
Donzello menyentuh pipinya yang terasa panas dan kebas tapi dia tak membalasnya dia hanya tersenyum tipis dengan senyuman yang begitu kecut
" Don aku tak bermaksu-" Grace tak melanjutkan ucapannya ketika tangan Don terangkat untuk berhenti untuk berkata.
" Kau menamparku untuk apa?" Tanya dengan menatap istrinya.
" Don aku mencintaimu, aku istrimu. Aku memang salah selama ini tapi beri aku kesempatan satu kali lagi untuk membenahi semuanya dari awal…" Katanya dengan suara yang bergetar.
" Aku! Aku bisa memaafkan dan melupakan semua yang kau katakan tadi. Aku memaafkanmu jika kamu ada main di belakangku, aku tak masalah Don, asal kita bisa memulai dari awal lagi, kita pasti bahagia dan aku janji aku akan meninggalkan semua nya untukmu…" Grace menyakinkan suaminya agar tak ada perpisahan saat ini.
" Tak ada yang bisa kita ulang dari awal Grace. Cinta ku sudah luntur, aku sudah tidak mencintaimu lagi, jadi lepaskan aku. Biarkan aku pergi bersama orang yang aku cintai…" Tolaknya dengan tegas.
" Tidak! Tidak! Aku yakin cinta akan tumbuh lagi di hatimu untuk ku, kau hanya kesepian waktu itu aku tau. Kau tak sungguh bermain di belakang ku, aku tau kau sangat mencintaiku, kau tak mungkin dengan mudah berpaling dari ku."
Donzello kini kembali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya saat ini. Grace menatap suaminya dengan kening mengkerut.
" Dan kau memanfaatkan aku karena aku mencintaimu, kau pikir jika aku mencintaimu kau bisa berbuat semaunya kepada ku hingga kau akhirnya tak pernah menganggapku ada hingga kau dengan mudah selalu berpikir bahwa aku sangat mencintaimu dan tak mungkin meninggalkanmu. Benar bukan?"
" Tidak Don! Aku minta maaf aku salah, aku akan meninggalkan kebiasaan ku demi mu saat ini. Aku ingin rumah tangga kita baik baik saja dan aku ingin mempertahankan rumah tangga kita. Aku mohon pikirkan semuanya, cinta kita berdua, impian kita untuk memiliki seorang anak di tengah tengah kita…" Air matanya terus mengalir dengan dia berharap bahwa suami berubah pikiran saat ini.
" Hanya aku yang menginginkan anak di pernikahan ini Grace, hanya aku!" Teriaknya dengan keras. " Dua tahun aku berdiri di antara cinta yang tak pernah kau gapai, aku suami mu tapi aku tak pernah bisa menjangkau dinding yang ada di tengah kita. Kau pikir aku tak sadar bahwa kau memasang benteng tinggi selama dua tahun ini, apa kau pikir aku bodoh tak melihat semuanya itu?" Katanya dengan nada tinggi.
" Aku tahu! Aku tahu! Dan aku minta maaf! Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita Don, aku tak ingin kita berpisah hanya karena masalah sepel-"
" Sepele kau bilang?" Donzello semakin tak mengerti kenapa istrinya menganggap semua masalah begitu mudah diselesaikan. " Kau pikir selama dua tahun ini masalah sepele heh?"
__ADS_1
" Bukan seperti itu maksud ku."
" Lalu seperti apa?" Grace hanya diam dia tak tahu harus menjawab seperti apalagi.
Apa yang dikatakan oleh dirinya seakan mudah dibantah oleh suaminya saat ini. Derai air mata itu terus mengalir hatinya terasa sesak tubuhnya bergetar. Tatapan sang suami yang dingin seakan menusuk ke jantungnya.
" Kenapa kau diam? Sekarang aku bertanya kepadamu, kau ingin memperbaiki gelas yang sudah hancur karena kau banting, dengan apa kau menatanya lagi? Apa gelas itu akan kembali utuh?" Tanyanya dengan menatap ke arah Grace dengan datar.
Grace saat ini diam dia tak bisa menjawab apapun, dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Kata kata suaminya seakan tak bisa dijawab olehnya saat ini.
" Kau diam karena kau tau jawabannya adalah tidak bisa utuh lagi…" Don menekan kata kata nya. " Seperti itulah hati ku dan rumah tangga kita sekarang, semakin kau berusaha menahan ku maka semakin rumah tangga kita berantakan. Aku tak bisa bersamamu lagi."
Donzello kini menarik kopernya dengan segera meninggalkan sang istri yang terus menangis di sana. " Jangan persulit perceraian kita Grace, aku akan memberikan hak mu selama dua tahun ini dengan suka rela tapi jika kau menghambat perceraian ini dengan membuat drama maka jangan salahkan aku jika aku juga tak akan memberikan apapun dengan tega…" Ancamnya.
Donzello kini segera pergi meninggalkan kamar yang sekarang berantakan tak berubah kamar. Grace yang menangis kini menghapus air mata dengan cepat, dia yang tadi tertegun mendengar ucapannya dan ancaman yang suami kini sadar bahwa dia tak bisa seperti ini.
Tap!! Tap!! Tap!!
" Sayang jangan pergi please jangan tinggalkan aku, kita bisa bicara baik baik. Kita bisa memulainya dari awal. Aku bisa memaafkan semua kesalahanmu tapi aku mohon maafkan aku juga. Kita bisa mulai dari awal lagi…" Donzello kini tak peduli meskipun Grace merengek dengan dia yang memegang koper miliknya.
Donzello tak peduli dia terus berjalan dengan cepat, dia bahkan tak menjawab apapun yang dikeluarkan oleh sang istri.
" Sayang aku mohon! Jangan pergi! Hiks hiks…" Semua orang yang ada di sana kini secara langsung menatap pasangan yang saat ini sedang bertengkar. " Don please jangan pergi aku masih mencintaimu, aku salah aku rela melakukan apapun asal kau bisa tetap di sini memaafkan aku!"
" Kakak ada apa ini?"
__ADS_1
Langkah Donzello dan Grace kini terhenti ketika melihat adik dari Grace saat ini berada di depan mereka. Donzello menghela nafasnya dengan kasar.
" Oliv bujuk kakak iparmu agar dia tak pergi dari sini…" Grace meminta bantuan kepada adiknya karena semua orang tahu bahwa Olivia lah yang selalu bisa membujuk kakak iparnya ketika sedang marah.
" Oliv kakak iparmu akan pergi dari sini, dia akan meninggalkan kita kenapa kamu hanya diam saja. Ayo bujuk kakak iparmu…" Sambungnya lagi dengan dia memohon kepada adiknya.
Donzello hanya menatap ke arah Olivia dengan datar. " Kakak jangan pergi, maafkan kak Grace jika dia salah. Kalian bisa duduk bersama dan saling bicara jangan seperti ini. Kalian bisa bicara baik-baik, jangan mengambil keputusan disaat sedang kepala panas."
" Semuanya sudah aku pikirkan dengan matang-matang dan aku sepertinya sudah tak bisa bertahan dengan kakak mu yang selalu mementingkan semua teman nya."
" Tapi kakak semua-" Olivia terdiam ketika tangan Donzello terangkat.
" Dua tahun aku bertahan dengan orang yang memasang dinding tebal di depan ku, dan dua tahun juga aku berusaha merobohkannya, tapi tak pernah berhasil. Kau lebih tau bagaimana sikap kakak mu kepada ku, jadi jangan halangi aku untuk pergi."
" Kakak aku tahu mungkin kakak Grace salah, aku minta maaf. Kak Grace biarkan kak Donzello pergi untuk menenangkan pikirannya, jika kakak ipar sudah tenang dia akan kembali, benar kan kak?"
Donzello membuang nafasnya dengan kasar. " Aku tak akan pernah kembali, karena aku akan segera menyiapkan surat gugatan
perceraian."
Deg!!!
Nah loe percerain
Bersambung Besok jangan lupa tinggalkan jejak kalian,
__ADS_1
Makasih ya