Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
TANTANGAN


__ADS_3

Aku keluar dari kamar, dengan memakai mukenah berwarna hijau lumut. Mukenah ini baru. Tercium jelas dari wangi khasnya!


"Tempat solatnya di mana, ya?" gumamku sembari melangkah mengikuti naluri hati. Berbelok ke sebelah kanan. Hah, betul kan! Di sini tempatnya!


"Sayang?"


Om Zidan menoleh mendengar sapaan dariku. Lantas tersenyum sembari menggelarkan sajadah berwarna hitam dengan gambar ka'bah di tengah-tengahnya. "Silahkan!"


Hiks, kenapa jantungku mulai berdebar, ya? Padahal belum terjadi apa-apa. Dan ini hanya sekedar solat berjamaah seperti biasa!


Huh, tenang Manda. Tenang! Om Zidan pasti akan memintanya setelah solat isya'. Harusnya begitu, bukan?!


Om Zidan menoleh sekali lagi. Mengamati sekitar wajahku. Memastikan rambut dan juga dagu sudah dalam keadaan yang seharusnya saat sedang solat. Dia sekilas tersenyum lalu kembali membalik tubuhnya.


Jantungku kembali berdebar kencang kala mendengar takbir yang terucap dari Om Zidan. Begitu seterusnya, setiap takbir yang terdengar terasa begitu menenangkan sekaligus mendebarkan.


Setelah solat, kami berzikir dan berdo'a seperti biasa. Tidak ada yang aneh sampai detik ini, semuanya berjalan normal sampai aku ingin mencium punggung tangan Om Zidan. Namun Om Zidan malah mundur dan menjaga jarak denganku.


"Jangan mendekat! Tetap di situ dulu!" Ucapnya sembari berdiri. Dia menyempatkan diri untuk mengusap kepalaku lalu melangkah meninggalkan aku yang mematung menatap kepergiannya.


Tidak memakan waktu yang lama, Om Zidan kembali. Ada dua Al-Qur'an baru yang dia bawa, dan juga selembar kerta putih. Entah, aku tidak tau kertas apa.


Om Zidan memberikan kedua Al-Qur'an itu kepadaku. Dia mengambil sebuah meja lipat di sudut mihrob, membukanya dan memintaku untuk meletakkan kedua Al-Qur'an itu terlebih dahulu di sana. Aku pun menurut tanpa membantah dengan sepatah kata.


"Jadi, aku punya tantangan baru untukmu!" Dia menyerahkan kertas putih itu padaku.


Program One Day One Juz, With My Little Wife💖


Aturan :


Program ini mewajibkan kepada kedua belah pihak untuk membaca satu Juz selama satu hari. Adapun satu Juz itu bukan dalam satu waktu, melainkan bisa dicicil mulai dari seperti tiga malam (saat Tahajjud). Atau boleh membaca seperempat Juz setiap selesai solat.


Dan jika salah satu dari kedua belah pihak tidak bisa menuntaskan atau menyelesaikan satu Juz dalam sehari, maka boleh dikenakan hukuman. Hukumannya tergantung dari pihak yang menyelesaikan pada pihak yang tidak menyelesaikan!


Dalam hal ini, kejujuran dari kedua belah pihak lah yang diutamakan!


Semangat💖


Aku menatap Om Zidan yang juga sedang menatapku. "Manda nggak masalah, Manda rerima tantangan baru ini!" Ujarku dengan semangat.


"Gimana sama hukumannya?"


Aku diam sejenak. Jika dipikir-pikir, selama ini Om Zidan tidak pernah memberikan hukuman yang serius. Jadi, apa yang harus aku khawatirkan jika seandainya aku yang akan mendapatkan hukuman darinya!


"Aku akan terima juga!"


"Yakin?"


"Iya!"


Om Zidan pun mengacungkan kedua jempolnya.


"Kita mulai dari awal, ya?" Ujar Om Zidan sembari mengambil Al-Qur'an miliknya. Begitu pula dengan aku yang dengan semangat juga mengambil Al-Qur'an milikku. Aku mencium sampulnya terlebih dahulu sebelum membukanya. Dan pada akhirnya, kami sama-sama membaca Al-Qur'an sampai adzan isya' terdengar. Aku menutup Al-Qur'an. Mengintip milik Om Zidan.


Yah. Om Zidan ternyata sudah sampai halaman delapan ya?! Berbeda satu halaman denganku! Aku baru sampai halaman tujuh!


Tidak ada kejadian aneh apapun setelah itu. Kami solat isya berjamaah, berdzikir dan berdo'a seperti biasa. Tapi kali ini, Om Zidan berbalik dan mengulurkan tangannya. Aku meraih tangan kekar itu, menciumnya, dan dibalas dengan satu kecupan di kening oleh Om Zidan.


"Sini! Aku peluk dulu!" Dia merentangkan tangannya. Memberikan akses agar aku bisa masuk ke dalam pelukannya. Tanpa pikir panjang, aku pun meringsut dan memeluk tubuh Om Zidan yang masih dibungkus oleh baju koko putih dengan kerah baju berwarna hitam, senada dengan warna peci dan juga sarungnya. Dia terlihat semakin tampan.


Lucunya, suasana ini malah hancur karena suara dari perut kami berdua. Sudah besar, serentak pula!


"Hehehe, Manda laper!" Ujarku tersenyum malu.


"Sama, aku juga." Om Zidan melepaskan tubuhku dari pelukannya. Dia mengusap kepalaku sekali lagi.


"Ganti baju dulu, ya. Setelah itu, kita makan malam. Semuanya udah siap!"


Sepertinya yang Om Zidan katakan. Kami mengganti baju terlebih dahulu. Merapikan tempat solat sebelum meninggalnya. Baju koko, sarung dan juga mekenah aku gantung supaya tidak bau.


"Udara di luar sangat dingin," ucap Om Zidan sembari menyerahkan sebuah jaket yang sama dengan jaket yang sedang ia kenakan padaku. Jaket berwarna Coklat, dengan satu garis hitam lurus di kedua lengannya.

__ADS_1


"Emang kita makan malam di mana, Sayang?" tanyaku setelah memakai jaket.


"Di bawah langit, di atas tanah!" jawab Om Zidan. Ia meraih tanganku, dan mengajak aku untuk segera keluar dari kamar.


Kejutan apa lagi yang akan Om Zidan berikan?


 


Di atas tanah. Di bawah langit.


Taman samping Villa Anggrek adalah tempat yang Om Zidan maksudkan. Di atas sebuah tikar tebal, yang digelar di atas rumput taman, ada sebuah meja lesehan bundar. Di atas meja sudah tersaji dua ikan bakar jumbo, satu piring sate, satu piring nasi, dua gelas air putih, dan juga beberapa buah-buahan segar.


Lampu taman cukup redup, karena selain lampu, ada beberapa lilin kecil yang menyala di sana. Mengelilingi area makan malam kami.


Langit malam yang dihiasi bintang dan juga bulan ikut serta mengambil bangian. Cahaya dari bulan juga ikut menjadi penerang. Hembusan angin malam terasa begitu dingin, saat menerpa wajah. Namun berbeda dengan tangan dan juga bagian tubuhku yang lainnya. Terasa begitu hangat.


Dengan tangan yang masih saling bertautan, tak lupa juga dengan senyum yang mengembang. Kami melangkah mendekati meja bundar. Melepas sendal. Lalu duduk saling berhadapan.


"Gimana? Aku udah berusaha melakukan yang terbaik. Kamu suka?"


Tatapan mata Om Zidan menujukkan sebuah harapan. Mungkin berharap dengan jawaban, bahwa aku suka. Tapi tidak, karena bukan itu jawabannya!


"Ini luar biasa! Manda sangat suka!"


Ya, itulah jawaban yang seharusnya! Jawaban yang membuat Om Zidan tersenyum senang.


"Sungguh?"


"He'em. Ini makan malam terbaikku!" ujarku sembari meraih tangannya. Menggenggam lalu mencium punggungnya. "Apapun itu, asalkan sama Om Zidan. Maka itulah yang terbaik dalam hidup Manda. Terimakasih ya, Sayang!"


Senyum di wajah Om Zidan semakin mengembang. Matanya berbinar terang, hampir mengalahkan sinar rembulan. "Kembali kasih, Sayang!"


Karena perut sudah tidak mendukung untuk uwu-uwu'an lagi. Akhirnya kami pun memulai makan malam dengan membaca do'a makan terlebih dahulu. Agar tidak makan sama Setan! Lumayan kan makan malam selezat ini harus dibagi sama Si Etan.


"Loh, kok nasinya buat Manda semua? Buat Om Zidan mana?" Tanyaku karena Om Zidan mendorong satu piring nasi itu ke arahku. Hanya satu piring ini. Tidak ada yang lain!


"Karena kamu yang lebih butuh itu, Manda."


"Kamu butuh tenaga yang lebih banyak lagi!" Sela Om Zidan sembari mengedipkan matanya. Aku pun langsung memalingkan wajah mendengar ucapannya.


Aku lupa, kalau malam ini, kita akan melakukan sebuah kegiatan yang akan membutuhkan banyak tenaga. Layaknya tenaga saat sedang berolahraga. Hiks, olahraga di saat malam hari disebut olahraga apa, ya?


"Jangan gugup seperti itu, santai aja, Sayang!" Ujarnya sambil meletakkan daging ikan bakar yang sudah ia bersihkan tulangnya di atas piringku. Aku yang sudah mulai malu dan gugup pun memilih untuk diam.


Tanpa bicara saja dia sudah tau aku sedang gugup. Apalagi sampai aku mengeluarkan suara dan terbata-taba saat menjawab ucapannya! Mati sudah aku karena malu mendengar ejekkannya!


Makan di saat gugup ternyata sangat tidak nyaman. Aku merasa susah untuk menelan.


Aku pun mencoba untuk menarik dan menghembuskan napas dengan pelan. Mengendalikan diri agar tidak gugup lagi.


Jika aku terus gugup seperti ini, yang ada Om Zidan akan mengurungkan apa yang sudah ia rencakan. Dengan aku sebagai alasan. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi!


Apa yang seharusnya terjadi malam ini, biarkan lah itu terjadi! Toh bukan hanya Om Zidan yang menginginkannya! Melainkan aku juga?!


Wajar. Itu adalah sebuah kebutuhan. Tanpa adanya itu, mungkin aku, Om Zidan atau kita semua tidak akan bisa sampai ke kehidupan dunia, bukan kah begitu, Bunda-Bunda?


"Sayang?"


Om Zidan langsung mendongak begitu mendengar panggilanku. Dan satu suapan nasi dan juga ikan bakar langsung dari tanganku pun diterimanya. Dia tersenyum sembari mengunyah.


"Bukan ya pria juga butuh tenaga?"


Satu suapan lagi Om Zidan terima. Dia mengunyah sambil memejamkan mata. Menikmati makanannya. Seolah-olah itu adalah makanan terlezat yang pernah ada.


Aku terus menyuapi Om Zidan, sampai satu piring nasi, satu setengah ikan bakar dan juga setengah piring sate kambing itu habis kami makan. Dua gelas air juga sudah tandas. Kami sama-sama tersenyum saat saling memandang.


"Alhamdulillah...."


Akhirnya kenyang dan bertenaga juga.


"Apa kegiatan kita setelah ini?" Aku pura-pura bertanya sembari menyangga dagu dengan kedua telapak tangan di atas meja. Mataku menatap Om Zidan yang mulai bertingkah seperti cacing kepanasan. Dia yang gugup sekarang!

__ADS_1


"Manda yang mulai? Atau Om yang mulai?"


Om Zidan masih bergeming. Sorot matanya menujukkan kepasrahan!


Yang benar saja? Masak aku yang harus memulainya?


Hiks. Om Zidan ini ada-ada saja!


Tanpa pikir panjang lagi, aku pun berdiri, mengitari meja makan dan langsung duduk di samping Om Zidan.


"Eh, kamu mau apa?" Tanya Om Zidan dengan sok polosnya. Sementara aku tidak memperdulikan pertanyaannya, tanganku tetap melingkar mendekap tubuhnya. Hangat.


Aku mendengar Om Zidan menghela napas pelan. Sejurus kemudian tangan kekarnya ikut melingkar memeluk tubuhku. Memberikan sedikit tepukan di punggung dan juga elusan lembut di kepalaku.


"Manda, aku nggak akan nuntut banyak hal darimu. Hanya saja, tolong dengar dan penuhilah permintaanku kali ini. Bisa, kan?"


Aku mendongakkan kepalaku. Tangan kananku sengaja aku tempelkan tepat di dada kiri Om Zidan. "Apapun itu, bukannya Manda selalu dengerin dan nurut  selama ini? Apakah ini tentang----"


"Bukan hanya itu, Manda." Om Zidan menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku. Memberikan kecupan, seirama dengan tangannya yang semakin menarik tubuhku untuk semakin masuk dalam pelukannya.


"Aku mohon, untuk ke depannya. Terus percaya sama aku. Apapun yang orang bilang tentangku, tentang kita, aku harap kamu nggak akan percaya begitu aja! Datang kepadaku, dan tuntut penjelasan dariku!"


Aku menangguk paham.


Kali ini, hal apalagi yang menggangu pikiran Om Zidan? Ini bukan karena Gilang lagi kan?


"Minggu depan, Mama memintaku untuk pulang. Stella akan menikah, Mama mau aku jadi wali untuknya. Mama juga berharap agar aku membawamu. Tapi----" Om Zidan menjeda ucapannya. Ia menunduk untuk menatap wajahku.


"Aku nggak mau kamu ngerasa terancam di sekitar mereka, Manda! Aku paham betul gimana sifat mereka, terutama adikku, Stella!"


Ya, itu dia. Itulah hal yang selama ini berusaha aku lupakan. Aku selalu berusaha melupakan bagaimana tanggapan dari keluarga Om Zidan tentang diriku, lebih tepatnya tentang pernikahan sirri kami.


Pernah aku mencoba melupakan setiap lontaran kata yang mengandung cacian, tuduhan dan juga umpatan kebencian sebagian dari mereka. Tapi nyatanya, aku masih tidak bisa. Kata-kata itu seolah masih terngiang jelas di telingaku.


Bagaimana mereka menuduhku sebagai seorang Pelachur yang naik ke atas ranjang Om Zidan! Dan menjebak Om Zidan sehingga dia mau menikahiku!


Bagaimana mereka menuduhku sebagai Gadis Kecil licik yang pintar memanfaatkan keadaan!


Dan bagaimana Stella melontarkan umpatan kepadaku, karena menganggap akulah sebab berakhirnya bertunangan Om Zidan dengan Tante Vanessa satu setengah tahun yang lalu. Nyatanya, aku sama sekali tidak tau apapun tentang pertunangan itu!


Bahkan aku mengetahuinya setelah Om Zidan menjelaskan semuanya padaku. Saat itu, dengan tegas Om Zidan mengatakan pada Stella dan juga semua orang yang ada di dalam ruang keluarga. Bahwa pertunangan itu berakhir karena keinginan dan juga kemauan dari pihak Tante Vanessa sendiri!


Dengan alasan, Tante Vanessa sudah tidak mencintai Om Zidan lagi. Dia juga mengatakan kalau dia sudah menemukan pria yang tepat untuk dirinya. Dan Om Zidan dengan sukarela melepaskan ikatan mereka, demi kebahagiaan Tante Vanessa! Terlebih lagi, ikatan di antara mereka ada karena dipaksa oleh orangtua! Begitu penjelasan dari Om Zidan!


"Lupain aja, karena aku nggak akan biarin kamu ada di tengah-tengah mereka lagi!" Ujar Om Zidan. Dia semakin mengeratkan dekapannya. Memberikan kehangatan dan juga kenyamanan.


"Nggakk, Sayang. Kita harus tetap datang! Karena gimana pun, Stella membutuhkanmu!"


"Terus gimana Istriku? Menurutmu aku tega biarin dia menderita?!"


Aku melepas pelukanku pada tubuhnya. Membuat Om Zidan langsung menundukkan kepalanya.


"Menurut Om. Istri Om Zidan ini akan menderita selama ada Suaminya di sisinya?" Aku balik bertanya. Tanganku memukul pelan dadanya.


"Katakan? Apa Manda akan menderita hanya karena dengerin omong kosong mereka? Apa menurut Om Zidan, Manda selemah itu?!"


Om Zidan mendesah sambil menggeleng pelan. "Bukan begitu maks----"


Tanpa aba-aba aku langsung membungkam bibirnya. Mengambil jalan pintas agar ia menghentikan ucapannya!


Cukup sudah, aku tidak ingin mengingat itu semua. Untuk ke depannya, aku akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi! Agar aku bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku ini!


Aku menjauhkan bibirku setelah merasa akan kehabisan pasokan udara. Begitu pula dengan Om Zidan, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, sembari menatapku dengan senyum licik di wajahnya.


"Kamu yang memulainya!" Tangan kekarnya kembali menarik tengkukku. Memberikan kecupan di kening terlebih dahulu, sebelum ia kembali melanjutkan aksinya.


"Emm....." Dengan spontan aku mengalungkan kedua tanganku di leher Om Zidan, saat dia dengan gagahnya membawa tubuh kecilku ke dalam gendongannya.


"Kamu milikku!"


Taman samping kami tinggalkan. Masuk ke dalam Villa yang akan menjadi saksi dari setiap de sa han nikmat yang akan segera terdengar.

__ADS_1


Hahaha. Semoga lancar.


__ADS_2