
Sigit menatap dua orang yang berjalan di depannya. Tangan mereka saling bertautan, dengan langkah kaki yang seirama. Niat hati ingin mengucapkan belasungkawa pada Gilang. Eh, malah dirinya sendiri yang seharusnya mendapatkan ucapan itu!
Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan pulang dari makam matanya terus disodori pemandangan yang mengguncang hati! Belum reda panasnya kobaran api yang menyala karena melihat kemesraan Zidan dan Manda, dia sekarang malah berjalan di belakang Gilang, dan gadis yang entah, Sigit tidak mengetahui namanya. Tapi yang jelas membuat Sigit bertanya-tanya, siapa gadis itu? Dan sejauh apa hubungannya dengan Gilang?
Sekali lagi, kesabaran Sigit diuji, saat ia melihat Zidan dengan telaten merapikan hijab yang Manda kenakan. Sebelumnya, ia mengira suami Manda tidak akan sehebat, setampan, sekeren Zidan. Ternyata ekspektasi Sigit terlalu rendah!
Di pertemuan pertama dengan Zidan saja dia sudah mengakui pesona pria itu. Bukan hanya tampan dan keren, tapi dia juga pria baik dan tulus. Bahkan cara Zidan menunjukkan cinta pada Manda terbilang begitu unik di mata Sigit. Dari awal melihat mereka Sigit terus memperhatikan walaupun ia juga merasa kesal.
Ia memperhatikan bagaimana Zidan langsung menutup kesempatan bagi siapapun yang hendak mendekati Istrinya. Sigit teringat momen di mana Fazlul---teman SMP mereka mencoba untuk mengajak Manda bicara setelah proses pemakaman selesai tadi.
Tapi tiba-tiba saja Zidan datang dan langsung menggenggam tangan Manda sambil berkata, "Yang ini milik saya, jangan coba-coba untuk mendekatinya!"
Lalu Zidan mengajak Manda untuk segera pergi dari hadapan mereka. Dan berhasil membuat Fazlul diam seribu kata.
"Git, makasih ya udah Dateng!" Gilang menepuk bahu Sigit, lalu menarik kursi untuk duduk di samping teman lamanya itu. Hanya tersisa beberapa orang terdekat saja di rumahnya sekarang, termasuk rombongan Vino dan kawan-kawan yang tengah mengisi perut di ruang makan. Mereka dipaksa makan oleh Bu Diah.
"Makan yuk, Tante Diah udah siapin makanan tuh di dalam!" ajak Gilang. Namun Sigit malah menggeleng pelan, matanya bergerak kiri dan kanan. Mencari keberadaan Manda dan Zidan, yang entah hilang ke mana! Padahal tadi mereka masih berdiri di dekat taman.
"Oh ya, cewek yang tadi, siapa?" tanya Sigit.
"Yang mana?"
"Yang gandengan tangan, kamu pikir aku nggak liat!"
Gilang memalingkan wajahnya, ia pikir tidak ada orang yang melihatnya saat mengandeng tangan Ayu tadi. Tapi ternyata ada Sigit sebagai saksi mata!
"Pacar?"
__ADS_1
"Belum!" Entahlah, Gilang sendiri belum mengetahui pasti tentang perasaannya. Satu sisi ia merasa nyaman dengan keberadaan Ayu. Tapi sisi lain dia masih merasa membutuhkan kehadiran Manda juga!
"Kalo suka, bilang suka, kalo nggak, nggak usah kasih harepan, Lang! Cewek cepet baper loh!" Sigit mengingatkan.
"Aku cuman butuh waktu!" Gilang kembali berdiri dan memaksa Sigit untuk ikut masuk ke dalam, ia merasa tidak enak jika Sigit sampai tidak makan terlebih dahulu. Setelah makan terserah dah, Sigit mau hilang, mau pulang, atau mau enyah pun Gilang tak masalah!
"Gemesin banget sih tuh orang!" gerutu Sigit sambil melihat ke arah dua orang yang duduk di pojok ruangan. Si pria dengan tubuh besar mencoba menutupi agar tidak ada orang yang bisa memandang wajah Istrinya, sementara Si Istri juga mencoba bersembunyi agar tidak dijangkau oleh pandangan siapapun, siapa lagi kalau bukan Zidan dan Manda. Serasa dunia milik berdua! Yang lain mah cuman numpang ngontrak aja.
Pukul 15.16 Zidan dan Manda sudah pamit duluan, Gilang memaklumi karena mereka juga pasti memiliki kesibukan lain, terutama Gilang dengar mereka memiliki seorang anak angkat yang bernama Ahkam.
Sedangkan rombongan Vino memutuskan untuk sedikit berlama-lama, sekalian ingin menemani dan menghibur Gilang.
"Lang." Vino mendekat, ia sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu. Tapi setelah dipikir-pikir, ini bukanlah momen yang tepat! Mungkin beberapa hari ke depan ia bisa menyampaikannya pada Gilang.
"Kenapa, Vin?"
"Emmm, itu, setelah ini rencana kamu gimana? Mau tetep tinggal di sini atau balik lagi ke rumah Bu Diah?" tanya Vino, mengalihkan pernyataan yang akan ia sampaikan tadi.
"Jangan gitu dong, Lang!" Ayu ikut duduk di samping kiri Gilang. Ia menunjukkan dada pria itu, sedikit menekan. "Kamu masih punya diri kamu sendiri, kamu masih punya Bu Diah, masih punya kita yang akan selalu ada buat kamu!"
"Love yourself!"
Gilang menggenggam jari telunjuk Ayu, netranya menatap gadis itu. "Kasi aku satu alasan lagi, kenapa aku harus tetap memperjuangkan masa depanku?!"
Vino melirik keduanya. Ia sedikit mundur, memberikan ruang agar mereka bisa mengungkapkan apa yang selama ini terpendam.
"Setidaknya nanti, anak-anakmu bisa dengan bangga menceritakan siapa Ayah mereka!"
__ADS_1
"Kenapa alasan bukan kamu aja?" Pertanyaan dari Gilang membuat bibir Ayu merasa kaku. Dari awal Ayu memang tidak pernah mengharap lebih, cukup bisa menjadi teman terbaik Gilang, menjadi teman yang selalu ada untuk Gilang.
"Maaf---" Gilang melepaskan jemari yang sedari tadi ia genggam. Dia juga salah karena terlalu memaksakan perasaan di antara mereka.
"Jika kamu merasa tertantang, kenapa tidak kamu coba?" Ayu tersenyum, ia menatap wajah Gilang yang kembali tersenyum samar. Sebuah pelukan hangat datang, sebagai penenang bagi sebuah jiwa yang sedang dilanda kehampaan. Menyalurkan semangat, menggetarkan hati yang mulai membuka diri, menerima kedatangan tamu baru lagi.
Gilang menahan tangan Ayu saat gadis itu pamit untuk pulang, "Aku anter, ya!"
"Nggak, Lang. Kamu butuh istirahat!"
Gilang tidak memperdulikan penolakan dari Ayu, ia tetap saja mengambil jaket dan juga kunci mobil. Sekalian juga ia akan menginap untuk beberapa malam di rumah Bu Diah.
"Aku nggak perduli gimana akhir dari hubungan ini, aku hanya ingin menikmati setiap kenangan yang akan kita lewati, aku ada untukmu dan kamu juga akan ada untukku!"
Ayu memejamkan matanya. Ia tau resiko dari keputusan yang diambil, tapi dia mencoba untuk tidak menjadikan itu sebagai suatu permasalahan yang besar. Karena seiring berjalannya waktu, Gilang pasti akan melupakan Manda secara utuh.
...****************...
Manda menarik selimut, menutupi tubuh Ahkam dan juga Zidan. Keduanya tidur begitu lelap, terutama Zidan, dia pasti sangat lelah hari ini. Lalu tatapan Manda teralih, menatap tangan Ahkam yang menggenggam pergelangan tangan Zidan. Seolah Ahkam tidak ingin Zidan meninggalkannya tidur sendirian.
"Ahkam sayang banget ya sama Papa?" lirih Manda sembari mengelus kepala Ahkam. Memperhatikan wajah Ahkam yang begitu tenang.
Karena tidak ingin mengusik tidur keduanya, Manda memutuskan untuk keluar dan menutup pintu kamar Ahkam, tak lupa juga mematikan lampu kamar.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba memejamkan mata walaupun kantuk belum menyerang. Dengan mata yang masih terpejam ia tak henti-hentinya bersyukur atas semua hal yang telah Allah berikan padanya. Allah berikan ia kehidupan yang lebih dari kata cukup, Allah takdirkan ia memiliki seorang suami seperti Zidan, dan juga seorang anak sepintar dan semanis Ahkam. Allah juga menempatkan ia di sekitar orang-orang baik, yang akan selalu mengingatkan untuk tetap melangkah menuju Keridhaan Sang Maha Kuasa.
Terimakasih untuk semua hal yang terjadi hari ini, di balik setiap kejadian pasti ada hikmah yang terpendam. Perlahan, alam bawah sadar menariknya, membawa ia dalam buaian mimpi yang menenangkan.
__ADS_1
...****************...
💌Kawal nggak, nih. Gilang & Ayu sampai halal?