
Kaki-kaki Emune terseret saat seorang lelaki berbadan gempal menyambar dan membawanya mengikuti arus orang-orang yang keluar dari Darfin. Emune memberontak dan berteriak-teriak. Tidak ada yang peduli padanya. Orang-orang sibuk menyelamatkan diri.
Emune seperti mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh ke belakang dan melihat Greg, sangat jauh di belakang sana. Melambai-lambaikan tangannya yang bebas, Emune berharap Greg melihatnya. Semoga ia melihatnya.
Greg berlari sangat cepat sambil mendorong siapa pun yang menghalangi jalannya. Emune ada di sana, cukup jauh tapi masih bisa ia kejar. Kalau saja orang-orang ini tidak menghalanginya. Mereka hanya orang-orang yang ketakutan sendiri padahal kerusuhannya sudah berhenti sejak tadi. Greg tidak menyalahkan, hanya menyesalkan hal seperti ini bisa menimpa mereka. Ia sendiri tidak menyangka bisa terjadi kerusuhan seperti itu terlebih lagi di Harregu yang keamanannya sangat ketat.
Sedikit lagi Greg bisa mendekati Emune. Siapa yang menarik-narik Emune? Sial! Emune bukannya mengikuti arus karena panik, ia diculik!
Greg sangat marah. Lelaki gempal itu jelas-jelas memanfaatkan kerusuhan untuk melakukan penculikan. Greg harus waspada. Bisa jadi ia punya rekan yang siap membawa pergi Emune.
Lelaki gempal itu menghindar dari keramaian ke arah kiri di mana sebuah kereta bergerbong cukup besar sudah menanti. Greg tidak menunggu orang itu mendekati kereta. Ia berlari sambil mengeluarkan belati kecil dan melemparnya. Belati melesat dan menancap di paha kiri lelaki gempal, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Emune yang dicengkeramnya ikut terjatuh mencium tanah berdebu.
Begitu melihat si gempal terjatuh, pengemudi kereta langsung menghentakkan tali kemudi, menyuruh kuda-kudanya berlari cepat. Dalam sekejap kereta itu hilang dari pandangan. Greg berlari menghampiri Emune setelah mencabut belatinya dan menendang si lelaki gempal hingga pingsan. Emune senang sekali melihat Greg meskipun seluruh badannya kotor bermandikan debu.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Greg. Ia membantu Emune berdiri.
“Tidak apa-apa. Aku cuma tergores. Fiona, di mana dia?” Emune melihat ke arah gerbang.
“Fiona tidak apa-apa. Ayo, kita kembali ke kota,” jawab Greg.
Emune menepuk dan mengibaskan pakaiannya yang kotor. Mukanya jadi lebih putih karena tertutup debu saat jatuh tadi. Greg penuh waspada menjaga Emune.
Beberapa meter dari arah gerbang kota ia bisa melihat Fiona menyeruak di antara orang-orang yang masih berlarian. Fiona berhasil sampai di tempat Greg dan Emune menunggunya untuk menghindari arus manusia yang panik. Ia langsung memeluk Emune erat-erat hingga Emune memekik.
“Maaf. Emune, aku seharusnya tidak meninggalkanmu. Kau terluka?” Fiona memeriksa wajah dan tubuh Emune dengan matanya.
“Aku tidak apa-apa. Hanya kotor. Hei, kau ikut kotor karena memelukku,” ucap Emune. Walaupun berkata tidak apa-apa, ia masih gemetar mengingat kejadian tadi.
“Ini perkara yang tidak baik. Kita harus kembali ke kota secepatnya,” ucap Greg.
“Ya. Ada yang tidak benar di sini,” sahut Fiona.
Greg mengawal gadis-gadis itu kembali ke kota. Di pos jaga ia memberitahu seorang petugas bahwa ada yang berusaha menculik temannya dan menunjukkan tempat lelaki gempal itu pingsan. Setelah itu ketiganya kembali ke Stavehass untuk mengambil barang-barang Fiona dan Emune.
Kedua gadis itu pindah ke penginapan Greg agar lebih aman. Greg menyerahkan kamarnya untuk ditempati oleh Fiona dan Emune. Ia akan tidur dengan teman serombongannya yang ada di kamar sebelah.
Fiona mengawasi Emune seperti elang. Ia kapok meninggalkan Emune hanya untuk minum-minum. Keduanya pergi mandi dan makan makanan yang dibawakan oleh Mady, salah seorang anggota rombongan Greg. Kedua gadis sangat bersyukur, begitu ketua rombongan tahu bahwa mereka adalah anggota rombongan Arrand, ia mendatangi keduanya dan meyakinkan bahwa mereka aman dalam perlindungannya.
“Kau tidak perlu melotot begitu. Aku masih ada di sini.” Emune melempar bantal ke arah Fiona yang dengan sigap menangkapnya. “Fiona, aku tidak apa-apa.”
“Ah, ya. Arrand akan mengamuk kalau sampai terjadi sesuatu padamu.” Fiona mengembalikan bantal tadi kepada Emune.
“Aku takkan bilang. Mulutku terkunci,” ucap Emune sambil menunjukkan gerakan orang memutar kunci di sudut bibirnya.
Fiona meringis. “Tidak ada yang tidak didengar oleh Arrand. Darfin benar-benar bahaya. Kau hampir diculik di tengah keramaian!”
“Aku juga heran. Aku melihat orang berhamburan dari rumah minum. Mereka berteriak-teriak kalau ada yang mati di dalam. Aku turun karena khawatir kau kenapa-kenapa.”
“Lalu si gempal menyambarmu begitu saja?” tanya Fiona.
“Tidak. Aku berteriak-teriak memanggilmu. Lalu ada yang berlari dan bilang kalau kau ada di dekat gerbang. Aku bertanya-tanya, untuk apa kau ke gerbang kota? Kejadiannya cepat sekali. Orang itu bilang kau terluka jadi aku segera ke sana. Ketika orang-orang bertambah banyak, saat itulah ada yang menarikku mengikuti arus.” Emune mendesah. Ia tertipu dengan mudahnya dalam kepanikan.
“Untung Greg cepat menemukanmu. Aku dan Greg curiga kerusuhan tadi disengaja untuk menculik orang-orang untuk dijadikan budak.”
Emune terkesiap. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Fiona berbisik. “Sepertinya otoritas kota bekerja sama dengan para pengacau.”
“Maksudmu rombongan pedagang atau kesatria-kesatria itu? Aku mendengar orang-orang yang berlarian menyebutkannya.” Emune ikut berbisik.
“Dugaanku kesatria-kesatria itu. Kita akan dapat informasi yang lebih lengkap besok.”
“Itu gila tapi bisa saja terjadi kalau mereka sangat putus asa dan harus mendapatkan budak.” Emune menyerap informasi denagn baik.
__ADS_1
“Kau pintar. Begitulah dugaan sementara.” Fiona menegakkan duduknya dan menatap tajam pada emune yang duduk di tempat tidur di seberangnya. “Dengar Emune, kita harus lebih berhati-hati lagi. Kau harus memberitahuku ke mana pun kau akan pergi.”
“Aku janji.” Emune lelah harus berbisik-bisik. Bagian rahasia sepertinya sudah terlewati jadi tidak perlu lagi berbisik-bisik. “Ngomong-ngomong, Greg hebat ya. Wah seandainya kau melihat betapa cepatnya ia berlari lalu melempar belati itu tepat mengenai paha si gempal. Aku tidak meragukannya dan aku benar. Kalian berdua akan jadi pasangan sempurna!” seru Emune.
Fiona mendeham keras. “Kecilkan suaramu. Tidur!” perintah Fiona. Ia berharap tidak ada yang mendengar seruan Emune barusan. Terutama kalimat yang terakhir. Fiona mengabaikan Emune yang menggerutu karena masih ingin bercakap-cakap sebelum tidur. Kamar kecil itu gelap gulita setelah lampu minyak di meja dimatikan.
Emune memejamkan mata, berdoa untuk semua yang disayanginya. Ia bersyukur masih bisa selamat hari ini.
Fiona bisa mendengar nafas Emune yang teratur. Ia yakin Emune sudah tidur. Malam yang sangat melelahkan buat semua orang. Fiona membalikkan badannya. Ucapan Emune barusan masih terngiang-ngiang. Mungkin benar, ia menyukai Greg.
***
Ruang makan di lantai satu penuh anggota rombongan pedagang yang kelaparan. Kejadian semalam menjadi topik utama pembicaraan. Fiona dan Emune turun dari kamar mereka. Kota terdekat hanya setengah hari perjalanan karenanya rombongan ini masih sempat untuk sarapan di penginapan.
“Selamat pagi. Aku tahu malam kalian tidak tenang. Sarapan yang cukup untuk mengembalikan tenaga kalian,” Mady menyapa dan menunjukkan tempat duduk Fiona dan Emune.
“Terima kasih, Mady,” ucap Fiona dan Emune serempak.
Greg sudah ada di meja yang ditunjuk. Emune menoleh ke arah Fiona, berharap melihat Fiona tersipu malu. Harapan semu, pikir Emune, Fiona tampak biasa-biasa saja.
Duduk bertiga di meja itu terasa sedikit aneh. Emune seperti sedang diteliti oleh kakak-kakaknya. Emune tidak punya kakak tapi mungkin seperti ini rasanya, pikirnya. “Aku tidak apa-apa. Sungguh. Bisakah kita sarapan? Aku sangat lapar”
“Tentu. Kau baik-baik saja kalau kau masih bisa lapar. Fiona selalu kelaparan setiap pagi,” ucap Greg.
“Kalau kau harus berteriak dan berlari seperti semalam, kau pasti kelaparan. Meskipun kau sudah makan sedikit sebelum tidur.” Fiona memutar bola matanya tanda kesal.
Mady menyela tawa ketiganya dengan membawa dua piring berisi semua makanan enak yang Emune tahu. Ia berterima kasih mewakili Fiona yang sudah sibuk berbincang dengan Greg tentang kejadian semalam. Emune mengabaikan keduanya. Ia makan dengan lahap sambil menyimak.
“Ketua sangat marah dan sudah mengirim berita ke jaringan pedagang. Lima pedagang menjadi korban para kesatria itu semalam.” Greg berbicara dengan nada kesal.
“Begitu pun mereka malah dibiarkan pergi. Sayang kia tidak sempat menghentikan kereta yang mencurigakan itu.” Fiona meneguk sari madu pelan-pelan. Ia menoleh pada Emune yang sibuk dengan makanannya dan tersenyum lega.
“Oh itu, mereka berhasil ditangkap sekitar lima mil dari sini. Ada tiga rombongan pedagang dan satu rombongan peziarah yang memblokir jalan mereka. Lima belas laki-laki, delapan perempuan dan empat anak-anak di dalam kereta itu. Mereka semua diculik di Darfin. Semuanya sudah diantar kembali tadi malam.” Greg menoleh sebentar ke arah Emune.
“Kau takkan percaya. Ia menusuk jantungnya sendiri,” jawab Greg.
Fiona mengerutkan kening sementara Emune langsung berhenti makan.
“Semua orang yang diculik tidak tahu akan dibawa ke mana. Sais itu tidak pernah bicara.” Greg melanjutkan kalimatnya.
“Bagaimana dengan otoritas kota? Orang-orang yang meninggal dalam kerusuhan semalam, mereka sudah dikuburkan?” tanya Fiona pafa Greg. “Emune, lanjutkan makanmu. Jangan sampai sakit,” ucapnya pada Emune.
Greg tertawa melihat Emune yang sangat patuh pada Fiona yang galak. “Emune, kau punya pengawal yang sangat galak,” gurau Greg yang dibalas dengan senyum kecut oleh Emune.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” tuntut Fiona.
“Ya, mereka berdalih tidak tahu apa-apa dan memaparkan keamanan kota yang seperti ini karena pemotongan anggaran dari kerajaan. Benar-benar tidak tahu malu. Kelima orang yang meninggal akan dibawa ke pemakaman di luar kota. Keluarganya tidak mau mereka dimakamkan di sini.”
“Sangat disayangkan. Aku harap kota-kota lain tidak seperti di sini,” ucap Emune.
“Kita akan baik-baik saja, Emune,” ucap Fiona. Ia mengambil sepotong roti dan mulai mengunyah.
“Kau cukup tangguh Emune. Kau punya senjata?” tanya Greg.
“Pamanku memberi sebuah belati tapi tidak pernah kugunakan,” jawab Emune.
“Kau punya belati dan kau diam saja saat si gempal menyeretmu?” Greg terkejut.
“Hei, dia bukan kesatria wanita yang akan menebas penjahat-penjahat yang ditemuinya di perjalanan. Dia ini lebih mirip putri perdamaian,” ucap Fiona dengan cueknya.
“Tidak, aku bukan putri perdamaian. Aku hanya seorang putri tidur yang selalu berharap kejadian buruk selesai tepat sebelum aku terbangun. Tentu saja tidak. Aku ini gadis rumahan yang … eh … uummm … nekat,” ucap Emune dengan pongah.
Kata-katanya justru membuat Greg dan Fiona tertawa. Emune mendengus kesal.
__ADS_1
Mady datang tergopoh-gopoh. “Ketua ingin bertemu kalian,” ucapnya pelan.
Kamar yang ditempati oleh ketua rombongan adalah kamar paling besar di penginapan itu. Ketua Zachsein adalah lelaki berusia hampir enam puluh tahun namun memiliki kebugaran seperti pria berusia empat puluh tahun. Ia sedang menyusun bidak-bidak catur saat Greg, Fiona dan Emune datang diantar Mady.
Ia mempersilahkan ketiganya untuk duduk. Fiona dan Emune duduk di bangku sedangkan Greg memilih berdiri saja.
“Kejadian semalam sangat disesalkan. Syukurlah kalian tidak apa-apa. Sebenarnya aku ingin kalian tetap ada di rombongan ini demi keselamatan kalian tapi kita harus berpisah di Darfin karena ada kota-kota lain yang harus kami senggahi,” sang ketua berhenti sebentar. “Bagaimana kalau kalian ikut ke kota berikutnya sambil menunggu rombongan berpengawal yang akan menuju Eimersun?”
“Kejadian itu memang sangat disayangkan.” Fiona menyetujui pendapat sang ketua. “Jika menunggu di kota berikutnya, kami akan tertinggal satu sampai dua hari menunggu rombongan berpengawal.”
“Dan kami bisa terjebak badai pasir,” ucap Emune menambahkan. Ia berbicara seakan-akan sering bepergian jauh saja. Ia tidak mau rutenya berubah karena itu berarti semakin lama ia akan mencapai Orsgadt.
Fiona melihat ke arah Emune yang berkata-kata sambil memainkan bidak-bidak catur.
“Terima kasih, Ketua. Kami rasa kami akan melanjutkan perjalanan dengan rute biasa. Kami akan menghindari perjalanan malam dan seperti Anda yang begitu baik kepada kami, saya yakin rombongan pedagang lainnya juga akan membantu kami,” ucap Fiona mencoba menolak tawaran san ketua dengan halus.
Ketua Zachsein manggut-manggut. “Persis seperti yang Arrand kira.”
“Arrand? Arrand sudah tahu?” tanya Fiona.
“Tentu saja. Merpati pos datang pagi ini. Arrand memintaku membujuk kalian untuk mengambil rute baru.” Sang ketua mengangguk-angguk pelan.
Fiona menggigit bibirnya. Seperti dugaannya, Arrand sudah tahu. “Kami akan melanjutkan perjalanan dengan cara yang aman,” tegas Fiona.
“Tentang itu, Arrand ingin memastikan kalian benar-benar aman jadi Greg akan menemani kalian sampai Eimersun,” ucap sang ketua.
“Apa? Kami tidak perlu pengawal. Kejadian semalam hanya sedikit kekacauan, sesuatu yang tidak terduga.” Fiona bersikeras menolak tambahan kehadiran Greg dalam rencana perjalanannya ke Eimersun.
“Aku tidak memaksa ikut tapi aku juga tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada kalian,” ucap Greg serius.
Fiona kesal sampai ke ubun-ubun. Bukan Greg yang membuatnya kesal tapi keputusan Arrand yang seperti tidak mempercayainya.
Ketua Zachsein tersenyum. Ia baru kali ini bertemu Fiona tapi ia bisa merasakan bahwa gadis ini bisa diandalkan hanya saja untuk yang satu ini bukan lagi permintaan tapi perintah dari Arrand.
“Sayangnya, itu adalah perintah dari Arrand. Ia tidak mau kedua anak perempuannya mengalami bahaya. Fiona, Greg bisa sediam batu jika kau inginkan,” gurau sang ketua.
Greg garuk-garuk kepala mendengar ucapan sang ketua.
“Aku rasa bertambah satu orang lagi tidak jadi masalah,” ucap Emune pada Fiona. “Kita bisa kehilangan waktu jika terus berdebat tentang ini.”
“Baiklah,” ucap Fiona dengan enggan. “Terima kasih sudah mengizinkan Greg untuk menjaga kami,” ucapnya sambil menunduk hormat pada Ketua Zachsein.
“Sudah kewajibanku untuk membantu kalian. Kereta dan kuda-kuda kalian sedang disiapkan. Tambahan perbekalan akan segera dimasukkan ke kereta. Kalian akan membawa satu merpati pos. Jika terjadi sesuatu, Greg akan mengirimkan kabar melalui merpati pos ke rombongan kami.”
“Terima kasih, Ketua,” ucap Emune.
Ketua Zachsein melihat ketiga anak muda yang meninggalkan kamarnya tanpa berkedip. Firasatnya mengatakan ia tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Ia percaya Greg akan menjaga mereka dengan baik jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Matahari belum sampai di atas kepala. Greg sudah siap di kursi sais didampingi oleh Fiona. Fiona sudah tidak semarah tadi karena terus dibujuk oleh Emune.
Emune duduk di belakang, memainkan patung kayu berbentuk unicorn. Ia sebenarnya ingin membaca buku ajaib itu lagi tapi nanti saja. Sepertinya Fiona masih mengkhawatirkannya. Seolah-olah ia akan lenyap dari kereta itu jika ia tidak sering-sering memeriksa Emune.
“Aku masih di sini. bisakah kau berhenti memeriksaku?” pinta Emune manis.
“Hanya ingin memastikan,” jawab Fiona.
“Greg, lakukan sesuatu. Fiona menggangguku.” Emune mengadu pada Greg.
“Tidak, aku hanya ....”
“Hei Fiona, lihat aku. Kalau aku panik berarti Emune hilang. Setuju?” Greg tersenyum.
Fiona bersungut-sungut. Kesal tapi bersyukur ada Greg yang membantu mengawasi Emune.
__ADS_1
Di belakang, Emune sibuk dengan pikirannya sendiri. Dunia kabut putih itu memperlihatkan Urndie. Urndie tidak ada di Ulrych saat Emune berangkat dulu. Emune yakin ada yang disembunyikan oleh Urndie. Ia harus menemukan Urndie.