
Lima hari berlalu begitu cepat, cinta di antara kedua insan itu kini saling menyatu dengan sempurna. Mereka saling berbahagia, canda tawa kini menemani hari hari mereka berdua saat ini.
Malam yang indah kini juga tengah mereka rasakan, kedua insan kini saling menyiapkan dirinya untuk pesta perpisahan di atas kapal pesiar besar ini.
Malam ini adalah malam terakhir mereka semua berada di dalam kapal, mereka besok sore sudah harus turun dari kapal dan masa liburan kali ini berakhir dengan rasa bahagia.
" Honey lihatlah apa aku pantas memakai gaun ini?" Charlotte berdiri di depan cermin ketika kekasihnya keluar dari kamar mandinya.
Donzello tertegun melihat kecantikan kekasihnya yang begitu sempurna di matanya malam ini. Gaun merah yang di atas lutut serta rambutnya yang terurai serta make up tipis itu menambah kecantikan wanita itu.
" Honey kau mendengar apa yang aku tanyakan atau tidak?" Charlotte merasa kesal karena kekasihnya tak menjawab pertanyaan nya malah hanya diam seribu bahasa.
" Donzello…" Nadanya tinggi membuat laki laki itu tersadar dari rasa kagumnya.
Donzello menatap kekasihnya dengan sedikit tersenyum kali ini. Dia menghampiri kekasihnya yang masih berdiri di depan cermin dengan menekuk wajah ayunya.
Donzello yang masih menggunakan handuknya kini segera memeluk kekasihnya dari arah belakang.
" Apapun yang kau pakai akan selalu kalah dengan wajahmu yang cantik…" Katanya dengan mencium pipi kekasihnya dengan rasa gemasnya.
" Jangan merayu ku Tuan Donzello! Karena aku tak akan mudah termakan rayuanmu itu…" Jawab nya dengan tersenyum.
" Apa perlu kita tak perlu keluar malam ini! Aku ingin menghabiskan malam ini di sini bersamamu saja."
Donzello menyesap leher kekasihnya, menggigitnya pelan agar meninggalkan bekas tanda kemerahan yang akan terlihat nanti.
" Ugh… Honey…" ******* Charlotte kini keluar begitu saja ketika kekasihnya menggoda dirinya.
Charlotte melenguh ketika sesuatu menyentuh pantatnya, sesuatu terasa terbangun di balik handuk putih yang melilit sempurna di pinggang laki laki tersebut.
" Honey…" Charlotte memejamkan matanya menikmati sentuhan tersebut.
Dia tak akan pernah bisa melawan api gairah yang selalu sengaja di siramkan oleh kekasihnya itu. Charlotte tak pernah menolak apa yang selalu di berikan oleh kekasihnya.
" Kita tak perlu keluar! Aku ingin memakanmu saja…" Bisiknya dengan tepat di telinga wanita itu.
__ADS_1
Charlotte yang tadi memejamkan matanya kini membukanya dengan segera, tangan laki laki itu kini membalikan tubuhnya agar mereka saling berhadapan dengan sempurna.
Donzello yang ingin menggapai bibir wanita itu harus ditahan oleh tangan wanita itu.
" Honey jangan merusak make up ku…" Rengeknya dengan menutup bibir kekasihnya.
" Tapi aku ingin kita tak perlu keluar Sayang…" Katanya lagi dengan menyingkirkan tangan wanitanya.
" Astaga honey! Setelah pesta kita bisa melakukan apapun yang kau mau."
" Benarkah?"
" Ayolah Honey! Kita malam ini terakhir di sini, akan ada pesta kembang api yang akan menemani malam kita nanti."
Kedua tangan Don kini berada di leher wanitanya, merangkulnya dengan lembut serta senyum yang begitu mengembang.
" Baiklah! Kali ini aku akan menurut dengan mu dan kau bisa lari sekarang. Tapi setelah pesta kau tak akan bisa lari dari ku…" Godanya dengan tersenyum penuh gairah.
" Aku tak akan lari nanti…" Jawabnya dengan senang.
Sedangkan di rumah besar itu Grace masih tampak sangat murung, wajahnya masih ditekuk dengan kesedihan yang mendalam. Kepergian kekasihnya yang sesama jenis rupanya sangat berpengaruh besar pada hari hari wanita itu.
Wayahnya kini terlihat sangat kusut, rambutnya sedikit berantakan dia tak pernah mengurus dirinya seperti biasanya. Dia lebih banyak diam dibanding seperti biasanya. Dia masih sangat terluka atas kepergian kekasihnya nya itu.
Olivia yang selalu ada di sana memperhatikan kakaknya kini merasa geram karena kakaknya tak seperti dulu, padahal besok sore kakak iparnya telah datang setelah satu minggu berlayar untuk urusan pekerjaannya.
" Kakak ayolah jangan seperti ini? Hidupmu harus terus berjalan jangan seperti orang yang akan mati!" Olivia merasa kesal karena kakaknya masih saja terpukul atas kepergian selingkuhannha.
Grace hanya diam tak menjawab perkataan adiknya, dia tak peduli dengan adiknya saat ini. Yang dia pedulikan saat ini adalah dia yang masih berpikir bagaimana caranya agar selingkuhan itu kembali ke sisi nya.
" Kakak ayolah please jangan seperti ini! Kau seperti mayat hidup. Kau tak mengurus badan mu, ingat kakak! Kakak ipar besok kembali, jika kau seperti ini maka dia akan curiga pada mu."
Perkataan sang adik membuat dirinya melotot dengan sempurna dia tak tahu bahwa suaminya akan datang besok tapi sepertinya dia tetap tak peduli dengan kedatangan suaminya itu.
" Aku tak peduli laki laki itu datang atau tidak!" Ucapnya dengan sinis.
__ADS_1
Bruak!! Olivia menggebrak meja makan itu membuat sang kakak yang awalnya terkejut kini kembali menatap ke arahnya dengan tatapan sinisnya. Mereka saling beradu pandang dengan tatapan amarah yang saat ini mereka rasakan.
" Aku tak mau tau kak! Jika kakak seperti ini terus dan tak peduli dengan kakak ipar, aku sendiri yang akan menemui selingkuhan mu itu dan akan memakinya habis habisan…" Ancamnya dengan nada sungguh sungguh.
" Jangan berani sekali kali kau melakukan hal itu! Aku bisa melakukan apapun untuk melindungi nya…" Nada serius juga terlontar dari bibir wanita itu.
" Lakukan saja apa yang kakak mau! Tapi aku juga akan melakukan yang aku jika kakak tak berubah dan berusaha untuk mencintai kakak ipar. Suda cukup bertahun tahun aku diam selama ini, sudah cukup aku mendiamkan kakak tentang semua ini. Jika kakak besok tak kembali seperti biasanya lihat saja aku akan memaki selingkuhan mu itu…" Olivia merasa lelah dengan keadaan kakaknya yang tak pernah membuka hatinya untuk kakak iparnya.
Selama ini kakak iparnya lah yang selalu ada untuk mereka, menjadikan hidup mereka lebih layak seperti sekarang.
" Satu lagi! Ini bukan ancaman omong kosong kaka, jika kakak berani mencoba nya maka kakak akan melihat sendiri, hal tekad apa yang bisa aku lakukan untuk selingkuhan mu itu…" Olivia yang baru saja mengatakan itu kini langsung pergi meninggalkan kakaknya yang hanya diam seribu bahasa.
Grace berdiri dari duduknya berlari dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Malam ini malam yang begitu berat baginya. Malam di mana dia harus mendengar ancaman dari adiknya sendiri.
Bruak!! Pintu kamar itu ditutup dengan keras membuat seluruh orang yang di dalam rumah itu bisa mendengarnya. Sedangkan dari arah dapur seorang telah mendengar semua yang dikatakan oleh kakak adik tersebut.
" Astaga jadi Nyonya selama ini bermain api di belakang Tuan…" Dia tak menyangka bahwa Nyonya nya berani bermain api selama ini.
" Aku tak percaya bahwa Nyonya seperti itu! Dan Nona Olivia juga tahu hal itu. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan kepada Tuan?" Bimbangnya dengan apa yang akan dia lakukan saat ini.
" Argh…." Grace berteriak memberantakan semua yang ada di dalam kamarnya dia merasa sangat terpukul.
Kesedihannya tak bisa ada yang mengerti saat ini, hanya ada luka dan rasa sedih tapi tak ada satupun yang mengerti seperti apa rasa sakit hatinya saat ini.
" Tak ada satupun yang mengerti posisi aku yang terpuruk saat ini! Yang ada hanya Kakak ipar kakak ipar!" Katanya dengan nada tinggi.
Prank!! Prank!! Semua barang barang itu berantakan menjadi satu, seluruh parfum dan gelas serta vas bunga kini berjatuhan menjadi satu saat ini. Kamar mewah itu berantakan tak karuan saat ini.
" Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus melupakan nya dan menerima suami ku? Apa yang harus aku lakukan?" Teriaknya dengan mata yang melotot.
Nafasnya memburu amarah itu kini menguasai hatinya, pikirannya menjadi kosong saat ini. Hanya selingkuhannya yang ada di pikiran dan hatinya tapi dia juga harus berpikir tentang nasib nya.
Ancaman sang adik Olivia tadi masih terdengar di telinganya, jika dia tak menyanbut suaminya maka semuanya akan menjadi berantakan. Kesempatan untuk kembali dengan selingkuhannya akan hilang.
Grace berpikir keras apa yang harus mereka lakukan dengan kesedihan yang mendalam tapi Donzello saat ini tak memikirkan tentang istrinya dia sedang berbagi dengan simpanannya yang berkedok kekasihnya saat ini.
__ADS_1
Dia tak pernah memperdulikan istrinya yang selama dia berada di sini tak mendapatkan kabar dari istrinya secara langsung. Hati dan pikirannya saat ini sedang tergila gila dengan sosok kekasihnya, wanita cantik yang selalu membuat hatinya berbunga bunga dengan merasakan setiap hari cinta yang semakin tumbuh dengan sempurna.