
Ahkam berdiri di antara pembatas ruangan khusus cowok dan cewek. Ia sudah selesai disimak', dan mendapatkan nilai L (Lancar). Sembari menunggu teman-teman yang lain, Ahkam pun memutuskan untuk duduk di sana. Mengintip Cila yang sedang disimak' iqro' juga oleh Bundanya.
Mata Ahkam tak pernah beralih dari objek yang sedang ia pandang. Masih kecil saja Ahkam sudah bisa membedakan mana yang indah untuk dipandang dan mana yang merusak pandangan.
Ahkam buru-buru mengalihkan pandangannya begitu melihat Cila juga menatap ke arahnya. Kini gadis kecil itu sudah berjalan mendekati Ahkam, sambil membawa tas mukena berwarna pink muda, dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru.
"Ahkam!" Sapa Cila, tanpa canggung ia duduk di samping Ahkam. Masuk ke dalam ruangan khusus cowok. Ahkam sedikit menggeser tubuhnya. Memberikan ruangan yang lebih luas lagi untuk Cila duduk.
"Kue brownies buatan Bunda Cila enak, kan?" Tanya Cila. Karena kebetulan ia ikut dengan Bunda saat mengantarkan ke rumah Ahkam. Sekalian juga mereka mengantar pesanan orang. Kalau yang diantar ke rumah Ahkam itu khusus, sebagai salam kenal dari Bunda untuk Mamanya Ahkam.
"Enak, rasanya manis---" Ahkam berpikir sejenak. "Tapi lebih manis senyum Cila."
Ajaran sesat dari Zidan ternyata diterapkan lagi oleh Bocah itu! Kali ini bukan Mama yang menjadi korbannya!
"Ahkam juga manis kok!" Cila tertunduk malu. Ia malu bukan karena telah membalas gombalan Ahkam. Tapi karena bapak-bapak yang duduk tidak jauh dari mereka, bersiul---gemas sendiri dengan kedua tingkah bocil itu.
"Aduh, masih kecil udah pinter gombal-gombalan aja. Mana nih Ustadz Agam sama Papa Zidan. Kalian bakalan jadi besan!" ucap salah seorang, membuat Ahkam ataupun Cila langsung berdiri, dan lari menjauhi mereka. Ahkam masuk lagi ke dalam ruang simak'an. Begitu pula dengan Cila yang kembali duduk di samping Bunda.
Melihat hal itu, para bapak-bapak hanya menggeleng pelan. Berita ini harus mereka sampaikan pada Ustadz Agam dan Papa Zidan, pikir mereka.
...****************...
"Abang...." Manda mencubit lengan Zidan sekuat mungkin, lalu tambah memukuli Zidan dengan bantal, karena Zidan hanya tertawa tanpa ada rasa bersalah. Bisa-bisanya pria itu dengan bangga bercerita tentang Ahkam yang sudah menggombali Cila.
Bapak-bapak itu ternyata niat banget buat menyampaikan apa yang mereka dengar dan lihat pada Ustadz Agam dan Zidan. Yang mana hanya ditanggapi sebagai candaan anak kecil oleh keduanya.
Namun berbeda dengan Manda. Ia sama sekali tidak menyukai candaan seperti itu, Manda tidak ingin menanamkan bibit buruk pada Anaknya. Ia tidak ingin Ahkam tumbuh sebagai pemuda yang hanya besar dan manis dalam omongan saja. Tapi tidak dengan pembuktian!
"Aduh, aduh, ampun Sayang ampun!!" Zidan segera menarik kedua tangan Manda. Sampai gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Oke, aku minta maaf, ya. Aku nggak maksud buat ngajarin Ahkam gombalin orang kayak gitu. Aku cuman ngajarin dia, buat kayak gitu ke Mamanya. Aku nggak pernah minta dia kayak gitu ke semua orang. Apalagi ke Cila!" jelas Zidan. Pelan ia mengelus punggung Manda, mencoba untuk meluluhkan hati wanitanya.
"Jadi bener, Abang yang ngajarin Ahkam?" Manda memberontak. Mencoba untuk lepas dari pelukan Zidan.
"Udah berapa orang yang Abang gombalin selama ini? Abang nggak pernah tuh gombalin Manda!"
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Zidan menggeleng pelan. Bisa-bisanya Manda sampai berpikir ke sana. Tapi kayanya seru juga ya, kalau dia ngerjain Manda.
"Aku nggak pernah gombalin kamu, berarti itu tandanya aku nggak becanda soal perasaanku ke kamu! Kalau ke yang lain mah cuman becanda!"
Kali ini Manda mengigit dada Zidan. Cukup keras, sampai Zidan kaget dan merintih kesakitan.
"Oooo, jadi gitu cara mainnya selama ini!! Nggak gombal ke istri, tapi nebar gombalan sana sini!"
Manda juga tau kalau Zidan sedang memancing rasa cemburunya saja. Tapi tidak apa-apa, Manda akan mengikuti alur permainan Zidan. Toh juga ujung-ujungnya Zidan yang akan pusing sendiri dan mengemis permintaan maaf darinya.
"Ya habis mau gimana lagi!" Bukanya memilih mengakhiri, Zidan malah tambah membesarkan api.
"Ya udah kalo gitu Manda juga mau gombalin tukang sayur besok pagi!"
"Dih, tukang sayur kok digombalin, sejak kapan selera Istriku menurun? Kalo saingannya masih tukang sayur mah, bisa dijamin Abang jauh lebih unggul!"
"Ya udah, ganti sama Mike aja!"
Seketika itu juga Zidan langsung mengeratkan pelukannya.
"Jangan coba-coba ya!"
"Nggak ada jaring-jaringan, Abang nggak lagi nangkep ikan!" Zidan tetap mengeratkan pelukannya. Tidak mau tau, asalkan Manda tidak balik lagi melirik Si Mike Angelo! Saingan terberatnya.
"Lepasin, Bang, sesak nih!"
"Nggak mau! Pokoknya kamu punya Abang!"
"Iya-iya, Manda punyanya Mike!"
Zidan membanting tubuhnya ke kasur, mengunci tubuh Manda dengan tubuhnya.
"Katakan sekali lagi!" Tatapannya kini terlihat begitu tajam. Seolah siap menerkam Manda, jika Manda sampai berani memancing api cemburu yang lama padam.
"Hehehehe, Manda miliknya Muhammad Zidan Al-Ghazali seorang!"
__ADS_1
"Lagian, siapa yang ngajak ribut duluan!" Gerutu Manda, namun tangannya tetap saja mengelus kepala Zidan yang terbenam di dadanya.
"Jangan lirik Mike lagi!"
"Iya!" Manda tersenyum geli, siapa yang memulai siapa yang mengakhiri. Siapa yang menantang siapa yang kalah duluan.
"Jangan Follow Mike lagi!"
"Iya!"
"Abang cuman becanda loh tadi!" Zidan mendongak, menatap wajah Manda. Lalu kembali menenggelamkan wajahnya, lumayan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Tau kok, seantero jagad raya juga tau kalo Abang cintanya cuman sama Manda aja!" ucap Manda sesuai fakta.
Zidan tersenyum samar, karena Manda masih begitu percaya padanya. Maka dari itu Zidan selalu berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak merusakkan kepercayaan yang telah Manda berikan.
Saat Zidan mulai nyaman dengan posisinya, saat itu juga pintu kamar mereka tiba-tiba diketuk. Terdengar suara Ahkam yang memanggil Zidan dan Manda. Mau tidak mau Zidan segera bangun dari posisi nyamannya.
"Sabar, ya!" Manda mengecup sekilas bibir Zidan sebelum beranjak turun dari kasur, dan membuka pintu kamar.
"Ahkam, Ahkam kenapa, Sayang?" Manda berjongkok, mengusap kepala Ahkam pelan. Bocah itu tadi sudah tertidur pulas saat Manda dan Zidan meninggalkan kamarnya. Bahkan Manda sempat mengecek lagi, sebelum ia naik ke lantai atas.
"Ahkam mimpi buruk lagi, Nak?" tanya Zidan. Menghampiri Manda dan Ahkam yang berdiri di depan pintu kamar.
"Ahkam mimpi Ibu dan Ayah, Pa---" Tatapan mata Ahkam menunjukkan kalau Bocah itu terlihat sedang menahan air mata. Tersirat kerinduan yang mendalam kepada dua sosok yang sudah meninggalkannya.
"Sini sini, Jagoannya Papa!" Zidan langsung menggendong Ahkam, menenangkan Ahkam agar ia tidak teringat lagi dengan mimpinya barusan.
"Sayang, tolong nyalain spiker murotalnya!" pinta Zidan. Bermaksud agar Ahkam lebih tenang lagi setelah mendengar lantunan bacaan ayat suci Alquran.
Lantunan ayat suci Alquran mulai terdengar, Manda segera mengunci pintu kamar, lalu ikut bergabung dengan Ahkam dan Zidan di kasur. Ahkam nampak tenang dalam dekapan Zidan, bocah itu bahkan kembali terlelap dalam dekapan hangat Papanya.
"Biarin dia tidur di sini aja." Manda mengusap kepala Ahkam yang menjadikan lengan Zidan sebagai bantal. Gadis itu juga tiba-tiba merasakan kerinduan pada kedua orangtuanya. Tapi ia mengobati rasa rindu dengan menghadiahkan bacaan Al-fatihah untuk mereka.
Tak lupa juga Manda berdo'a untuk Ayah dan Ibu Ahkam. Karena bagaimanapun, Ibu Ahkam pernah menjadi salah satu orang yang memberikan dukungan dan semangat di saat ia berada di titik lemahnya. Dan hal itulah yang menjadi alasan kuat kenapa Manda ingin membesarkan Ahkam sebagai Anaknya. Istilah halusnya, Manda ingin membalas kebaikan yang sudah Ibu Ahkam lakukan.
__ADS_1
...****************...
💌 Jangan Lupa Kirim Do'a ya untuk semua orang yang sudah mendahului kita. Semoga mereka selalu bahagia di sana.