Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
STELLA


__ADS_3

"Sayang..." Zidan mengelus pipi Manda dengan jari telunjuknya. Karena belum mempan juga, ia mengecup kening, pipi dan bibir gadis itu. Tapi masih belum mempan juga. Iseng saja, ia mengelus-ngelus perut sang Istri, "Bangun yuk, nanti keburu subuh loh, Sayang," bisiknya lembut.


Gadis itu akhirnya membuka matanya. Tersenyum saat merasakan kelembutan dari tangan Zidan yang mengelus perutnya.


"Peluk dulu..." Rengek Manda sambil menggerakkan-ngerakkan tangan Zidan. Meminta Zidan mengelus kepalanya sekarang.


"Sini peluk...." Zidan senyum-senyum sendiri. Dengan senang hati ia mendekap tubuh Manda. Mengelus kepalanya sambil sesekali mengecup kening gadis itu.


"Udah ya, nanti lagi pelukannya."


Manda mengangguk patuh. Layaknya seorang murid yang sedang diperintahkan oleh gurunya. Hal itu tentu terlihat manis sekali di mata Zidan. Zidan gemas sendiri melihat tingkah Manda.


Seperti biasa. Mereka melaksanakan shalat tahajjud empat rakaat. Setelah itu tadarus bersama sampai adzan subuh terdengar.


"Gimana, udah lebih baikan?" tanya Zidan. Ia baru sadar kalo istrinya tidak enak badan semalam.


"Udah dong. Kan udah diobatin sama Dokter Tampan." Manda menoel dagu Zidan. Membuat Zidan langsung mencubit gemas pipinya.


"Wudhu' lagi kan." Zidan menggeleng pelan. Melipat lengan baju koko. Niat tadi supaya bisa cepat shalat subuh. Eh, Adek Istri malah batalin Wudhu'nya.


"Hehehe, yang ikhlas dong Bang!!" Teriak Manda. Ada perasaan bahagia yang menyeruak memenuhi hatinya. Padahal hanya dengan hal sederhana.


Eh, ternyata bukan hal itu saja yang membuat Manda bahagia. Ada hal lain yang pasti sangat membuat kedua pasangan ini bahagia.


Yaps, karena hari ini adalah hari pernikahan mereka. Akad nikah akan digelar di hotel langsung dengan resepsinya. Zidan sengaja memilih hari yang sama. Agar lebih menghemat waktu liburnya. Dan dia bisa menikmati hari-hari libur berikutnya dengan istri tercinta. Pergi berbulan madu atau jalan-jalan misalnya.


Karena acara akan dimulai pukul 09.30. Oleh sebab itu, Manda dan Zidan sudah diamankan sejak dua jam yang lalu. Keduanya sedikit diberikan sentuhan tangan. Agar terlihat lebih cetar.

__ADS_1


Di ruang rias pengantin perempuan. Sudah ada Manda, Mama, dan Stella. Ya, Stella. Dia diundang tentunya. Dan baru mendarat di Indonesia pukul setengah empat pagi.


Sekarang gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mama sudah berpihak pada Manda, Kakak Iparnya. Mau tidak mau, dia juga harus memaksakan dirinya untuk menerima kenyataan bahwa Manda sudah memenangkan hati Mamanya. Bahkan sampai Mama sendiri yang menekankan posisi Manda pada Karlina.


"Emmm, Manda." Pelan Stella mendekati meja rias. Dari belakang kursi iya menyentuh bahu Manda. Pelan sekali.


"Aku, aku minta maaf. Aku---"


Manda menyentuh tangan Stella yang masih menempel di bahunya. Ia menatap pantulan wajah Karlina dari kaca. "Manda udah maafin kok. Manda juga udah lupain semuanya."


Manda berdiri lalu memeluk Stella. Tanpa Stella minta maaf pun. Dia sudah jauh lebih dulu memaafkan semua hal yang pernah Stella lakukan padanya. Bahkan tidak pernah terbesit di hatinya untuk membenci ataupun membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya.


"Terimakasih Manda."


"Iya, kembali kasih."


"Aamiin. Begitu pula sebaliknya."


Mama tersenyum melihat kedua putri kesayangannya akur dan saling memeluk seperti ini. Walaupun Mama tau, pasti butuh proses lagi agar Stella bisa menghargai Manda dengan tulus. Dari lubuk hatinya.


"Cantik anak Mama." Mama memeluk keduanya. Tulus. Tanpa ada kasih sayang yang lebih berat dari yang lainnya. Manda ataupun Stella sama-sama anak kesayangan Mama sekarang.


"Berbahagialah kalian berdua."


Tepat pukul sembilan. Tamu undangan sudah mulai berdatangan. Baik itu rekan bisnis, keluarga dan teman-teman Zidan. Tak terkecuali juga teman-teman sekolah Manda. Tapi, seperti yang kita tau. Ada satu orang yang kurang. Yaitu Gilang.


Entah. Dia pergi mengasingkan dirinya ke mana sekarang.

__ADS_1


"Aaaa.. aku mau liat Manda. Kira-kira dia di mana ya?" Qonita celingak-celinguk mencari di mana keberadaan Manda. Tentu saja dia tidak akan menemukan Manda. Karena Manda sendiri sudah duduk di ruang khusus untuk pengantin wanita. Sedangkan Zidan masih sempat-sempatnya menyapa beberapa rekan bisnis.


"Kok aku yang deg-degan." Arina memegang dadanya. Dia deg-degan bukan karena membayangkan ini pernikahan Manda. Tapi karena dia membayangkan ini pernikahannya. Menikah dengan orang yang selama ini ia kagumi. Jantung Arina berdebar kencang ketika membayangkannya.


"Sini!" Arina meraih tangan Qonita. "Saya nikah dan kawinkan kamu dengan anak saya, Arina Rosyida Fitri Binti Haji Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Arina Rosyida Fitri Binti Haji Abdullah dengan mas kawin tersebut."


"Gimana para saksi? Sah?"


"Sah!!" Ayu mengusap wajah keduanya. Halusinasi mereka benar-benar bahaya ternyata.


"Istighfarlah wahai kaum Halu. Istighfar!!" Arina ataupun Qonita sama-sama memasang wajah tanpa dosa. Tidak memperdulikan apa yang Ayu katakan. Yang terpenting mereka bahagia!!


"Dasar!!" Ayu memilih duduk dan menikmati suasana saja. Dari pada harus memperdulikan dua kaum Halu di sampingnya. Entah, sejak kapan Arina tertular Qonita.


"Ayu, Qonita!" Sapa Tiara sambil melangkah mendekati mereka. "Kalian ada liat Vino sama Gilang nggak? Soalnya dari tadi aku nyariin mereka. Tapi belum ketemu juga. Ditelepon juga nggak aktif."


"Vino, aku liat tadi. Dia sama Indra. Tapi kalo Gilang. Nggak tau. Dia juga udah lama nggak ada kabar ya kan, Yu?" ucap Qonita sambil menyenggol lengan Ayu.


"Hah, iya. Gilang udah lama nggak ada kabar." Gadis itu sebenarnya tau apa alasan Manda selalu menghindar dari Gilang. Ia tau semaunya, karena di saat Manda berhenti sekolah, dialah yang selalu menghibur Gilang. Bisa dibilang mereka berteman baik sekarang. Tapi untuk memberitahu di mana Gilang, dan apa alasan dia menghilang seperti ini. Ayu tidak bisa memberi tau siapa pun. Termasuk Manda dan Vino. Karena itu sudah menjadi perjanjiannya dengan Gilang.


"Emmm, ya udah kalo gitu." Tiara duduk di samping Arina. Pandangan gadis itu meredup seolah-olah ada perasaan kecewa karena tidak mengetahui keberadaan Gilang sekarang.


"Tenang aja, Gilang pasti baik-baik aja!" Ayu menepuk pundak Tiara. Ia juga tau, Tiara pasti menyukai Gilang. Apalagi Gilang sempat beberapa kali menolongnya. Mungkin dia merasa Gilang menyukainya juga. Mungkin saja.


'Baik-baik ya di sana, Lang.'

__ADS_1


__ADS_2