Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 02. Mama & Papa


__ADS_3

"Bismillah, ayo turun, Sayang!" Manda mengeluarkan tangannya agar bisa diraih oleh Ahkam. Tangan mungil itu pun meraih tangan Manda dengan lembut. Ahkam memperhatikan sekitar, menatap taman yang dihiasi bunga-bunga cantik milik Manda. Sepeda hitam untuk Akham juga terparkir rapi di halaman rumah. Bahkan ada dua ayunan juga di tengah-tengah taman.


"Ini rumah Ahkam juga sekarang." Zidan ikut menggenggam tangan Ahkam, menggandengnya saat berjalan memasuki rumah.


Zidan mengajak Ahkam untuk melihat kamarnya terlebih dahulu, untuk memastikan apakah Ahkam menyukai desain kamar yang telah ia siapkan. Sedangkan Manda mengamankan beberapa barang-barang berharga yang Ahkam bawa dari Panti Asuhan. Menyimpannya di ruang baca di lantai atas.


"Ahkam suka nggak?" Zidan duduk di atas kasur, ia memperhatikan Ahkam yang sedang menelusuri rak buku di dekat meja belajar miliknya.


"Ahkam suka." Bocah itu menoleh ke arah Zidan. Dengan pelan ia melangkah mendekati pria itu, lalu berusaha untuk duduk di samping Zidan. Zidan pun mengangkat tubuh Ahkam, mendudukkan Ahkam di pangkuannya.


"Ahkam boleh manggil Papa nggak?" tanya bocah itu dengan raut wajah polos. Tatapan matanya saat mengatakan itu membuat mata Zidan berkaca-kaca. Tatapannya mengisyaratkan antara sedang mengajukan pertanyaan atau permintaan.


Tanpa ragu, Zidan langsung menjawab cepat pertanyaan Ahkam. "Tentu saja, Ahkam bisa panggil Papa ataupun Ayah. Bahkan boleh panggil Mama atau Ibu juga ke Kak Manda."


"Terimakasih, Papa."


"Iya, Nak... Kembali kasih."


Manda menyeka air matanya saat melihat Ahkam memeluk Zidan dengan begitu hangat. Kepala Ahkam bersandar pada dada bidang Zidan, sedang kedua tangannya melingkarkan memeluk tubuh kekar itu.

__ADS_1


Manda masih memperhatikan keduanya dari ambang pintu kamar, tidak berniat mengganggu kedekatan mereka. Sampai Ahkam melihat ke arahnya, "Boleh panggil Mama?"


Gerakan bibir bocah itu membuat Manda mendekat ke arah mereka. Manda duduk di samping kiri Ahkam. Ia mengangguk keras, "Tentu saja, kita keluarga sekarang."


Manda ikut menyadarkan kepalanya di balik punggung Ahkam, dalam hangat pelukan Zidan, Ahkam meneteskan air matanya. Ia rindu pada sosok Ayah yang begitu menyayangi dia dan Ibunya. Sifat Ayahnya sama persis seperti sifat Zidan, lembut dan penuh kasih sayang.


Ayahnya juga dulu sering memeluknya seperti ini, kadang Ayah menggendongnya sambil berjalan mengelilingi kompleks di pagi hari. Ayah juga sering mengajaknya jalan-jalan menggunakan motor di sore hari. Kadang Ayah mengajaknya untuk ikut menghadiri pengajian, dan ketika pulang, Ahkam pasti akan tidur di dalam gendongan Ayahnya.


Zidan mengelus kepala Ahkam pelan, ia tau tidak mudah menjadi anak seperti Ahkam. Kehilangan kedua orang tua di usia kanak-kanak. Usia di mana anak-anak seharusnya mendapatkan kasih sayang yang melimpah dan juga bimbingan dari orangtuanya. Tapi, Zidan dan Manda akan berusaha untuk memberikan semuanya pada Ahkam, kasih sayang, cinta dan dukungan untuk setiap pertumbuhan dan langkahnya.


"Ahkam mau main ke pantai nggak?"


"Kalo gitu, besok kita jalan-jalan ke pantai ya?" Manda menatap Zidan seolah-olah sedang meminta persetujuan. Lebih tepatnya dia sedang mengutarakan permintaannya.


"Oke, besok main pasir pantai!"


"Ye...." Manda malah berteriak kegirangan, membuat Zidan menahan tawa melihat tingkahnya. Maklum jiwa kanak-kanak si Mama Muda masih bergelonjak.


"Ya udah, sekarang Ahkam siap-siap ya. Kita sholat Maghrib berjamaah."

__ADS_1


"Siap, Papa!" Manda membantu Ahkam turun dari kasurnya, ia juga menyiapkan handuk dan baju sholat untuk Ahkam, setelah itu Manda menyusul Zidan ke kamar. Untuk menyiapkan baju sholat juga untuk sang Suami tercinta.


Setelah menyiapkan semua kebutuhan Zidan. Manda kembali lagi ke kamar Ahkam. Ia mendapati Ahkam sedang mengancing baju sholatnya di depan kaca. Bocah itu terlihat begitu tampan dan rapi dengan setelan baju putih dan peci hitam.


"Sini, Mama sisirin dulu!"


Ahkam tersenyum, ia dengan patuh berdiri di hadapan Manda yang berlutut di hadapan sambil membawa sebuah sisir. Manda juga dengan telaten merapikan rambut hitam Ahkam, sehingga bocah itu terlihat lebih tampan lagi.


"Aduh.... Mood banget sih kalian berdua!!" Manda bergumam kecil saat melihat Zidan yang sudah rapi, pria itu berdiri di depan pintu kamar Ahkam sambil menjulurkan tangannya. Spontan Ahkam pun berlari, ia meraih tangan Zidan, menggenggamnya.


"Jagain rumah ya, Sayang!" ucap Zidan sembari menunjukkan kunci motor yang ia pegang.


"Hah, iya." Walaupun sedikit kaget, tapi Manda tetap mengiyakan ucapan Zidan. Ia lupa, beberapa hari sebelum hak asuh Ahkam jatuh ke tangan mereka. Mereka sudah terlebih dahulu mencari tau semua kegiatan yang disukai Ahkam.


Menurut informasi yang Manda dan Zidan dapatkan dari Panti, Ahkam sangat senang pergi sholat berjamaah ke masjid dengan mengendarai motor dari rumah, oleh sebab Zidan memutuskan membeli motor, dan kebetulan jarak Masjid dari rumah mereka juga membutuhkan waktu yang cukup lama jika ditempuh dengan berjalan kaki.


"Kami sedang berusaha melakukan yang terbaik untukmu, Ahkam!"


Manda menetap sendu kepergian Ahkam dan Zidan. Dari Ahkam ia banyak belajar tentang kesabaran, air matanya menetes ketika mendengar cerita bagaimana Ibunya meninggalkan Ahkam di saat Ahkam baru beberapa bulan ditinggal oleh Almarhum Ayahnya. Yang lebih menyakitkannya lagi, Ahkam tidak hanya kehilangan sosok Ibu hari itu, tapi juga sosok adik yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Ternyata Allah lebih sayang pada mereka, dan surga lebih merindukan ketiganya.

__ADS_1


Pelan Manda menyeka air matanya, lalu melangkah masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Kalau untuk kepentingan dapur, Manda memilih untuk mengerjakannya sendiri. Sedangkan untuk urusan beresin rumah dan cuci baju, mereka masih memperkerjakan Asisten Rumah tangga seperti dulu.


__ADS_2