Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Berusaha


__ADS_3

" Cerai!" Nadanya berubah menjadi terkejut.


" Aku akan segera mengurus surat perceraian kita Grace jadi aku harap kau tak mempersulit apapun, aku ingin semuanya menjadi mudah dan cepat."


" Tidak! Aku tidak mau!" Grace berlari menuju ke sebuah meja makan dia meraih sebuah pisau dengan cepat.


Srek!!!


Argh…


" Kakak!" Olivia berteriak dan segera berlari ketika melihat kakak nya kini telah memotong nadi di pergelangan tangan nya saat ini.


Tes!! Tes!!


Darah segar keluar begitu saja dari pergelangan tangan Grace.


" Apa yang kau lakukan Grace?" Donzello juga tampak panik dia tak menyangka istrinya bisa berbuat seperti ini.


" Jangan mendekat!" Olivia dan Donzello yang ingin mendekat kini terhenti ketika pisaunya diacungkan di depan mereka berdua. " Jangan mendekat! Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu."


" Jangan gila! Selama ini kau tak pernah menganggapku ada sekarang giliran aku yang pergi kau yang menahan ku, sebenarnya apa mau mu?" Teriaknya dengan kencang.


" Aku ingin mempertahankan rumah tangga kita Don hanya itu, aku ingin memulainya dari awal. Tapi kamu tak memberiku kesempatan sedikitpun, lebih baik aku pergi daripada aku harus kehilanganmu…" Dia sedikit pusing karena darah itu terus keluar dari pergelangan tangan nya.


" Kakak ayo kita kerumah sakit,jangan seperti ini…" Olivia kini sudah tak bisa berkata apa apa lagi selain hanya bisa menangis. " Kakak ipar aku mohon!"


" Grace letakan pisau itu ayo kita pergi kerumah sakit…" Don akhirnya membujuk sang istri agar dia juga mau dibawa kerumah sakit untuk menghentikan pendarahan yang ada di tangan nya.


" Aku tidak akan pergi sebelum kau menarik kata katamu untuk tidak menceraikanku."

__ADS_1


Donzello terdiam dia tak tahu harus berkata apalagi saat ini, semua yang direncanakan seakan berantakan saat ini.


" Kakak ipar aku mohon! Dia bisa mati! Aku hanya memiliki kakak ku!" Olivia menyentuh lengan Donzello yang dari tadi hanya diam seribu bahasa.


Donzello mengusap wajahnya dengan kasar. " Ayo kerumah sakit jika kau mati maka aku tak memiliki istri lagi dan itu mudah bagi ku tanpa harus mengurus surat perceraian."


" Donzello kau benar tega…" Grace yang sudah kehilangan banyak darah dengan dia yang sudah terasa pusing dari tadi kini segera terjatuh dengan dia yang pingsan seketika.


Bug!!


Dia jatuh ke lantai dengan segera, kedua orang itu segera berlari menghampiri Grace yang saat ini sudah tak sadarkan diri dengan dia yang tergeletak di lantai dengan darah yang terus keluar dari pergelangan tangannya.


Donzello tanpa berkata lagi dia segera menggendong tubuh istrinya, dia berlari menuju ke mobil nya dengan diikuti oleh Olivia yang ada di belakangnya. Dari tadi Olivia hanya bisa menangis melihat sang kakak yang begitu rapuh hingga dia berani untuk ingin mengakhiri hidupnya.


Donzello tanpa mengendarai mobilnya tanpa tau kondisi jalanan yang begitu padat, dia begitu kencang. Yang ada di pikirannya saat ini adalah dia segera tiba di rumah sakit. Hati kecilnya juga tak ingin melihat istrinya terluka seperti ini.


Aku mohon bertahan Grace, jika kau mati aku akan merasa sangat bersalah. Batinnya dengan dia yang tampak panik.


\=\=\=\=\=


" Kau sudah buat janji temu dengan dokter yang aku maksud hari ini?"


" Hmm.. kita langsung kesana jika kau mau sekarang untuk menemuinya."


" Baiklah ayo kita kesana saja, ada yang ingin aku tanyakan kepadanya…" Sang asisten hanya mengangguk mengikuti apa yang dikatakan oleh anaknya saat ini.


" Charlotte tapi kau sungguh ingin bertemu dengan dokternya? Maksud ku kau sungguh sungguh ingin bertanya tentang hal itu?"


Charlotte hanya menatap sang asisten dengan datar dia juga tak yakin sebenarnya ingin membuat janji dengan seorang dokter yang akan ia temui hari ini tapi tak ada pilihan lain selain dia juga harus bertindak.

__ADS_1


" Entahlah, sebenarnya aku juga tak yakin sekaligus takut tapi jika aku tak menemuinya aku malah semakin takut. Aku bingung saat ini…" Charlotte menutup wajahnya karena tampak jelas dia begitu cemas saat ini.


" Sekarang aku bertanya kepadamu katakan dengan jujur…" Sang asisten kini menatap ke arah Charlotte dengan serius begitupun sebaliknya dengan Charlotte yang juga menatapnya dengan serius.


" Kalaupun kau hamil apa kekasihmu itu tak mau bertanggung jawab? Maksudku kalian tak ingin menikah untuk membuat status yang baru. Ya aku tau saat ini kau memang belum hamil kau hanya ingin berkonsultasi tentang obat pencegah kehamilan, tapi apapun bisa terjadi setelah kita ada di sana nanti."


" Semuanya tidak semudah itu, aku dan dia memang sepakat untuk bersama tapi untuk berkata tentang anak di tengah tengah kami, mungkin dia sendiri juga belum siap. Kami masih saja baru saling mengenal tak mungkin dengan mudah membahas anak."


" Apa dia tak ingin menikahimu?" Sebuah pertanyaan yang membuat Charlotte seakan terdengar lagi kata kata manis dari Donzello.


Setelah semuanya selesai kita akan segera menikah aku tak ingin kita berpisah, apapun yang terjadi nanti kita akan tetap menikah.


" Menikah adalah kata kata yang selalu di ucapkan dia berulang kali ketika kami bertemu, tapi entahlah hati ku masih belum yakin tentang dia yang serius mengajak ku untuk menikah."


" Sayang Charlotte jika dia selalu membahas tentang pernikahan berarti dia bersungguh-sungguh dan aku yakin dia pasti akan menikahi. Lalu sekarang apa yang kau takutkan, untuk apa kau bertemu dengan dokter kandungan untuk berkonsultasi tentang obat pencegah kehamilan."


" Tidak semudah itu, aku dan dia masih memiliki penghalang yang tak mudah dia tinggalkan…" Charlotte sadar bahwa tidak mudah meninggalkan istrinya apalagi dua tahun ini mereka selalu bersama. Akan banyak pikiran yang dipikirkan.


" Penghalang?" Charlotte mengangguk dengan wajah lesunya ketika dia harus ingat bahwa dia tak hanya satu satu nya wanita yang ada di pikiran sang kekasih.


" Apa penghalangnya sosok istri?"


Deg!!


Tepat sasaran yang membuat Charlotte pucat di sana. Semuanya bisa ditebak dengan mudah saat ini. Masalahnya adalah dia mau menerima dan menanggung resiko untuk bersama orang yang sudah memiliki keluarga.


" Astaga jadi benar kau bersama dengan orang yang sudah memiliki istri?"


" Semuanya tak bisa aku hindari, semuanya sekarang menjadi sulit. Kami saling mencintai tapi penghalang itu juga tak mudah di lepaskan begitu saja."

__ADS_1


" Astaga Charlotte sayang kau membuat masalah mu sendiri, jika semua orang tahu kau menjalin hubungan dengan orang yang sudah memiliki istri, semuanya akan sulit untuk kalian berdua."


" Tapi kami tak bisa untuk saling pergi."


__ADS_2