Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
VILLA


__ADS_3

"Hemmm." Aku memiringkan tubuhku saat teringat dengan kejadian di kantin tadi pagi. Dan entah mengapa, aku takut untuk mengatakan hal itu padanya! Aku hanya tidak ingin membuat Om Zidan kepikiran saja! Sungguh, hanya itu alasanku!


"Manda? Kamu ngelamun?" Sentuhan dari tangan Om Zidan membuatku tersadar. Dengan segera aku menoleh ke arahnya. Menatap matanya yang terlihat khawatir padaku!


"Ada masalah, Sayang?" Dia membukakan sabuk pengamanku.


Eh, tunggu dulu!


Aku kembali menatap ke arah luar jendela. "Kita mau-----"


Om Zidan memotong ucapanku, sembari tangannya mengelus pipiku dengan lembut. "Beli Al-Qur'an, Sayang!"


"Jalan-jalannya?"


"Setelah ini!"


Muach.


"Jangan pikirin yang lain lagi! Cukup pikirin Suamimu dan nikmati hari ini bersamanya!"


Hah. Aku mengerjap sambil menyentuh bibirku yang terasa sedikit kaku. Om Zidan menciumku tadi?


"Aaaaaaaa." Aku memegang pipiku yang terasa panas. Sementara dengan tampang sok polos Om Zidan keluar dari mobil. Mengitarinya dan membuka pintu mobil untukku.


"Silahkan keluar Tuan Putriku!" ucap Om Zidan. Dia mengulurkan tangan kekarnya. "Mari!"


"Mari, Sayang!" Aku menyambut uluran tangan itu. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat, namun tidak sampai menyakitiku, yang ada malah memberikan kesan nyaman di hatiku.


"Aku ingin memberi tau semua orang, kalau gadis kecil ini adalah milikku!" bisik Om Zidan seirama dengan tangannya yang semakin erat dalam menggenggam tanganku. Aku hanya mampu tersenyum untuk itu!


Aku juga ingin agar semua orang tau! Kalau Om Zidan hanya milikku seorang!


Kami berjalan memasuki sebuah toko dua tingkat. Syafakira. Mungkin itu adalah nama dari toko ini. Aku sempat membacanya sebelum masuk tadi.


"Assalamu'alaikum." Om Zidan mengucap salam begitu pintu masuk terbuka, dan orang-orang di dalam toko pun menjawab sambil tersenyum pada kami. Tanpa basa-basi Om Zidan langsung mengatakan apa tujuan kami datang ke sini, saat seorang penjaga toko menghampiri kami.


"Kami mau beli Al-Qur'an terjemah."


Kakak penjaga toko itu pun tersenyum. "Mari, saya tunjukkan tempat Al-Qur'an-nya!" Dia melangkah terlebih dahulu. Menaiki tangga menuju lantai dua.


Aku dan Om Zidan berjalan di belakangnya. Dan apakah kalian tau? Om Zidan tidak berniat untuk melepaskan tanganku dari genggamannya!


"Silahkan dipilih dulu, Bang!"


Wow. aku tertegun saat melihat sekitarku. Ada begitu banyak rak besar yang dipenuhi oleh buku-buku. Dan tepat di hadapan kami ada sebuah rak khusus untuk Al-Qur'an. Mulai dari yang terbesar sampai Al-Qur'an yang terkecil. Dari warna yang gelap sampai warna yang cerah. Semua tersusun dengan rapi di dalam rak itu!


"Sini!" Om Zidan menarik tanganku. Mengajakku untuk melihat terlebih dahulu. "Yang ini, gimana? Kamu suka?"


Karena tidak memiliki wudhu'. Jadi Om Zidan hanya menujukkan tanpa menyentuhnya. Al-Qur'an dengan sampul yang berwarna hijau tua, dan dengan ukuran yang sama seperti milik Arina.


"Iya, Manda mau yang ini!" jawabku dengan semangat. Karena memang Al-Qur'an seperti itulah yang kumau!


"Yang ini, dua!" ucap Om Zidan pada si Kakak penjaga.


"Dua?" Aku berbisik padanya.


"Untuk Manda satu. Untuk Aku satu!"


"Mmmmm." Aku pun mengangguk paham.


"Ada lagi, Bang?" tanya si Kakak penjaga, setelah dua Al-Qur'an itu di tangannya.


Tapi tunggu dulu! Tadi dia manggil Om Zidan apa? Bang? Aku tidak salah dengar kah?


Bang itu maksudnya Abang, 'kan?


"Tasbih digital-nya dua!" Om Zidan kini menoleh padaku yang masih membeku karena panggilan si Kakak penjaga toko itu. "Ada lagi, Sayang?"


Eh. Aku menoleh pada Om Zidan. Dia malah tersenyum dengan tenang.


"Ada lagi yang ingin kamu beli, Sayang?" Tanyanya dengan penuh penekanan pada kata 'sayang'.

__ADS_1


"Emmm, nggak ada. Manda rasa itu aja!" Aku melirik ke arah si Kakak penjaga toko yang ternyata sedang menatap tangan kami. Entah, aku tidak bisa membaca begitu jelas apa arti ekspresi wajahnya saat ini. Bibirnya tersenyum, tapi sorot matanya menunjukkan ada tanda kecewa.


Dengan satu tarikan napas. Aku pun membuka suara. Mengangkat dan menunjukkan tangan kami yang masih saling bertautan padanya.


"Tenang saja, Kak. Kami suami istri. Bukan hanya sepasang kekasih yang sedang pacaran!"


"Eh." Dia tersipu malu mendengar ucapanku. "Emm, maaf. Aku tidak bermaksud----"


"Nggak papa. Saya ngerti!" Aku menyela ucapannya sambil mencoba untuk tersenyum. Dan si Kakak penjaga toko itu malah mengalihkan pandangannya!


"Sekarang tolong totalkan belanjaan kami!"


"Ah, iya. Tunggu sebentar, Tuan!"


Hahaha. Aku pun tertawa dengan kejam ketika mendengar dia menganti panggilan dengan kata 'Tuan' untuk Om Zidan. Tapi sayang, aku hanya bisa tertawa di dalam hati saja!


"Ini, Kak. Totalnya dua ratus tiga puluh dua ribu!" ucapnya sembari menyerahkan sebuah paper bag padaku. Bahkan dia tidak berani lagi melirik ke arah Om Zidan.


Huh. Manda dilawan!


"Terimakasih atas kunjungannya, Kak!" ucapnya setelah aku menyerahkan uang bayaran. Namun sebelum melangkah ke lantai bawah. Aku sempat menatapnya, dan dia hanya bisa tersenyum malu!


Sudah bilang, 'kan? Jangan main-main denganku. Apalagi sampai berniat untuk mendapatkan perhatian dari Suamiku!


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih!" Om Zidan langsung memelukku begitu pintu mobil tertutup. "Kamu hebat! Kamu perjuangin aku tadi!"


Muach. Muach. Muach.


Tiga kecupan dengan suara pun mendarat di kedua pipi dan juga keningku. Dia merangkum wajahku dengan tangan kekarnya. Matanya menatapku dengan binar bahagia yang begitu dalam.


"Untuk ke depannya. Tetap perjuangin aku seperti itu, Manda. Aku suka! Aku bahagia!"


"Sama-Sama, Sayang. Itu memang tugas seorang istri! Manda akan tetap ngelakuin itu, sampai nggak ada satupun wanita yang berani menarik perhatian Suami Manda"


"Hebat sekali Istri Kecilku!"


Huaaa. Sekarang aku yang malah berteriak karena Om Zidan tak henti-hentinya mencubit pipiku! Bahkan sampai mobil melaju meninggalkan toko Syafakira.


Oh, beruntung kaca mobil ini gelap!


__________________


Selama perjalanan. Tidak ada percakapan apapun antara aku dan Om Zidan. Om Zidan nampak fokus pada kemudi dan terus diam sejak tadi. Karena mulai penasaran, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Sayang? Kita sebenarnya mau jalan-jalan ke mana?" Tanyaku sembari menatap ke luar jendela. Jalanan yang kami lewati begitu asing bagiku. Jelas saja, karena aku belum pernah melewati jalan ini sebelumnya. Terlebih, kota ini bukanlah kota asalku!


"Diamlah, Sayang. Sebentar lagi sampai!" Om Zidan hanya melirik sekilas ke arahku. Aku sempat melihat dia tersenyum kecil.


Huh. Kenapa perasaanku jadi tidak enak, ya? Apakah Om Zidan akan membawaku ke suatu tempat, lalu pergi dan meninggalkanku sendirian di sana?


"Tidak mungkin!" Aku menggelengkan kepala. Mencoba untuk menepis semua bayangan yang tiba-tiba saja bermunculan itu.


Om Zidan tidak mungkin melakukan itu padaku!


Sekitar lima menit kemudian, mobil pun berhenti. Tepat di depan sebuah gerbang. Dan tembok di samping gerbang itu bertuliskan. VILLA ANGGREK.


"Kita ngapain ke Vi-----"


"Sussst, nikmati aja. Aku udah atur semuanya." Sela Om Zidan. Jari tulunjuknya menempel di bibirku. Aku mengecupnya jarinya dan dia hanya tersenyum. Setelah itu, gerbang Villa pun terbuka dan mobil melaju masuk.


Aku yang tidak tau menau apapun hanya bisa terdiam saat Om Zidan turun dan membukakan pintu. Otakku masih belum bisa mencerna apa maksud dari semua ini. Aku memutuskan untuk bertanya pada Om Zidan sekali lagi.


"Apa maksudnya, Sayang? Bukannya kita mau jalan-jalan?"


Bukannya jawaban yang kudapatkan, aku malah mendapatkan senyuman dan juga kedipan mata gatal dari Om Zidan.


"Turun dulu, Sayang!" Tangannya terulur. Minta disambut oleh tanganku. Namun aku malah membeku. Menatapnya dengan tatapan tidak terima. Aku ingin penjelasan terlebih dahulu!


"Lama sekali!"


Dengan gemas Om Zidan menarik tubuhku. Membawaku dalam gendongannya.

__ADS_1


"Turunin, Om!!" Aku memberontak dengan memukul dada Om Zidan. Membuat Om Zidan sedikit meringis kesakitan, lalu menurunkan tubuhku tepat di depan pintu Villa.


"Eh, sakit sekali ya?" Tanganku yang memukul tadi pun spontan langsung mengelus dada Om Zidan. Berharap rasa sakit akibat pukulan itu bisa memudar.


"Manda?" Om Zidan menyentuh punggung tanganku yang masih mengelus dadanya. Kepalanya tertunduk, lalu memberikan sebuah kecupan di pucuk kepalaku.


"Aku nggak papa, Sayang. Masuklah!"


Sebuah kunci dengan gantungan yang terbuat dari besi berbentuk hati jatuh di tangan kananku. "Ini?"


"Milik kita!" Ucap Om Zidan tersenyum.


Hah. Aku tertegun lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut Villa. Villa sebesar dan sebagus ini milik kita? Maksudnya milik aku dan Om Zidan kan?


"Masuklah, Sayang. Aku mau ambil beberapa barang di mobil dulu!" Om Zidan mengelus kepalaku terlebih dahulu, kemudian beranjak mendekati mobil yang terparkir sekitar lima meter dari tempatku berdiri.


What?


Aku yang masih tidak percaya hanya mematung di depan pintu. Mengamati Om Zidan yang mengeluarkan sebuah koper berukuran sedang dari mobil. Selain koper, Om Zidan juga menentang paper bag di tangan kanannya.


"Buka pintunya, Manis!"


"Ah, iya!" Dengan gelagapan aku memasukan kunci yang kupegang pada lubangnya. Memutarnya sampai pintu terbuka.


Dan,


WOW! Bibirku terbuka lebar saat melihat keindahan yang terpampang dengan jelas di hadapanku.


"Kamu suka, Sayang?"


"Sangat suka!!" Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memeluk Om Zidan. Dan dia juga balas memeluk tubuhku. Mengelus kepalaku yang terbenam di dada bidangnya.


"Kapan Om siapin semua ini?"


"Sejak aku jatuh cinta padamu!"


Hah. Jawaban apa itu?


Aku mendongakkan wajahku untuk menatap Om Zidan. "Sejak kapan Om Zidan jatuh cinta sama Manda?"


"Emm, aku harus jujur, ya?"


Aku mengangguk sebagai jawaban : iya, Om Zidan harus jujur!


"Jadi?" Aku menggigit bibir bawahku. Jantungku berdebar menunggu jawaban dari Om Zidan.


Om Zidan tersenyum. Ia menunduk, lalu berbisik dengan lembut. "Sejak aku nggak sengaja liat kamu mandi. Sejak saat itu aku mulai mencintaimu!"


Deg. Aku melotot dengan bibir yang tak sanggup untuk mengatakan apa-apa. Aneh dan heran saja, ternyata ada orang yang jatuh cinta dengan cara seperti Om Zidan. Dia jatuh cinta padaku hanya karena tidak sengaja melihatku mandi?


"Sejak saat itu, bayang-bayangmu selalu menghantui pikiranku!" Imbuhnya lalu menyeret koper dan meninggalkan aku yang masih mematung dengan bibir yang kembali terbuka lebar.


"Tunggu aku, Om!"


Aku pun berjalan dengan cepat, menyusul Om Zidan menuju sebuah ruangan. Dan lagi-lagi, aku dibuat mematung karena melihat dekorasi ruang yang mirip dengan kamar pengantin baru! Kelopak bunga mawar merah bertebaran di mana-mana!


"Tunggu, tunggu, ini maksudnya dalam rangka apa, ya?" Aku pura-pura bertanya sambil mendekati Om Zidan. Dia berdiri di depan sebuah lemari kayu, ada senyum kejam di kedua sudut bibirnya saat bertatapan denganku.


"Nggak ada maksud apa-apa!" Dia memalingkan wajahnya. Ikut pura-pura tidak paham. Tapi sebenarnya, dialah yang paling paham!


"Jadi, ada yang udah nggak tahan lagi?" Ejekku sembari mencolek dagu Om Zidan. Aku semakin mendekat, mencoba untuk menggodanya.


"Udah, jangan mikir yang aneh-aneh, Manda! Jangan menggodaku!"


Hahaha. Aku tau, sebenarnya dia tersenyum. Tapi mencoba untuk menyembunyikan senyum liciknya itu.


"Bersiaplah untuk solat magrib! Mukenah dan semua bajumu udah ada di lemari!" Ucap Om Zidan lalu melangkah mundur, dia ke luar, meninggalkan aku sendirian.


Hiks, apakah aku harus kehilangan keperawanku malam ini?


Setelah tarikan napas panjang aku mencoba meyakinkan diriku. Nanti atau sekarang pasti akan sama saja. Dan aku rasa, ini memang sudah saatnya. Kasihan Om Zidan juga, dia selama ini selalu berusaha menahan. Bukan dalam jangka waktu satu atau dua hari juga, melainkan satu tahun!!

__ADS_1


Oke. Bismillah saja!


_______________________×


__ADS_2