Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
OM SAYANG


__ADS_3

"Hahaha....." Aku masih saja tertawa dan kadang cekikan tak karuan, bahkan sampai Om Zidan masuk lagi ke dalam ruang kerjanya. Saat melihat wajah Om Zidan, aku malah semakin tidak kuat untuk menahan tawa. Menertawakan dia yang tiba-tiba saja menghentikan permainan yang dia mulai sendiri. Karena hasratnya juga ikut terpancing tadi.


"Hiks, bukan salahku ya, Om! Aku tadi udah ngingatin, tapi Om Zidannya aja yang nggak mau dengerin!"


Dia hanya mendengkus kesal. Tangannya mulai sibuk menghidupkan komputer. Dan mengotak-atiknya, sebelum akhirnya dia mulai mengerjakan pekerjaan yang tertunda.


"Jangan ketawain aku lagi!" Dia menoleh padaku, matanya menatapku dengan sangar. Tak lupa juga dengan bibirnya yang tersenyum kejam!


"Kalo udah saatnya nanti, aku pastiin kamu nggak bisa ketawa seperti itu lagi, Manda!"


"Hehehe, ampun, Om. Ampun!" Aku pun membungkam mulutku agar tidak menertawakan Om Zidan lagi. Padahal ya, dia tinggal bilang padaku, aku pasti mau melayani dan tidak akan menolak. Ya walaupun aku masih sedikit takut!


"Om, bangunin aku ya kalau udah adzan!" ucapku sambil merebahkan tubuh di atas sofa, menghadap Om Zidan. Mataku sebenarnya sudah mulai mengantuk, namun masih belum rela untuk melepas wajah tampan Om Zidan dari pandanganku.


Pada menit-menit selanjutnya, aku sudah tidak bisa lagi melihat wajah tampan itu di dunia nyata. Mataku sudah tidak kuat lagi, aku terpejam dan terlarut dalam buaian mimpi.


"Manda? Bangun, Sayang!" Aku bisa merasakan tangan Om Zidan menusuk-nusuk pipiku. Bibirnya sesekali mencium kening dan juga bibirku. Padahal aku merasa baru saja tertidur, dan dia malah membangunkanku!


"Udah ashar ya, Om?" Tanyaku sembari membuka mata, karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa geli akibat ulah bibir jahil Om Zidan itu!


Ya, Allah! Mimpi apa aku tadi? Kenapa bisa melihat pemandangan seindah ini?


Aku terdiam sambil berusaha untuk menutup mulutku, agar tidak terlalu terbuka lebar. Namun, mataku tak mampu berkedip saat melihat indahnya pemandangan Roti Sobek yang terpampang jelas di hadapanku. Ah, bukan di hadapanku lagi, tapi tepat di depan mataku!


"Om?" Tidak tahan lagi, tanganku pun langsung menyentuhnya sembari mendongakkan kepalaku untuk menatap Om Zidan.


Om Zidan malah mengedipkan matanya. Menggodaku!


"Sentuhlah aku, sentuh di mana pun Istriku mau!"


Dia menuntun tanganku untuk menyentuh lebih jauh lagi. Naik ke dadanya yang sedikit berbulu, lalu turun lagi ke perut kotak-kotaknya. Begitu terus, sampai aku merasa tangan dan pipiku mulai memanas.


"Om, aku mau mandi dulu!" Aku sengaja menarik tanganku. Dan Om Zidan ternyata tidak menahannya. Dia bahkan membiarkanku berlari keluar dari ruang kerjanya begitu saja.


Aku berlari masuk ke kamar, tanpa berpikir panjang lagi aku langsung membuka pintu kamar mandi. Menutupnya dan menguncinya dengan cepat.


"Jantungku?" Aku memegang jantungku yang berdetak begitu kencang sembari menyandarkan tubuhku pada pintu kamar mandi.


Padahal aku sudah sering melihat Roti Sobek Om Zidan, tapi untuk menyentuhnya dengan kesadaran penuh, baru aku lakukan sekarang. Biasanya aku menyentuhnya saat pikiranku sedang teralihkan oleh cumbuan Om Zidan!


Tok.... Tok.... Tok....


"Manda? Kamu lupa bawa handuk!" Teriak Om Zidan. Aku yang sudah melepas semua pakaianku pun menatap bingung ke arah pintu itu.


"Hah, iya, taruh aja di gagang pintunya, Om!!" Aku ikut berteriak dari dalam.


"Oke, cepat lah, Manda!" Teriak Om Zidan. Dan setelah itu, aku tidak mendengar teriakan apapun lagi. Mungkin sekarang Om Zidan sedang menyiapkan dirinya juga untuk shalat ashar!


Setelah mandi, memakai baju dan berwudhu, aku pun mengambil mukenah dan menyusul Om Zidan yang sudah menungguku di mihrob, tempat khusus untuk sholat, dzikir dan juga membaca Al-Qur'an.


"Rambutmu!" Tegur Om Zidan. Kemudian dia kembali meluruskan tubuhnya setelah memastikan aku sudah siap diimami olehnya. Dia selalu memastikan bahwa tidak ada satupun helai rambutku yang masih keluar.


Kami berdzikir dan juga berdo'a bersama setelah shalat. Om Zidan memanjatkan do'a yang begitu panjang. Di dalam do'a pun dia masih mementingkan tentang diriku. Meminta agar Allah memudahkan segala urusanku, tak lupa juga untuk meminta agar hati kami ditetapkan dalam keadaan islam dan juga ta'at kepada-Nya. Karena sesungguhnya, Dia lah Yang Maha Membolak Balikkan hati seorang hamba.


Om Zidan juga berdo'a untuk Ayah dan Ibuku. Dan di saat itu, tanpa terasa aku meneteskan air mata. Menangis, karena bisa merasakan betapa dalam Om Zidan dalam mencintai dan menyayangiku. Bukan hanya aku, bahkan semua orang yang berhubungan denganku.


"Manda?" Om Zidan berbalik sembari mengulurkan tangannya padaku. Aku meraih tangan kekarnya itu, mencium, dan menahannya dalam genggamanku.


"Apa yang menyebabkan air matamu terjatuh seperti ini, Manda?" Dia menyeka air mataku dengan Ibu jarinya. "Kamu rindu Ayah dan Ibumu?"


Aku mengangguk pelan lalu berkata. "Tapi bukan hanya itu, Om!"


"Terus?"


"Aku terharu aja, karena Allah memberikan jodoh sebaik Om Zidan untukku." Aku tersenyum malu saat Om Zidan memberikan kecupan di keningku.


"Aku berharap, agar Kita, Cinta dan keluarga kita bisa berkumpul lagi di dalam Surga-Nya."


"Aamiin, Manda juga mengharapkan hal yang sama!"

__ADS_1


"Dan sebuah harapan nggak akan pernah terwujud tanpa usaha dan juga do'a. Mari Kita bekerjasama sama untuk mewujudkannya. Bukan hanya dengan sebuah usaha aja, tapi juga dengan berdo'a kepada-Nya. Tanpa Allah, kita bukan lah apa-apa!"


Aku mengangguk paham dalam pelukan Om Zidan. "Pasti, Om. Apapun akan aku lakukan untuk terus bersama dengan Om Zidan!"


Aku balas mendekap tubuh Om Zidan. Menikmati setiap moment apapun yang kami lewati. Karena bagiku, setiap moment itu berharga, terutama moment yang aku lewati bersama dengan Om Zidan, Suamiku!


Apakah aku terlalu Bucin?


Jika iya. Maka aku masih bisa merasa bangga. Karena Bucinku pada orang yang tepat. Pada Suamiku, pada orang yang memiliki hak atas diriku!


____________


Syarat-Syarat Keluar Rumah :




Wajib Izin!




Tidak Memakai Parfum!




Tidak memakai make up berlebihan!




Berpakaian Yang Baik :




-Tidak memakai baju yang ngepas!


-Wajib memakai rok! No celana!


-Kaos kaki jangan lupa!




Jaga Mata Jaga Hati!




Jangan lupa bawa Hp yang bisa dihubungi!




Pulang sebelum Suami pulang kerja!



__ADS_1


Syarat Ini hanya berlaku saat Manda keluar sendiri (Tanpa Suami) Sedangkan saat bersama suami, syaratnya akan beda lagi :)


PATUHI SYARAT, JIKA INGIN SELAMAT!


Hih. Aku bergidik ngeri saat membaca tulisan pada selembar kertas yang Om Zidan berikan padaku. Bukan hanya itu, tapi juga masih ada tiga kertas di tangannya. Entah, aku belum tau apa isi ke tiga kertas itu!


"Kapan Om Zidan buat peraturan ini?" Tanyaku sembari melirik ke arah Om Zidan yang sedang mengambil baju di depan lemari.


"Tadi, saat kamu tidur!"


Hah? Jadi ini pekerjaan yang harus diselesaikan Om Zidan?


Oh, Om! Kukira pekerjaan kantor! Tenyata oh ternyata!


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa mampu banyak berkata-kata lagi. Mengikuti semua keinginan Om Zidan adalah salah satu jalan menuju kata selamat!


"Tapi, Om? Kenapa harus dicetak kaya gini juga?".


"Sengaja, kamu kan sering lupa, Manda!" Jawab Om Zidan. Dia menoleh sejenak, lalu memakai baju kaus berwarna abu muda yang ia pegang.


Aku pun tidak membantah. Karena benar, aku orangnya memang suka lupa! Atau sering pura-pura lupa! Itu lebih tepatnya!


"Sekarang cek dulu, kamu udah mematuhi persyaratan untuk keluar rumah atau nggak?" Om Zidan melangkah mendekatiku. Ia mengamati tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kepalanya manggut-manggut tak karuan.


"Oke, semuanya udah!" ucap Om Zidan sambil tersenyum. Kemudian dia kembali melangkah mendekati lemari. Mengambil jaket, dompet dan kunci mobil.


"Ayo!" Tangan kekarnya menyambar tanganku. Menggenggamnya dengan erat. Sementara bibirnya tersenyum, menunjukkan kalau suasana hatinya sedang bahagia.


"Masuklah, Manda!" ujar Om Zidan sembari membukakan pintu mobil. Aku segera masuk tanpa banyak berkata lagi.


"Pakai sabuk pengamannya dulu!"


Lihatlah, dalam situasi seperti apapun dia tetap saja memastikan tentang diriku! Selalu aku, tanpa memperdulikan dirinya sendiri!


Aku sedikit memajukan tubuhku. Menciumi pipi Om Zidan sembari tanganku meraih tali sabuk pengaman miliknya. "Om juga harus pakai, jangan Manda aja!"


Dia tersenyum lalu memberikan elusan lembut di pipi kananku. "Terimakasih, Sayang!"


Aku bahkan hanya melakukan hal sekecil itu untuknya, tapi dia tetap saja berterimakasih dengan ekspresi bahagia di wajahnya.


"Sama-sama, Sayang!"


Belum sempat aku memundurkan tubuhku, Om Zidan sudah terlebih dahulu menahan pinggangku. Matanya yang memancarkan binar kebahagian, menatapku begitu dalam.


"Ulangi lagi!"


HAH? Aku terdiam sejenak. Bingung harus mengulangi apa?


"Sama-sama, Sayang?"


Aku membeku kala bibir Om Zidan menyambar bibirku. Tunggu, apakah ada yang salah dengan ucapanku?!


"Aku suka, mulai sekarang. Panggil terus aku seperti itu!" Dia kembali memberikan ciuman ringan di bibirku. Seolah sedang menunjukkan betapa suka dan bahagianya dia!


"Sayang? Itu yang Om maksud?"


"He'em!" Om Zidan menggaguk senang.


"Om Zidan mau Manda memanggil Om Zidan dengan panggilan Sayang?"


"He'em."


Aaaaa. Kenapa Om Zidan bisa terlihat semanis itu, sih? Aku kan jadi gemas dan ingin mendapatkan ciuman lagi darinya! Hahaha, serakah memang!


"APAPUN ITU, AKAN MANDA LAKUKAN UNTUK SUAMI MANDA YANG TERSAYANG DAN TERCINTA SEDUNIA INI!"


Hahaha. Bahkan semut yang lewat pun langsung pingsan mendengar ucapanku! Tak jauh berbeda dengan ekspresi Om Zidan sekarang! Dia malah tertawa mendengar ucapanku sambil menepuk jidatnya. "Salah makan apa Istriku tadi?"


"Ya Manda begini karena terlalu banyak ngonsumsi Cinta setiap hari!" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku!

__ADS_1


"Gadis Kecilku....." Om Zidan kehabisan kata-kata. Dia tidak menjawab apaupun lagi, hanya mencubit pipiku lalu tangannya mulai fokus pada kemudi. Mobil akhirnya melaju keluar dari halaman depan.


__ADS_2