
Ayu ikut bahagia mendengar kabar dari Arina yang baru saja dilamar oleh seseorang yang ternyata selama ini memendam perasaan pada gadis itu, seorang ustadz di salah satu pesantren yang cukup terkenal di daerah mereka. Siapa sangka, Arina yang selama ini memendam perasaan pada Vino ternyata malah menerima lamaran dari orang yang baru ia kenal!
"Iya kan emang gitu, kadang orang yang menurut kita baik, belum tentu baik buat kita, iya kan Mama Manda?" ucap Arina, mereka sekarang sedang ngumpul di rumah Manda. Dalam rangka melepas rindu, ceritanya.
"Iya, dan mungkin itu alasan kenapa Kamu sama Vino nggak pernah dekat dari dulu, mungkin juga ya, doanya ustadz Azam jauh lebih kenceng daripada doa kamu untuk Vino, hahaha!"
Arina malah tersenyum malu. Qonita melirik ke arah Ayu, ingin bertanya kapan gadis itu akan menyusul Arina dan Manda, tapi dia takut kalau nanti dia malah ditanya balik! Sedangkan dirinya sendiri tidak punya pasangan!
"Eh ngomong-ngomong besok ada yang ulang tahun nih, enaknya dikadoin apa ya?" Manda menyenggol lengan Ayu, yang diajak bicara malah melamun menatap ke arah taman.
"Dia kenapa?" tanya Qonita, Arina dan Manda menggeleng. Mereka juga tidak tau, bukannya tadi Ayu masih baik-baik saja?
"Yu?" Arina menyentuh bahu Ayu pelan. "Ayu Sintya Dewi?"
"Ah iya-iya, kenapa?"
"Kamu ada masalah?" tanya Manda.
"Nggak kok!"
"Jangan bohong deh, kamu nggak bisa ya bohongin kita!" Qonita bergeser mendekati Ayu. "Kalo ada apa-apa, cerita, siapa tau kita bisa bantu!"
"Nggak ada, aku nggak kenapa-kenapa!"
"Ada masalah lagi sama Gilang?" Selidik Arina.
"Enggak, orang dia masih di Bali!
"Oooo, pantes, ada yang lagi kangen Ayang!" ucap Qonita membuat kesimpulan sendiri.
"Hahahaha, udah, udah, nanti dia pulang kok kalau urusannya udah selesai, iya kan?"
"Iya, Yu. Nanti juga pulang!" Sahut Manda.
"Tapi ini udah seminggu, dia juga nggak bisa dihubungi dari kemarin! Aku cuman takut dia kenapa-kenapa!" lirih Ayu.
"Insyaallah, dia baik-baik aja di sana. Kamu doain aja, semoga semua urusannya cepet selesai, supaya dia cepat balik lagi!"
"Semoga aja, aku pengen dia di sini pas hari ulang tahunku!" Batin Ayu.
__ADS_1
"Udah, nggak ada yang boleh galau-galau lagi!" Manda menyerahkan Zahira pada Arina, lantas pergi ke dapur, mengambil cemilan tambahan. Semalam Zidan juga sudah menambah stok es krim, Manda mengeluarkan semuanya agar bisa dinikmati oleh sahabatnya!
*********
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dan spesial malah menjadi hari yang begitu hampa bagi Ayu.
Di hari ulang tahunnya, ia berharap Gilang sudah ada lagi di sisinya, ternyata tidak bisa, pria itu masih ada beberapa urusan yang tidak bisa ia tinggalkan di Bali, mau tidak mau, Ayu harus bersabar, sampai urusan Gilang benar-benar selesai!
"Katanya cuman seminggu!" gerutu Ayu, sejak semalam Ayu malas membuka semua pesan masuk, bahkan pesan masuk dari Arzia yang mengucapkan selamat ulang tahun pun belum ia buka, intinya harus ada pesan yang sama dulu dari Gilang! Baru ia mau membuka pesan dari orang lain.
"Loh, mukanya kenapa ditekuk gitu sih, Kak. Senyum dong!" Gempita mencubit pipi sang Kakak saat sarapan bersama. "Nggak boleh sedih loh, harus bahagia, It's your special day!"
Bu Dewi menatap Ayah, yang ditatap hanya mengangkat bahu saja. Memilih untuk menutup mulut.
"Selamat ulang tahun, Kak!" Bu Dewi meletakkan sarapan super spesial untuk anaknya. "Semoga tetap dalam lindungan Allah, diberkahi umur dan semua pekerjaannya, sehat selalu dan semoga selalu bahagia dengan siapapun pilihan Kakak!"
Ayu tersenyum, ia memeluk sang Ibu dengan begitu erat. "Terimakasih ya, Bu!"
Gadis yang kini berusia 24 tahun itu menoleh ke arah adiknya yang juga ikut memeluknya dari belakang.
"Selamat ulang tahun ya, Kakakku tersayang.... Tetep jadi Kakak yang sayang sama Adek! Tetep jadi orang baik, dan semoga Kakak selalu tersenyum bahagia, selamanya!!!"
"Selamat ulang tahun, Nak!"
Sebuah kunci mobil baru Ayah berikan pada Ayu. Gadis itu tercengang, menatap kunci yang digenggamnya.
"Semoga kamu suka!"
"Terimakasih, Yah!"
Kedua anak dan Ayah itu berpelukan, menyalurkan kasih sayang di antara mereka. Sekarang Ayu menemukannya, alasan kenapa dia harus bahagia, yaitu sebuah keluarga.
Dia sangat beruntung karena memiliki keluarga yang masih utuh dan begitu sayang padanya. Karena banyak di luar sana, orang-orang yang sudah berpisah dengan Ayah atau pun Ibu mereka. Ada juga yang masih bersama, tapi tidak dalam keadaan bahagia!
"Emm, Ayu berangkat dulu, ya, Ibu, Ayah. Nanti telat!"
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan!"
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
Ayah memperhatikan punggung anak gadisnya itu, sebenarnya Ayah tidak mendukung anak-anaknya untuk bekerja terlalu keras, tapi karena anaknya menyukai dan bahagia dengan pekerjaannya itu, jadi Ayah hanya bisa mendukung dan memberikan support terbaik untuk kebahagian putrinya.
*********
Jam makan siang sudah berlalu, tapi masih belum ada notifikasi apapun dari orang yang ditunggu-tunggu. Bahkan sekedar membaca pesan dari Ayu pun belum. Jangankan membaca pesan, online saja belum sampai sekarang!
"Happy Birthday ya, Yu. Selamat ulang tahun, panjang umur sehat selalu!" Delia, teman kerja Ayu meletakkan sebuah bingkisan kecil di atas meja.
"Terimakasih banyak, Del!"
"Sama-sama, senyum dong, dari tadi aku perhatiin kamu kayak nunggu chat dari seseorang?! Gilang masih belum pulang, ya?" ucap Delia karena beberapa kali ia melihat Ayu terus mengecek ponselnya.
"Iya, mungkin urusannya belum selesai!" Ayu berusaha tersenyum, ia menyentuh bingkisan yang Delia berikan.
"Terimakasih ya, Del. Nanti aku buka di rumah, ya."
"Iya, sama-sama. Ya udah, aku lanjut kerja dulu, ya, ada urusan sama bapak direktur keuangan!" Gadis cantik yang menggunakan hijab pashmina coklat itu berlalu.
Ayu menarik napas dalam-dalam, menatap sekitar. Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu agar cepat pulang dan istirahat!!!
Saat pulang bekerja, ada secercah harapan yang timbul, berharap ada kejutan saat ia pulang. Ayu sudah membayangkan dirinya melihat mobil Gilang terparkir di halaman depan. Namun sayangnya sekali, untuk yang sekian kalinya ia dihancurkan oleh harapannya sendiri, tidak ada kejutan apapun dari pria itu!!
"Kak?"
Gempita menyentuh bahu Ayu, memijatnya pelan. "Kak Gilang masih belum ada kabar juga?"
"Eee, mungkin dia masih sibuk, Dek!"
"Kakak tenang aja, Gempita percaya kok, kalau Kak Gilang pasti nggak bakal ngecewain Kakak lagi. Gempita tau, Kak Gilang bukan tipikal orang yang suka mengingkari janjinya!"
Ayu menggeleng pelan, cukup sudah ia berharap dan dikecewakan oleh harapannya sendiri. Jika memang Gilang berniat untuk membuatnya bahagia, pria itu pasti akan melakukannya. Tapi jika tidak sekalipun, Ayu akan bersabar semampunya!
"Kakak mandi dulu, Dek! Sekalian siap-siap!"
"Iya, Kak!"
Gempita ikut menarik napas dalam-dalam, perasaannya sudah tak karuan sekarang, dia sudah sepenuhnya mempercayakan Kakaknya pada Gilang! Tapi pria itu? Lihatlah apa yang dia lakukan sekarang!!
__ADS_1
"Cepet muncul, Kak! Supaya aku bisa menamparmu dan memukulmu!!!"