
..."Jadilah pasangan yang saling terbuka, jangan ada rasahia apapun di antara kalian. Apalagi rahasia itu bisa menjadi bom waktu, yang kapan pun bisa meledak dan menghancurkan hubungan kalian. Dan Zidan, jangan pernah menuntut Manda, tapi tuntunlah dia! Ingat, kamu adalah seorang Imam, jadilah imam yang baik untuk Manda dan juga Ahkam, jika suatu saat Istrimu melakukan sesuatu kesalahan, jangan langsung menyalahkannya, tapi coba tanya pada dirimu, Nak. Apakah kamu sudah menjadi contoh yang baik untuknya?"...
...Pesan Mama Melinda saat berpamitan sebelum kembali lagi ke Singapura. Tak lupa juga, Mama mengingat Zidan untuk mengajak Manda ke Singapura, itupun kalau mereka ada waktu senggang untuk berkunjung ke sana....
"Pasti, Ma. Kami pasti akan sering berkunjung ke sana. Mama jaga kesehatan ya di sana."
Mama Melinda memeluk keduanya begitu erat, seolah belum rela untuk berpisah dengan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus segera kembali dan membiarkan kedua pasangan itu untuk menikmati dan menjalankan kehidupan mereka seperti biasa lagi.
"Manda, jadi Mama yang baik ya buat Ahkam."
...****************...
"Sayang?" Zidan tiba-tiba saja memeluk Manda yang sedang merapikan kasur di kamar yang mereka siapkan untuk Ahkam. Rencananya mereka akan menjemput Ahkam nanti sore, dan setelah itu Ahkam akan terus tinggal bersama mereka.
"Kapan sucinya?" Bisik Zidan lesu. Bisa bisanya, Manda malah menstruasi setelah akad nikah tiga hari yang lalu.
"Sabar, tinggal 5 hari lagi!!" Gadis itu mencubit tangan Zidan yang melingkar memeluk pinggangnya. "Lepasin dulu, Bang!"
"Nggak mau, dari kemarin kamu sibuk ngurusin keperluan Ahkam." Zidan semakin mengeratkan pelukannya, sambil menyandarkan kepala pada bahu Manda, ia menghirup aroma khas tubuh sang istri.
"Uuuh, jadi ada yang lagi cemburu nih?" Manda memutar tubuhnya menghadap Zidan. Tatapannya tertuju pada mata indah yang menatap dengan penuh kasih sayang.
"Kiss dulu!!" Zidan menunjuk pipi kanannya.
Muachh.
Satu kecupan hangat mendarat di sana. Si tukang cemburu malah tersenyum kejam.
"Lagi!" Ucapnya sambil menunjuk pipi kiri dan bibirnya.
Muachhhh. Muachhhh. Muachhhh.
__ADS_1
"Peluk sayang dulu!!" Zidan merengkuh tubuh Manda. Matanya terpejam, bayangan kejadian beberapa bulan yang lalu tiba-tiba kembali terputar dalam ingatannya. Saat tubuh yang sekarang ia peluk ini pernah kurus, lemah dan jauh dari dekapannya.
Dalam hati, Zidan terus mengucapkan janji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan pernah membiarkan kejadian itu terulang lagi. Cukup itu yang pertama dan terakhir. Dan jika boleh, biarkan saja ia menanggung semuanya untuk Manda! Biarkan dia yang menderita, terluka, asalkan Manda baik-baik saja dan masih berada di sisinya.
"Abang?" Panggil Manda sembari menepuk pelan punggung Zidan.
"Berjanjilah, apapun yang terjadi, jangan pernah pergi dari sisiku lagi!" Pinta Zidan. Ia masih memeluk Manda. Membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya.
"Manda janji. Dan nggak akan ingkar janji lagi kali ini."
"Terimakasih, Sayang." Zidan mengusap kepala Manda lalu mencium kening gadis itu. Setelah puas dimanja oleh sang Istri, akhirnya Zidan pun mengalah dan membiarkan Manda merapikan kamar Ahkam, bahkan Ia ikut membantu memasukkan baju-baju yang kemarin mereka beli untuk Ahkam ke dalam lemari.
"Ini langsung disusun di atas meja?" Zidan menunjukkan buku cerita yang ia pegang.
"Ditaruh di rak buku aja, Bang!"
"Oh, oke." Sembari melantunkan shalawat Zidan mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan, membuat Manda yang mendengar dan melihat itu tersenyum sambil merekamnya diam-diam.
Manda mencium layar HP-nya saat layar itu memutar video yang baru saja ia ambil. Gemas sendiri dengan suaminya. Padahal ya, si Abang Suami kan ada di depan mata, lah gimana dengan para pembaca? Suami aja nggak ada! Hahahaha.
...****************...
...Bismillah....
Langkah kaki Zidan dan Manda beriringan saat memasuki gerbang Panti. Tangan mereka bertautan, saling menyalurkan kehangatan dan kekuatan. Zidan melirik sekilas ke arah Manda, raut bahagia tersirat jelas di wajah gadis itu, sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya membicarakan semua rencana masa depan yang ia susun untuk Ahkam.
Manda ingin Ahkam menjadi remaja yang tubuh dengan sejuta kasih sayang dan cinta. Ia ingin Ahkam tumbuh sebagai remaja yang memiliki aura positif untuk orang di sekitarnya. Bahkan Manda sudah mulai menyiapkan dirinya, agar ia bisa mengiringi langkah Ahkam menuju kesuksesan, menjadi support system dan tempat yang paling nyaman untuk Ahkam dan Suaminya.
Gadis itu memiliki berjuta-juta harapan untuk Ahkam. Bahkan ia sampai lupa dengan semua harapan dan cita-citanya. Untuk saat ini, Ahkam dan Zidan lah yang menjadi pusat perhatian dan kebahagiaannya.
"Ahkam...." Manda berjongkok begitu melihat Ahkam di hadapannya. Ia mengelus kepala bocah manis itu, belum apa-apa, rasa sayang pada Ahkam sudah menggebu-gebu saja.
__ADS_1
"Apa kabar, Anak Hebat?" Tanya Zidan. Sebelum menjawab pertanyaan dari Zidan, Ahkam meraih tangan kanan Zidan terlebih dahulu, ia mencium punggung tangan pria itu, lalu meletakkan tangan Zidan di atas kepalanya.
Spontan Zidan mengelus kepala Ahkam pelan, lalu menunduk untuk mengecupnya. Hatinya bergetar hebat saat diperlakukan seperti itu oleh Ahkam. Bocah yang bahkan baru mengenal dirinya.
"Alhamdulillah, Ahkam baik. Kakak sama Om gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah kita baik juga. Ya udah, sekarang ikut Kakak ke ruang tamu dulu yuk!" Manda menggenggam tangan Ahkam, ketiganya melangkah menuju ruang tamu untuk memberitahukan tentang kedatangan mereka, sekaligus menyampaikan niat mereka untuk membawa Ahkam pulang hari ini.
Kedatangan Manda dan Zidan tentu disambut dengan senyuman dan kehangatan oleh pihak pengurus Panti. Bahkan mereka tak henti-hentinya berterimakasih karena telah memberikan begitu banyak bantuan untuk Panti Asuhan. Terutama tentang niat baik Zidan dan Manda untuk mengasuh Ahkam.
"Ahkam tetap jadi anak yang baik ya, Ibu sayang Ahkam." Ibu Panti yang selama ini merawat Ahkam menangis saat melepas kepergian bocah itu, bocah yang dititipan padanya, karena pihak keluarga tidak mau menerima kehadirannya. Bahkan bocah yang tidak tau apapun tentang Kehidupan Ayah dan Ibunya itu harus menanggung kebencian dari orang-orang yang seharusnya menyayangi dia di saat Ayah dan Ibunya tidak ada.
"Ibu, jangan nangis." Tangan mungil Ahkam menyeka tetesan air mata sang Ibu Asuhnya.
"Ahkam pasti akan sering-sering ke sini lagi, iyakan Kak?" ucapnya sembari menatap Manda dan Zidan.
"Iya, Sayang. Kita akan ke sini kapanpun Ahkam mau," jawab Zidan tersenyum.
Setelah berpamitan dengan anak-anak yang lain, mereka bertiga pun meninggalkan Panti, dengan air mata yang mulai mengering di pipi mereka. Perpisahan Ahkam dengan semua orang di sekitarnya adalah perpisahan yang paling menyedihkan yang pernah Zidan lihat.
Cara mereka menatap kepergian Ahkam, menjelaskan betapa sayangnya mereka pada Ahkam. Bahkan mungkin untuk berpisah dengan Ahkam, mereka masih belum rela.
..."Ahkam janji, Ahkam akan membuat Semua Ibu Ahkam tersenyum bahagia."...
Ahkam memasukkan pita merah kecil yang Ellya berikan padanya. Ellya Kartika Rinjani adalah gadis 10 tahun yang sudah Ahkam anggap seperti Kakak kandungnya sendiri. Bahkan hal yang paling menyakitkan bagi Ahkam saat ini adalah berpisah dari Ellya.
"Janji ya, Ahkam nggak bakal lupain Kak Eya!!"
"Ahkam janji!"
Jari kelingking keduanya bertautan saat membuat janji itu. Janji yang mungkin saja akan mereka lupakan saat mereka sudah dewasa nanti, atau mungkin saja, janji itu yang akan terus mengikat mereka sampai dewasa.
__ADS_1