Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Pesta 1


__ADS_3

“ Cantik sekali putri ku...” Pujinya sang bibi yang membuat wajah semu merah tampak jelas di wajah wanita cantik yang saat ini memakai gaun berwarna hitam di atas lutut memperlihatkan punggung nya serta jenjang kaki nya.


“ Terima kasih Bibi. Bibi juga cantik...” Pujinya kembali dengan tersenyum.


“ Kau seperti mendiang Ibu mu. Dia semasa mudah sangat cantik seperti dirimu…” Puji sang Paman yang melihat keponakan nya sang cantik seperti dia melihat adiknya semasa umur seperti Charlotte.


“ Benarkah?”


“ Kau memang sempurna karena perpaduan Ayahmu dan Ibumu...” Pujinya lagi.


Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini Charlotte memang sangat cantik. Rambut panjang nya yang biasa di terurai saat ini telah di tata rapi dengan memperlihatkan punggung putih mulusnya.


“ Paman yakin semua mata akan melihat ke arahmu dengan pandangan memuja...” Timpal sang Paman yang dari tadi berdiri di depan pintu kamar nya.


“ Bibi yakin akan banyak yang meminta kami menjodohkan putranya dengan mu. Jika nanti ada yang meminta nya kau harus melihat dulu putranya jangan langsung kau menolak nya.”


“ Istri ku dia sudah menentukan hidupnya dengan Barnard jangan mulai menjodohkan nya dengan laki laki yang tak dicintai.”


“ Tak ada salahnya melihat laki laki lain sebelum mereka menikah bukan? Lagian mereka masih merencanakan pernikahan bukan menikah sekarang. Jadi sah-sah saja jika Charlotte ku melihat laki laki lain...” Ucapnya dengan nada bersungguh-sungguh.


“ Jangan dengarkan apa yang dikatakaN bibimu. Tetaplah pada pendirianmu sayang.”


Charlotte menghela nafasnya dengan kasar. “ Aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Barnard.”


“ APA?” Kedua orang yang dari tadi berdebat kini merasa terkejut mendengar perkataan yang membuat mereka terkejut bukan main.


“ Kau berkata apa?” Bibi seakan menyakinkan telinga nya.


“ Kau benar Bi, dia tak baik. Dia bermain di belakang ku dan aku langsung mempergoki nya di dalam kamar...” Ucapnya dengan menunduk sedih.

__ADS_1


“ Astaga!” Bibi nya kini langsung memeluk keponakan nya yang terlihat begitu sedih. “ Kau dengar sendiri bukan bahwa dia bukan yang pantas untuk keponakan kita.”


“ Kau sudah membicarakan ini? Jadi kalian membatalkan pernikahan kalain?”


“ Aku memutuskan secara sepihak Paman. Aku tak sudi menerima bekas dari jalan*...” Ucapnya dengan menatap Temannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“ Bajing*n itu harus menjelaskan kepada Paman. Dia dulu memintamu kepada Paman dan sekarang dia tega menyakiti nya. lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk nya...” Ucapnya dengan geram.


“ sudahlah Paman jangan berbuat yang tidak-tidak. Aku tak ingin semuanya rumit. aku hanya ingin membatalkan semuanya dan tak ingin kembali kepada nya. rupanya Tuhan masih sayang pada ku karena memperlihat kan dia sebelum pernikahan kami berlangsung.”


“ Keputusanmu memang benar sayang. Bibi memang tidak pernah suka dengan laki laki seperti dia. Kau tahu bibi bahkan pernah bertemu dengan nya sewaktu dia bersama wanita lain...” Bongkar nya dengan terang-terangan.


“ Benarkah? Kenapa Bibi hanya diam saja tak mengatakan apapun kepada ku waktu itu.”


“ Karena Ibu tak mau melihatmu bersedih dan malah menuduh Bibi yang tidak-tidak jadi Bibi hanya bisa berdoa agar Tuhan menunjukan siapa Barnad itu.”


“ Bibi kau benar dia memang bajinga8 dan aku terlambat menyadari nya.”


“ Sudah jangan dibahas lagi. Masalah Bernard biarkan Paman yang mengurusnya sebaiknya sekarang kita pergi ke tempat yang sudah kita tentukan...” Kedua wanita itu saling mengangguk dengan tersenyum di bibirnya.


Sedangkan sang bibi yang dari tadi senang bukan main memiliki banyak rencana agar keponakan nya bisa mendapatkan laki laki yang pantas dan laki laki yang baik tidak seperti Barnard yang berganti pasangan sesuka hatinya. Sang Bibi memang dari awal sangat tidak suka dengan Barnard tapi apa dikata jika keponakan nya menyukai nya di tambah suaminya mendukung percintaan mereka.


Tapi untuk masalah pekerjaan Brand memang unggul dalam segala bidang tak dapat diragukan lagi soal itu. Karena nama nya juga tetap setia bertengger di nama orang orang yang paling sukses berapa tahun ini dan dia adalah anak mudah yang sukses di dalam dunia bisnis nya. dia mampu bersaing dengan ribuan nama yang ada meskipun dia masih kalah jauh dengan satu nama yang setia menempatinya. Nama nya tak pernah tergeser sama sekali. Sudah terhitung dari enam tahun nama itu masih ada di jajaran utama untuk kesuksesan nya maupun orang yang paling kaya di negara tersebut.


“ Kau sudah siap?”


“ Hmm...” Gumam nya tanpa melihat ke arah orang yang sedang bertanya kepada nya.


“ Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?”

__ADS_1


“ Hmm...” Hanya gumaman yang ia dengar.


“ Aku sudah siap. Kapan kita pergi?”


“ Nanti jika acara tinggal sedikit.”


“ Donzello kau tak berniat datang bukan?”


“ Kau yang memaksa ku datang bukan..” Jawabnya dengan tenang.


“ Baiklah jika kau tak mau datang sebaiknya kita ke kamar saja aku ingin tidur dengan suami ku...” Ajaknya.


Donzello menutup laptop yang dari tadi ada di depan matanya ia berdiri yang membuat sang Istri tersenyum. “ Kita berangkat sekarang.”


Kecewa! Hanya itu yang dirasakan oleh Grace saat ini. Grace yang berpikir bahwa sang suami berdiri karena mendengarkan apa yang dia katakan kini harus menelan kekecewaan karena sang suami malah memilih datang ke acara pesta dibanding tidur bersama nya saat ini.


Grace hanya tersenyum getir ketika sang suami seakan memasang dinding tebal dan tak tersentuh oleh apapun. Dia yang tak biasa diperlakukan dingin dan cuek kini semakin sadar bahwa hatinya terluka karena sikap sang suami.


“ Mungkin dulu dia sering merasakan rasa ini!’ Dia memejamkan matanya merasakan hatinya seperti tertusuk belati ribuan banyak karena hati nya begitu perih ketika melihat sang suami tak berbicara sedikit pun ataupun tak melihat ke arah nya.


“ Percuma aku dandan untuk mu tapi kau tak melihat ke arah ku sedikit pun...” Ujarnya dengan dia melihat ke arah suaminya yang saat ini duduk mengemudi dengan tenang.


“ Kau bahkan tak memuji ku seperti biasanya...” Sambungnya lagi dengan nada sedihnya. “ Kau berubah tak seperti suami ku.”


“ Kau bisa melihat dirimu di kaca dan kau bisa berkomentar sendiri tentang diri mu sendiri tanpa harus menunggu aku memuji mu sekarang...” Ucapnya dengan pedas.


“ Kau sekarang tak tersentuh Don.”


“ Aku memang tak akan bisa disentuh dengan orang yang tak aku ijinkan. Bahkan mata ku enggan melihat orang yang tak ingin aku lihat meskipun itu kau.”

__ADS_1


“ Aku istrimu...” Dia menunduk seakan kata kata Donzello tadi melukai hatinya.


“ Hanya status tak lebih dari status. Jadi jangan bertingkah. Aku terlalu lelah jika harus melayani tingkahmu."


__ADS_2