Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Setia


__ADS_3

“ Kau memang tidak akan mengatakan apapun yang kamu ketahui tentang suami ku...” Ucapnya dengan sangat sengit.


“ Maafkan saya Nyonya! Karena yang membayar saya adalah Tuan Donzello bukan anda...” Sang asisten kini membalasnya tak kalah sengit dari apa yang dikatakan oleh sang istri bos nya.


“ Aku bisa meminta suami ku memacat mu sekarang juga....” Ancamnya.


“ Silahkan jika anda bisa memecat saya!” Tantang nya balik yang membuat Grace merasa geram dan segera meninggalkan sang asisten yang juga menatap ke arahnya dengan tatapan datarnya.


Sedangkan di tempat lain Charlotte saat ini sedang bergelayut manja kepada laki laki tua yang sangat ia sayangi. Dia sudah seperti Ayahnya yang memuaskan dirinya dari masa kecil hingga saat ini.


“ Sayang lihatlah putri kita sudah terlihat dewasa tapi tetap saja dia masih manja seperti dulu...” Ucapnya dengan tersenyum senang.


“ Dia memang selalu manja kepada mu...” Jawaban sang istri yang di angguki oleh sang suami yang sangat bahagia melihat keponakan nya yang memancarkan kebahagian yang berseri.


“ Paman dan bibi adalah alasan ku selalu bahagia...” Ucapnya dengan dia yang terus tersenyum.


“ Kau pandai merayu kami!” Katanya dengan tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh sang keponakan satu satu nya yang sangat mereka sayangi.


Charlotte adalah putri satu-satu nya dari mendiang adik nya, ibu nya sebelum meninggal telah mempercayakan mereka merawat Charlotte. Dan benar kedua orang itu merawat Charlotte dengan suka cita, tak ada kesedihan yang tercipta. Mereka menghujani Charlotte dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu melimpah. Bahkan Charlotte tak dikatakan sebagai keponakan nya melainkan seperti putrinya yang mereka sayangi.


Drt!! Drt!!


“ Paman sebentar aku harus menjawab teleponku dulu.”


“ Pergilah.”


Charlotte sedikit menjauh ketika melihat nama siapa yang memanggil dirinya dari sambungan telpon nya saat ini. “ Honey.”


“ Sweetheart aku merindukanmu!” Ucapnya dengan nada yang tak bisa diartikan.


Charlotte tersenyum tipis wajahnya merona malu. Entah kenapa setiap mendengar kekasihnya menyatakan cinta atau hanya berkata ‘rindu’ membuatnya tersipu malu. “ Sayang kau selalu bermulut manis.”

__ADS_1


Donzello hanya terkekeh pelan di ujung telpon nya saat ini. “ Kau di mana? Apa sudah selesai pertemuan mu?”


“ Sudah! Tapi aku masih di luar.”


“ Hmm.. aku ingin bicara sesuatu tapi jangan memiliki pikiran apapun tentang aku!”


“ Ada apa?” Entah kenapa jantung mereka seakan berdetak tak karuan. “ Kau tak jadi menceraikan dia dan ingin kembali pada nya? sudah kuduga kau pasti berubah pikiran.”


“ Sebenarnya apa yang ada di otakmu itu hem?”


“ Kau pasti akan kembali padanya bukan?” Tubuhnya.


“ Tidak! Astaga! Kenapa kau memikirkan hal yang mustahil Honey...” Donzello malah tersenyum geli karena tuduhan sang kekasih yang langsung berucap sebelum mendengar apa yang ingin dikatakan oleh dirinya.


“ Lalu kau ingin berkata apa jika bukan itu?”


Donzello menghela nafasnya dengan berat. “ Don jangan membuat ku takut. Kau sudah berjanji kan untuk kita saling terbuka? Ada apa? Apa masalahnya serius?”


“ Kenapa? Pasti dia memintamu untuk pulang kan?” Lirihnya dengan getir. Hatinya seakan tertancap ribuan pisau hingga perih yang kurasakan saat ini. “ Aku mengerti! Kau bukan hanya untuk ku tapi kau juga memiliki nya.”


“ Sayang dengarkan aku bicara dulu! Kenapa kau suka sekali memotong pembicaraanku dengan omong kosongmu itu...” Geram nya karena sang kekasih selalu memikirkan hal yang tak penting saat ini.


“ Lalu apa?”


“ Aku ada undangan bertemu klien ku! sebuah pesta! Dan kebetulan Grace tahu jadi dia meminta ku untuk datang bersama nya. Aku sudah menolaknya tapi dia mengancam akan tetap tinggal di perusahan jika aku tak mengiyakan apa yang dia minta tadi.”


Charlotte menghela nafasnya. “ Tadi awalnya aku ingin mengajakmu pergi tapi Grace keburu tahu dan menggagalkan semua rencana ku. maafkan aku...” Sambungnya lagi dengan merasa bersalah. Bagaimanapun Donzello merasa sangat bersalah karena dia sendiri yang berkata akan selalu pulang ke tempat nya tapi sekarang malah ingin pergi bersama nya.


“ Tak apa Honey pergilah. Dia juga istrimu. Aku yakin di undangan itu ada namamu dan nama nya bukan ada nama ku karena kalian memang suami istri...” Getirnya dengan meremas hatinya yang terasa sakit.


“ Jangan bersedih ku mohon! Setelah acara selesai aku akan pulang ke tempatmu. Kita akan bersama.”

__ADS_1


“ Taka apa! Aku baik. Semuanya baik-baik saja. “


“ Charlotte.”


“ Tak apa Honey aku sungguh tak apa. Pergilah bersamanya karena memang dia adalah istrimu. Lagi pula hari ini aku akan tinggal di tempat Paman ku karena mereka juga memiliki acara mungkin besok aku akan pulang.”


“ Di mana alamatnya aku akan datang kesana.”


Charlotte hanya tersenyum. “ Tak apa Sayang. Aku baik jangan cemaskan aku oke. Kau hanya ke pesta bersama nya kan bukan untuk tidur dengan nya.”


“ Tentu saja aku tidak akan tidur dengan nya. jika perlu nanti aku akan menghubungimu jika aku sudah selesai.”


“ Baiklah!”


Charlotte hanya menatap kedepan, menatap dirinya dari pantulan kaca yang melihat nya dengan sosok wanita cantik. Wajahnya serta tubuhnya yang seakan sempurna malah menjadikan dirinya wanita ketiga yang tak ada arti nya.


“ Kenapa hati ku terasa sakit seperti ini. Padahal aku tadi berniat mengundangnya agar mengenal Paman dan Bibi ku tapi sayangnya dia pergi bersama istrinya...” Ucapnya dengan tersenyum getir di ujung bibirnya.


“ Ironis sekali hidupmu Charlotte. Kau wanita cantik. Semua laki laki banyak yang ingin berkenalan dengan mu tapi kau malah terjebak cinta segitiga yang ambigu seperti ini...” Gumam nya sendiri dengan dia yang hampir meneteskan air mata nya.


Rasa sakit saat ini sedang di nikmati oleh wanita cantik yang masih berdiri di depan kaca kamar nya. Hatinya terluka membayangkan sang kekasih melakukan apapun yang sudah menjadi kewajiban mereka selayaknya suami istri.


“ Membayangkan saja membuat ku terluka seperti ini. Kenapa mencintaimu harus sesakit ini ya Tuhan...” Dia meneteskan air matanya. Membiarkan butiran air mata menetes membasahi pipinya begitu saja. 


Dada nya terasa sesak merelakan kekasihnya harus pulang ke rumah istrinya. Membayangkan yang tidak-tidak membuat wanita itu terus gelisah dengan perasaan campur aduk. Hatinya tak tenang.


“ Aku tak boleh egois! Biarkan dia bersama dengan istrinya. Mungkin mereka sedang bicara hati ke hati. Jika mereka kembali pun aku harus terima...” Gumam nya dengan nada yang serba salah.


Merelakan sang kekasih dengan wanita lain adalah kebohongan terbesar seorang wanita. Harusnya jika tak rela katakan tak rela tak perlu berbohong demi menjaga hati seseorang tapi dia sendiri yang terluka.


Hatinya rapuh hanya saja dia tak ingin terlihat sedang terluka. Dia harus menerima setiap konsekuensi setiap apa yang ia putuskan.

__ADS_1


__ADS_2