
Barnard malam ini yang dari tadi berifi di depan unit Charlotte tak menemukan cintanya, dia masih berdiri disini dengan setia bahkan dia dengan suka rela menunggunya berjam jam hanya untuk menemui wanita yang saat ini ia rindukan.
Barnard yang sudah hampir dua jam di sana tak merasa kesal dia tetap setia menunggu kepulangan dari wanitanya, dia berada di sana dengan hati yang berharap tunangannya ingin kembali lagi.
Barnard kini masih berdiri di depan pintu dengan terkadang dia mondar mandir di depan pintu unitnya dengan sesekali dia menatap jam yang berada di pergelangan tangannya.
" Kenapa jam segini belum pulang? Apa masih ada pertemuan atau pemotretan? Tapi kata sang asisten tak ada jadwal apapun, seharusnya dia ada di dalam…" Katanya dengan pelan dia masih berharap untuk Charlotte memaafkannya dan bisa kembali seperti dulu.
Barnard memang mencintai tunangannya hanya karena kesalahan bodoh yang membuatnya harus kehilangan wanita itu. Dia merasa menyesal telah berbuat yang tidak tidak tetapi dia juga tak bisa berbohong ketika semuanya terjadi karena naluri sebagai seorang laki laki yang memang butuh diselesaikan.
" Andaikan aku bisa menahannya mungkin sekarang aku dan Charlotte akan merancang hari pernikahan dengan bahagia…" Dia menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup rapat.
Bahkan kali ini dia beringsut hingga duduk di lantai dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam. Wajahnya kacau beberapa hari ini dia begitu tak fokus dengan kehidupannya sendiri dia terlalu memikirkan nasib percintaannya yang begitu menyedihkan.
Sedangkan Grace juga tengah duduk di sofa panjang ruang tamunya dia menunggu kepulangan suaminya yang selalu pulang. Grace kali ini sudah memakai baju tidur dengan warna hitam tipis, dia ingin sekali menggoda suaminya di berharap malam ini akan menjadi malam dimana semua kesalahan dan kemarahan akan luntur dengan rasa senang mereka seperti dulu.
Grace berulang kali menatap ponselnya dengan dia yang berharap bahwa suaminya menghubunginya jika dia pulang terlambat tapi ponsel itu tetap setia dengan tak hidup sama sekali. Dia kali ini berdiri dengan sesekali menatap ke pintu berharap suaminya datang.
Ceklek!!
__ADS_1
Suara pintu terbuka, Grace dengan senyum yang mengembang kini segera menyambut orang yang ia nantikan tapi kemudian senyum itu luntur ketika melihat bukan orang yang ia cari yang telah datang.
" Kakak kau belum tidur?" Olivia yang baru datang kini merasa heran ketika melihat kakaknya berada di ruang itu dengan dia yang sedikit murung.
" Aku menunggu Donzello tapi dia belum pulang hingga jam pulang sudah lewat dari tadi…" Wajahnya penuh dengan kekecewaan dia yang langsung merasa lemas segera duduk di sofa empuk itu.
" Yang sabar ya kak! Aku yakin kakak ipar sebentar lagi pasti pulang, aku yakin dia pasti pulang…" Olivia sepertinya hanya memberikan harapan palsu kepada kakaknya.
" Masuklah kau istirahat saja dulu, aku akan tetap di sini menunggunya pulang…" Perintahnya membuat Olivia mengangguk.
Olivia segera meninggalkan kakaknya yang tetap ingin menunggu kakak iparnya, dia tahu mungkin kakak iparnya saat ini tengah marah kepada kakaknya dan semua ini adalah kesalahan kakaknya tapi bagaimanapun saat ini dia bisa melihat keseriusan yang terpancar dari sikap kakaknya yang ingin berubah.
Olivia yang melihat dari anak tangga juga merasa kasihan tapi dia juga harus berusaha sendiri untuk membuat rumah tangganya kembali baik baik saja saat ini. Kali ini perjuangan Grace yang akan diuji oleh sebuah Takdir yang membuatnya sadar bahwa rumah tangga mereka lebih penting dari balas budi yang selalu ia terapkan dari dulu.
" Kenapa belum pulang, harusnya dia sudah pulang jam segini?" Dia berusaha untuk menghubungi suaminya tetapi dengan berkali kali panggilan itu ditolak oleh sang suami.
" Donzello kenapa harus kamu tolak! Aku hanya ingin tahu kamu kapan pulang…" Desisnya dengan merasa kecewa ketika dia berulang kali harus menerima kepahitan bahwa sang suami selalu menghindari dirinya.
Grace yang mencoba berbagai cara tampaknya tak pernah dilihat oleh suaminya, sang suami seakan tak ingin memberikan kesempatan untuk mengubah dirinya menjadi istri yang benar benar berubah menjadi baik.
__ADS_1
Grace mencoba cari ini itu tapi sang suami tak melihat kearah sedikit pun, meskipun demikian Grace masih terus berusaha menjadi yang terbaik, dia ingin kesalahpahaman ini berakhir dengan segera,dia merindukan hari hari di mana semuanya menjadi hangat, dimana semuanya menjadi penuh dengan cinta.
" Andaikan aku bisa memutar waktu mungkin aku dan dia sekarang bahagia dan aku adalah wanita yang paling berharga di dunia saat ini. Aku sekarang sadar bahwa ini semua juga salahku…" Gumamnya dengan pelan.
Rasa sesal seperti nya tak ada gunanya saat ini, kali ini hanya Grace yang merenungi nasibnya yang seakan tak beruntung dan menjadi wanita yang paling menyedihkan malam ini. Grace menatap dirinya dari bawah dia seakan seperti wanita yang sedang berusaha menggoda para laki laki tetapi yang ingin digoda malah tak ada disana bahkan menoleh ke arahnya saja tidak.
" Apa kesalahan ku sangat fatal hingga Donzello tak ingin memberikan aku kesempatan? Apa aku memang tak ada lagi di hatinya?" Tanyanya sendiri dalam hati tapi lagi lagi hati kecilnya berharap bahwa sang suami masih mencintainya meskipun saat ini dia sedang marah dan kecewa padanya.
" Apa dia sebenarnya tahu tentang perselingkuhan ku selama ini, hingga tak ada kata maaf bagi ku?" Sambungnya dengan mencari tahu jawaban dari atas pertanyaannya sendiri.
Grace kemudian menggeleng pelan. " Jika dia tahu aku berselingkuh mungkin bukan hanya dia yang diam seperti ini tapi aku bisa saja langsung diceraikan tapi ini dia hanya mendiamkan ku. Artinya dia belum tahu tentang perselingkuhan ku bukan…" Dia bernafas lega dengan jawaban apa yang dikatakan dia sendiri.
Grace kini masih menunggu di sofa hingga malam, dia yang merasa lelah kini merebahkan dirinya di sofa sana berharap jika suaminya pulang dan melihat dia yang sedang menunggunya membuat hatinya bergerak dengan rasa ibah.
Tetapi penantian hanyalah omong kosong, kedua insan yang saat ini sedang menunggu seseorang nyata tak akan pernah datang, mereka menunggu hingga mereka tertidur di tempat mereka yang sedang menunggu.
Barnard yang merasa lelah pada akhirnya menekuk kedua kakinya dan meletakkan kepalanya hingga ia tertidur di depan unit dari tunangannya dia yang ingin menunggu kedatangan wanitanya berharap dia bisa bicara baik baik dan memulainya dari awal.
Sedangkan Grace kini kelelahan menunggu suaminya yang tak pulang, dia merasa kantuk yang sangat menyerangnya dia memejamkan matanya dan berharap sang suami bisa melihat bahwa dia sungguh ingin berubah dan ingin memperbaiki rumah tangga yang seakan hampar dengan rasa bahagia.
__ADS_1