Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 23. Singapura (5)


__ADS_3

Sehari sebelum pulang ke tanah air, Zidan mengajak Manda untuk mengunjungi sebuah tempat yang tidak pernah ia ceritakan pada Manda selama ini, Jika hari-hari sebelumnya ia mengajak Manda dan Ahkam untuk mengunjungi beberapa tempat wisata, kali ini berbeda. Dan kali ini, Mama Melinda juga ikut bersama mereka. Menggunakan pakaian hitam, membawa keranjang bunga, dan juga buku Yasin.


'Kita akan berkunjung ke makam Papa, udah lama Abang nggak ke sana,' begitulah jawaban Zidan saat ditanya oleh Manda.


Sepanjang perjalanan, Manda terus memperhatikan ekspresi wajah Zidan, terlihat jelas kalau pria itu sedang menyembunyikan kesedihannya, dan Manda bisa merasakan apa yang Zidan rasakan!


Manda menyentuh lengan Zidan, lalu tersenyum padanya. seolah memberi tahu, kalo Manda akan selalu ada untuk Zidan.


Ahkam duduk dengan Mama Melinda di kursi belakang, sedang disimak' hafalan surah Al Ikhlas. Manda juga ikut mendengarkan dari depan.


"Masya Allah, pinternya cucu Oma!" puji Mama Melinda kemudian mencium kening Ahkam.


"Oma Oma, kalo adek kecilnya udah lahir, Oma masih sayang nggak sama Ahkam?"


Mama Melinda menggenggam tangan Ahkam, "Ahkam kesayangan semua orang, ada ataupun nggak ada adek kecil, Oma tetap sayang sama Ahkam!"


"Makasih, Oma. kalo gitu, Ahkam bakalan jadi Abang terhebat untuk Adek Kecil!!"


Mama Melinda tersenyum, ia harap Zidan dan Manda juga bisa membagi waktu untuk Ahkam, jangan sampai Ahkam merasa kekurangan kasih sayang setelah kelahiran adeknya.


Sampai di sebuah pemakaman, Zidan memarkirkan mobil lalu membukakan pintu untuk Manda dan Mama Melinda.


"Pelan-pelan, Sayang."


Mama Melinda berjalan terlebih dahulu, tangan kanannya menggandeng tangan Ahkam, satu tangannya lagi masih membawa keranjang bunga. Dia menolak saat Manda dan Zidan ingin mengambil alih keranjang itu.


"Sekarang giliran Mama yang bawain bunga buat Papa!" ucapnya.


Langkah kaki mereka terhenti di sebuah makam dengan batu nisan bertulisan 'Ahmad Tarmidzi'


"Assalamu'alaikum, Pa. Mama dateng sama Zidan dan Menantu kita. Dan ini, Ahkam, cucu kita!"


Zidan memalingkan wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca. Teringat mendiang Papanya yang sudah banyak berkorban untuk dia dan Stella


"Duduk, Sayang." Ahkam duduk di samping Mama Melinda, Zidan mulai memimpin pembacaan surah Yasin dan doa untuk Almarhum. Ahkam memperhatikan Papanya, ia bisa merasakan apa yang sedang Zidan rasakan. Bahkan Ahkam merasakan kesedihan yang jauh lebih besar dari yang Zidan rasakan. Kehilangan Ayah dan Ibunya!


Bocah itu berpindah ke samping Zidan, memeluk tubuh Zidan erat. "Papa nggak boleh sedih, Ahkam janji, Ahkam akan jadi anak yang nurut dan berbakti sama Papa! Papa nggak boleh sedih lagi sekarang!"

__ADS_1


Mama Melinda dan Manda tersenyum melihat anak dan Papa itu, saling menguatkan satu sama lain.


"Papa, Manda janji, Manda nggak akan ninggalin Abang lagi, apapun yang terjadi! Manda akan tetap di samping Abang!!" Manda menyentuh batu nisan, walaupun tidak pernah bertemu dengan Papa Mertuanya, tapi Manda yakin, beliau adalah orang baik, seperti Suaminya!


*********


"Ahkam malam ini tidur sama. Oma, ya?" ucap Mama Melinda, malam ini adalah malam terakhir Ahkam di Singapura, besok mereka akan melakukan penerbangan ke Indonesia.


"Oke, Ahkam nanti boboknya sama Oma. Ahkam jagain Oma, supaya Oma nggak sedih lagi!" Ahkam memeluk Mama Melinda, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. "Oma jangan sedih ya, nanti Papa juga ikut sedih, terus Mama juga ikutan sedih kalo liat Papa sedih, Ahkam nggak mau ada yang sedih sedih lagi!"


"Iya, cucu Oma, Oma nggak sedih lagi, kan sekarang udah ada Ahkam yang nemenin Oma!"


Mama Melinda menyuapi Ahkam apel yang ia kupas, bocah itu mengunyah dengan lahap, sampai Mama Melinda harus mengupas satu apel lagi.


Malam harinya Ahkam benar-benar tidur dengan Mama Melinda, Mama Melinda menceritakan bagaimana masa kecil Zidan dulu.


"Dulu pas Papa Zidan masih kecil, Papa Zidan juga pinter kayak Ahkam, Papa Zidan pernah menang lomba menghafal suroh pendek, terus Papa Zidan juga pernah masuk pesantren, tapi nggak sampai lulus."


"Kenapa nggak sampai lulus, Oma?"


"Emm, waktu itu kita pindah ke sini, jadi Papa Zidan juga lanjutin sekolah di Singapura juga."


"Ahkam besok ngomong langsung sama Papa dan Mama aja ya!"


"Oke, Oma! Oma nggak wudhu dulu sebelum tidur?!" tanya Ahkam yang sudah turun dari kasur. "Kata Papa harus wudhu dulu, supaya nggak mimpi buruk."


"Ya udah, Oma juga mau wudhu!" Mama Melinda tersenyum saat mengikuti Ahkam ke kamar mandi, cara Zidan mendidik Ahkam memang patut diacungi jempol oleh Mama Melinda!


Sementara di kamar sebelah, Zidan mengusap kepala Manda yang menempel di dadanya. Mumpung tidak ada Ahkam. Jadi mereka bisa lebih leluasa dalam menyalurkan kehangatan cinta dan kasih sayang.


"Abang nggak tau harus mulai ceritanya darimana!" ucap Zidan. Sebenarnya Zidan juga selama ini ingin menceritakan tentang sosok Papanya pada Manda. Tapi mengingat wajah sang Papa saja mampu membuatnya berlinang air mata.


"Kalo Abang belum siap, nggak apa-apa, ceritanya di lain waktu aja!"


Manda mendongak menatap wajah Zidan. Ia menyentuh dagu Zidan, naik ke pipi. "Manda ngerti kok apa yang Abang rasain sekarang."


Manda mengubah posisinya, ia merentangkan kedua tangannya, agar Zidan masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Abang beruntung banget punya istri kayak kamu!" gumam Zidan. Hampir tak terdengar oleh Manda.


Sekarang tangan Manda yang mengelus kepala Zidan yang terbenam di dadanya. "Manda selalu ada kok, Abang kalo mau cerita, cerita aja, Abang kan punya Manda yang bisa jadi temen, istri, besti atau Abang mau Manda jadi apa lagi?!"


"Cukup jadi istri dan Ibu yang baik, itu aja Abang udah seneng banget!"


"Oke, tapi kalo Abang lagi sedih, atau lagi ada satu masalah, Abang cerita ya ke Manda. Sekalipun Manda nggak bisa kasih jalan keluarnya, tapi setidaknya Manda bisa temenin Abang, Manda bisa kasih dukungan buat Abang!!"


"Iya, istriku Sayang, yang terbaik sejagat raya sepanjang masa!!"


Manda mencium kening Zidan sangat lama. lalu berisik lirih di dekat telinga Zidan.


"Manda mencintaimu, Om Zidan yang paling tampan!"


"Om lebih mencintaimu, Gadis Nakal!"


Zidan tertawa, sambil mengelus perut Manda. "Abang pikir pernikahan kita nggak akan bertahan sejauh ini,, ternyata kamu masih ada di sini sampai sekarang, hebat ya, kamu bisa bertahan sampai titik ini, sampai kamu punya perasaan yang sama kayak Abang, dan sekarang malah udah hamil anak Abang!"


"Kalo suami Manda bukan Om Tampan yang baik hati kayak Abang, mungkin Manda nggak punya alasan apapun untuk bertahan, tapi karena itu Abang, jadi Manda punya sejuta, eh satu triliun alasan untuk bertahan!"


"Abang juga punya seribu triliun alasan. untuk mempertahankan istri Abang, karena yang kayak gini---" Zidan mencubit pipi Manda. "Nggak ada lagi di mana-mana, hanya spesial untuk Abang seorang!!"


***********


Walau terasa sangat berat, Mama Melinda tetap tersenyum saat mengantarkan Zidan, Manda dan Ahkam ke bandara. Satu Minggu terasa begitu cepat, jika boleh, Mama Melinda ingin mereka semua tetap di sini saja! Jangan pernah balik lagi ke Indonesia!


"Sampai jumpa bulan depan ya, libur kuliah aku main ke Indonesia!!" teriak Dea yang ikut mengantar ke bandara. Gadis itu merangkul Tante Melinda, yang masih menetap punggung Zidan dan Manda.


"Bulan depan kita bisa ketemu lagi kok sama Kak Zidan, Tante tenang aja!"


"Semoga umur Tante masih sampai di sana!" Mama Melinda memutar tubuhnya, menjauhi Bandara dan kembali masuk ke dalam mobil.


"Maaf ya, Ma. Zidan nggak bisa lama."


Ucapan Zidan saat memeluknya masih terngiang-ngiang di kepala. "Seandainya Zidan tidak memegang tanggung jawab terbesar di perusahaan, dia pasti tidak akan sesibuk ini sekarang!"


Seharusnya tidak ada yang perlu di sesali lagi, semua sudah terjadi, semua keinginannya sudah Zidan turuti, dan seharusnya dia juga bisa menerima bahwa ini semua adalah konsekuensi dari semua perbuatannya di masa lampau!

__ADS_1


*****


Maaf ya, Author Update nya di waktu senggang aja. Semoga suka, dan terimakasih untuk semua yang udah nungguin Om Zidan dan Manda ☺️


__ADS_2