Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Pulang 4


__ADS_3

" Argh…." Teriaknya dengan keras.


Prank!! Prank!!


Wanita itu mengamuk dan menghancurkan semua yang ada di depannya saat ini. Nafasnya memburu ketika dia mengingat apa yang dikatakan oleh suaminya tadi.


Matanya melotot karena amarah yang tak terbendung. Dia yang sudah menyiapkan segala sesuatu hari ini kini berantakan. Dia menatap dirinya di depan cermin wajahnya berantakan dan nasibnya sungguh naas.


" Donzello kenapa kau menolakku sekarang? Kenapa?" Teriaknya lagi dengan kencang.


" Argh…" Teriaknya lagi dengan nada tinggi serta membanting semua yang ada di dalam kamar itu.


Bunga yang menghiasi kamar itu kini telah dilepas dengan emosi, dia membuangnya dengan rasa marahnya. Bunga yang bertaburan di kasur tadi kini juga dia berantakan karena percuma mereka tak akan menghabiskan waktu bersama hari ini.


Dia yang mengamuk karena rasa lelahnya kini dia berhenti dengan nafas yang memburu, dia merasa kesal dan kecewa. Sang suami sungguh tak melihat kearah saat ini bahkan bersikap hangat saja dia tak lakukan hari ini.


Grace yang berusaha untuk membuka hati kepada suaminya malah di hadapkan oleh kenyataan pahit, sang suami yang bersikap hangat kini malah menjadi dingin karena ulahnya sendiri.


Dia menatap sekeliling kamar nya yang telah berantakan tak karuan saat ini. Dia memejamkan matanya meredakan emosinya yang dari tadi memuncak.


" Grace sabar, dia hanya marah karena kau selama ini bersikap dingin. Dia hanya ingin melihat kau benar benar berubah atau tidak…" Dia menyakinkan dirinya sendiri.


Tetapi hatinya kini masih dipenuhi dengan rasa marahnya, dia yang telah membuat suasana romantis ini harus hancur tak ada gunanya saat ini. Tetapi Grace juga tak bisa berbuat apa apa kecuali hanya diam di dalam kamar dengan menunggu kedatangan suaminya pulang.


Sedangkan Barnard kali ini merasa hancur dia yang tak menyangka bahwa tunangannya tak ingin kembali lagi bersama nya saat ini. Ditambah lagi sebuah kepahitan yang dikatakan olehnya tadi membuatnya dia merasa terluka.


Bug!!


Barnard memukul dinding yang ada di sana dia sungguh marah dan tak bisa dilampiaskan. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri, karena melukai wanita yang ia jaga selama ini.

__ADS_1


" Bodoh.. kau bodoh Barnard! Harusnya kau menahan hasrat mu itu!" Katanya dengan menyandarkan wajahnya di tangannya yang masih berada di dinding tersebut.


Amarahnya sungguh menguasai dirinya saat ini. Dia memejamkan matanya dengan rasa penyesalan yang begitu tinggi. Barnard kini menyesal tapi seperti nya itu tak akan membuat semua kejadian yang saat ini kembali seperti semua.


" Argh…" Teriaknya dengan frustasi.


Prank!!


Dia kali ini langsung membanting gelas itu, dinding itu kini menjadi bahan pelampiasan emosinya yang tak terbendung. Kaca itu berserakan di bawah dengan cepat, nafasnya sungguh memburu ketika emosi itu masih berada di hatinya.


Prok!! Prok!! Prok !!


Suara tepuk tangan dari atas tangga membuat laki laki itu langsung menoleh dengan mata yang melotot. Dia tak menyangka siapa yang berada di tengah tengah tangga tersebut.


" Untuk apa kau ada di sini ha?" Bentaknya dengan nada tak suka.


Barnard menghempaskan tangan orang itu ketika tangannya menyentuh pipi dirinya dengan lembut. Orang itu hanya tersenyum sinis menanggapi apa yang dilakukan oleh laki laki yang sedang terluka.


" Jadi kau tak ingin ku sentuh karena kau masih menginginkan wanita yang sudah membuangmu…" Ucapnya dengan sinis bahkan dia menyilangkan tangannya di dada nya menatap laki laki yang ada di depannya yang juga menatapnya dengan amarahnya.


" Keluar! Aku tak ingin kau ada di sini!" Usirnya dengan menekan kata katanya.


" Aku di sini hanya ingin menghiburmu yang sedang terluka! Apa aku salah. Aku ingin menjadi teman yang baik yang tak ingin meninggalkan temannya yang terluka dan sedih…" Ejeknya dengan senyum bahagia.


" Aku tak butuh kau ada di sini! Keluar dari sini sekarang. Aku bisa mengurus diri ku sendiri…" Usirnya lagi.


Wanita itu bahkan tak peduli dia bahkan malah duduk di sofa sana dia menatap laki laki itu yang mengusirnya dari tadi.


" Barnard sayang aku ingin di sini,aku ingin menghiburmu…" Katanya lagi dengan tersenyum. " Tapi sebaiknya kau tak perlu sedih, wanita seperti dia tak berhak kau pikirkan. Ada aku di sini yang akan menemani mu sampai kapan pun."

__ADS_1


Barnard kini tambah emosi ketika orang itu malah mengatakan hal tersebut. Barnard dengan emosinya kini menghampiri wanita itu dengan mata yang seakan hampir lempas.


Plak!!


Sedangkan di apartemen lain laki laki yang gagah itu kini mendekap kekasihnya dengan erat seakan dia tak ingin meninggalkan wanita itu.


" Honey kau ini kenapa? Jika kau seperti ini aku tak bisa bernafas!" Protesnya ketika laki laki mendekapnya dengan erat.


" Sayang kau membuat ku takut atas ucapanmu tadi…" Jawabnya dengan menatap kekasihnya dari arah samping.


Saat ini ada dua yang tengah dipikirkan oleh laki laki itu. Dia yang takut kehilangan simpanannya saat ini juga merasa ketakutan tetapi satu sisi saat ini dia juga tengah memikirkan istrinya.


Istrinya berubah dengan ada yang aneh, sejak pulang tadi istrinya sangat mendekatinya dengan menggodanya dari tadi. Meskipun tadi dia hampir melakukannya tapi dia sadar bahwa ada wanita lain yang menunggunya.


" Sayang apapun yang aku katakan tadi memang ada benarnya. Kau harus memikir-"


" Jangan katakan apapun lagi tentang perpisahan ini sayang, aku sungguh tak ingin berpisah dengan mu. Keputusan yang sudah aku ambil tak bisa aku tarik lagi, aku akan mempertahankanmu apapun yang terjadi nanti. Tapi ku mohon beri aku waktu untuk menyelesaikan ini semua dengan dia…" Lirihnya dengan nada sedihnya.


Charlotte menatap mata Don yang memancarkan ketulusan yang sesungguhnya, dia tak peduli dengan apapun saat ini. Yang ada didepannya saat ini ada laki laki yang ingin bersamanya.


" Sampai kapan waktu itu?"


" Secepatnya, aku akan selesaikan urusan ku dengan dia! Tapi ku mohon jangan pernah katakan bahwa kau akan pergi dari sisiku."


Charlotte mengangguk dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya saat ini. Dia juga telah mengambil keputusan untuk menunggunya. Donzello memeluknya dengan erat kembali, pelukan hangat kini mereka rasakan kembali.


Pelukan yang membuatnya nyaman, pelukan yang membuat mereka saling memiliki satu sama lain. Malam ini mereka kembali merengkuh kehangatan dengan saling berpelukan dengan erat.


Donzello masih terjaga memikirkan apa yang harus dilakukan saat ini. Dia yang sudah mengambil keputusan untuk tetap bersama simpanannya kini harus segera memikirkan perpisahan dia dengan istrinya sebelum semuanya terbongkar dan membuatnya menjadi kacau.

__ADS_1


__ADS_2