
...Makkah, Arab Saudi...
Hati siapa tidak terguncang oleh kebahagiaan saat berada di kota yang selama ini menjadi impiannya? Yang dulu hanya bisa ia lihat di gambar, dan video saja. Tapi sekarang?
Manda berada di sana, menapakkan kakinya, berjalan di tengah-tengah ribuan atau bahkan jutaan orang. Lisannya tak henti mengucapkan syukur, akhirnya dia bisa sampai di sini, di Baitullah.
Semua rangkaian ibadah Umroh sudah selesai Manda tunaikan. Hatinya belum rela untuk meninggalkan kota ini, ia ingin lebih lama lagi, ingin mengunjungi lebih banyak tempat lagi. Tapi waktu sudah tidak berpihak pada mereka, Manda harus segera kembali!
"Tahun depan kita ke sini lagi, Insyaallah!" Zidan mengelus kepala Manda. Waktu sudah ditentukan, berapa lama mereka akan di sini, semua agenda juga sudah dilaksanakan, sekarang waktunya untuk pulang dan mengistirahatkan tubuh.
Manda menatap Ahkam yang tertidur pulas dalam gendongannya Zidan. Ia menghembuskan napas pelan, mereka memang harus istirahat, lagi pula mereka sudah mengunjungi banyak tempat.
Dari semua tempat yang mereka sudah kunjungi, tempat yang paling berkesan di hati Manda dan Zidan adalah Masjidil Nabawi, dari awal masuk, hati mereka sudah menggebu-gebu, di serang oleh rasa rindu pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam .
Lantunan sholawat terus terdengar, diiringi dengan tetesan air mata, malu rasanya berada sedekat ini dengan Beliau, malu dengan dosa-dosa.
Terutama ketika berada di depan Ka'bah. Rasanya Manda tidak memiliki apapun yang patut untuk ia banggakan dan sombongkan lagi, ia merasa begitu kecil, hanya gumpalan daging yang memiliki nyawa.
Perjalanan bersama Zidan kali ini begitu istimewa, lebih terasa istimewa karena ada Ahkam di tengah-tengah mereka. Bocah itu tampak semangat saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Dia banyak bertanya tentang ini dan itu pada Zidan dan Manda.
"Izinkan kami menginjak kaki di sini lagi, Ya Allah!"
Walaupun terasa begitu berat, mereka akhirnya kembali lagi ke Tanah Air, dengan membawa beberapa oleh-oleh, dan berbagai cerita tentang perjalanan mereka.
...***************...
...Indonesia...
Sejak sampai di tanah air, kondisi kesehatan Manda menurun, ia sudah istirahat seharian penuh, tidak mengerjakan apapun, tapi rasa pusing, lemas dan sedikit mual terus Manda rasakan.
__ADS_1
"Kita periksa ke dokter aja, Sayang?" Zidan masih setia duduk di atas kasur menemani Manda, ia mengelus kepala Manda di pangkuannya. Bahkan Ahkam juga ikut menjaga Manda. Ahkam baru selesai menyuapi buah untuk Manda. Dia begitu sayang pada Mamanya.
"Atau Dokter Rhani yang ke sini?" Zidan terlihat begitu khawatir, ia masih trauma dengan kejadian yang pernah menimpa Manda. Yang hampir membuat ia bisa saja kehilangan istrinya. Zidan paling tidak bisa jika melihat Manda pucat, lemas dan hanya berbaring lemah di kasur.
Tanpa menunggu persetujuan Manda, Zidan langsung menghubungi Dokter Rhani, meminta Dokter Rhani untuk datang ke rumah dan memeriksa kondisi istrinya.
Sambil menunggu Dokter Rhani datang, Zidan membuat teh hangat untuk Manda, dia tadi sudah menawarkan susu tapi Manda menolak dan meminta teh saja.
"Papa? Mama sakit apa?" Tanya Ahkam, bocah itu juga tidak kalah khawatir dengan Zidan. Melihat Mamanya seperti itu membuat Ahkam ingin menangis, dia takut kehilangan orang yang dia sayang lagi.
"Mama cuman kecapean. Do'ain Mama ya, supaya cepat sembuh, Mama butuh doa yang banyak dari Ahkam!"
Ahkam mengangguk lalu segera berlari ke kamarnya, bocah itu membasuh wajah, tangan, kepala dan kakinya. Ia memakai baju sholat, membentang sajadah, Ahkam tidak tau ini sholat apa, bahan untuk bacaan sholat saja dia masih dalam proses belajar, tapi dia tetap melakukannya, berdiri tegak, ruku', iqtidal, sujud dan salam.
Lalu bocah yang akan menginjak usia 7 tahun itu mengangkat kedua tangannya. Bibirnya yang mungil bergerak, mengucapkan doa. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk Mama.
Bocah itu sebenarnya tidak tau apa makna dari ucapannya. Dia hanya mengutarakan apa yang ingin dia katakan. Mengutarakan rasa sayang pada Manda dengan cara yang dia bisa.
Tidak lama kemudian, Dokter Rhani datang, Zidan langsung mengantarnya menuju kamar, untuk meriksa kondisi Manda.
Setelah mengecek denyut nadi, detak jantung, dan tekanan darah, Dokter Rhani pun bertanya tentang keluhan yang Manda rasakan.
"Pusing, lemas dan sedikit mual, Dok," jawab Manda.
"Haid terakhirnya kapan?"
Manda langsung menatap Zidan, begitu pula dengan Zidan yang tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Manda. "Kurang lebih satu bulan yang lalu, sebelum berangkat ke Makkah!"
Lantas Dokter Rhani tersenyum mendengar jawaban Manda. Ia menoleh ke arah Zidan, "Sebaliknya bawa Manda ke dokter kandungan, atau kalian juga bisa melakukan tes kehamilan terlebih dahulu, baru ke dokter kandungan untuk memastikan!"
__ADS_1
Zidan termenung mendengar ucapan Dokter Rhani, otaknya terus memutar ulang ucapan Dokter Rhani, tes kehamilan? Hamil?
Tiba-tiba mata pria itu berkaca-kaca, menatap Manda dengan penuh rasa haru, walaupun belum mendapatkan kepastian, tapi rasa bahagia sudah menyelinap masuk di hati Zidan.
"Ini vitamin untuk Manda, kalau bisa cek secepatnya dan jangan lupa kabari saya!"
Zidan hanya mengangguk pelan, dia berterima kasih pada Dokter Rhani karena sudah menyempatkan diri untuk datang.
"Manda nggak boleh terlalu lelah, dia harus banyak-banyak istirahat, dan sebaiknya selalu temani dia, dia sangat butuh dukungan dari Suaminya!" ucap Dokter Rhani sebelum pulang.
Zidan bergegas kembali ke kamar menemui Manda, ia mencium wajah gadis itu, gemas sendiri. "Bang!"
Manda memalingkan wajahnya, ia tidak suka melihat Zidan terlalu berharap, sedangkan belum ada satupun bukti yang mengatakan dia sedang hamil atau tidak!
"Aku takut Abang kecewa!"
"Jika pun hasilnya negatif, Abang nggak akan kecewa, Sayang.
Masih ada kesempatan untuk kita, kita masih bisa berjuang bersama!"
Manda hanya menghembuskan napas, dia akan coba mengecek besok pagi, setelah merasa tubuhnya jauh lebih baik. Zidan menurut, dia juga tidak bisa memaksa Manda mengecek sekarang juga. Dia faham kondisi istrinya, kesehatan Manda yang paling utama.
Melihat raut bahagia di wajah Zidan membuat Manda tersenyum, namun dengan sebuah ketakutan, takut mengecewakan Zidan. Takut tidak sesuai harapan.
Dokter Rhani juga hanya memberikan saran untuk mengecek ke Dokter kandungan, tidak mengatakan langsung kalau Manda sedang hamil.
Tapi jauh dari semua ketakutan yang menghantuinya, Manda juga memiliki harapan yang sama dengan Zidan. Ia juga menginginkan sang buah hati segera hadir di tengah-tengah mereka. Menjadi pelengkap kebahagiaan dan juga keluarga kecilnya. Menjadi teman bermain dan saudara untuk Ahkam juga.
...****************...
__ADS_1