
" Aku sudah bilang jika aku tak ingin bicara denganmu! Kenapa kau susah sekali diberitahu…" Charlotte membentak laki laki yang mengikutinya hingga ia berada di depan apartemen miliknya.
" Charlotte sayang kita harus bicara! Banyak hal yang harus kau dengar. Apa yang kamu lihat kemarin dan tadi tak seperti yang kau pikirkan…" Laki laki itu masih berusaha mencari cara agar mereka berdua bisa saling mengobrol satu sama lain.
Charlotte menghela nafasnya dengan kasar berulang kali dia mengusir laki laki itu tapi nyata nya laki laki itu tetap bersikeras tetap berada di sana dan mengganggu nya.
" Lalu apa yang harus aku pikirkan tentang mu dengan wanita selingkuhan mu itu? Apa kau pikir aku wanita bodoh Barnard? Kau dan dia bersama di satu kamar hotel berduaan dan kau masih ingin menutupinya dan mengatakan jika aku salah memiliki pemikiran lain?" Charlotte menatap mantan tunangan nya itu, rasa marah dan rasa jijik itu kini berada jelas di mata wanita ayu itu.
" Sayang aku minta maaf! Aku tak bisa mengontrol semuanya. Semuanya berjalan begitu cepat dan aku tak mampu melawannya, kau tahu bukan maksudku?"
Charlotte tersenyum sinis ketika mendengar apa yang dikatakan oleh laki laki itu. " Kau benar seorang laki laki memang membutuhkan pelepasan yang semestinya. Bukan begitu maksud mu?"
Barnard tersenyum dia lega setidaknya tunangannya menyadari bahwa pihak laki laki memiliki kebutuhan biologis yang kadang harus terpenuhi.
Plak!!
Satu tamparan yang keras kini melayang mendarat di pipi kanan laki laki itu dengan cukup keras. Barnard terkejut bukan main dia tak menyangka wanitanya menamparnya dengan cukup kencang.
" Jadi kau pikir setiap wanita hanya kau jadikan pemuas nafsu belaka? Selama ini aku selalu menjaga kehormatan ku agar kau jadi laki laki pertama yang menyentuhku dan memiliki ku! Tapi sekarang aku sadar kau tak pantas mendapatkan apa yang aku punya. Aku terlalu berharga jika harus bersanding dengan laki laki murahan sepertimu."
Barnard menyentuh pipinya yang terasa panas, apa yang dikatakan wanita itu menyakiti hatinya. Tapi dia hanya bisa diam dengan menatap wanita itu dengan tatapan berbeda.
" Aku minta maaf! Aku sungguh minta maaf!" Barnard berusaha untuk memeluk tunangannya itu dia ingin mendekapnya dakam dekepan eratnya tapi Charlotte memberontak sekuat tenaga. Dia sungguh tak ingin di sentuh oleh laki laki itu.
" Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku sungguh tak ingin kau sentuh dengan tangan mu. Apa yang ada di badan mu bercampur aroma wanita lain…" Katanya dengan memberontak.
__ADS_1
Barnard merasa kewalahan ketika tubuh kecil itu memberontak tak ingin disentuh olehnya. Barnard mengalah dia mundur dia melepaskan pelukan itu. Nafas Charlotte sungguh memburu dia menatap tak suka ke arah laki laki itu.
" Tunggu apa ini…" Barnard menyibakan rambut panjang Charlotte yang kebelakang tadi.
Matanya kini melotot sempurna ketika melihat tanda yang bertebaran di sana dengan suka rela. Charlotte bahkan tak mencegah tangan laki laki itu menyibakkan rambutnya dia sengaja memperlihatkan nya.
" Charlotte apa ini?" Barnard menatap ke arah wanita itu dengan tak percaya. Dia baru tahu jika lehernya bertaburan tanda kemerahan keuangan itu.
" Jangan kau sentuh!" Charlotte mendorongnya dengan kencang. Barnard bahkan masih tak menyangka dengan apa yang dia lihat sendiri.
" Siapa yang melakukan itu? Siapa?" Katanya dengan masih terpaku dia masih tak percaya tapi apa yang dia lihat ini sungguh terjadi.
" Bukan urusan mu siapa yang melakukan ini kepada ku…" Jawabnya dengan tenang.
" Siapa yang melakukan nya? Katakan?" Tanyanya dengan pelan.
" Bukan urusan mu…" Jawabnya dengan penuh penekanan.
" Siapa yang melakukannya? Siapa yang melakukannya?" Teriaknya dengan rasa kesal karena wanita itu tak mau menjawab.
Charlotte mendorong tubuh Barnard dengan kencang hingga cengkraman di lengan itu terlepas. " Siapa yang melakukannya bukan urusanmu! Ini adalah tubuhku jadi kau tak memiliki hak bertanya apapun kepada ku…" Jawabnya dengan tak kalah sinis.
Charlotte yang ingin masuk ke dalam kini harus terhenti ketika tangan laki laki itu menariknya lagi dengan kencang. Jawaban dari Charlotte sungguh tak memuaskan dirinya saat ini.
" Kau tunangan ku dan kau mengatakan aku tak memiliki hak atas dirimu?"
__ADS_1
" Kita berakhir semenjak kau berada di dalam kamar hotel bersama wanita lain jadi jangan pernah mengakui aku sebagai tunanganmu lagi mulai saat ini."
" Aku tak ingin kita berakhir Charlotte jangan pernah katakan hal itu. Aku masih ingin kita bersama. Aku tak masalah jika kau juga bersama laki laki lain waktu bersama di kapal, kau hanya membalas ku dan aku tak memaafkan tentang hal itu. Kita impas jika begitu."
Charlotte tersenyum kecut ketika laki laki yang ada di depannya menganggap ini semua impas dan beranggapan bahwa masalah ini selesai ketika mereka saling balas dendam.
" Kau pikir aku balas dendam kepada mu hanya kau bersama wanita lain? Kau salah Barnard aku melakukannya dengan suka rela. Aku memberikannya kepada laki laki itu karena aku menginginkan nya, jadi jika kau berpikir ini impas kau juga salah. Aku melakukan nya ketika hubungan kita berakhir sedangkan kau bersama wanita itu di saat kau masih menjadi tunangan ku. Jadi bedakan antara aku dan kamu saat ini."
" Charlotte aku tahu kamu marah dan kecewa pada ku tapi aku mohon beri aku kesempatan. Kita sama sama melakukan kesalahan dan aku terima jika kau pernah tidur dengan laki laki itu. Kita mulai dari awal lagi, kita buka lembaran lagi yang lebih bahagia, dan kenangan pahit ini kita tutup…" Pintahnya dengan memohon.
" Jangan pernah berharap aku mau bersama orang yang pernah satu kali berkhianat maka akan ada pengkhianatan berikutnya…" Charlotte lagi lagi mendorong tubuh Barnard cukup kencang kali ini hingga membuat dia mundur dengan jatuh ke lantai seketika.
Charlotte tak peduli kali ini dia benar benar harus tega kepada orang yang sudah menyakitinya seperti ini. Charlotte masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintu dengan cukup kencang.
" Charlotte beri aku kesempatan aku janji aku tak akan melakukannya lagi, aku mohon!" Teriaknya dengan mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban dari sang pemilik apartemen.
Charlotte menyandarkan punggungnya di pintu dengan rasa yang tersimpan adalah rasa kecewa dia meneteskan air matanya. Harapan yang indah bersama tunangannya seakan runtuh di kepala nya saat tunangan bersama wanita lain di sebuah kamar hotel.
Kebenaran telah terungkap dan itu membuat hati wanita itu tergores cukup luka. Hatinya memiliki sayatan yang cukup dalam, dia berusaha untuk tegar tapi nyata nya dia tak bisa.
Kau kuat Charlotte kau tak boleh menangisi laki laki itu. Dia tak pantas kau tangisi. Batinnya dengan menguatkan dirinya sendiri.
Bertahun tahun memiliki hubungan dan memiliki rencana menikah bukanlah hal yang mudah melupakan tapi dia sekuat tenaga melupakan dan mengusir laki laki itu ada di hatinya.
Jika ditanya tentang getaran cinta maka dapat dipastikan getaran itu tak ada tapi dia butuh waktu melupakan semua kenangan bersamanya selama ini.
__ADS_1