Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
SELAMAT TINGGAL, MIKE!


__ADS_3

"Au...." Satu cubitan mendarat sempurna di pipiku. Saking asiknya, sampai aku tidak menyadari Om Zidan membuka pintu kamar! Dan kini sudah berdiri di sampingku!


"Belum setengah jam aku ninggalin kamu! Tapi kamu udah main sama pria lain di belakangku!"


Hah? Aku pun gelagapan, melempar Hp ke atas kasur dan langsung fokus menatap wajah Om Zidan. Lupa sudah dengan Mike yang akan bermain gitar dan bernyanyi untuk kami.


"Maaf."


Om Zidan tidak menjawab apapun. Wajahnya nampak kesal, dengan bibir yang mengerucut, dan juga kedua bola mata yang menatapku dengan penuh makna yang mendalam. Memberikan isyarat, jika dia sedang cemburu!


"Maaf, Om. Manda tergoda oleh notifikasi live instagram-nya!"


Jurus pertamaku, mencoba mengaku kesalahan terlebih dahulu.


"Iya deh. Manda janji nggak nonton live dia lagi. Janji, Om!" Aku mencoba untuk menyentuh wajahnya. Dia malah menepis pelan tanganku. Ekspresi kesalnya benar-benar dia tunjukkan sekarang!


"Harus berapa kali lagi aku katakan padamu, Manda. Aku nggak suka dia! Kamu selalu lupa waktu kalo udah menyangkut apapun tentang si Mike-Mike itu! Lihat sekarang, kamu sampai nggak sadar dengan keberadaanku!"


Om Zidan melepas semua snack yang ia bawa di hadapanku. Dia baru pulang dari minimarket. Dan aku pikir, sambil menunggu dia pulang, aku masih bisa lah cuci mata dengan menyaksikan siaran langsung Mike terlebih dahulu!


"Terserah, aku capek! Kamu lanjut aja sama dia!" Om Zidan naik ke atas kasur, membelakangiku. Tangan kekarnya menarik selimut dan juga bantal guling. Dia bersembunyi layaknya anak gadis yang sedang ngambek di balik selimut hitam itu.


Menarik napas pelan, aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya. Aku yang salah, sudah tau dia tidak suka diduakan. Apalagi dengan Mike D'angelo. Dia paling tidak suka! Tapi aku, aku selalu melakukan kesalahan yang sama!


Aku sadar itu!


"Om!" Saat tanganku menyentuh bahunya. Dia bergeser menjahuiku. "Maaf, Om. Manda ngaku salah! Manda sadar, Manda salah!"


"Dan kamu masih terus ngulangi kesalahan itu! Terus seperti itu! Sampai kapan?!" ujarnya tanpa menoleh ke arahku.


"Maaf, Om. Om tau sendiri kan, Manda udah lama ngidolain dia. Jadi sangat sulit bagi Manda untuk lepas dari dunianya!"


Jurus keduaku, mencari aman dengan tidak menyebut nama Mike! Ataupun nama pria lain yang membuat Om Zidan cemburu.


"Hmmm. Selalu alasan itu!" Dia semakin menarik selimut, sehingga semua tubuhnya masuk ke dalam selimut itu.


Hihihi. Aku gemes plus takut juga!


"Om Zidanku sayang...."


"Jangan membujukku!"


"Uh, Om Zidanku ini mau apa!" Bukannya menurut, aku malah semakin bersemangat untuk membujuknya. Dia memang begitu, jika dia katakan jangan bujuk, itu artinya bujuklah aku. Begitu rumus hatinya!


"Om Zidan mau apa? Mau Manda lupain semua hal tentang dia?"


Om Zidan masih diam saja.


"Terus Suamiku ini maunya apa?"


Jurus ketigaku, memanggil Om Zidan dengan panggilan Suamiku!!


"Mau peluk?!" Tanyaku dan langsung memeluknya. Dan dia tidak menepis ataupun menghindar. Aku pun tersenyum.


"Mau cium juga?" Kukecup pipinya tiga kali. Dia masih diam.


"Mau apa lagi?" Semakin erat aku mendekap tubuhnya. Seerat mungkin. Seolah ingin menyampaikan pada Om Zidan, kalau aku juga takut kehilangan dia.

__ADS_1


"Masih belum dimaafin, ya?" Tanyaku sambil menatap wajahnya yang nampak biasa-biasa saja. "Manda harus apa lagi, Om?"


"Tidurlah, aku benar-benar lelah, Manda!"


Hah? Seketika itu juga aku merasakan ada batu besar yang menghantam dadaku dengan amat sangat keras. Sakit sekali, hiks.


"Om....."


Langkah terakhir, memohon maaf dengan linangan air mata.


"Om? Maapin Manda...." Air mataku benar-benar terjatuh. Dan mungkin mengenai lehernya. Hingga dia langsung memutar tubuhnya menghadapku.


"Kenapa nangis?"


Nah, kan. Dia sekarang mulai terlihat panik. Tidak sia-sia juga usahaku!


"Manda tau, Manda sadar, Manda salah, Om. Manda mohon maafin kesalahan Manda... Manda hanya ingin maaf dari Om. Manda udah bujuk Om Zidan, tapi...."


"Udah, udah, jangan nangis lagi!" Pelan dia menarik tubuhku masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tangannya mengelus kepala sampai punggungku dengan lembut.


Bukannya berhenti, suara isak tangisku malah semakin menjadi-jadi.


"Manda...." Dia mengeratkan pelukannya. "Aku udah maapin kamu. Sungguh, berhentilah menangis.... Hatiku terasa sakit mendengar tangisanmu!"


Telat Om! Air mataku tidak mau berhenti keluar sekarang! Dia sudah nyaman!


"Manda, kumohon.... Berhentilah...." Dia menyeka air mataku. Netranya menatapku sendu. "Jangan nangis lagi, ya. Aku udah maapin kamu, sungguh!"


"Hiks, Om masih kesal kan sama Manda?"


"Om udah capek kan sama sikap Manda!"


Om Zidan kembali menggeleng lalu bibirnya tersenyum manis padaku. "Nggak sama sekali, aku nggak pernah capek dan bosan dengan apapun yang ada pada Istri Kecilku ini!"


"Tapi tadi, Om bilang....."


"Bukan, bukan gitu maksudku!" Dia menyela ucapanku. "Maksudku, aku lelah liat kamu ngidolain si Mike-Mike itu. Aku kayak gini, karena aku sayang sama kamu, Manda. Aku sayang sama semua waktu yang udah banyak terbuang begitu aja untuk hal yang kurang berguna."


Om Zidan menatapku, lalu mengecup ke dua pipiku, kening dan terakhir daguku.


"Aku nggak akan ngelarang kamu ngidolain siapapun itu. Tapi, sebagai seorang Suami, aku punya kewajiban untuk ngarahin kamu ke jalan yang lebih baik lagi!"


"Maksud, Om. Aku harus berhenti ngidolain dia?"


"Aku nggak minta kamu untuk langsung berhenti, Manda. Hanya kurangi, idolakan sewajarnya aja. Karena ada seseorang yang lebih patut untuk kamu idolakan, untuk kamu kagumi kemuliaan akhlaknya, untuk kamu sebut namanya setiap hari." Dengan nada yang begitu lembut Om Zidan menyampaikannya.


"Siapa, Om?" Dengan polos pula aku berkata. Benar-benar tidak tau apa-apa. Tidak ada bayangan tentang siapa yang dimaksud oleh Om Zidan.


"Rasulullah. Beliau yang seharusnya menjadi idola yang paling utama, bukan?!"


Deg. Seketika itu juga aku terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Kutatap wajah Om Zidan yang tersenyum menenangkan.


"Bisa kan, Manda?"


Tanpa berpikir lama lagi. Aku pun menganggukkan kepala, setuju. "Manda akan coba, Om. Bantu Manda...."


"Tenang aja, aku di sini bersamamu. Aku akan menemani setiap langkahmu! Berjalan bersama untuk mencari Ridho-Nya!"

__ADS_1


Aaaa. Aku benar-benar meleleh dan lumer dibuatnya. "Terimakasih, ya, Om!"


"Sama-sama, Sayang!" Dia menarik selimut, lalu kembali mendekap tubuhku. "Semua butuh proses, Manda. Nggak ada yang instan dan nggak ada juga manusia yang sempurna, semua orang pernah ngelakuin kesalahan. Nggak terkecuali aku! Jadi, aku juga minta maaf untuk semua kesalahanku!"


"Om nggak pernah ngelakuin kesalahan apapun padaku!" gumamku sambil mengetuk-ngetuk dadanya.


"Tanpa kamu katakan pun, aku juga sadar di mana kesalahanku, Manda. Aku sadar, aku sering bersifat kekanak-kanakan saat bersamamu."


"Tapi aku suka itu, Om! Aku suka sama Om yang seperti itu, karena aku merasa, Om sangat butuh kasih sayang dan juga perhatianku. Aku merasa Om sangat mencintaiku, dan aku merasa, aku begitu berharga, sampai Om nggak mau ada orang lain yang mampu mengambil alih perhatianku!"


Om Zidan terkekeh mendengar ucapanku. "Ya, memang itu maksudku! Dan kamu ternyata sangat peka untuk hal itu!"


Dia mengelus kepalaku dengan bangga. "Terimakasih karena sudah mau menikah denganku!"


Salah, Om. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, karena mau menikahi gadis ingusan sepertiku! Gadis yang bahkan belum bisa mengurus semua kebutuhan dan keperluanmu!


Tapi Om tenang aja, aku juga akan belajar menjadi istri yang baik untukmu. Yang tidak menjadi beban saat Om dihisab kelak!


Selamat tinggal, Mike! Aku harus belajar melupakanmu. Walaupun aku tau, itu pasti akan sedikit berat bagiku!


________________________×


"Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah. Maka berlarilah, jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, maka berjalanlah, itupun tidak mampu? Merangkaklah! Namun jangan pernah berbalik arah atau pun berhenti!"


- Imam Syafi'i -


Story Instagram Om Zidan pagi ini membuatku tersenyum. Dia juga menandaiku dalam story itu.


"Om?" Panggilku saat dia baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut hitamnya masih terlihat basah, beberapa tetes air rambutnya menetes di bahu dan juga dadanya.


"Kenapa, Manda?"


"Emm." Aku melangkah mendekatinya. "Boleh Manda minta sesuatu?"


"Katakan, apapun itu, aku akan berikan untukmu!"


"Boleh beliin Manda Al-Qur'an? Yang punya terjemah, yang ukuran kecil, yang bisa Manda bawa ke sekolah?" Aku menunduk, tak sanggup menatapnya.


"Hei!" Dia memegang daguku, sehingga kepalaku terangkat, dan mataku bersitatap dengan mata yang begitu indah. Dia tersenyum saat menatapku.


"Pasti, aku pasti akan membelikannya untukmu, atau kamu mau ikut pergi juga?"


Aku menganggukkan pelan.


"Setelah pulang sekolah, ya, Sayangku!" Dia menunduk untuk mencium kepalaku. Mengelus sebentar.


"Sekarang turun dulu, tunggu aja di meja makan!" ucap Om Zidan yang memang belum bersiap-siap. Semantara aku sudah memakai lengkap semua seragam sekolahku.


"Di sini aja, Om. Itung-itung cuci mata! Hehehe...."


Om Zidan pun tersenyum malu mendengar ucapanku sambil menggeleng pelan. Dia melangkah mendekati lemari dan dengan santai memakai semua pakaiannya. Sedangkan aku yang melihatnya hanya bisa nelen ludah aja.


Hohoho, mau pegang Roti Sobek itu!


Masih pagi, sudah dibuat liuran sama si Om Suami yang Tampan. Untung Suamiku, bukan suami orang!


__________________

__ADS_1


__ADS_2