Orang Ke Tiga

Orang Ke Tiga
Hancur 3


__ADS_3

...Tak banyak orang yang mau damai dengan keadaan, rasa kecewa yang terlalu besar membuat mereka enggan damai dengan namanya Takdir....


...Takdir yang belum pernah ketahui seakan mampu membuat mereka tak bisa bertahan dengan awal takdir, mereka ingin memulai takdir dengan yang baru....


...Padahal tak ada yang tahu takdir mana yang lebih membuat mereka merasa bahagia ataupun terluka....


.


.


.


Malam yang dingin tak mampu menembus tulang tulang laki laki itu, dia peduli dengan hembusan angin yang begitu dingin. Hawa dingin dari angin masih tetap dia terjang, demi menyelesaikan kesalahpahaman yang ada.


Laki laki tegap itu kini kacau, pikirannya berantakan, wajah yang biasanya tampan kini terlihat cemas. Laki laki itu dengan langkah lebarnya dia menuju ke sebuah unit dimana dia harus menjelaskan tentang semua yang terjadi.


" Charlotte buka pintunya ini aku…" Katanya dengan suara memohon.


Tapi pintu itu tak terbuka, Donzello tetap berusaha untuk berkata dengan lirihnya yang sedih, dia berusaha membujuk kekasihnya untuk membuka pintu. Tetapi meskipun dia berusaha berbicara apapun dia tetap tak membuka pintu.


" Sayang please dengerin dulu penjelasan ku! Jangan seperti ini…" Katanya lagi dengan tetap berusaha.


Donzello menghela nafasnya dengan kasar ketika kekasihnya tetap tak ingin membuka pintu itu. Dia kini duduk di lantai dengan bersandar di pintu yang tertutup.


" Charlotte maafkan aku…" Gumamnya dengan lembut.


Donzello kini malah memejamkan matanya karena merasa lelah membujuk kekasihnya yang tak mau membuka pintunya. Dia tak tahu bahwa wanitanya tak ada di sana malam ini.


Charlotte membutuhkan waktu untuk sendiri, wanita cantik yang mengamuk dari tadi kini dia langsung tertidur dengan wajah yang begitu sembab. Wanita itu lelah karena dia yang mengamuk kecewa dengan keadaan yang ada di depannya saat ini.


Sedangkan Grace saat ini juga tertidur dengan rasa kesalnya dia tak menyangka bahwa suaminya menolak bersamanya. Dia yang dari tadi berusaha untuk memejamkan matanya karena rasa kesal pada suaminya.


Kini mereka semua telah tertidur dengan keadaan mereka yang tak baik, hati mereka bertiga tengah kacau dengan pemikiran mereka masing masing. Malam yang dingin tak mampu membuat rasa sedih mereka hilang.


Malam yang petang tak mampu membuat mereka bersatu dengan kenyataan yang mereka terima, malam yang penuh dengan bintang bintang tak mampu membuat hati mereka gemerlap indah seperti langit yang banyak bintang.


***

__ADS_1


" Neni panggilkan suamiku yang ada di ruang kerjanya…" Grace yang saat ini sudah berada di meja makan dengan mata yang sembab karena semalam dia menangisi rumah tangganya yang berantakan.


" Maaf Nyonya Tuan muda belum pulang dari semalam."


" APA?" Grace terkejut bukan main karena seingatnya sang suami pulang bersamanya dan mereka sempat berdebat. " Kau mengatakan tidak pulang? Semalam dia pulang bersama ku!"


" Maaf Nyonya tapi Tuan muda pergi lagi pada malam hari hingga sampai sekarang belum pulang."


Grace mengepalkan tangan nya dengan geram,dia tak menyangka bahwa suaminya saat ini malah pergi malam tanpa dirinya.


" Kakak kau bertengkar dengan kakak ipar?" Olivia yang juga ada di sana segera bertanya dengan hati hati. Dia melihat kakaknya sedang menahan rasa marahnya.


" Dia menghindariku!" Katanya dengan menekan kata katanya. " Sepertinya dia masih marah pada ku semenjak dia pulang dari berlayar…" Sambungnya lagi.


" Kakak harus lebih cepat mengambil hati kakak ipar tak baik lama lama dia menghindar kamu."


" Aku lelah Oliv! Aku lelah. Aku seperti seorang selingkuhan yang sangat membutuhkan Donzello saat ini, padahal aku istrinya tapi sekarang dia lebih mementingkan pekerjaannya dibanding aku…" Grace menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Aku berusaha memperbaiki semuanya dengan cara menjadi istri yang baik tapi sepertinya kakak iparmu sekarang memiliki tameng yang besar yang tak bisa aku sentuh…" Sambungnya dengan menatap ke depan.


Grace tersenyum sepertinya ide dari sang adik bisa dilakukan olehnya. Dia mengangguk dengan segera dan itu membuat harapan baru buat rumah tangga mereka yang saat ini sedikit lagi hancur.


Sedangkan Charlotte yang masih memakai gaun kini berjalan pelan ingin masuk kedalam unitnya tapi langkahnya tiba tiba terhenti ketika melihat sosok badan besar yang duduk di lantai yang menutupi pintunya.


Matanya berkaca kaca dengan seketika dia yang ingin marah dia yang ingin menangis melihat ketulusan laki laki itu kini langsung mengeluarkan air matanya dengan seketika.


Jantungnya memompa darah lebih cepat, tangannya meremas gaunnya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Dadanya terasa sesak ketika melihat wajah kusut kekasihnya yang ada di depan matanya. Donzello rela tertidur di depan unitnya hanya untuk bertemu dengan orang yang sangat dicintai.


" Tuan bangun! Kaki anda menghalangi jalan kami…" Tiba tiba seorang wanita tua yang membangunkan Donzello.


Donzello dengan segera terbangun dengan terkejut, ia mengerjapkan matanya dengan cepat. " Maaf! Maafkan saya!" Katanya dengan cepat dan langsung bangun.


Donzello dengan cepat bangun dari duduknya yang ada di lantai dan matanya menatap ke depan ketika ada sosok yang berdiri yang juga menatapnya. Charlotte dengan segera menghapus air matanya ketika mata mereka beradu pandang.


" Charlotte!" Gumamnya dengan lembut.


Donzello langsung menarik tangan kekasihnya membawa tubuh kekasihnya ke dekapan dengan erat. Donzello merasa lega karena akhirnya mereka bertemu, tetapi Charlotte membeku dia tak membalas apa yang terjadi. Dia tak memeluk balik laki laki itu, dia hanya diam dengan menahan semua yang ada di dada nya.

__ADS_1


" Kau baru pulang? Apa kau baik baik saja? Aku sungguh mengkhawatirkanmu sweetheart!" Katanya dengan melepaskan pelukan itu.


Mata mereka kembali beradu dengan arti yang berbeda tetapi sang wanita hanya diam seribu bahasa, dadanya terasa penuh dengan rasa marah dan kecewa tapi melihat kekasihnya yang menunggu di depan pintu unit nya membuat wanita itu tak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa menahan rasa kecewa tersebut.


" Charlotte kau mendengarkanku?" Kedua tangan itu menyentuh kedua pipi kekasihnya dengan rasa lega yang ada di hatinya.


Charlotte memalingkan mukanya dengan segera dia melepaskan dirinya dari sentuhan laki laki itu. Dia mundur dengan langsung melangkah ke unitnya.


" Sayang katakan sesuatu, jangan diam seperti ini…" Donzello mengejar kekasihnya.


Charlotte berbalik menatap kekasihnya yang ada di belakangnya. " Aku ingin istirahat pulang lah! Kau pasti lelah karena tidur di sini…" Suaranya tertahan dia ingin menangis tapi dia berusaha untuk kuat saat ini.


" Sayang aku bisa jelaskan tentang semuanya, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya."


" Bisakah kita bicara lagi nanti setelah semuanya bisa aku mengerti? Aku butuh waktu untuk semuanya."


" Jika aku tak menjelaskannya maka kamu tak akan mengerti posisiku! Aku mohon beri aku satu kesempatan untuk menjelaskannya…" Ucapnya dengan memohon.


Mata itu terpancar ketulusan dan rasa bersalah tapi jika sekarang di jelaskan pun sepertinya akan percuma karena wanit itu sedang tak ingin mendengarkan apapun saat ini. Dia butuh waktu untuk menimang semuanya dengan pemikirannya dirinya sendiri.


" Nanti kita pasti bicara, tapi untuk sekarang biarkan aku menenangkan diri dan aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri menghadapi ini semua."


" Charlotte sayang aku mohon-" Ucapannya terputus ketika tangan wanita itu kembali terangkat.


" Aku juga mohon beri aku kesempatan untuk diriku sendiri! Aku juga butuh waktu untuk semuanya Don!"


Donzello tak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa pasrah. Saat ini mereka berdua memang butuh waktu untuk sendiri untuk menguji cinta mereka.


" Tapi kau janji bahwa kita akan bertemu lagi dan menyelesaikan masalah ini?" Charlotte diam dia tak bisa mengatakan apapun atau menjanjikan apapun.


" Katakan jika kau berjanji aku akan pergi! Tapi jika kau tak berjanji aku tak akan pergi."


" Aku janji aku hanya butuh sendiri! Nanti kita pasti akan bicara."


Donzello yang ingin kembali memeluk kekasihnya kini malah di hindari olehnya, Charlotte kini langsung masuk ke dalam dengan air mata yang sudah kembali menetes ke pipinya.


Charlotte segera menutup pintu nya dia bersandar di pintu yang tertutup dengan rasa sedih yang tak bisa diungkapkan. Tangisannya kini kembali pecah dengan rasa yang begitu sakit. Donzello tak bisa berbuat banyak selain pergi dari sana dengan rasa sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2