
" Dari mana kau baru pulang pagi ini?" Suara tinggi dari wanita ketika dia baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Laki laki itu hanya diam dengan melanjutkan langkahnya. " Kau dari mana?" Tanyanya dengan membentak laki laki itu.
Laki laki itu berhenti dengan menoleh ke arah dengan tatapan datarnya. " Aku lelah baru pulang dari kantor!" Katanya dengan pergi masuk ke dalam kamar mandinya. Meninggalkan wanita yang sedang menahan rasa marahnya.
Donzello saat ini masuk ke dalam kamar mandinya dengan mengatur nafasnya, dia yang sudah tekad untuk berpisah kini hanya menunggu bukti bukti bukti tentang istrinya selama ini.
Sedangkan di apartemen besar itu wanita cantik itu masih terlelap dalam tidurnya, dia yang mengizinkan kekasihnya untuk pulang untuk meneruskan tidurnya. Dia yang masih lelah lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk tidur.
Drt!! Drt!! Drt!! Drt!!
Getaran ponselnya yang dari tadi berteriak seakan membuat wanita itu malas untuk mengangkat panggilan itu. Tetapi tangannya tetap saja meraih sebuah ponsel yang ada di sebelahnya.
" Halo…" Suaranya yang serak membuat semua orang tahu bahwa wanita itu masih terlelap dalam tidurnya yang indah.
" Astaga kau dari mana saja? Berminggu minggu aku mencarimu dan kau baru memberi kabar hari ini. Ya Tuhan…" Orang yang ada di seberang sana kini mengomel panjang lebar ketika wanita cantik itu menjawab teleponnya.
" Jangan berisik aku sungguh mengantuk…" Jawabnya dengan tenang.
" Baiklah tidurlah! Aku hanya akan memberimu kabar bahwa kau di undang di salah satu acara peluncuran, dan kau adalah bintang tamunya, jadi istirahatlah untuk menyegarkan tubuh dan wajahmu."
Wanita itu kini langsung memutuskan panggilan itu begitu saja, dia sungguh merasa lelah dan ingin cukup untuk beristirahat. Dia yang dengan segera terlelap dalam tidurnya kini kembali ke alam mimpinya yang indah.
Sedangkan di tempat lain Olivia sedang menahan amarahnya, pipinya yang terasa panas masih membekas di wajahnya. Dia begitu benci kepada laki laki yang berani menamparnya, tetapi dendamnya kini membara ketika mengingat ini semua kesalahan dari wanita lain.
Olivia memejamkan matanya dengan emosinya yang masih tinggi. Dia masih ingat betul apa yang dikatakan laki laki itu padanya.
Flashback On
Plak!! Satu tamparan melayang begitu saja ke arah pipi Olivia. Wanita itu kini hanya terpaku dengan rasa terkejutnya dia yang tak menyangka bahwa laki laki yang ada di depannya itu kini berani menamparnya begitu saja.
__ADS_1
" Jaga bicaramu! Jangan samakan dia dengan mu. Kau dan dia berbeda, kalian berbeda level…" Laki laki itu melampiaskan emosinya kepada wanita yang saat ini berada di depannya.
Olivia menyentuh pipinya yang terasa panas dan dapat dipastikan saat ini pasti tengah merah karena tangan laki laki tersebut. Olivia mendorong tubuh laki laki itu cukup kencang membuat laki laki itu mundur.
" Kau bilang apa? Kami beda level? Apa kau pikir aku tak tahu jika dia sudah pernah kau tiduri dan karena dia yang tak jago di ranjang kau lebih sering bersama ku di ranjang. Apa kau pikir wanita seperti aku dan dia berbeda level?" Nadanya begitu tinggi.
Tangan laki laki itu kembali terangkat tetapi tangan itu terhenti ketika mata mereka bertatapan lagi dengan sama sama tajam.
" Tampar! Kau ingin menamparku! Maka tampar aku! Tampar!" Tantangnya dengan nada tinggi. Dia tak merasa takut sama sekali saat ini.
" Kenapa kau tak jadi menamparku ha? Kenapa? Kau pikir aku takut Barnard? Sekali lagi kau menamparku. Ku pastikan namamu masih di berita besok pagi…" Ancamnya dengan wajah yang serius.
Barnard kini tak jadi menampar pipi wanita itu, dia hanya bisa menatapnya dengan sinis.
" Keluar dari sini!" Usirnya.
" Jika aku tidak mau?"
" Aku tak akan pergi dari sini! Aku ingin di sini!" Katanya dengan tetap tak ingin keluar dari apartemen Barnard.
Barnard yang sudah tak tahan dengan wanita itu kini langsung menarik paksa tangan Olivia, menyeretnya dengan kencang.
" Barnard sakit…" Berontaknya dengan ingin melepaskan tangan itu.
" Aku tak peduli sebaiknya kau pergi dari sini! Aku tak ingin melihat mu lagi di sini…" Barnard mengusirnya dengan cara menyeretnya dengan kasar.
Olivia yang memberontak kini tak mampu melawan tenaga dari Barnard yang sudah dipenuhi dengan emosinya yang tinggi. Dia kini menyeret Olivia seperti sampah yang tak berguna.
Bug!! Barnard melemparkan Olivia ke lantai cukup keras, Olivia menahan rasa sakit pada pantat nya. Dia menatap tajam ke arah Barnard dengan rasa yang tak suka.
Barnard kini jongkok di depan Olivia menatap Olivia dengan tatapan rasa kasihan.
__ADS_1
" Dengar! Kau dan aku hanya saling membutuhkan kesenangan yang tak bisa aku lakukan dengan tunangan ku. Kau tahu dia wanita yang berharga jadi aku tak pernah menyentuh nya, sedikit pun aku belum menyentuhnya. Sedangkan dirimu aku menyentuhmu karena aku membutuhkan pelepasan dan kau menikmati fasilitas yang aku berikan pada mu. Jadi tanpa aku beritahu pun kau tahu, kau dan dia beda level dan seperti apa kau dan dia…" Barnard kini berdiri setelah mengatakan semuanya.
Kini dia masuk kembali ke apartemennya dengan membanting pintu yang cukup keras. Olivia yang masih diam dengan mengepalkan tangannya dengan rasa kecewanya.
" Kau lihat saja ku pastikan kau dengan nya akan berakhir dan kau hanya milikku hanya milikku…" Ucapnya dengan pelan.
Olivia bangun dengan rasa kecewa serta rasa marahnya tapi dia juga tak bisa berbuat apa apa ketika pintu itu ditutup oleh laki laki itu. Olivia pergi dengan rasa dendam kepada wanita yang dicintai oleh Barnard.
Flashback Of
" Lihat saja kau akan berakhir di pelukan ku Barnard! Kau akan berakhir di pelukan ku…" Kini tekadnya akan membuat laki laki itu tak bisa bersama kembali dengan wanita tunangannya.
Sedangkan di kamar lain, Grace yang menunggu suaminya keluar dari kamar kini mondar mandir di depan pintu kamar mandi, dia yang sudah menyiapkan baju suaminya di atas kasur.
Ceklek!!
Grace langsung menoleh ke arah suaminya dengan tersenyum yang tipis tapi senyum itu tiba tiba hilang ketika melihat suaminya yang sudah rapi.
" Aku sudah siapkan baju untuk mu!"
" Terima kasih! Tapi tak perlu aku bisa sendiri…" Jawabnya dengan dingin.
Grace lagi lagi harus menahan rasa kecewa ketika sang suami malah bersikap dingin kepada dirinya.
" Aku akan buatkan kopi untukmu! Kau tunggu di meja makan."
" Hem…" Jawabnya dengan singkat.
Grace kini langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya saat ini. Dia yang terburu buru bahkan tak peduli jika ada sang pembantu yang ada di dapur.
Byuar!!!
__ADS_1
" Kau ingin membuat ku sakit perut atau gimana Grace?" Donzello menyemburkan kopi yang sudah masuk di mulutnya.