Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
[EDISI KANGEN] AHKAM (3)


__ADS_3

...📍Pondok Pesantren - Darul Mujahidin...


Berpisah dengan orang yang kisah sayang memang suatu hal yang menyakitkan. Tapi mau bagaimana pun, yang namanya perpisahan itu akan datang, entah itu sementara atau selamanya! Entah dipisahkan oleh jarak atau oleh kematian! Suka tidak suka, semua orang pasti akan mengalaminya!


"Bang Cam, Ma? Bang Cam?!!" ucap Zahira saat melihat Ahkam hanya duduk dan tidak ikut pulang dengan mereka!


"Bang Ahkamnya sekolah dulu, ya, Nak!"


"Sekoyah?" Zahira masih menatap Ahkam, sambil melambaikan tangannya.


"Papa sama Mama pulang ya? Abang baik-baik di sini, inget kalo butuh apa-apa langsung lapor ke Ustad Yusuf."


"Iya, Pa." Ahkam menatap Zidan lekat, ia memeluk Zidan sekali lagi, sambil berusaha menahan air matanya.


"Papa, Abang By ikut sama Abang Ahkam, ya?" Abhizar masih berdiri di sisi Ahkam, tidak mau bergerak dan bergeser sedikit pun!


"Kalo sekarang belum boleh, ya! Kan Abang By mau sekolah TK!"


"Nggak mau sekolah TK! Mau sekolah di sini sama Bang Ahkam!"


Ahkam berlutut di hadapan Abhizar, ia menatap bocah itu lekat-lekat. "Abhizar belajar yang rajin ya, nanti kalo udah besar, bisa sekolah di sini sama Abang! Kalo Abhizar nggak mau ikutin Papa, nanti Abhizar ditinggalin pesawat loh? Mau?"


Abhizar menggeleng pelan.


"Ya udah, kalo gitu ikut sama Papa ya?"


Zidan mengulurkan tangannya. Disambut oleh genggam tangan mungil Abhizar.


"Nanti kalo Abang udah pulang sekolah, kita main lagi ya?"


"Iya." Ahkam tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Mama sama Papa pulang dulu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam, hati-hati Pa!"


Ahkam menatap kepergian Kedua orangtua dan adik-adiknya, sampai mereka menghilang dibalik gerbang besar dan tinggi itu!


Remaja itu menyeka air matanya, malu jika dilihat menangis oleh orang lain!


"Semangat! Ahkam pasti bisa!" gumamnya menyemangati diri!


...****************...


Ada dua jenis santri baru, jenis pertama adalah santri yang langsung sedih setelah ditinggal oleh keluarganya, sedangkan jenis kedua adalah santri yang ceria dan full senyum di pagi harinya, tapi bantal basah oleh linangan air mata di malam hari! Hal itu biasanya berlangsung selama seminggu pertama atau bahkan lebih!


Ahkam termasuk digolong kedua, dia memang sedih ketika Papa dan Mamanya pulang, tapi setelah itu ia kembali tersenyum saat diajak keliling pondok dan berkenalan dengan santri baru lainnya! Apalagi banyak kakak kelas yang bersikap baik dan ramah, yang membuat Ahkam yakin, kalau dia bakal betah di sini!


Tapi begitu lampu kamar dimatikan dan semua orang sudah ditempat tidur mereka masing-masing, air mata kembali berlinang, teringat momen bersama dengan keluarga, teringat momen hangat di meja makan, momen setiap Papa pulang bekerja, momen saat Papa selalu menjahili Mama, kadang sampai berebut kasih sayang dengan mereka! Atau bahkan momen di mana Zahira dan Abhizar selalu menempel padanya!


Dan yang paling Ahkam rindukan adalah masakan Mama! Walau kadang masih suka keasinan!


"Ahkam?" Bayu, teman yang tidur seranjang dengan Ahkam itu menyentuh pundak Ahkam, karena kebetulan Ahkam tidur menghadap kanan, membelakanginya!


"Iya? Kamu belum tidur?" Ahkam menyeka sisa air mata, lalu membalik badannya, menatap Bayu yang sedang dalam posisi duduk. Meskipun lampu kamar dimatikan, tapi masih ada cahaya dari lampu depan!


"Aku nggak bisa tidur, emang kamu bisa?"


"Nggak."


"Kalo gitu temenin aku ke kamar mandi, yuk! Mau wudhu! Aku takut kalo sendiri!"


"Aku masih ada wudhu sih, tapi nggak apa-apa, ayok aku temenin!"


Kedua santri baru keluar dari kamar, berjalan melewati beberapa kamar lain sebelum akhirnya sampai ditangga, kebetulan kamar mereka ada dilantai dua.

__ADS_1


"Ahkam? Kamu sekolah di sini karena kemauanmu sendiri atau karena dipaksa orang tua?" tanya Bayu setelah selesai mengambil wudhu.


"Kemauan sendiri, dari kecil aku yang mau masuk pondok! Kalo kamu?"


"Aku dipaksa Papa," jawab Bayu diikuti oleh tawa kecilnya. "Papaku orangnya keras, apapun keputusannya nggak boleh dibantah!"


"Namanya juga orangtua, pasti mau yang terbaik buat anaknya!"


"Iya, sih. Mama juga bilang gitu ke aku!"


"Tapi kamu nggak ada niatan buat kabur kan?" Ahkam menatap Bayu yang berjalan dua langkah di depannya.


"Hahaha, nggak lah! Papaku udah capek-capek nyariin biaya buat masuk pondok, masak iya aku mau kabur?!"


"Baguslah kalau gitu!"


"Kamu dekat banget ya sama Papamu?" tanya Bayu, ia berhenti tepat di depan pintu kamar. "Soalnya tadi aku sempat liat kamu pelukan sama Papa kamu!"


"Ya, kami memang dekat sejak kecil!"


"Kalo sama Mama?"


Ahkam hanya tersenyum, ia menepuk pundak Bayu lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Bukannya apa, hanya saja Ahkam belum siap bercerita sejauh itu tentang dirinya pada Bayu. Mungkin beberapa bulan kedepan Ahkam bersedia menjawab pertanyaan apapun tentang dirinya dan keluarganya!


...****************...


Ahkam membuka matanya begitu lampu menyala, remaja itu melihat jam tangannya, pukul 3 pagi. Tanpa pikir panjang ia langsung bangun, lalu menoleh ke kanan dan kiri!


Ahkam tadinya mengira ia sedang tidur di kamarnya! Dan mengira kalau yang menyalakan lampu tadi adalah Papa Zidan!


"Loh Ahkam, Antum nggak tidur?" tanya Kak Huda, selaku ketua kamar, dia yang menyalakan lampu kamar tadi!


"Tidur kok, Kak!"


"Kirain Antum nggak tidur semalaman! Kalo gitu tolong bangun Bayu, terus turun ke Mushola ya buat tahajjud!"


Ahkam menatap Bayu yang masih tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Bayu? Bayu? Bangun!" ucap Ahkam sambil menepuk pelan lengan Bayu.


"Bayu?"


"Hmmm."


"Bangun!"


"Aku masih ngantuk Ahkam!"


"Cepet bangun! Yang lain juga udah bangun!"


"Kita mau ngapain?"


"Tahajjud di Mushola!"


Bayu menepis selimutnya, lalu menguap beberapa kali, matanya masih terasa berat untuk dibuka!


"Ini jam berapa?"


"Jam tiga!"


Ahkam memakai sarung dan juga baju sholatnya, agar ia tidak bolak-balik, masak ia udah turun wudhu terus naik lagi buat ganti baju? Kan lucu!


"Ahkam tungguin!"


"Cepet makanya!"

__ADS_1


Kedua remaja itu berjalan menuju Mushola bersama dengan santri lainnya untuk melaksanakan shalat tahajud berjamaah.


"Ahkam? Sini!" panggil Huda setelah selesai tahajjud, karena ini masih minggu minggu awal, jadi program ngaji kitab sebelum subuh masih belum aktif!


"Saya dapat amanah dari ustaz Yusuf buat nyimak murojaah Antum satu juz berhari. Siap?"


"Insyaallah!" jawab Ahkam tanpa ragu.


"Mau disimak setengah juz dulu sekarang?"


"Boleh."


"Toyyib, isti'adzah basmalah!"


"A'udzubillah himinas syaithon nirojiim... Bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi...."


Ahkam membaca setengah awal juz satu, tanpa ada lupa atau salah satu pun!


"Masyaallah, sejak kapan mulai ngapal Al-Qur'an?" tanya Huda.


"Kelas Empat, Kak."


"Masyaallah, saya kelas empat masih sibuk mikirin gimana caranya biar dapet main ke kali sama temen!"


Ahkam tersenyum saat melihat Huda menertawakan dirinya.


"Terus sekarang udah sampai mana?"


Ahkam kembali tersenyum, sambil menggeleng pelan.


"Antum mau main rahasia-rahasia nih?" Huda menatap Ahkam yang hanya memberikan senyuman! Rajin juga senyum nih anak!


"Besok juga bakal ketauan! Kan saya yang nyimak Antum setiap hari!"


Huda menggeleng pelan melihat bocah dihadapannya, antara merasa bangga dan insecure!


...****************...


Manda mengelus pelan kepala Zahira yang baru saja tidur, seharian ini gadis kecil itu terus menangis dan mencari Abangnya, minta digendong dan ditemani tidur! Begitu pula Abhizar yang terus mencari Ahkam, menanyakan kapan Bang Ahkam pulang sekolah? Kenapa lama sekali pulangnya?!


Manda yang melihat anak-anaknya seperti itu pun ikut kepikiran pada Ahkam, bagaimana dia di sana? Apakah dia betah? Apakah dia makan dengan enak? Apakah dia tidur dengan nyenyak? Apakah dia bisa akrab dengan teman-temannya?


"Udah jangan terlalu dipikirin, insyaallah Ahkam baik-baik aja di sana, percaya deh!" ucap Zidan yang ikut duduk di tepi kasur. Menatap putri kecilnya yang masih tertidur.


"Kalo dia sakit, siapa yang bakal jagain dia?" lirih Manda, karena selama ini Ahkam selalu nempel dan manja pada Zidan jika merasa sedang tidak enak badan!


"Kan ada banyak orang di sana, nggak mungkin kan mereka diem aja liatin temen mereka sakit?" Zidan mengelus pipi Manda lembut. "Jangan terlalu dipikirin, nanti Ahkam juga ikut kepikiran loh di sana! Mungkin secara fisik kita nggak bisa deket sama Ahkam, tapi kita masih bisa meluk Ahkam lewat doa! Dia butuh doa dan dukungan dari kita! Lepas dia dengan ikhlas, insyaallah itu akan jadi jalan yang mempermudah dia dalam menuntut ilmu!"


Manda mengangguk pelan, ia mencium telapak tangan Zidan yang masih menyentuh pipinya. "Terimakasih, Sayang selalu jadi tempat ternyaman untuk bersandar."


"Kembali kasih, ya udah sini, sekarang giliran Mamanya yang bobok!" ucap Zidan setelah bersandar di sandaran kasur! Zidan menepuk pahanya, agar Manda bisa membaringkan kepalanya di sana!


"Kamu juga harus jaga kesehatan loh, Abang perhatian nafs-u makannya langsung hilang setelah ditinggalin Ahkam! Gimana besok kalo ditinggalin Abang?!"


Manda mendongak menatap Zidan, lalu mencubit paha pria itu! "Jangan ngomong gitu! Siapa juga yang mau ditinggalin!!"


"Kan nggak ada yang tau---"


"Hussst, ngomong yang baik-baik aja! Doa semoga panjang umur, sehat selalu, dalam lindungan dan Rahmat Allah!" ucap Manda dengan tangan yang mencubit paha Zidan sekali lagi!


"Aamiin."


Zidan tertawa geli saat Manda mengigit pahanya. "Iya-iya, janji nggak ngomong gitu lagi! Janji, Sayang, janji!"


"Awas, ya! Kalo ngomong gitu lagi!"

__ADS_1


"Iya, Sayangku, Cintaku, janji deh ini yang terakhir!"


"Manda benar-benar belum siap tanpa Abang!" lirih Manda, hampir tak terdengar.


__ADS_2