
Adzan maghrib baru saja berkumandang, namun seorang remaja yang menggunakan baju Koko putih yang dipadukan sarung coklat muda dan peci hitam itu sudah bergegas membawa langkahnya menuju masjid, lengkap dengan sajadah yang ia pegang menggunakan tangan kanan.
Namun sekali lagi, langkahnya terhenti begitu mendengar teriakan dari sang adik. "Abang! Tunggu!"
Abhizar berlari menuju gerbang karena takut ditinggal lagi oleh Ahkam. Bocah kecil itu menggunakan jubah abu yang sedikit kebesaran! Tangan kirinya mengikis jubah saat berlari!
"Udah bilang ke Mama kalo mau ikut sama Abang?" tanya Ahkam sembari membenarkan peci yang adiknya gunakan.
Bocah itu mengangguk. "Udah!"
"Anak pinter!" ucap Ahkam, lalu memberikan tangannya untuk dipegang oleh Abhizar, keduanya melangkah menuju masjid yang kebetulan cukup dekat, hanya butuh 3 menit untuk sampai ke sana! Itupun dengan langkah pelan! Bisa kurang dari dua menit jika menggunakan motor!
Biasanya Zidan akan ikut jalan bersama kedua putranya itu ke masjid, tapi karena hari ini dia ada beberapa kerjaan di luar kota, dan akan pulang kira-kira sekitar jam setengah 9 malam nanti!
Ahkam membentangkan sajadahnya di saf keduanya, melaksanakan sholat qobliyah magrib. Abhizar ikut berdiri di samping Ahkam, meniru setiap gerakan remaja itu!
Usai sholat magrib dan ba'diyah magrib, Ahkam mundur, ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari Abhizar! Bukannya tadi bocah kecil itu masih berdiri dan berada di dekatnya tadi? Tapi ke mana dia sekarang?!
"Nyariin siapa, Ahkam?" tanya Pakde Kholidi, kebetulan dia dan Ahkam bertetangga!
"Abhizar, Pakde ada liat dia, nggak?"
"Loh bukannya tadi dia masih di sini, ya? Lincah, cepet banget ngilangnya!"
"Emm, kalo gitu, Ahkam mau cari Abhizar dulu, ya, assalamualaikum, Pakde!"
"Waalaikumussalam!"
Ahkam bergegas, ia menuruni anak tangga sembari berdoa, semoga saja adiknya itu tidak pulang duluan! Bahaya, banyak motor di jam segini!
Ahkam mengecek di sekitar masjid terlebih dahulu, di bagian tempat wudhu, di dekat gudang, bahkan sampai di halaman samping, tapi adiknya tidak ada! Lantas remaja itu bergegas keluar dari masjid, berdoa semoga adiknya tidak kenapa-kenapa!
Tak jauh dari masjid, ada sebuah swalayan, Ahkam menghembuskan napas lega begitu melihat tubuh kecil adiknya berdiri di depan ruko itu! Ahkam hafal betul bentuk tubuh, tinggi dan besar Abhizar!Eh tapi tunggu, siapa gadis yang sekarang bersama Abhizar?
"Abang!!" Abhizar menggoyangkan snack yang ia pegang begitu melihat Ahkam, tanpa rasa bersalah telah membuat Abangnya khawatir!
"Lain kali jangan gini lagi, ya, By! Nggak boleh keluar masjid sebelum Abang keluar ya!" ucap Ahkam lembut, ia mengelus kepala Abhizar lalu beralih menatap gadis bermukenah coklat muda di belakang Abhizar, Sahila, ternyata dia!
"Emmm, tadi aku liat Abhizar lari keluar dari masjid, makanya aku susulin, aku udah ajak balik, tapi dia nggak mau, mau beli jajan katanya!" jelas gadis itu tanpa ditanya!
"Makasih, Cila, maaf ngerepotin kamu!" ucap Ahkam, namun ia malah menatap ke arah Abhizar!
"Iya, sama-sama!"
"Nanti aku ganti uangnya, ya!"
"Eh, nggak usah, aku ikhlas kok, Ahkam!"
__ADS_1
Ahkam manggut-manggut. Lalu kembali menatap Abhizar.
"Abhizar, bilang apa ke Kak Cila?"
"Terimakasih, Kakak Cantek!"
Sahila tersipu malu mendengar ucapan bocah kecil itu!
"Ya udah, aku anter Abhizar pulang dulu, ya! Sekali lagi terimakasih, Cila!"
"Emmm, iya, Ahkam." Gadis itu memperhatikan langkah Ahkam dan Abhizar, baru beberapa langkah kedua orang itu menjauh, Sahila kembali bersuara.
"Ahkam?!" panggilnya.
"Iya?" Ahkam menoleh, diikuti oleh Abhizar.
"Kapan kamu berangkat ke pondok?!"
"Minggu depan, insyaallah."
"Ooooo..." Sahila manggut-manggut, bingung harus menunjukkan ekspresi seperti apa, haruskah ia bahagia atau sedih di saat teman masa kecilnya itu akan pergi jauh darinya?
Sekali lagi, Sahila memperhatikan punggung Ahkam yang semakin mengecil dan menjauh dari penglihatan. Remaja itu banyak berubah sekarang, bukan karena dia sombong atau tidak ingin berteman lagi dengan Sahila! Tapi karena ia paham, kalau ada batasan antara wanita dan pria yang bukan mahram!
"Ahkam, jangan lupain Cila ya!" lirih gadis itu. Ia melangkah kembali ke masjid untuk melakukan sima'an murojaah hafalan.
Sama halnya dengan Manda dan Zidan, keduanya harus ikhlas melepas Ahkam untuk mengejar impiannya, mereka tidak ingin menjadi penghalang! Yang mana seharusnya mereka adalah pendukung terdepan bagi Ahkam!
Jauh dari Ahkam? Manda tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, tapi begitu anaknya akan memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama, Manda menyadari, kalau ini memang sudah waktunya untuk melepas jagoannya itu! Membiarkan ia membentangkan sayap selebar lebarnya untuk mengejar impian!
"Bang Cam?" Zahira menarik narik sarung Ahkam, bocah itu mengangkat kedua tangannya, minta untuk di gendong!
"Zira mau gendong?"
Zahira mengangguk penuh semangat. Ahkam tersenyum, lalu menggendong bayi gembul itu, kebetulan Mama sedang menyiapkan makan malam, karena sebentar lagi Papa akan pulang!
Zahira menyadarkan kepalanya pada dada Ahkam, menghisap jempolnya, matanya sudah tak kuat lagi menahan kantuk!
Menyadari hal itu, Ahkam pun melangkah maju mundur, ia menepuk-nepuk pelan punggung Zahira sembari melantunkan shalawat. Tak butuh waktu lama, bocah itu terlelap, terlihat begitu tenang!
"Tidur, Bang?" tanya Manda.
Ahkam mengangguk pelan. "Iya, Ma."
"Ya udah sini, biar Mama tiduriin di kamar! Kasian Ahkam keberatan!"
"Nggak apa-apa, Ma, nanti kalo udah capek Ahkam pindahin ke kamar!" Ahkam duduk di sofa, masih dengan Zahira yang lelap dalam pangkuannya.
__ADS_1
Manda membiarkan Ahkam, mungkin dia ingin memuaskan diri dulu sebelum pergi jauh dari bocah manis yang selalu menempel bagai perangko padanya!
"Ma?"
"Iya, Bang? Kenapa?"
"Nanti sebelum Ahkam berangkat, boleh temenin Ahkam ke makam Ibu dan Ayah?"
"Pasti, nanti Mama sama Papa temenin ya!"
"Terimakasih, Ma!"
"Kembali kasih, Bang! Semangat!" ucap Manda sambil mengepalkan tangan kanan, sebagai isyarat kalau Ahkam harus berjuang dengan penuh semangat.
"Sekali setahun!" gumam remaja itu, ia sedang membayangkan bagaimana dirinya nanti di sana, tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang dikenal! Dan dia akan bertemu dengan keluarga sekali dalam setahun, itupun saat libur kenaikan kelas! Mungkin kalau Mama dan Papanya yang berkunjung ke sana, mereka masih bisa bertemu!
Ahkam menundukkan kepalanya, sekarang tangannya sudah mulai pegal, jadi dia harus segera memindahkan Zahira sebelum bocah itu bangun!
"Ma, Abang pindahin ke kamar ya?"
"Iyaa, pelan-pelan ya! Nanti kebangun!"
Ahkam membawa tubuh mungil itu ke kamar, membaringkannya dengan pelan di atas kasur.
"Bang Cam!"
"Iya-iya, ini Abang, Zira bobok lagi ya?" Ahkam menepuk-nepuk punggung Zahira, ia juga meletakkan guling di sisi kanan, agar Zahira mengira itu dirinya!
"Abang pasti bakal kangen sama Zira!" Air mata Ahkam berlinang saat menatap Zahira. Teriakan, tangis dan tawa bocah ini selalu menghiasi harinya! Sikap manjanya yang tidak bisa jauh dari Ahkam membuat Ahkam benar-benar merasakan sedih saat ini! Padahal mereka tidak memiliki hubungan darah apapun, tapi kasih sayang Ahkam pada Abhizar dan Zahira tak bisa diungkapkan, intinya Ahkam menyayangi keduanya sama seperti ia sayang pada Mama Manda dan Papa Zidan!
Ahkam menyeka air matanya begitu pintu kamar terbuka, ternyata Papa yang baru pulang!
"Baru banget tidurnya?" tanya Zidan sembari mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Ahkam.
"Iya, Pa."
Zidan mengalihkan pandangannya pada Ahkam, mengusap kepala remaja itu pelan. "Gimana, lancar murojaahnya?".
"Alhamdulillah, lancar, Pa!"
"Masyaallah, tetap dijaga loh hafalannya, inget murojaah itu tanggungjawab Ahkam!"
"Iya, Pa, insyaallah, doain Ahkam ya."
"Selalu, Papa doain, kok Jagoan Papa yang satu ini!" Zidan memeluk Ahkam, mengecup pucuk kepala dan keningnya beberapa kali. Hiks, agak sedih jika mengingat mereka akan terhalang jarak yang cukup jauh! Tapi sejauh apapun itu, Ahkam tetap dekat, di sini, di hati Papanya!
"Ayo turun makan, Mama udah siapin makanan kesukaan Ahkam!" ajak Zidan, Ahkam mengangguk pelan dan mengikuti langkah Zidan keluar kamar, sebelum menutup pintu, remaja itu menatap ke arah kasur sekali, lalu menutup pintu depan amat sangat pelan, jangan sampai ada suara yang membangunkan adiknya!
__ADS_1