Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Kesalahan Terbesar


__ADS_3

Grace hari ini pulang dengan wajah yang murung, matanya sembab rambutnya kacau bahkan dia tak memakai rias sedikit pun. Dia yang berjalan masuk rumah dengan rasa malas nya seperti dia menyeret kakinya untuk masuk.


Hatinya hancur dan saat ini dia sangat rapuh. Kehilangan orang yang selalu ada untuknya selama ini membuatnya seperti kehilangan nyawa nya. Rasanya seperti orang mati yang harus tetap hidup di dunia ini.


" Selamat datang Nyonya…" Sapa kepala pembantu yang ada di sana.


Kepala pembantu itu meskipun dia menunduk tapi dia juga memperhatikan wajah Nyonya nya yang kacau dan tak bersemangat. Tetapi dia tentu saja tak memberanikan untuk bertanya hal yang lebih jauh.


Grace tak menjawab sapaan itu dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya menangisi nasibnya yang telah ditinggal pergi oleh kekasih nya. Hatinya masih merasakan kesedihan yang teramat dalam.


" Kakak sudah pulang? Aku kira kakak dan kakak ipar akan lama berlibur?" Olivia yang tak sengaja bertemu kakaknya di anak tangga kini langsung menyapanya.


Tapi keningnya mengerut ketika melihat kakak nya yang berantakan tak karuan saat ini. " Kakak ada apa?" Tanyanya dengan menyentuh pundak nya.


" Apa sesuatu telah terjadi? Dimana kakak ipar Donzello?" Matanya mencari sosok kakak iparnya yang tak ada.


Grace tak menjawabnya dia hanya meneteskan air matanya. Olivia yang memang tau semua apa yang terjadi kini merasa ada yang curiga. Dia menyeret kakaknya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan sang pembantu tadi hanya melihat dari kejauhan. " Aku rasa nona Olivia tau sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya itu…" Ujarnya pelan dengan menatap kedua wanita yang masuk ke dalam kamarnya.


" Apa yang terjadi kak? Kakak tak pergi dengan kakak ipar kan?" Tanyanya ketika pintu kamar itu tertutup rapat rapat.


Grace tak menjawabnya dia hanya menangis rasa sedih itu masih melekat di hatinya. Semalam masih terasa indah tapi pagi ini semuanya hancur berkeping keping di depannya.


" Kakak pergi dengan wanita itu?" Bisiknya dengan menekan kata katanya. " Jawab kak…" Bentaknya.


" Dia pergi.. dia meninggalkan aku.. dia mengakhiri hubungan ku dengan nya hiks hiks…" Tangisnya kini pecah.


Olivia yang mendengarnya kini terdiam dia tak menyangka bahwa kakaknya ternyata masih bersama wanita itu. Setelah pernikahan sang kakak Olivia pikir bahwa kakaknya sembuh tapi ternyata tidak. Hubungan terlarang mereka masih terjalin.


" Apa yang harus aku lakukan agar dia tak pergi meninggalkan ku Oliv? Aku sungguh tak ingin kehilangan dia! Aku mencintainya lebih dari apapun…" Liriknya dengan nada sedihnya.


Olivia menyentuh kedua pundak kakaknya dengan menatap kearah kakaknya yang saat ini sungguh rapuh. " Jadi selama ini kalian masih menjalin hubungan terlarang ini? Kakak kau sungguh tak memiliki hati sedikitpun kepada kakak ipar? Apa yang ada di pikiran mu mengkhianati kakak ipar seperti ini."


" Kau tau aku tak mencintai kakak ipar mu itu, yang aku cintai hanya dia. Bertahun tahun kita tak memiliki apapun, kita terpuruk karena kehilangan orang tua kita dan dia yang memberikan kita semua yang kita butuhkan. Apa kau ingat dia yang menolong kita ketika kita tak bisa makan, siapa yang membayar semua hutang hutang kedua orang tua kita juga bukan dia!"


" Oke dia memiliki jasa kepada kita, bahkan aku berterima kasih karena kita memiliki hutang nyawa padanya. Tapi tidak harus kakak membalasnya dengan membalas cintanya pada mu bukan…" Katanya dengan pelan dia takut jika ada yang mendengar pembicaraan ini.


" Aku juga mencintainya Oliv aku mencintainya, aku menikah hanya karena untuk menutupi hubungan terlarang ini. Asal kau tau selama ini aku bertahan dengan kakak ipar mu hanya karena dia, hidupku berwarna karena dia tapi sekarang dia pergi meninggalkan ku hiks hiks…" Tangisnya lagi.


" Bagus dia sadar bahwa hubungan kalian memang kesalahan terbesar yang kalian lakukan selama ini."


Grace menatap adiknya dengan tatapan penuh amarah, tangannya kini di hempaskan dengan kasar ketika tangan adiknya tadi berada di kedua pundaknya.

__ADS_1


" Hubungan ku dengan dia bukan kesalahan Oliv tapi pernikahan ku dengan kakak ipar mu yang memiliki kesalahan terbesar…" Ucapnya dengan penuh penekanan.


" Kau sudah di butakan oleh cinta gila mu kak, kau sudah gila. Harusnya kau sadar bahwa kakak ipar selama ini sangat menyayangimu dan mencintaimu, apa yang kau mau dia pasti memberikannya, bahkan jiwa nyawanya pun kau minta dia akan rela memberikannya tapi kau tak pernah sedikit pun membuka mata dan hati mu untuk kakak ipar. Kau buta karena cinta mu!" Olivia menatap kakaknya dengan sinis.


Dia merasa kesal pada kakaknya karena dia tak bisa membuka hati dan matanya untuk melihat kakak iparnya yang sangat mencintainya.


" Aku buta karena cinta ku yang besar untuknya! Aku tak bisa membuka hati dan mata untuk orang lain. Kau harus tau bahwa aku mencintainya karena jasa jasanya selama ini untuk kita. Apa kau tak ingin membalas jasanya dengan berbicara kepadanya agar tak meninggalkan kakak?"


" Apa kakak juga tak sadar jika kakak tak menikah dengan kakak ipar hidup kita tak akan seperti ini? Hidup kita tak akan mewah seperti ini kak. Aku juga tak mungkin bisa merasakan kuliah dan aku juga tak bisa menjadi model jika kakak ipar tak ada di belakang ku."


" Tapi dia lebih berjasa dengan kita Olivia, tiga tahun dia memberikan kita makan dengan suka hati, tiga tahun dia rela menyisihkan uangnya untuk kita agar kita bisa makan dan tak kelaparan, apa kau tak mengingatnya?"


" Jika kakak mengungkit tentang jasanya maka aku akan membayarnya semua yang dikeluarkan untuk kita dulu. Aku tak ingin memiliki hutang budi kepada wanita itu…" Olivia bernada tinggi.


" Jangan kau pikir uangmu cukup untuk membayar semua nya Olivia. Dia tak meminta untuk membalasnya…" Suaranya tak kalah tinggi.


" Lalu mencintai kakak dan kalian terjebak dalam cinta terlarang selama ini apa? Jika aku tau bahwa dia mengharapkan mu maka aku tak akan sudi menerima satu pun yang dia berikan kepada ku…" Matanya menatap sinis ke arah kakaknya.


" Buka mata mu! Kakak ipar lebih dari segalanya dia laki laki baik yang sangat mencintaimu. Dia mencintaimu sangat mencintaimu, dua tahun pernikahan kalian tapi lihat rasa cinta nya tetap tak berubah, kau harusnya sadar dan buka mata mu…" Sambungnya.


" Arghhh… diam!" Teriaknya dengan menutup kedua telinga nya.


" Kau akan menyesal ketika kakak ipar menemukan kenyaman di wanita lain, kau akan menangis lebih parah dari ini jika kakak ipar bertemu dengan wanita lain yang membuatnya nyaman nanti."


Sedangkan Don dan Charlotte kini saling mendekap penuh cinta, mereka yang tadi bertengkar kini berbaikan di atas ranjangnya yang penuh kehangatan cinta dan kehangatan ******* manja. Donzello menatap langit langit dengan tetap mendekap tubuh mungil wanitanya sedangkan Charlotte memejamkan matanya berada di alam tidurnya.


Aku harus segera menyelesaikan urusan ku dengan Grace tapi aku harus memiliki bukti yang kuat untuk menceraikannya. Tapi apa? Perselingkuhannya pun selama ini tersimpan rapat rapat olehnya. Batinnya dengan memikirkan nya.


Drt!! Drt!! Drt!! Ponsel miliknya kini berdering, tangannya meraba ponsel itu melihat siapa yang menghubunginya.


" Katakan ada apa?"


" Maaf Tuan kami membutuhkan tanda tangan anda!"


" Aku akan kesana!"


Donzello mematikan panggilan itu, dia dengan pelan meletakkan kepala wanitanya di bantal sebelahnya. Charlotte merasakan bahwa tubuhnya sedikit bergeser dia membuka matanya dengan perlahan.


" Kau mau kemana?" Suaranya yang serak membuat Don sedikit terkejut ketika wanita itu bangun.


" Apa aku membangunkan mu Sweetheart?" Tanyanya dengan kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Charlotte.


" Tidak! Apa kau akan pergi?" Tanyanya dengan menatap laki laki itu yang juga merebahkan tubuhnya di sebelahnya.

__ADS_1


" Hanya sebentar ada pekerjaan yang harus aku urus!" Tangannya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah ayu wanitanya.


" Kau disini bekerja? Apa ada klien mu juga di sini?"


" Sayang jangan pikirkan apapun tentang pekerjaan ku oke! Kau hanya perlu menikmati semuanya."


" Tapi aku tak ingin kau pergi, aku mau kau di sini saja bersama ku…" Ucapnya dengan manja dan memeluk erat laki laki itu.


Donzello tersenyum penuh kemenangan, wanita yang dia inginkan kini telah berada di dekapannya dan tak ingin ditinggalkan. Padahal dua jam yang lalu mereka bertengkar dan sang wanita tak ingin bersama nya.


" Sayang jika aku tidak bekerja siapa yang akan membiayai semua kebutuhan mu? Sekarang kau adalah milikku dan apapun kebutuhanmu adalah tanggungan ku sepenuhnya jadi aku harus bekerja agar kamu bisa menikmati semuanya dengan tenang…" Katanya dengan mengelus rambut panjang Charlotte.


" Tapi aku tak ingin kau pergi Honey!" Katanya dengan cemberut.


" Hanya sebentar oke! Satu jam. Aku harus menemui seorang dulu."


" Baiklah sana pergi…" Charlotte melepaskan pelukan itu, dia berbalik arah dan tak ingin menatap kekasihnya yang tetap ingin pergi.


" Sayang please jangan marah, aku hanya sebentar oke."


" Sudahlah sana pergi…" Usirnya.


" Ayo ikut aku menemui seorang, aku akan perkenalkan kamu sebagai calon istri ku."


" Pergilah…" Usirnya.


" Baiklah! Aku pergi sebentar. Besok jika kapal bersandar di pulau kita akan jalan jalan sepuasnya yang kau mau…" Bujuknya.


" Tidak mungkin, kapal akan memberi waktu satu atau dua jam."


" Percayalah pada ku, apapun yang kau mau akan ku penuhi, asal jangan meminta aku untuk meninggalkanmu.


Charlotte langsung menghadap ke arah Don kembali.


" Besok kita akan jalan jalan sepuasnya jika kapal bersandar?"


" Aku janji sayang tapi biarkan aku menemui seorang dulu?"


" Baiklah!"


Donzello hanya tersenyum kemudian mencium kening wanita itu, Don segera memakai pakaiannya dan segera pergi meninggalkan kamar wanitanya. Hatinya berbunga bunga karena ada wanita yang tak ingin ditinggalkan meskipun hanya untuk bekerja.


Donzello bahagia saat ini, rasa seperti sangat berharga tak pernah dia rasakan selama pernikahan tapi sekarang dia merasa sangat berharga ketika selingkuhannya malah tak ingin ditinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2