
...****************...
"Khemm... Permisi pak Dokter!" Aku mencubit tangan Dokter jadian-jadian yang katanya mau memeriksa detak jantungku. Tapi malah memeriksa bagian yang lainnya.
"Jangan bergerak, nanti salah pegang loh!"
His. Aku gemas sendiri dengan drama Dokter-dokteran ini. Sejak awal kami dipertemukan lagi, saat itulah Om Posesif ku ini mulai menjelma jadi Dokter Priandi. Oke, aku akui dia memang merawatku. Dengan perawatan yang lebih baik dari Dokter manapun.
Dokter yang satu ini, dia punya banyak jenis pemeriksaan dan pengobatan! Disini, pasiennya ngantuk akan diberi pelukan dan dinyanyikan sampai tertidur.
Pasien kurus seperti aku akan disuapi makan, dengan dosis tiga kali sehari. Makan buah dengan cara yang spesial di sore harinya.
Pasien yang kedinginan akan diberi pelukan. Pasien cerewet dan tidak patuh akan diberi hukuman oleh pak Dokter Tampan.
"Detak jantungnya normal!"
Dokter jadian-jadian ini menjauhkan telinganya dari depan dadaku. Begitulah caranya memeriksa detak jantungku setiap hari.
"Coba saya periksa suhu badannya dulu!"
Dia menempelkan pipinya dengan pipiku yang mulai berisi lagi. "Normal juga!" gumamnya.
"Coba matanya!"
Sambil menahan senyum aku menatap ke arah Dokter yang hendak memeriksa mataku. Pemeriksaan mata di sini cukup dengan menetap pak Dokter Tampan saja.
"Cerah, saya bisa melihat ada cinta di sana!"
__ADS_1
Apaan sih. Walau sedikit jengkel, aku tetap saja diam. Dan membiarkan Dokter ini menyelesaikan tugasnya.
"Semuanya normal hari ini. Saya perhatikan keadaan Anda semakin hari semakin membaik!"
Dia pura-pura mencatat sesuatu dengan sendok di tangannya.
"Oh ya. Saya lupa memberikan obat penenang Anda!" Pelukan hangat kembali dia berikan. Dokter Zidan tersayang menyebutnya sebagai obat penenang.
"Bagaimana perasaan Anda?"
Aku tersenyum. Lalu melingkarkan tanganku memeluk pinggangnya.
"Jauh lebih baik, Dok. Terimakasih udah ngerawat saya!"
"Itu sudah kewajiban saya sebagai Dokter. Tapi ngomong-ngomong, Anda harus memberi saya sedikit imbalan!" Dokter Zidan menatapku sambil memainkan alisnya.
"Uuuuuu... Emang Dokter Zidan yang tampan ini mau apa? Mau imbalan apa?"
"Dasar!" Aku mencubit perutnya. Kemudian kembali melanjutkan kegiatanku yang tertunda karena bermain Dokter-dokteran dengannya.
Oh ya. Aku Sampai lupa. Sejak hari itu, Om Zidan memutuskan untuk tetap tinggal di Villa. Dengan alasan, bahwa Villa ini tempat yang cocok untuk kondisiku yang sekarang. Untuk sementara, dia hanya ingin ada aku dan dia saja. Agar dia bisa fokus merawatku. Sampai aku pilih seperti sebelumnya.
Untuk urusan sekolah, aku sebenarnya sudah mengundurkan diri dari ujian nasional. Keputusan ini aku ambil saat masih di Singapura. Karena saat itu, keadaan tidak memungkinkanku untuk bisa fokus belajar. Dan entah kenapa, aku sudah berfirasat bahwa aku tidak akan bisa mengikuti ujian nasional.
Aku juga sudah mengatakan hal ini pada Om Zidan. Dan dia berusaha menghargai keputusanku. Karena memang benar, kondisi dan keadaan tidak berpihak padaku.
Dan tentang Mama. Beliau ikut merawatku sampai seminggu lebih di sini. Beliau yang selalu menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam yang bergizi untukku.
__ADS_1
Tapi karena banyaknya tanggungjawab yang Mama pikul. Mama akhirnya balik lagi ke Singapura. Dan sampai saat ini, hubunganku dan Mama semakin membaik. Mama selalu mengirim pesan atau kadang menghubungiku. Hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Sedangkan untuk Stella. Mama dan Om Zidan sudah meminta maaf untuknya. Tapi tanpa mereka meminta maaf pun. Aku sudah terlebih dahulu memaafkan Stella. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku dan Stella tetap keluarga, walaupun sampai saat ini, dia masih belum bisa menerima kenyataan itu. Menerima kenyataan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Bahwa aku adalah istri dari kakaknya.
.................
Sudah menjadi kebiasaan kami duduk di taman samping, di waktu sore. Menikmati sepiring buah dalam ketenangan. Tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Sayang!" Om Zidan mencolek pipiku. Meminta agar aku menoleh ke arahnya. Dia memang tidak pernah kehabisan cara untuk memanfaatkan suasana.
Dia menggigit sepotong apel, lalu mengarahkan potongan yang masih tersisa di bibirnya ke arahku.
"Deketan lagi!" Aku balas menjahili Om Zidan. Dengan menarik kerah bajunya. Hingga tersisa jarak beberapa centimeter lagi antara wajahku dan wajahnya. Mata kami bertemu dan terpaku pada satu tatapan yang bermakna.
"Kamu nggk bisa lolos kali ini!" Dia balas menarik pinggangku. Hingga tubuhku menabrak dada bidangnya.
Dengan tersenyum licik Om Zidan menundukkan kepalanya. Menatapku bagai harimau yang siap menerkam mangsanya.
Aaaa.... Tolong aku! Aku nggak bisa nolak dia soalnya!
Om Zidan benar-benar tidak memberikanku celah untuk kabur lagi darinya. Dia mengunci tubuhku. Berbuat sesuka hatinya pada tubuhku.
Katanya. Sudah cukup dia menahan diri karena memikirkan kondisiku. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja. Oleh sebab itu, dia berani untuk bertindak seperti ini.
"Minta lebih lagi bisa nggak?"
"Silahkan. Manda milikmu!"
__ADS_1
Aaaa. Sudah kubilang kan. Susah sekali untuk menolak dia. Ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang imut saat meminta. Kan sebagai gadis yang baik. Eh istri yang baik maksudnya. Aku nggak tega. Wkwkwk.
Ayolah Om. Gas aja!