Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Berusaha 2


__ADS_3

" Dokter… dokter.. tolong…istri saya melukai dirinya sendiri…" Donzello yang berteriak kencang membuat seisi rumah sakit yang berada di sana menatapnya segera.


Donzello meletakkan sang istri di bed yang telah di bawah oleh seorang suster, mereka mengikuti langkah nya dengan cepat. Tampak jelas di mata dan raut wajah Donzello begitu panik. Hati dan pikirannya kini tertuju ke istrinya yang terbaring lemah di sana.


" Maaf kalian tak bisa masuk! Biarkan kami yang menanganinya…" Donzello dan Olivia yang ingin masuk ke ruangan di mana Grace berada di kini harus ditahan oleh seorang suster dan mau tak mau mereka harus tetap berada di sana dengan menunggu di luar.


" Kakak ipar jika kakak tak bisa diselamatkan bagaimana hiks.. hiks."


" Dia pasti selamat, dia wanita yang kuat…" Jawabnya dengan dia duduk di kursi sebelah ruangan tersebut.


" Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Kenapa harus ada perceraian yang ingin kalian lakukan, maafkan kak Grace aku yakin dia akan bersungguh sungguh untuk mempertahankan rumah tangga kalian."


Donzello menghela nafasnya dengan kasar. " Tidak semua masalah rumah tangga kami kau harus tau."


" Tapi aku mohon kak beri kesempatan untuk nya, dia rela kehilangan nyawanya hanya untuk mempertahankan rumah tangga kalian, apa tak ada sedikit saja rasa itu untuk nya kak?"


Donzello diam dengan pemikiran yang hanya dia yang tau. " Di antara kita berdua kaulah yang paling tau seperti apa kakakmu itu, dan di antara kita berdua aku yakin kau yang paling tau kakakmu di luar sana seperti apa."


" Apa maksud kakak?" Dia gugup.


" Yang jelas aku tak bisa bertahan dengan kakakmu lagi, kau tau jawabannya kenapa aku tak bisa bertahan dengan kakakmu."


Deg!!


Apa yang dimaksud dengan kakak Don? Apa dia tau bahwa kakak berselingkuh di belakangnya atau apa? Kenapa dia tak berkata jujur saja.

__ADS_1


" Aku tak mengerti apa maksud kakak? Yang jelas saat ini kakak Grace sangat sadar bahwa dia mencintaimu."


Donzello tertawa pelan di sana dia kini dibuat ketawa dengan kata kata 'cinta' yang dikatakan adik iparnya saat ini.


" Cinta.. cinta.. dan cinta… kenapa setiap aku mendengar kata cinta dari kalian berdua terasa sangat mengelikan di perutku."


" Apa ada yang lucu jika seorang istri mencintai seorang suami kak?"


" Tentu saja tidak! Tidak ada yang lucu dengan kata cinta. Hanya saja cinta kakakmu sudah terlambat sangat terlambat. Kau tahu kami menikah dua tahun aku ingin keluarga yang bahagia saling membutuhkan dan saling mencintai tapi di sini hanya aku yang memiliki itu tidak untuk kakakmu, dan di saat aku ingin pergi kakakmu menarik ku lagi, untuk apa? Hanya untuk semua sumber uangnya tak hilang?"


" Sebenarnya siapa yang mempengaruhi mu kak? Aku tak percaya kakak ipar bisa berkata seperti itu dan begitu rendah memandang kakak Grace seperti itu…" Olivia kini tak percaya bahwa apa yang dikatakan kakak iparnya begitu melukai hatinya. Dia juga tak menyangka bahwa kakaknya bisa menilai rendah sosok istrinya saat ini.


" Sudahlah Oliv keputusan ku untuk bercerai dengan kakakmu sudah aku pikirkan lama, apapun yang kalian lakukan tak akan mengubah apapun dengan keputusanku."


" Dan tanpa aku menjawabnya pun kau tahu jawaban apa yang pantas kau dengar."


Jadi benar kakak ipar tahu tentang perselingkuhan kakak, dasar bodoh kau kak. Lihat sekarang kau sendiri yang mencari masalah dengan rumah tanggamu dan sekarang apa yang harus kau lakukan untuk mengikat kakak Don.


\=\=\=\=


" Charlotte kenapa kau hanya diam saja, ayo masuk kenapa berdiri di sini saja. Kita sudah di tunggu dokter di dalam…" Sang asisten menyentuh pundak Charlotte yang dari tadi hanya diam seperti patung.


" Aku tak jadi ingin bertemu dokter, ayo pulang saja…" Charlotte yang tadi melihat kekasihnya menggendong sosok wanita dengan cemas membuat hatinya kembali hancur.


Semua yang dikatakan dan semua janji yang dikatakan olehnya seakan lenyap seketika, dia yang melihat sendiri kecemasan itu membuat semuanya berputar putar seketika. Janji untuk pernikahan pun seakan tak ada gunanya saat ini.

__ADS_1


Dia masih sangat mencintai istrinya aku yakin dia sangat mencintai istrinya. Wajahnya yang panik tadi membuat semuanya jelas sekarang.


" Kau ini kenapa?"


" Tidak! Aku hanya ingin pulang, aku lelah…" Elaknya dengan cepat.


Padahal saat ini hatinya kembali hancur ketika melihat orang yang bersamanya dua hari ini selalu mengatakan cinta, selalu mengatakan untuk saling bersama kini terlihat jelas bahwa masih ada di cinta di wajah kekasihnya untuk istrinya.


" Kau pasti melihat sesuatu yang membuat hatimu terluka bukan? Katakan apa yang kau lihat?"


" Tidak ada! Aku benar lelah. Aku hanya ingin berendam air panas lalu tidur agar sedikit melupakan masalah ku."


Sang asisten kini menghela nafasnya dengan kasar. " Charlotte apapun yang lihat tadi kadang tak semua yang kau lihat adalah kebenaran jadi apapun yang ada di pikiranmu saat ini kau harus mengkonfirmasinya dulu dengan orang yang bersangkutan jangan ambil keputusan tanpa mendengar penjelasan."


" Entahlah! Percintaan ku begitu menyedihkan bukan. Aku dikhianati oleh tunangan ku sendiri lalu aku jatuh cinta dengan suami orang. Sepertinya aku terkena kutukan…" Charlotte tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri.


" Jangan berkata seperti itu tak baik. Sebaiknya kau pikir pikir dulu jika ingin bertahan di tengah tengah hubungan orang, menjadi pihak ketiga tak mudah dan tak enak, kau harus siap menahan hati dari rasa sakit karena kau harus berbagi laki laki yang kau cintai dengan wanita lain, dan kau juga tak boleh egois untuk ingin memiliki dirinya seutuhnya karena proses untuk memilih di antara kalian juga bukan hal yang mudah dia lakukan, semuanya butuh pertimbangan."


" Apa aku salah bertahan di tengah tengah mereka?"


" Kau memang salah karena kau berdiri di antara rumah tangga mereka tapi tak ada yang bisa menyalahkan cinta kalian. Tuhan yang mempertemukan kalian dan aku juga tak tahu takdir apa yang membuat kalian nanti bersatu atau berpisah. Tapi untuk saat ini jangan ambil kesimpulan dengan hanya melihat, dengarkan dulu apa yang ingin kau tanyakan."


Apa yang dikatakan oleh sang asisten benar tidak semudah yang dia pikirkan, saat ini mungkin semuanya terasa sulit dan sangat menyakitkan tapi dia juga tak mungkin untuk tak begitu saja pergi, kehilangan kemarin membuat dia sadar bahwa dia mencintai suami orang.


Tapi melihat kekasihnya begitu mencemaskan sosok istrinya tadi juga membuat dia berpikir bahwa tidak semudah itu meninggalkan sosok sang istri yang selama ini ada untuknya. Meskipun ada pengkhianatan tak bisa dipungkiri akan ada kata maaf untuk kesalahan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2