Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 22. Singapura (4)


__ADS_3

...Singapura...


Gilang membuka mata, saat sinar matahari menerobos masuk menerangi kamar, dan mengenai wajahnya. Pria itu bangun, duduk di pinggir kasur. Ekspresi wajahnya langsung berubah setelah mengingat kejadian semalam.


"Ayu?"


Gilang berjalan keluar kamar dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing. Gilang memaksakan diri untuk menemui gadis itu.


"Stop!" ucap Ayu saat Gilang masuk ke dapur. Ayu membalik tubuhnya, menatap Gilang.


"Bersihkan tubuhmu, lalu sarapan!"


"Ay--"


"Jangan mendekat!" Ayu mundur sampai tubuhnya terbentur di kulkas. Tak mau berdekatan dengan Gilang, masih untung Ayu berbaik hati, membuatkan sarapan dan membereskan apartemen pria itu!


"Aku minta maaf, aku nggak---"


"Aku lagi nggak mau bahas itu, kembali lah ke kamar, tugasku sudah selesai!"


Ayu melangkah melewati Gilang, ia menepis tangan Gilang, saat Gilang mencoba untuk menghentikannya.


"Oh ya, hari ini aku ada janji dengan Manda!" ucap Ayu sebelum akhirnya dia keluar dari apartemen Gilang, meninggalkan Gilang dengan seribu penyesalan.


"Bodoh, bodoh, bodoh!!!"


Gilang melempar gelas di atas meja makan, untuk meminta maaf dan mendapatkan kepercayaan Ayu bukanlah hal yang mudah! Tapi lihat lah dia, dia menghancurkan kepercayaan Ayu, dan mengingkari janjinya pada gadis itu.


"Bodoh!"


* * * *


The Living Cafe by Balanced Living


Manda dan Zidan sudah sampai di lokasi yang Ayu kirim, perjalanan dari rumah kira-kira menghabiskan waktu sekitar 20 menit saja. Semalam Ayu menghubungi Manda, menanyakan apakah sahabatnya itu ada waktu luang untuk bertemu dan melepas rindu.


"Ayu!!" Manda memeluk Ayu begitu gadis itu ada di hadapannya, sudah hampir setengah tahun mereka tidak bertemu, Manda begitu merindukannya. Begitu pula Ayu yang begitu merindukan Manda.


"Ahkam." Ayu tersenyum saat Ahkam menyalami tangannya. Zidan hanya melihat sekilas, lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ahkam, Manda duduk di sebelah Ayu.


"Emmm, kamu sendiri? Gilang mana?" tanya Manda. Zidan langsung melotot ke arahnya. Begitu mendengar Istrinya menyebut nama Gilang.


"Bukan, maksudku, kamu ke sini sendirian?"


Ayu tersenyum canggung.


"Iya, soalnya Gilang nggak bisa, katanya dia belum ngumpulin tugas," ucap Ayu berbohong.


"Emmm, gimana rasanya kuliah di negeri orang?"


"Hahaha, begitulah, ada manis pahitnya!" Ayu tersenyum ketir, manisnya ; ia bisa meraih semua impiannya di negara ini, lebih banyak pengalaman, lebih banyak teman baru, dan pahitnya ; ia harus jauh dari orang-orang tercinta, meninggalkan rumah, keluarga, sahabat, dan negaranya, hidup mandiri di negara orang demi cita-cita.


"Gimana kabar calon keponakanku? Udah berapa bulan sekarang?"


"Alhamdulillah, udah masuk Minggu ke 15. udah empat bulanan lah, iya kan, Bang?"


"Iya, Sayang," jawab Zidan, pria itu sibuk menonton film dengan Ahkam. Tidak mau ikut campur dengan urusan Ayu dan Manda.


Manda memperhatikan Ayu, Hp gadis itu terus berdering, Ayu mematikannya dan memasukkan ke dalam tas.


"Kenapa, Yu?"


"Nggak apa-apa, kok."


"Kalian lagi ada masalah?" Tebak Manda. Bukannya ingin ikut campur, tapi siapa tau Manda bisa membantu mencari jalan keluar untuk masalah mereka.


"Kita bahas yang lain aja ya?!"


Manda tersenyum, ia menyentuh tangan Ayu lembut. "Sepasang kekasih itu diibaratkan seperti seekor burung yang memiliki dua sayap, dua sayap ini harus sepakat, mereka ingin terbang ke mana, dan jika satu sayap merasa sakit, maka burung pun tidak bisa terbang hanya dengan satu sayap, kan?"


"Tapi bagaimana kalau sayap kanan yang melukai sayap kiri?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Sayap kanan bukan hanya melukai sayap kiri, Yu. Tapi dia juga melukai si burung, dia melukai hubungan itu, tapi nggak sampai situ, dia juga mulukai dirinya sendiri!"


Manda kembali tersenyum.


"Pada dasarnya, nggak ada orang yang mau nyakitin orang yang dia cintai, tapi pasti ada aja, satu titik di mana dia nggak bisa kendaliin emosinya, dan tanpa sadar, dia nyakitin dirinya sendiri, nyakitin orang-orang di sekitar dia!"


"Aku juga berpikir seperti itu, Manda. Cuman aku lagi butuh waktu sendiri aja." Ayu tersenyum.


"Yang sabar, ya, dia sangat butuh kamu untuk selalu di sisinya!"


Setelah satu jam berlalu, Ayu dan Manda pun sepakat untuk berpisah, Ayu juga harus segera kembali ke apartemen, untuk mengecek keadaan Gilang. Dia tidak bisa meninggalkan dan membiarkan Gilang sendiri lagi.


"Makasih ya, Manda. Bulan depan kita ketemu di Indonesia!!"


"Kembali kasih, hati-hati di jalan!"


Zidan tadi sudah menawarkan untuk mengantar Ayu pulang, tapi gadis itu menolak katanya tidak ingin merepotkan. Zidan juga tidak bisa memaksa jika Ayu tidak mau.


********


Tadi Ayu sempat memesan makanan untuk ia bawa pulang, walaupun dalam keadaan seperti sekarang, Ayu masih sangat memikirkan kondisi Gilang, sekecewa apapun dia.


"Ayu?" Gilang langsung berdiri begitu melihat Ayu masuk ke apartemen miliknya, Gilang sudah menunggu gadis itu pulang sejak tadi.


Ayu tidak menjawab apapun, ia berjalan menuju dapur, memindahkan makanan yang ia bawa ke piring. Agar Gilang bisa lebih mudah memakannya.


"Ay, aku minta maaf!" lirih Gilang, tangan kirinya menyentuh lengan Ayu. Gadis itu tetap saja memunggunginya.


"Aku janji, ini yang terakhir!"


Gilang menjauhkan tangannya, "Kamu boleh marah, Ay. Tapi jangan lama-lama ya marahnya?"


Gilang duduk di meja makan, bukannya tidak ingin meminta maaf lagi, tapi jika sudah begini, seribu kata maaf darinya tidak akan didengar oleh Ayu. Gilang juga harus memberikan sedikit ruang ketenangan, agar Ayu bisa menerima permintaan maafnya.


Ayu meletakkan piring dan gelas di atas meja, ia menatap Gilang sejenak. "Jika kesalahan seperti ini terjadi lagi, aku nggak tau harus bersikap seperti apa lagi, Lang!"


"Ini bukan demi aku, tapi ini semua demi kamu, semua yang aku larang selama ini hanya demi kamu, demi kebaikanmu!"


"Jangan memberikan janji apapun lagi padaku. Berjanjilah pada dirimu sendiri!"


Gilang menatap Ayu cukup lama, tangannya menyentuh pipi gadis itu. Ayu tidak menepis, ia malah terpejam, rasa kecewa itu masih ada, tapi tak sebesar perasaan yang ia rasakan pada Gilang.


"Aku mencintaimu, Ay!"


Sebuah pengungkapan yang jarang sekali Ayu dengar, bahkan kata cinta tak pernah Gilang katakan saat bersamanya. Ayu juga tidak pernah menuntut Gilang mengucapkan itu, tapi wanita mana sih yang tidak ingin mendengar kekasihnya menyatakan cinta?


"Maafin aku!"


"Aku mau istirahat!" Ayu menjauhi Gilang, untuk saat ini biar Gilang benar-benar menyadari kesalahannya, sampai dia tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang nanti!


*********


Hari tahun baru sudah berlalu, para sepupu Zidan juga sudah pulang sejak tadi siang, hanya tersisa Dea yang memang tinggal di rumah utama.


Tante Hasna dan Tante Qiara meninggalkan beberapa barang untuk Manda. Sudah di amankan di dalam lemari. Paman Syam juga memberikan sejumlah uang untuk Ahkam, Ahkam memberikan uang itu pada Zidan. Terlalu banyak, Ahkam tidak berani menyimpan sendiri.


"Mama, kapan kita pulang?" tanya Ahkam setelah makan malam, belum genap seminggu mereka di Singapura.


"Emm, insyaallah besok lusa, Ahkam kangen ya sama temen-temen Ahkam?"


Ahkam menggeleng, wajahnya terlihat sedikit malu, "Ahkam kangen sama Cila, Ma! Ahkam mau main sama Cila aja!"


"Hahahaha, Ahkam kangen Cila ya? Sabar, sabar, besok lusa juga bisa ketemu sama Cila lagi!" Manda mencubit pipi Ahkam gemas, bocah itu pindah posisi, meletakkan kepalanya di pangkuan Manda.


"Mama, kalo Ahkam udah besar, Ahkam boleh nggak pacaran sama Cila?"


"Hah?" Manda mengerjap beberapa kali, ia menunduk memandang wajah Ahkam. "Ahkam emang tau, apa arti pacaran?"


"Kayak Mama sama Papa kan? Papa pacaran sama Mama, Mama juga pacaran sama Papa!"


Manda menggeleng pelan. Sejak kapan anaknya tau istilah pacaran dan dari siapa?

__ADS_1


"Bukan, Sayang. Kalo Mama sama Papa namanya menikah, Kita nggak pacaran, kalo Ahkam udah besar, Ahkam nggak boleh pacaran, tapi Ahkam langsung menikah aja, ya?!"


Ahkam diam sejak, "Kalo menikahnya sama Cila? Boleh, Ma?"


"Astaghfirullah, siapa sih yang ngajarin Ahkam ngomong kayak gini?!" Batin Manda.


"Emmm, boleh boleh aja, kalo Cila juga mau menikah sama Ahkam."


"Nanti kalo udah pulang ke rumah, Ahkam mau bilang ke Cila deh! Supaya Cila juga mau menikah sama Ahkam!"


Manda diam, dia tidak tau harus berkata apa lagi, sampai pintu kamar terbuka, Zidan berdiri di sana dan menatap ke arah Manda.


"Kok kamu liat Abang kayak gitu? Abang ada salah?" tanya Zidan yang mendapatkan tatapan tak biasa dari Manda.


Zidan duduk di samping Manda, memeluk tubuh Manda dari samping, Zidan meletakkan dagunya di bahu Manda. Menatap Ahkam yang sudah tidur, tangan Manda masih mengelus kepala bocah itu.


"Siapa yang ngajarin Ahkam tentang pacaran pacaran?!"


"Hah? Pacaran? Bukan Abang yang ngajarin! Emang Ahkam tadi ngomong apa?"


"Katanya dia mau pacaran sama Cila kalo udah besar nanti!"


"Kenapa harus pacaran, kenapa nggak langsung nikah aja?!"


"Ish, Abang!"


Manda mencubit lengan Zidan. "Umur Ahkam belum genap 7 tahun loh, belum pantes banget ngomongin pacaran pacaran!"


"Ya terus mau gimana? Ahkam nya aja udah berani ngomong sama Mamanya!"


"Ish, Abang nggak seru, nggak asik!!"


"Haha, ya udah jangan marah, Istriku Sayang, nanti Abang jelasin deh ke Ahkam, kalo dia nggak boleh bahas tentang pacaran lagi, apalagi sampai pacarin anak orang!"


"Jangan sampe anakku terbawa pergaulan seperti itu!"


Manda nggak bisa membayangkan bagaimana caranya dia harus menjaga Ahkam, agar anaknya tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas saat sudah dewasa nanti.


"Rencananya, Abang bakalan masukin Ahkam ke pesantren, tapi liat nanti dulu deh, kalo Ahkamnya juga mau!"


"Berarti Ahkam bakalan jauh dari kita?"


"Iya, demi masa depan dia juga, sekarang aja udah keliatan kalo dia lebih tertarik dengan pelajaran Agama dari pada pelajaran umum!"


"Ya juga sih, tapi kok Manda masih belum rela ya kalo Ahkam harus jauh dari kita."


"Ahkam nggak pergi jauh kok, Sayang. Kita masih bisa jengukin dia nanti!"


"Emmm iya, itu juga masih jauh sekali, masih beberapa tahun lagi!"


Zidan tersenyum, dari awal ia sudah merencanakan semua hal untuk Ahkam, mulai dari memilih sekolah yang bisa membantu Ahkam mengenal agamanya sejak kecil, Untuk jenjang selanjutnya, Zidan ingin memasukkan Ahkam ke pesantren, atau Asrama Khusus Tahfiz, itupun jika Ahkam mau, kalo tidak, nanti Zidan pikirkan jalan keluarnya!


"Tidur yuk, Abang udah ngantuk nih!"


Zidan membawa tubuh Manda dalam dekapannya, setelah memindahkan Ahkam ke kasur sebelah, ada dua kasur di kamar mereka sekarang.


"Ngambil jatahnya besok aja, pas udah di rumah, hahahaha, supaya lebih menikmati dan bisa nambah lagi!" Zidan tertawa kecil, senang saja menggoda istrinya yang selalu malu jika membahas tentang 'itu'


"Mau berapa kali, Bang?!" ucap Manda, gadis itu memindahkan tangan Zidan agar mengelus perutnya saja.


"Hahaha, nantangin, kuat berapa nih? Masih kuat nggak 3 kali?!" Zidan malah cekikikan sendiri.


"Abang mau ngebunuh anak kita?!"


"Hust, jangan ngomong gitu, Sayang. Nggak ada satu pun Ayah yang mau nyakitin anaknya! Lagian Abang cuman becanda! Abang ngerti kondisimu!"


"Kirain!" Manda memilih untuk memejamkan matanya menikmati hangat tangan Zidan yang masih menempel di permukaan perutnya.


"Sehat sehat ya di sana, Sayang, Papa, Mama dan Bang Ahkam Sayang bangett sama kamu!"


Zidan mencium perut Manda, sebelum akhirnya ia ikut tidur dengan lelap di samping Manda.

__ADS_1


__ADS_2