Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU - 24. AHKAM


__ADS_3

"Papa pulang, ya, kasian Mama di rumah, nanti kalo udah selesai ngajinya, langsung ikut Ustadz Agam ke Masjid!"


"Siap, Papa." Ahkam mencium pipi Zidan sebelum masuk ke dalam ruangan.


Hari ini asisten rumah tangga yang biasa menemani Manda sedang kurang sehat, jadi Zidan juga tidak bisa meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Ia tidak akan tenang, dan pikirannya pasti akan terus tertuju pada Manda. Zidan takut Manda kenapa-kenapa!


"Ahkam, gimana kabarnya?" tanya Ustadz Agam sebelum menyimak Ahkam, ini adalah kali pertamanya Ahkam datang setelah kepulangannya dari Singapura.


"Alhamdulillah, baik, Ustadz!"


"Alhamdulillah kalo gitu, Ahkam di simak yang mana sekarang?!" Ustadz Agam mengecek buku rekapitulasi Ahkam. "Halaman 35, ya. isti'adzah basmalah!"


Ahkam mundur setelah selesai disimak dan mendapatkan nilai L, yang berarti lancar, bocah itu berdiri di dekat pembatas ruangan, sedang mencari Cila.


"Cila, cilaaa, Cila....." panggil Ahkam pada gadis kecil yang sedang melipat sajadah itu. Gadis kecil itu tersenyum saat menoleh ke arah Ahkam, ia meninggalkan sajadah yang baru saja ia lipat.


"Ahkam udah pulang ya?"


"Iya." Ahkam menatap Cila cukup lama.


"Cila, kalo Cila udah besar, kayak Mama Manda, Cila mau nggak menikah sama Ahkam?" ucap Ahkam pelan.


Cila mengerutkan keningnya. Tidak mengerti maksud Ahkam.


"Menikah itu apa?"


Ahkam ikut berpikir. Dia juga bingung, sebenarnya menikah itu seperti apa?


"Ahkam menikah sama Cila, Cila juga menikah sama Ahkam. Kayak Papa Zidan dan Mama Mama! Mau ya?"


"Ya udah, Cila mau deh menikah sama Ahkam!" Cila tersenyum, walau dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata menikah itu, yang ada dibayangkannya adalah bermain dengan Ahkam sampai mereka besar nanti!


********


Ahkam membawa tasnya ke ruang tengah, Papa Zidan dan Mama Manda sedang duduk di sana, Zidan menyuapi Manda bakso yang baru ia beli.


"Ih, kok ada jeruk nipis di baksonya, Pa?" tanya Ahkam, saat melihat ke dalam mangkuk yang Zidan pegang.


"Papa juga nggak tau, ini maunya Mama, coba tanya Mama, kenapa makan bakso harus pakek jeruk nipis juga?!" Zidan menggeleng, tadi dia juga sempat kaget saat Manda minta baksonya dipakein jeruk nipis! Ada-ada saja permintaan ibu hamil satu ini!


"Ahkam mau cicip nggak, enak loh!" ucap Manda, Ahkam yang ditawarin, malah Zidan yang merinding.


"Emmm---"


Hap.


Satu bakso kecil plus mie dan kuahnya masuk ke dalam mulut Ahkam. Bocah itu menatap Manda, ia tetap mengunyah walaupun rasanya sangat aneh, kuah baksonya sudah seperti jus jeruk nipis saja!


"Enak kan?"


Ahkam mengangguk pelan, lalu mengambil gelas di atas meja, meneguk isinya hingga tandas.

__ADS_1


"Enak kok, Pa. Coba sekarang Papa yang cicipin!"


Manda beralih menatap Zidan, sejak tadi ia sudah menawarkan, tapi Zidan terus menolak, dengan alasan takut Manda tidak kenyang jika Zidan ikut mencicipi juga.


"Abang mau juga?"


"Emmm, sini, sini, biar Abang suapin Sayang lagi!" Zidan langsung mengarahkan sendok ke Manda. Manda menerimanya dengan ekspresi wajah cemberut, karena Zidan masih tidak mau mencicipi baksonya.


"Padahal enak, tapi kenapa Abang nggak mau cicipin, Ahkam aja mau!"


Eh. Zidan menggeleng pelan. Ia mengusap pipi Manda lalu tersenyum.


"Ya udah deh, Abang minta ya baksonya!"


Sambil terpejam Zidan menunggu bakso itu masuk ke dalam mulutnya dah ---


"Emmm, enak, pantes Kamu suka!"


Padahal apa yang Zidan katakan saat berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan, ingin rasanya ia memuntahkan bakso ini sekarang juga. Tapi demi Manda, Zidan rela mengunyah dan menelannya.


"Ya udah kalo gitu, Abang sama Ahkam aja yang habisin, Mama udah kenyang!"


Hah? Ahkam dan Zidan saling tatap. Musibah apa ini!


"Dihabisin loh, jangan sampai kebuang sedikit pun!"


"Iya, nanti Abang habisin!" Zidan meletakkan mangkuk di atas meja lalu memberikan segelas air putih pada Manda.


"Tadi kan Ahkam ketemu sama Cila. Terus, Ahkam tanya deh, Cila mau nggak menikah sama Ahkam?"


Manda ataupun Zidan kaget bukan main mendengar ucapan anaknya. Manda melotot ke arah Zidan, bukanya kemarin Zidan bilang akan membicarakan hal ini dengan Ahkam?!


"Terus, Cilanya jawab apa?" tanya Zidan. Bukannya melarang, ini malah lebih tepat disebut memberi dukungan!


"Cila mau kok menikah sama Ahkam, Pa!"


"Astaghfirullah, anakku, masih kecil udah berani aja ngajakin anak orang buat nikah!" Manda mencubit gemas pipi Ahkam. Dia benar-benar bingung harus bersikap dan menanggapi ini dengan ekspresi seperti apa? Haruskah Manda memarahi Ahkam yang bahkan tidak mengerti sepenuhnya tentang apa yang sedang ia katakan?


"Berarti besok kalo udah besar Ahkam menikahnya sama Cila, gitu?


"Iya, Pa!"


"Ya udah Papa bantu doain deh!" Zidan tersenyum sembari mengelus kepala Ahkam.


"Nah sekarang kan Ahkam sama Cila masih kecil, jadi belajar yang rajin dulu, jangan ngomongin menikah lagi, ya?!"


"Oke, Ahkam juga mau sekolah di pesantren kayak Papa, mau hafalin Al Qur'an!"


"Nah, itu baru hebat! Anak hebatnya Mama!"


"Sekarang mana, liat dulu tugas sekolahnya, udah Ahkam kerjain semua?!" tanya Zidan.

__ADS_1


"Udah, Pa, coba liat ini!"


Ahkam mengambil tasnya, mengeluarkan beberapa lembar kertas tugas yang diberikan Bu Guru.


"Duh, anak Papa emang rajin dan hebat!" ucap Zidan setelah mengecek tugas Ahkam, semuanya dikerjakan dengan baik dan benar.


Ahkam tersenyum lalu memeluk tubuh Manda. "Temenin Ahkam bobok ya, Ma? Mama yang elus-elus kepala Ahkam."


"Ya udah sini, Bobok sini!" Manda menepuk pahanya. Ahkam meletakkan kepalanya di sana. Zidan malah tersenyum kecut, kalo sudah begini, pasti perhatian Manda hanya tertuju pada Ahkam seorang!


"Cepet-cepet ya boboknya anak Papa!"


*********


Zidan menuruni tangga sambil tersenyum lebar, pria 31 tahun itu sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitamnya, rambut yang tadinya masih acak-acakan sekarang sudah disisir rapi, aroma parfumnya tercium jelas sampai planet sebelah. Senyuman lebar, selebar daun kelor.


"Selamat pagi, Pa!" sapa Ahkam sambil tersenyum pada Zidan yang sekarang sudah ikut duduk di meja makan.


"Pagi, Sayang!" Zidan balas melempar senyum pada Ahkam.


"Papa kenapa?"


"Nggak apa-apa, Papa lagi bahagia aja!"


"Eemm, pasti karena udah dicium sama Mama ya? Kan Papa paling suka dicium cium Mama!"


"Susst, jangan kenceng kenceng ngomongnya! Nanti didengar Mama!"


"Oh iya iya, Pa!" Ahkam mengecilkan volume suaranya. Tapi percuma saja, Manda sudah mendengar percakapan mereka sejak tadi.


"Papa itu bukan suka dicium Mama, tapi cemburu aja kalo Mama lebih sering cium Ahkam!"


Ahkam malah tertawa, bocah itu memeluk pinggang Manda saat Manda meletakkan segelas susu pesanannya. "Ini punya Ahkam ya, Pa!"


"Iya-iya, kalo pagi punya Ahkam, tapi kalo malem punya Papa!"


Manda hanya menggeleng pelan mendengar Zidan dan Ahkam memperebutkannya layaknya sebuah benda kesayangan yang tidak mau dibagi dengan siapapun!


"Belajar yang rajin ya, Sayang!" ucap Manda sembari memakaikan tas Ahkam. Bocah itu mengangguk lalu mencium punggung tangan dan mencium pipi Manda. Sejak Manda hamil, Manda tidak pernah lagi menemani Ahkam, Ahkam juga tidak mau, katanya Mama sama Adek Kecil istirahat yang banyak dan diam di rumah saja.


"Semangat ya kerjanya, Sayang!" Kini giliran si Papa yang minta diperhatikan juga. Seperti biasa, Zidan menunjuk kedua pipinya, minta dicium di sana. Ahkam sudah membuang muka sejak tadi, Tidak mau melihat.


"Terimakasih untuk yang semalam!"


"Hust, udah jalan sana, nanti Ahkam telat!" Manda mendorong tubuh Zidan agar segera keluar dari rumah, pria itu malah tersenyum sambil memainkan alisnya.


"Hati-hati di jalan, Bang!"


"Iya-iya, Abang mencintaimu, Sayang!!"


Suasana pagi yang seperti inilah yang selalu membuat Manda merasa bahagia dan bersyukur setiap kali membuka mata, Saat ia membuka mata, Zidan dan Ahkam masih ada di sisinya, dua orang yang benar-benar Manda sayangi dan cintai, tanpa kehadiran keduanya, Manda tidak tau akan seperti apa dia menjalani hari-harinya tanpa melihat mereka, tanpa melihat senyum mereka, tanpa mendengar canda tawa mereka, tanpa mendengar mereka berdebat berebut kasih sayang dan perhatian Manda!

__ADS_1


__ADS_2