
Bukan dirimu yang harus aku lupakan,
Tapi harapanku.
Bukan salah keadaan,
Tapi perasaan ku.
Dari sisi manapun aku mencintai,
Terluka itu akan tetap,
Menjadi bagianku.
______
Donzello yang dari tadi mondar mandir di ruangan kerja merasa kesal karena dia masih tak mampu untuk menolak permintaan istri yang dari tadi memohon untuk dia tetap tinggal. Rasa cinta itu masih ada setia di hati laki laki yang saat ini tengah gelisah. Dari tadi dia hanya menatap ponsel nya membiarkan ponsel nya bergetar dan hanya melihat panggilan itu dari kekasihnya. Saat ini hati itu tengah bimbang, tengah kalut memikirkan semuanya permasalahan yang ada.
“ Argh.....” Dia berteriak kencang karena dia kesal hatinya masih saja tak bisa bergerak untuk benar-benar melepaskan istrinya yang dengan tega melukai nya sedemikian rupa.
Dada nya naik turun dengan menahan emosinya. Dia benci pada dirinya sendiri karena sebenarnya melihat sang istri yang menangis dari tadi membuat hatinya luluh. Meskipun bibirnya menolak tapi hatinya bergerak untuk tetap mencintai sang istri.
“ Kenapa.. kenapa hati ku masih saja mencintai nya.. padahal kau tahu sendiri dia yang mencampakan mu dengan selingkuhan nya tapi kau tetap saja seperti ini.. kenapa kau tak bisa lepas dari nya...” Dia kesal karena hatinya masih saja akan luluh dengan sang istri.
Donzello menghela nafasnya berulang kali menatap ke depan bayangan video yang pernah ia lihat membuat nya mengepalkan tangan nya, bayangan bersama Charlotte membuat nya tersenyum.
__ADS_1
“ Argh....” Teriaknya lagi. “ Aku harus bisa lepas dari nya. aku harus bisa...” Dia yakin bahwa dia harus bisa melupakan sosok istrinya yang sudah tega melakukannya.
“ Donzello kau harus bisa melepaskan nya. Ingat dia menikahiku hanya untuk menutupi aib nya, kau harus tega...” Nada nya frustasi.
“ Jika saja dia mencintai ku mungkin rumah tangga kita bahagia Grace, dan kau dengan tega menipuku selama bertahun-tahun...” Dia sendiri juga tak menyangka bahwa wanita yang ia menikahi selama beberapa tahun ini dengan tega nya telah menipu diri. Menyakiti nya sampai tak tersisa tapi untuk melupakan nya dia butuh waktu, untuk membenci nya tak semudah itu.
Donzello kini dengan sikap nya yang berusaha dingin memilih untuk keluar dari ruangan nya dia berjalan dengan perasaan yang sangat kacau dia yang berusaha melupakan nya malah membuat nya saat ini terjebak di sini.
“ Hanya malam ini dan kau bisa melewati nya...” Gumam nya sendiri dengan dia menuruni anak tangga dengan dia yang meneliti rumah besar nya yang terlihat sangat sepi.
Sedangkan Grace kini sudah duduk di kursi belakang rumah nya, taman rumah nya telah di sulap menjadi taman yang sangat indah dan romantis. Grace tersenyum dengan dia yang percaya diri.
“ Aku harap kau suka dengan semua yang aku atur seperti ini Don. Aku akan berusaha mengambil hatimu...” Gumam nya dengan pelan dengan dia menatap takjub pemandangan indah yang ada di depan nya.
“ Mungkin ini malam terakhir kita tapi aku berjanji akan membuatnya seperti malam yang pertama kita kenal dulu...” Senyum nya dengan dia yang berharap agar malam ini mereka bisa melewati malam yang indah dengan tawa yang penuh kebahagian.
“ Grace kau menyiapkan ini semua?” Donzello terpaku melihat semua yang ada di depan mata nya.
Dua tenda yang sudah terpasang serta lilin yang menyala di sekitarnya serta ada kursi untuk mereka berdua. “ Apa kau tak menyukai nya? jika kau tak suka kita bisa bicara di dalam saja.”
“ Tidak! Bukan seperti itu. Hanya saja ini terlihat sangat romantis. Kau tahu bukan kita hanya bicara semalam untuk mengakhiri hubungan rumah tangga kita...” Donzello menatap datar ke arah istrinya. Hatinya juga merasakan sakit ketika ia berbicara seperti itu.
Mana ada orang yang rela harus menghancurkan rumah tangga nya. semua orang menginginkan rumah tangga yang utuh bukan seperti dia yang hancur karena tabiat perselingkuhan.
“ Aku tahu tapi kita dulu waktu berkenalan baik jadi aku ingin di saat kita berpisah pun juga sama hal nya juga baik, aku tak ingin ada permusuhan yang kita jalin. Aku ingin kita tetap baik-baik saja seperti awal kita bertemu.”
Donzello menghela nafasnya dengan kasar. “ Kau benar. Aku tak ingin ada kebencian di antara kita...” Grace tersenyum meskipun Donzello hanya menatap datar ke arah nya.
__ADS_1
Dia yang berusaha untuk membenci sang istri tampaknya akan sangat kesulitan dia yang sudah tahu tentang penyakit istri nya saja dia masih menyimpan rasa itu kepada istrinya.
“ Duduklah Don.”
Mereka berdua kini duduk dengan saling berhadapan dengan ada semua hidangan yang ada di atas meja. “ Aku tak memasak nya. aku tadi memesan nya dari restoran yang biasa kita datangi waktu dulu kita berpacaran.”
Donzello hanya tersenyum tipis bayangan indah sewaktu bersama sang istri terlintas di benaknya, tawa kebahagian masih jelas waktu dulu. “ Kau ingat bukan?”
“ Hmm.. aku masih ingat dan kau juga ingat. Aku kira kau sudah melupakan nya...” Sindirnya dengan pelan.
“ Tidak! Aku tentu saja selalu mengingat semua yang pernah kita lakukan bersama.”
“ Benarkah?” Donzello menyipitkan matanya dengan dia yang seolah tak percaya apa yang dikatakan oleh istrinya saat ini.
“ Jangan menatapku seperti itu Don. Aku berkata jujur bahwa aku memang masih ingat semua nya. apapun yang pernah kita lakukan aku masih mengingat nya. mungkin karena aku yang terlalu bodoh mengabaikanmu jadi kau merasa aku campakan.”
“ Kau memang mencampakan ku...” Senyum nya dengan getir. Donzello ingat bahwa Grace mencampakan nya.
Semasa waktu mereka menjalani komitmen mereka sangat romantis bahkan semua orang iri dengan mereka tapi setelah pernikahan kebahagian itu dengan perlahan sirna begitu saja.
“ Aku minta maaf karena sikapku yang sudah keterlaluan pada mu. Mungkin salah ku tak bisa kau maafkan begitu saja hingga kau ingin menceraikan ku...” Senyum nya tadi kini hilang.
“ Aku sudah memaafkan mu grace hanya saja aku tak bisa terus berasam mu. Rasa cinta ku seakan hilang...” Elaknya dengan dia yang terlihat sangat gugup. “ Aku mencoba memberimu kesempatan berulang kali tapi kau tak pernah menyadari nya hingga kau sendiri yang mendorong ku pergi...” Sambungnya dengan menahan rasa sakit.
“ Aku tak pernah mendorong mu pergi Don. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan mu untuk menceraikanku karena aku sendiri yang bersalah karena tak pernah memberikan hal yang terbaik untuk mu.”
“ Mungkin aku juga yang terlalu memaksakan diriku pada mu. Jadi aku juga minta maaf. Ini juga bukan karena salahmu tapi juga salah ku...” Andaikan dulu Donzello juga tak memaksa nya menikah mungkin mereka tidak akan berada di ujung perceraian.
__ADS_1