
Zidan membuka pintu kamar Ahkam, ia tersenyum saat melihat Ahkam sedang tidur sambil memeluk buku gambarnya. Zidan duduk di pinggir kasur, mengusap kepala Ahkam.
"Kamu hebat banget, Nak. Di usia yang masih sangat kecil kamu sudah melewati banyak ujian hidup, nggak semua orang bisa seperti kamu, nggak semua orang juga bisa sekuat kamu, Jagoan Papa!"
Zidan mencoba untuk mengambil buku gambar yang Ahkam peluk, bermaksud untuk menaruhnya di atas meja.
"Jangan ambil ini, ini punya Ahkam!" gumam bocah itu, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Papa nggak ambil, Nak. Papa taruh di atas meja ya?" ucap Zidan, mencoba untuk mengambil sekali lagi. Kali ini berhasil. Zidan meletakkannya di atas meja belajar, melirik ke arah Ahkam sekali lagi.
Tidak biasanya Ahkam tidur siang, bahkan dia belum makan siang. Mungkin ini efek dari perasaan sedih karena dihantui oleh rasa trauma kehilangan seseorang?!
Zidan mengecup kening Ahkam sebelum keluar dari kamar. Niatnya tadi ingin berbicara dan meyakinkan Ahkam, kalau Mama dan Adik Kecil tidak akan meninggalkan mereka.
...****************...
Jam setengah tiga siang. Ahkam bangun, ia mencari buku gambar kesayangannya, di bawah bantal dan selimut, bocah itu hampir menangis karena tidak menemukan di sekitar kasur.
"Kamu di sini ternyata!" Dia menyambar buku gambar yang Zidan letakkan di meja belajar. Ini buku gambar yang pertama kali Manda belikan, Ahkam sangat menyukai dan menyanyinya.
"Ahkam lapar ya?" tanya Bik Jah, saat melihat Ahkam di dapur. Bik Jah buru-buru menyiapkan makan siang untuk Ahkam, sementara bocah itu sibuk berdiri di depan kulkas, mencari buah-buahan yang biasa tersedia untuk Mamanya.
"Ahkam?" Zidan menghampiri Ahkam yang masih mematung di depan kulkas. "Ahkam cari apa?"
"Buah untuk Mama mana, Pa?" Bocah itu memutar tubuhnya menghadap Zidan, mendongak untuk menatap wajah sang Papa .
"Udah habis, Ahkam kan tadi tidur, jadi Papa yang suapin Mama!"
Ahkam cemberut. Itu tugasnya! Bukan tugas Papa!
"Ya udah, nanti kita ke toko buah, Ahkam yang pilihan buahnya, mau?" Zidan berjongkok, membawa Ahkam dalam gendongannya, bocah itu menempel, melingkarkan tangannya memeluk leher Zidan.
"Jagoan Papa udah makan?"
"Belum, Pa."
Zidan mengangguk saat Bik Jah memberitahu bahwa makan siang untuk Ahkam sudah siap. "Mau Papa suapin?"
Tidak ada jawaban dari Ahkam. Tapi Zidan tetap menarik kursi makan, dia duduk dengan Ahkam yang masih menempel di pangkuannya.
"Ahkam?"
Manik hitam Ahkam beradu tatap dengan Zidan.
"Ahkam sayang Mama?"
Ahkam mengangguk.
"Ahkam sayang Papa?"
"Iya, Ahkam sayang Mama dan Papa!"
"Ahkam sayang adek kecil, nggak?"
__ADS_1
Ahkam diam. Dia kembali menyadarkan kepalanya di dada Zidan. "Adek Kecil nggak ambil Mama dari Ahkam, kan Pa?"
Zidan menggeleng pelan, tangannya mengelus kepala dan punggung Ahkam.
"Adek Kecil itu titipan dari Allah, sama kayak Ahkam juga!" ucap Zidan.
"Berarti Adek Kecil nggak bakalan pergi lagi kan?"
Zidan tersenyum, "Kalo Ahkam sayang sama Adek Kecil, terus sering doain Mama dan Adek Kecil, pasti Adek Kecilnya nggak akan pergi!"
"Ya udah, Ahkam sayang deh sama Adek Kecil! Nanti selesai solat Ahkam berdoa buat Adek Kecil!"
"Gitu dong, ini baru Jagoan Papa!" Zidan mengusap kepala Ahkam, lalu mencium pipinya. "Sekarang makan dulu supaya cepet besar, nanti bisa gendong Adek Kecil dan ajak dia jalan-jalan!"
"Boleh ajak main sepeda juga?"
"Boleh, tapi kalo Adeknya udah sebesar Ahkam!"
"Berarti Ahkam juga udah sebesar ini?" Ahkam mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memperkirakan besarnya saat mengajak Adek Kecil bermain sepeda nanti.
"Emmm, iya. Tapi sekarang buka mulutnya dulu!"
Dengan lahap Ahkam menguyah nasi dan lauk yang Zidan suapkan. Anak seperti Ahkam butuh kasih sayang, butuh dimengerti, dan butuh diperhatikan lebih.
"Mama?" Ahkam berjalan mendekati Manda. Membawa semangkuk salad buah. Zidan dan Ahkam baru pulang dari tokoh buah, sekalian juga mereka membeli salad buah di sana.
"Wah, Ahkam bawain Mama apa?" Manda bergeser, memberikan ruang untuk Ahkam duduk.
"Papa bilang Mama suka ini?" Ahkam menunjukkan salad buah di tangannya.
Dengan senang hati Ahkam menyuapi Manda, sesendok demi sesendok, sampai satu mangkuk salad buah tandas.
"Boleh pegang, Ma?" tanya Ahkam sembari menunjuk perut Manda.
"Boleh, sini sapa dulu Adek Kecilnya!"
Ahkam mengerakkan tangannya, mengusap usap perut Manda. Lalu bocah itu mendekatkan wajahnya, mencium perut sang Mama. "Adek Kecil jangan nakal ya di sana!"
Ahkam mencium perut Manda berkali kali, membuat Manda gemas sendiri. Ahkam juga menceritakan pada Cila, kalau sekarang dia sudah mempunyai Adik Kecil di dalam perut Mama.
"Cila boleh kan main sama Adik Kecil nanti?" tanya Cila.
"Boleh!"
"Nanti Cila bakalan kasi semua mainan Cila ke Adik Kecil, biar bisa main sama-sama!" Cila juga terlihat begitu antusias ketika membahas tentang Adik Kecil Ahkam.
Kedua bocah itu menyebutkan begitu banyak kegiatan yang akan mereka lakukan nanti ketika Adik Kecil sudah keluar dari perut Mama. Bahkan Ahkam bilang dia akan mengajak Adik Kecilnya jalan-jalan ke pantai dan bermain pasir bersama.
Untuk sementara waktu ini, Manda belum pernah meminta dibelikan apapun pada Zidan, belum menunjukkan tanda-tanda ngidam makanan seperti kebayangkan wanita hamil. Paling-paling dia hanya minta dipeluk.
"Diem dulu di sini!" Manda menahan tangan Zidan yang akan turun dari kasur, menciumi dan menghirup aroma tubuh Zidan sedalam dalamnya.
"Ya Allah, Sayang. Abang belum mandi lo, kasian bayinya kalo cium keringet Abang!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, orang Babynya juga suka, ya kan, Nak?" Manda mengusap perutnya, ini sudah memasuki minggu ke 11. Rencananya bulan depan mereka akan ke Singapura, menghabiskan liburan akhir tahun di sana.
Mama Melinda sampai nangis-nangis ketika dikabari tentang kehamilan Manda.
"Papa mandi dulu ya, Sayang." Zidan menempelkan bibirnya di depan perut Manda, sekarang malah rambut Zidan yang menjadi sasaran Manda, Manda menghirup aroma rambut Zidan sambil mengacak-acaknya.
Zidan bersyukur dalam hati, beruntung dia baru selesai sampoan tadi pagi, jadi bayinya tidak perlu mencium bau rambut apek!
"Abang mandi ya, Sayang!" Zidan risih sendiri, bukan tidak suka Manda terus menempel dan memeluknya, tapi yang jadi masalahnya badan Zidan lengket bekas keringat, bahkan Zidan sendiri kurang nyaman!
"Ya udah mandi, tapi kemejanya sini!"
Hah? Zidan membuka kemeja putih yang ia kenakan, menyerahkannya pada Manda. Yang ada Manda malah mencium kemeja itu!
Itukan kemeja kotor, Sayangku!!
Zidan merinding sendiri. Bisa-bisanya Manda tidak merasa risih!
"Hiks, ya udah, itu kemejanya buat Sayang aja. Abang mandi dulu!" Zidan kabur ke kamar mandi. Tidak habis pikir dengan kelakuan Manda kali ini. Pria itu mencoba mencium ketiaknya, tidak buruk sih, tapi tetap Zidan merasa risih.
Habis mandi, Zidan menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Tak lupa memakai deodorant. Dengan penuh percaya diri dia mendekati Manda, tapi Manda malah menolaknya.
"Bau parfum Abang kayak bau tong sampah!" Manda menempelkan kemeja bekas Zidan di hidungnya, dia lebih suka aroma yang ini! Aroma tubuh Zidan yang sekarang busuk, seperti tong sampah!
"Astaghfirullah, Ahkam, bantu Papa, Nak!" Zidan menggeleng pelan, dia memang paling tidak bisa berdebat dengan Manda. Mengalah adalah jalan satu-satunya.
"Ahkam, cium Papa, Sayang!"
Zidan mencari pelarian, penciuman Ahkam masih normal kan?
Muachhhh. Ahkam mencium kedua pipi Zidan, lalu memeluk erat.
"Papa nggak bau tong sampah kan?"
"Nggak ko, Pa!" Ahkam mencium aroma tubuh Papanya, tidak ada bau tong sampah! Yang ada parfum Papanya tercium keras.
Ahkam mengalihkan pandangannya pada Mama yang baru turun dari tangga. "Mama kenapa lagi, Pa?"
Zidan menoleh dan menepuk jidatnya saat melihat Manda menggunakan kemeja kerjanya. Yang lebih tepat disebut dengan aroma tong sampah!
"Mama ditinggalin sendirian sama Papa!" Adu Manda pada Anaknya.
"Papa mau dipukul, Ma?"
Zidan melotot, bisa-bisanya Ahkam berniat memukulnya! Ya walaupun sebatas becanda!
"Jangan, dia kesayangan Mama!"
Manda tersenyum, tapi masih tidak mau dekat-dekat dengan Zidan, aroma parfum Zidan masih seperti aroma tong sampah soalnya!
Zidan bingung, dia harus menangis atau bahagia sekarang!
Aroma Tong Sampah?!
__ADS_1
Zidan menandai botol parfum itu, menyingkirkan dari lemari kaca, Zidan kapok, dia tidak akan pernah memakai parfum itu lagi!