Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 14. Kabar Bahagia?


__ADS_3

Sepanjang malam Manda tidak bisa tidur dengan tenang, di satu sisi dia merasa semakin pusing dan mual, tapi satu sisi lagi pikirannya terus tertuju pada ucapan Dokter Rhani. Manda ingin menemukan jawaban, tapi dia juga takut kecewa jika jawabannya tidak sesuai harapan.


Lelah menahan gelisah dan penasaran, Manda mencoba bangun dari kasur, melangkah dengan begitu pelan mendekati meja riasnya. Manda membuka lagi, mengambil test pack. Masih antara maju dan mundur.


"Bismillah!" Dengan penuh keyakinan ia masuk ke dalam kamar mandi, jam masih menunjukkan pukul 3 pagi.


Manda meletakkan test pack di dekat wastafel, setelah mencelupkannya beberapa detik di wadah yang berisi air seni, yang baru saja Manda tampung. Matanya menatap ke arah lain, tidak mau memperhatikan test pack itu sebelum tiga menit berlalu.


Tangan Manda sedikit bergetar saat menyentuh test pack, matanya berkaca-kaca, bibir ikut bergetar seiring dengan detak jantungnya yang menggebu kencang. Manda tak kuasa menahan perasaannya, air matanya menetes, segera ia keluar dari kamar mandi. Melihat test pack sekali lagi. Memastikan ia tidak salah lihat tadi.


"Sakit," lirih Manda setelah mencubit pipinya sendiri. Manda tidak sedang bermimpi!


Tangan kanan Manda tergerak menyentuh perut, ia tersenyum. "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, terimakasih telah hadir, Sayang!"


Air mata bahagia kembali menetes, Manda tidak menyeka. Ia membiarkan semua perasaan bahagia terluap.


"Sayang?" Zidan langsung menyalakan lampu kamar, karena tidak menemukan Manda di sampingnya. Wajahnya mulai terlihat panik saat berjalan menuju kamar mandi, takut Istrinya kenapa-kenapa.


"Sayang? Kenapa?" Pria itu langsung memeluk Manda. Ketika menemukan Manda mematung di depan pintu kamar mandi, melihat istrinya menangis, membuat hati Zidan terasa begitu perih. Ada sakit yang tidak bisa dijelaskan di hatinya ketika melihat air mata Manda jatuh seperti ini.


"Udah, istirahat lagi ya!" Zidan hendak menggendong Manda kembali ke kamar, tapi Manda menolak. Ia mundur selangkah, menatap Zidan.


"Ini." Manda memberikan test pack pada Zidan. Zidan menatap Manda cukup lama sebelum menerima test pack, apapun hasil yang akan dia lihat, Zidan sudah menyiapkan hatinya.


"Positif?" Maniknya kembali menatap Manda. "Ini nggak salah, kan?"


Manda mengangguk sambil tersenyum.


Zidan berjalan mendekati cahaya lampu, memperhatikan sekali lagi, dua garis merah terlihat jelas di sana. Bibir Zidan terasa begitu kaku sekarang, dalam hati ia mengucapkan syukur, seirama dengan tubuhnya yang langsung tertarik untuk mendekati Manda.


"Alhamdulillah, terimakasih, Sayang!"


Air mata bahagia jatuh dari pelupuk mata Zidan. Ia semakin erat memeluk Manda, mengecup kepalanya berkali-kali. Sebagai rasa syukurnya, Zidan memberikan sedekah uang di masjid, setelah sholat berjamaah subuh di sana.


"Ada hajat khusus, Pak?" tanya pengurus Masjid.

__ADS_1


"Mohon do'anya untuk Istri saya."


Zidan hanya menginginkan yang terbaik untuk Manda, kesehatan Manda, dan juga calon bayi mereka. Itu saja.


Selama Manda sakit, Zidan tidak pernah ke kantor, dia mengerjakan semua pekerjaannya dari rumah, jika ada berkas atau dokumen yang perlu ia tanda tangani, Henny yang akan mengantar langsung ke rumah, Henny juga menggantikan Zidan untuk menghadiri beberapa rapat yang memang bisa digantikan, jika tidak, maka Zidan sendiri yang akan datang. Itupun Zidan langsung pulang lagi setelah rapat.


"Biar Abang yang sisirin!" Zidan mengambil alih sisir dari tangan Manda, menyisir rambut hitam lurus sebahu itu, lalu dikuncir, sesuai permintaan Manda. Manda sedang senang melihat rambutnya dikuncir, dia terlihat lebih imut dan lucu.


Hari ini mereka akan mengunjungi Dokter Gea, Dokter Kandungan yang direkomendasikan oleh Dokter Rhani, ketika Zidan menghubunginya untuk menyampaikan hasil test pack Manda.


Zidan dan Manda menjemput Ahkam terlebih dahulu, Ahkam sekarang sudah memiliki banyak teman di sekolah, dia juga sering mendapatkan hadiah dari Ibu teman-temannya. Katanya Ahkam anak baik, pintar dan sopan. Kesayangan guru sekaligus teman kelasnya.


"Manda, apa kabar?" tanya Mbak Desi begitu melihat Manda datang dan duduk di sampingnya. Manda sudah jauh lebih baik, tidak terlihat pucat lagi, hanya kandang sering mual secara tiba-tiba.


"Alhamdulillah, aku baik, Mbak. Mbak Desi gimana?"


"Alhamdulillah baik juga." Mbak Desi menatap Manda, aura bahagia terpancar jelas dari wajahnya. "Ada kabar bahagia ya? Mbak perhatian wajah kamu keliatan bahagia banget?"


Manda hanya tersenyum, tidak mau menyebarkan kehamilannya dulu, sebelum mendapatkan konfirmasi dari Dokter.


"Aamiin."


Manda melambaikan tangan saat melihat Ahkam keluar kelas, Ahkam juga berlari sambil tersenyum menghampiri Manda. "Mama!"


Bocah itu memeluk Manda, seolah-olah baru bertemu lagi setelah berpisah sekian lama. Padahal mereka berpisah baru 2 jam saja.


"Ahkam udah hafal nama malaikat, nanti dengerin Ahkam ya, Ma!"


Manda mengangguk dengan antusias. Dia senang melihat semangat Ahkam yang begitu besar ketika belajar. Bocah itu cepat menghafal dan juga faham.


"Saya duluan ya, Mbak. Assalamu'alaikum!" pamit Manda pada Mbak Desi.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan ya!"


Ahkam langsung mendapatkan usapan lembut di kepala saat bertemu dengan sang Papa. Zidan membukakan pintu mobil untuk keduanya, kali ini Manda dan Ahkam duduk di kursi belakang. Manda mual jika terlalu dekat dengan pengharum mobil.

__ADS_1


"Kita anterin Mama ke Dokter dulu ya, baru pulang?" ucap Zidan. Ahkam langsung menoleh menatap Mamanya. Disentuhnya pipi Manda, "Mama masih sakit ya?"


Netra hitam bocah itu menatap Manda dengan penuh kasih sayang. "Mama nggak boleh capek-capek lagi, Mama istirahat di rumah aja! Nanti Ahkam suapin buah lagi buat Mama!"


Manda tersenyum, dikecup tangan Ahkam lembut. "Mama nggak sakit, Sayang. Mama cuman mau ngecek aja, apakah adik kecil udah ada di sini atau belum?!"


Tangan Ahkam menyentuh perut Manda, bukannya terlihat bahagia, Ahkam malah langsung menarik tangannya, menjauhi perut Manda. Tangan kecil itu beralih memeluk tubuh Manda dengan begitu posesif.


"Kenapa? Ahkam nggak mau punya adik?" Manda merengkuh tubuh Ahkam, memangkunya. Zidan melirik sekilas dari kaca.


"Ibu sayang adik kecil, makanya Ibu pergi sama adik kecil ke surga. Tinggalin Ahkam sendirian!"


Mendengar itu, membuat ingatan Manda langsung tertuju pada Almarhumah Ibu Ahkam, ia meninggal saat sedang berjuang melahirkan bayinya, yang ternyata ikut menyusul juga setelah mendapatkan perawatan kurang lebih satu jam. Kedua orang itu memang pergi meninggalkan Ahkam. Menyisakan trauma dalam ingatan bocah itu.


"Ahkam sayang Mama!" Pelukan Ahkam terasa semakin erat. Tidak ingin ada yang mengambil Manda dari sisinya. Tidak ingin Manda pergi dan meninggalkan Ahkam sendirian lagi!


"Mama juga saaayang banget sama Ahkam, doain Mama ya. Doain adik kecil juga, semoga tetap sehat, dan nanti bisa main sama Abang Ahkam!"


Manda tidak ingin memikirkan tentang ketakutan-ketakutan itu lagi, Manda yakin, Allah telah menetapkan Takdir yang terbaik untuknya. Manda berusaha berprasangka baik saja.


Zidan yang mendengar percakapan Manda dan Ahkam pun ikut melafazkan doa dalam hati. Dia juga berusaha untuk berpikir positif. Manda selalu sehat, begitu pula dengan calon bayi mereka.


Sampai di klinik Dokter Gea, Zidan dan Manda tidak perlu mengantri karena memang sudah membuat janji terlebih dahulu. Tanpa banyak basa-basi, Dokter Gea langsung meminta Manda berbaring, mengoleskan ultrasound gel di atas perut Manda. Saat alat transduser menyentuh perut Manda, gambar pun muncul di monitor.


"Lihatlah, dia ada di sana!" Dokter Gea menjelas pada Zidan dan Manda. Bahwa sebuah gumpalan kecil yang mereka lihat sekarang adalah sebuah calon janin yang masih berusia 5 minggu.


Manda tersenyum saat memperhatikan monitor, kekhawatirannya sirna, hasil test pack-nya tidak salah! Ini nyata!


Berbeda dengan kebahagiaan yang terpancar dari Manda dan Zidan, Ahkam malah terlihat diam, tidak menunjukkan antusiasnya untuk bertanya tentang sang adik kecil. Biasanya Ahkam cerewet, sering bertanya tentang ini dan itu.


Bahkan sangat perjalanan pulang, Bocah itu hanya mau dipeluk oleh Manda. Tanpa mau diajak bicara.


"Nanti Abang yang bujuk Ahkam, kamu tenang aja. Ahkam hanya butuh waktu, dia masih trauma, dia Sayang Mamanya. Dia nggak mau kejadian yang sama menimpa Mama dan Adik Kecilnya!"


...****************...

__ADS_1


...Masih ada yang nungguin update mereka nggak, sih?🤧...


__ADS_2