Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
AHKAM


__ADS_3

Masalah hadiah belum juga selesai sampai makan siang berlalu. Aku yang sedang bingung dibuat semakin bingung ketika Kak Henny datang, dengan membawa satu tas besar. Dan menyerahkan tas itu padaku.


"Ini pesenan Kak Zidan. Kakak buru-buru dulu, mau balik ke kantor!" Kak Henny mencubit pipiku terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari ke depan lagi.


"Hah? Apa lagi ini?" Aku menepuk jidat saat melihat begitu banyak jilbab yang dipesan oleh Om Zidan. Ini pasti gara-gara hadiah itu lagi! Hadiah yang berisi jilbab hitam dan abu. Warna kesukaanku.


"Drama apa lagi ini?" Mama ikut heboh ketika melihat begitu banyak jilbab yang aku tunjukan padanya.


"Zidan, Zidan." Aku dan Mama sama-sama menggeleng pelan. Bingung harus menanggapi dengan cara apa lagi kelakuan Om Zidan kali ini.


Mau dimarah, kasian juga. Tapi kan, siapa juga yang mau pakai jilbab sebanyak ini? Jilbab yang di lemari aja belum kepakek semua!


"Biar Mama yang ngomong sama dia!" Mama hendak melangkah menuju ruang kerja Om Zidan. Tapi buru-buru aku tahan.


"Jangan, Ma. Nanti dia salah faham, dia kira Manda nggak mau nerima pemberian dia. Manda bisa kok ngatasinnya, Ma." Aku tersenyum menyakinkan Mama.


"Mama nggak ngerti sama yang satu ini. Sifat cemburunya persis banget sama Almarhum Papanya!"


Mama duduk di sofa. "Memang ya buah nggak jatuh jauh dari pohonnya. Sifat Papanya nurun juga ke anaknya. Semoga aja nanti, anak kalian nggak kayak Kakek sama Papanya!"


Spontan aku langsung memegang perutku saat mendengar kata anak. Pasti lucu, bayi kecil dengan wajah yang manis seperti Papa dan Mamanya. Aku senyum-senyum sendiri ketika membayangkan hal itu.


"Manda?" Mama menyentuh pundakku pelan. "Gimana menurutmu tentang anak? Apa kamu menginginkan kehadirannya di waktu dekat? Atau ditunda sampai kalian berdua siap?"


Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Mama. "Kapanpun Allah mempercayai Manda. Insyaallah, Manda akan siap, sekalipun Manda belum siap."


"Kalo gitu. Buat yuk, sekarang!"


Eh, aku dan Mama langsung menoleh ke arah pemilik suara tengil itu. Bisa-bisanya Om Zidan bicara seenteng itu di depan Mama! Kan aku jadi malu!!


"Nggak ada, nggak ada, Manda masih harus ujian besok. Dia harus belajar. Iya kan, Sayang?" Mama menyenggolku pelan.


"Nah, nah. Mama semakin ke sini, semakin lebih sayang ke Manda ya, dari pada Zidan?" Om Zidan dengan gaya manjanya menyandarkan kepala di bahu Mama. Lupa sudah dengan usia.


"Hush, Mama sayang kalian berdua. Sama. Nggak ada yang lebih, nggak ada yang kurang, tapi nanti, kalo Cucu Mama lahir, semua sayangnya ke dia!"


Aku dan Om Zidan saling menatap sambil menahan senyum. Antara senyum malu dan bahagia juga.


"Nah, mumpung kamu di sini, Mama sekarang mau tanya. Tujuan kamu pesen jilbab sebanyak ini, apa?" Mama menunjuk hijab yang bertumpuk di atas meja.


"Emm, itu... Itu, untuk istriku!" Om Zidan menatapku. "Untuk Manda, Ma."

__ADS_1


"Sebanyak itu? Kata Manda yang di lemari aja masih banyak yang belum kepakek!"


"Eee, sebenernya, aku cuman mau nunjukin aja ke Manda. Kalo aku bisa ngasih yang lebih banyak, dari pada hadiah yang dikasih oleh guru yang nggak jelas itu!" Jelas Om Zidan. Mengakui niatannya.


Aku menggeleng pelan sambil menyentuh tangan Om Zidan. "Nggak perlu, Sayang. Apa yang udah Om kasih ke Manda, nggak akan pernah bisa dibandingin sama apa yang orang lain kasih ke Manda. Apa yang Om Zidan kasi itu terlalu berharga untuk sekedar dibandingin aja."


"Bener kata Manda, Nak. Jadi nggak perlu sampai segininya!" Mama menepuk bahu putranya kesayangannya itu. "Sekarang kita minta izin nih, minta ikhlasnya. Biar semua ini disumbangin aja. Masih banyak yang butuhin ini di luar sana. Gimana? Ikhlas?"


"Silahkan, Ma." Om Zidan tersenyum, ia memelukku dan juga Mama secara bergantian.


"Makasih, ya udah sabar, ngadepin aku," bisiknya lembut. Tangan kekarnya melingkar memeluk tubuhku erat.


...****************...


Setelah salat asar. Aku, Mama dan Om Zidan pun mengunjungi salah satu Panti Asuhan terdekat untuk menitipkan jilbab-jilbab ini kepada yang lebih membutuhkan. Sekalian juga, Mama mau melunasi nazarnya saat Om Zidan koma. Mama sudah bernazar, untuk menyedekahkan 20% dari hartanya jika Om Zidan segera bangun dari koma.


Dan jika dihitung-hitung, total yang akan Mama sedekah kan ternyata tidak main-main. Diperkirakan bisa untuk membangung masjid dan juga merenovasi Panti Asuhan ini dengan perubahan 360° derajat. Atau sama saja dengan membangun ulang.


Aku tidak bisa membayangkan lagi, betapa berharganya Om Zidan bagi Mama, dan betapa sayangnya Mama pada Om Zidan selama ini.


Langkahku terhenti ketika melihat seorang bocah kecil yang duduk menyendiri di bawah pohon, memangku buku sambil menuliskan sesuatu di sana. Pelan aku berjalan mendekatinya. Semakin dekat, semakin jelas wajah bocah itu, dan semakin tidak asing pula dia di mataku.


Dia menegakkan wajahnya mendengar salam dariku. "Wa'alaikumussalam, Kak?" Dia tersenyum. Senyumannya itu membuatku teringat seseorang.


Ya, sekarang aku ingat di mana aku pernah melihat bocah ini. Dia adalah bocah yang sama dengan bocah yang menangis di rumah sakit waktu itu. Bocah yang Ayahnya juga menjadi korban kecelakaan, sama seperti Suamiku. Tapi bedanya, dia kehilangan sosok Ayah di kecelakaan itu.


"Masih ingat Kakak?" Pelan aku menyentuh wajahnya. Senyumannya begitu mirip dengan senyuman sang Ibu. Wanita bergamis hitam yang pernah berkata, 'LAA TAHZAN INNALLAHA MA'ANAA.' kepadaku.


"Masih, Kak Manda?"


Aku mengangguk. Membenarkan tebakannya.


"Oh, ya. Ahkam ke sini sama siapa? Ibu mana?"


Senyumannya semakin mengembangkan mendengar pertanyaanku. Dia menunjukkan buku yang dia peganng. "Ahkam sekarang tinggal di sini, Mama sama dedek udah ketemu sama Ayah di Surga."


Ya Allah. Aku langsung terdiam mendengar perkataannya. Dia dengan tegar dan tersenyum bisa mengatakan hal sepahit itu padaku. Sungguh, terbuat dari apa hati anak ini?


Aku menggenggam tangannya. Menatap matanya yang penuh dengan harapan. Entah, aku bisa melihat segudang harapan di mata cerahnya.


"Sayang?"

__ADS_1


Aku menoleh tanpa melepaskan tangan Ahkam dari genggamanku. "Siapa ini?" tanya Om Zidan. Dia ikut berjongkok di hadapanku dan Ahkam.


"Namanya Ahkam. Dia anak salah satu korban kecelakaan waktu ini. Manda kenal dia dan Ibunya. Mereka orang yang baik. Ibunya orang yang menyemangati Manda saat di rumah sakit."


"Terus, Ibu di mana sekarang? Om ingin berterimakasih padanya?"


Aku menyentuh pundak Om Zidan. Memberikan isyarat agar dia tidak menanyakan hal itu pada Ahkam.


"Ibu sama dedek sekarang udah di Surga!" Ahkam kecil tetap menjawab pertanyaan Om Zidan. Masih dengan wajah yang sama.


"Maaf, Om nggak maksud." Om Zidan tertunduk, ia menggenggam tangan kecil itu bersama dengan tanganku.


"Ahkam. Ahkam mau nggak bantu Om bales kebaikan yang Ibu udah lakuin ke istri Om?"


Bocah laki-laki itu menggeleng pelan. "Kata Ibu, kita nggak boleh mengharap balasan dari seseorang. Cukup Allah yang membalas kebaikan kita."


Sungguh, hari tersentuh sedalam-dalamnya mendengar setiap kata yang Ahkam ucapakan.


"Nah, mungkin sekarang Allah mau titipin balasannya lewat Om. Gimana? Ahkam mau terima?"


Bocah kecil itu tersenyum. Menampakan giginya. "Tapi jangan kasih permen ya, Om. Ahkam nggak boleh makan permen soalnya!"


Om Zidan menggeleng pelan. Ia menepuk tanganku dan tangan Ahkam yang masih dalam genggamannya.


"Kalo Om ajak Ahkam tinggal sama Om, Ahkam mau?"


Aku langsung menatap Om Zidan. Tidak percaya kalau Om Zidan akan mengatakan hal itu. Mengambil keputusan tanpa berpikir lama seperti ini.


"Kak Manda nggak marah kan, kalo Ahkam ikut sama Om ini?" Ahkam malah balik bertanya kepadaku. Dia menatapku dan Om Zidan bergantian.


"Ah, tentu saja. Kakak nggak akan marah. Yang ada kakak akan bahagia."


Om Zidan membawa tubuh Ahkam ke dalam gendongannya. Dia juga menggenggam tanganku. Dan melangkah masuk lagi ke dalam Panti Asuhan.


"Zidan, Manda? Kalian mau ke mana?" Tanya Mama.


"Masih ada urusan yang belum diselesaikan, Ma."


Mama menatapku, meminta penjelasan. Tanpa ragu, aku melirik Ahkam, yang terlihat begitu nyaman dalam gendongan Om Zidan. "Ada titipan dari Allah."


Mama tersenyum. Tidak menolak ataupun menentang keputusan yang Om Zidan buat. Dan aku berharap, respon yang Mama berikan akan sama dengan respon keluarga besar nanti.

__ADS_1


__ADS_2