sesuatu pada Gilang. Yang membuat senyum terucikir di bibir pria itu. Ia sempat menoleh ke belakang dan menatapmu. Aku menyadari itu.


Bismillah. Semoga ini jalan yang terbaik.


*********


"Ayo, Manda!" ucap gadis itu. Dia terlihat buru-buru juga sepertiku.


Kami berdua memasang kaos kaki dengan cepat. Meninggalkan Mushola. Dan berjalan cepat menuju gerbang utama.


Di tempat biasa kami menunggu jemputan. Sudah ada Ayu dan Qonita. Keduanya sedang halangan, oleh sebab itu mereka tidak ikut ke Mushola.


"Geser dikit, Yu!" ucapku lalu duduk di samping Ayu. Otakku terasa sedikit pusing. Bukan karena aku sakit. Tapi karena memikirkan bagaimana caranya meminta izin kepada Om Zidan. Aku sibuk sendiri dengan pikiranku.


"Manda? Om Zidan udah dateng!" Ayu menyenggol tubuhku hingga aku tersadar.


"Eh, iya. Aku duluan ya!" Dengan cepat aku menyalami ketiga gadis yang menatapku dengan tatapan aneh itu. Tapi untuk saat ini, aku tidak menghiraukan tatapan mereka! Ada yang lebih penting dan berbahaya!


Keringat dingin mulai menetes dari pelipisku. Cuaca memang panas. Tapi entah mengapa. Kedua telapak tanganku terasa begitu dingin.


Tenang, Manda. Tenang!


Aku membuka pintu mobil dan langsung mencari posisi ternyaman untuk duduk.


"Assalamu'alaikum, Sayang!" ucapku begitu pintu dan kaca mobil tertutup.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, Manis!" Dengan penuh senyuman Om Zidan mengulurkan tangannya. Dan kusambut pula dengan tanganku yang masih dingin. Kucium punggung tangannya seperti biasa.


"Kamu sakit?" ucapnya. Ia terlihat panik. Tanganku yang dingin ia genggam erat.


"Aku...."


"Susst... Jangan banyak bicara! Istirahat aja!" Ia segera melajukan mobil. Dengan tanganku yang masih di dalam genggamannya.


Entah, aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan. Tapi aku yakin, dia sebenarnya tau, aku sedang tidak sakit. Seperti apa yang diduga sekarang.


Mobil melaju sedang. Sampai ia berhenti di depan halaman rumah kami. Aku dan Om Zidan masih di dalamnya. Belum berniat untuk keluar.


"Sayang... sebenarnya. Ada yang ingin Manda katakan," ucapku pelan.


Om Zidan memiringkan tubuhnya. Dia memantapku. Lalu mengecup punggung tanganku lembut. "Mandaku ini mau ngomong apa? Katakan aja!"


"Tentang tugas kelompok...." ucapku ragu.


"Iya, ada apa dengan tugas kelompokmu, Sayang?"


"Emmm. Gimana kalo tugas kelompoknya dikerjain di rumah ki-kita?" Aku langsung tertunduk setelah mengatakannya.


"Hei." Om Zidan menyentuh daguku. Memintaku untuk mengangkat kepala dan bertatapan lagi dengannya. "Kapan mereka akan datang?"


"Sekarang, jam dua."


Om Zidan menatap jam tangannya.


"Masih ada satu setengah jam lagi untuk makan siang dan persiapan," ucapnya tersenyum.


"Jadi? Mereka boleh datang?"


"Tentu saja. Aku lebih tenang jika kalian di sini. Aku bisa mengawasi kalian. Yang terpenting, aku bisa memastikan kalo istri kecilku aman!"


Emmmuach. Satu ciuman hangat mendarat di keningku. "Jangan takut. Katakan saja apapun itu padaku! Aku suamimu! Aku nggak mungkin marah dan menolak keinginanmu!"


Om Zidan mengelus kepalaku.


"Terimakasih, Sayang," lirihku.


"Kembali kasih, Sayangku, Cintaku, I Love You...."


"I love you too...."


Terimakasih, Tuhan. Karena telah mentakdirkan pria sebaik Om Zidan untukku.

__ADS_1


***********


__ADS_2