
Terbang lama mengendarai pegasus membawa Proner pada batas akhirnya. Ia seperti setengah hidup saat mereka sampai di tepi hutan ajaib. Avena menertawai dan mengolok-oloknya sepanjang waktu.
Emune cuma bisa tersenyum kecil, ia masih belum bisa melupakan Elqoz. Jika mendiang Raja Agung Orsgadt masih ada, ia pasti akan bersedih kehilangan salah satu abdinya. Horeen bercerita padanya bahwa saat pemberontakan Orsgadt terjadi, Elqoz menantang Anthura namun Raja Peri Dougraff waktu itu segera menyegelnya. Horeen juga heran, mengapa waktu itu bukan Anthura saja yang disegel?
“Hutan ini, bahaya apa yang bisa muncul?” tanya Proner pada Leonz.
“Banyak sekali. Kalajengking api, troll, tanaman beracun, semua ada di sini.” Leonz meringkuk dalam pelukan Proner. Ia harus tidur lebih cepat.
“Tidurlah. Aku akan berjaga.”
Proner menatap wajah Leonz yang putih bersih. Seperti ibunya, keturunan Hertena ini memang luar biasa cantik dan kekuatannya mengagumkan. Jika dipikir-pikir, tanpa Leonz, perjalanan ini akan sangat sulit. Ada yang mengusiknya tentang Leonz tapi ia tidak bisa menemukannya. Proner mendesah, pertarungan yang sebenarnya belum terjadi tapi ketegangan sudah terasa di udara.
Emune membuka Buku Kebijaksanaan. Ia sedikit kesal karena tidak menemukan petunjuk apa pun tentang jantung Elqoz. Ia ingat Olevander mengatakan untuk melempar jantung itu pada musuhnya. Ia menoleh ke arah tas Proner, tempat jantung Elqoz disimpan. Ia menunduk dan tersenyum, mungkin hanya perasaannya, Proner dan Leonz terlihat bercahaya.
“Aku ingin jalan-jalan,” ucap Avena.
“Malam-malam begini?” tanya Emune.
“Ya, sebentar saja. Hutan ini terasa damai. Terlalu damai malah,” jawab Avena.
“Membuat gugup, bukan?” tanya Emune.
“Begitulah. Emune, soal Elqoz, relakan dia. Tugasnya sudah selesai,” ucap Avena. Emune tidak boleh bersedih dan lemah apalagi saat mereka sedikit lagi menuju peperangan dengan Orsgadt.
“Ya. Aku tahu. Terima kasih.”
Avena berjalan kaki ke arah rimbunnya pepohonan. Ia tidak berkata apa-apa pada Horeen yang berpapasan dengannya. Avena sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Sedikit lagi kita sampai di Eimersun. Apa rencana selanjutnya?” tanya Horeen.
“Elric sedang menyusun kekuatan di Eimersun. Aku tidak yakin dua kerajaan lain akan bergabung. Aku mengkhawatirkan Imperia.” Emune melempar sebatang ranting kecil ke api unggun.
“Raja Imperia terlalu lembek. Aku sepertinya pernah mendengar desas-desus yang tidak baik mengenainya. Sial, aku lupa.” Horeen melampiaskan kekesalannya pada dua ekor kelinci yang bersembunyi ketakutan di semak-semak. Kelinci-kelinci itu kabur ke persembunyian mereka.
“Peri bisa lupa? Kupikir kalian makhluk hebat tanpa cacat cela,” goda Emune.
Horeen meringis. “Anggap saja kekuatan kami terkadang bisa membuat kami pelupa,” jawabnya sambil menyeringai.
Emune tertawa kecil. Ia bersyukur masih bisa tertawa dalam situasi penuh kecemasan seperti ini. Aku masih waras, batinnya. “Sebaiknya kau temani Avena.”
“Biarkan saja gadis itu melakukan apa maunya,” ucap Horeen ketus.
“Lebih baik kau pergi daripada kau membuat jurang saat terkejut mendengarnya berteriak,” goda Emune. “Horeen, Avena tidak akan mengerti perasaanmu jika kau hanya menggunakan isyarat. Dia gadis yang berbeda.”
“Saran percintaan. Sepertinya kau sedang merindukan pangeranmu.” Horeen menghujani Emune dengan embun malam yang menkristal lalu jatuh bagai salju.
“Hentikan!” protes Emune. “Tentu saja aku merindukan Elric apalagi jika setiap waktu harus berada di dekat orang-orang yang sedang jatuh cinta.”
__ADS_1
“Ha-ha-ha, aku pergi. Terima kasih.” Horeen melesat pergi.
“Cinta ... Elric ....” Emune menyandarkan kepalanya dan mencoba memejamkan mata.
Horeen menghampiri Avena namun tetap menjaga jarak. Gadis itu seperti tidak peduli padanya. Ia terus saja berjalan. Sekali dua ia menunduk menyentuh bunga-bunga liar dan tersenyum.
“Kau tidak lelah berjalan?” tanya Horeen. Ia siap menggendong Avena sampa ke mana pun.
“Tidak.” Avena melanjutkan jalannya.
“Kau mau ke mana?”
“Ke mana saja.”
“Jangan jauh-jauh. Hutan ini berbahaya.” Horeen merasa wajib memperingatkan Avena.
“Terima kasih. Aku bisa menjaga diriku.”
“Keras kepala. Seingatku beberapa kali kau hampir celaka.”
“Kau mau meminta imbalan atas bantuanmu?” tanya Avena.
“Tidak. Leonz sangat lemah, begitu juga Proner yang punya masalah terbang. Bahaya jika kita terlalu jauh.”
“Kita? Aku tidak mengajak atau menyuruhmu mengikutiku. Kembalilah!” usir Avena.
“Untuk apa? Tidak ada pria yang bisa kugoda.”
“Pria?” tanya Horeen heran.
“Proner jelas-jelas menyukai Leonz. Versi dewasa Leonz,” jawab Avena.
“Kau tidak menganggapku pria?”
“Kau peri, bukan?” tanya Avena.
“Kau lebih suka manusia?”
“Sepertinya begitu,” jawab Avena malas.
Horeen marah lagi. Kali ini pepohonan yang berada jauh di sebelah barat yang jadi korbannya. Gadis kepala batu, gerutunya dalam hati. Di balik kekesalannya, ia heran karena Avena tidak menyerangnya seperti yang biasa ia lakukan jika di dekatnya. “Kau hanya tidak tahu bahwa peri dewasa bisa lebih baik dari manusia,” ucapnya.
“Begitukah?” tanya Avena.
Horeen sudah tidak bisa membiarkan kalimat apa pun dari Avena membuatnya marah dan mundur. Ia berdiri di depan Avena. Menatap tak berkedip pada gadis yang terus membuatnya kesal karena tak memedulikannya.
Avena diam saja saat Horeen menghalangi jalannya. Ia heran karena Horeen hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Ia lalu teringat pada ucapan Emune tentang tatapan cinta. Ia tidak tahu cinta seperti apa tapi dengan Horeen berdiri di depannya saja, tubuhnya seperti lemas.
__ADS_1
Horeen menanti reaksi Avena. Ia siap dihajar habis-habisan oleh gadis itu. Kali ini ia tidak akan mundur sedikit pun. Horeen hampir saja melompat kaget saat Avena menyandarkan kepala di dadanya. Lengan gadis itu melingkar di badannya. Avena sedang memeluknya.
Balas memeluk, Horeen merasa seperti sedang bermimpi. Semua kekesalannya langsung sirna. Ia menggendong Avena lalu duduk di atas rumput tebal yang sedikit basah karena embun. Avena yang ada dalam pangkuannya masih menyembunyikan wajahnya. Horeen tersenyum, gadisnya sedang malu rupanya. Emune benar, isyarat tidak akan dimengerti oleh Avena.
Dengan lembut Horeen menyibak rambut putih Avena. Ia membelai pipi Avena yang terasa sejuk di tangannya. Avena akhirnya menggerakkan kepalanya dan menatap Horeen. Ia tersenyum melihat Horeen yang lebih dulu tersenyum padanya.
Horeen menyangga punggung Avena lalu mulai mencium bibirnya. Bibir yang terasa lembut dan sejuk itu berubah menghangat saat Avena membalas ciumannya. Tidak ada lagi yang lebih membahagiakan keduanya daripada pengakuan atas cinta walau tanpa kata-kata.
Kelembutan Horeen membuat Avena melayang. Mereka pernah berciuman dengan ganas saat di Orsgadt namun ini lebih indah dan seolah tak ingin ia akhiri. Ia tidak lagi berpikir tentang segala kesulitan yang pernah dan mungkin akan ia alami. Ada Horeen bersamanya, ia merasa tenang.
Horeen menghentikan ciumannya. Ia menatap mata Avena yang indah. “Hentikan aku kapan saja,” ucap Horeen.
Avena menunduk malu. Ia tidak mau Horeen berhenti. Avena menarik tengkuk Horeen, memintanya meneruskan apa pun yang ia mau. Avena sudah siap.
Tangan-tangan Horeen bergerak membaringkan Avena di atas rumput. Rambut putih Avena sangat kontras dengan warna rumput di malam yang agak gelap. Bibir Horeen ******* bibir Avena. Tidak ada lagi batas di antara mereka berdua, semua lebur dalam hasrat untuk saling memiliki.
Horeen mengagumi kecantikan Avena dan memuja keindahan lekuk tubuh gadis itu. Desah halus dan bisikan mereka mengisi malam di hutan ajaib. Gelombang dingin menyebar di hutan ajaib saat keduanya mencapai puncak. Avena telah menjadi milik Horeen.
Emune menoleh ke arah Proner. Gelombang dingin barusan membuat Proner terbangun dan segera merapatkan mantelnya yang menutupi tubuh Leonz. Gadis cilik itu tidak bergerak sedikit pun. Emune sendiri mendekatkan diri ke api unggun. Pikirannya melayang ke Elric. Ia merindukan senyum dan pelukan kekasihnya.
Horeen dan Avena berpelukan erat. Avena yang keturunan peri es sekarang hanya merasakan hangat mengalir di tubuhnya. Horeen yang membuatnya merasa hangat. Ia bersembunyi lagi di dada Horeen karena malu.
“Setelah ini pun kau masih malu?” goda Horeen.
“A-aku ....” Avena membuang muka.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku. Kalau aku tidak bisa memilikimu, aku akan mengamuk dan membuat jurang di setiap inci Artamea,” ucap Horeen. Ia memang sempat memikirkan itu sebelumnya.
“Kau konyol.” Avena menggigit bibirnya.
“Kau yang membuatku jadi konyol,” ucap Horeen.
Mereka berciuman lagi. Avena sekarang mengerti ucapan Emune tentang tatapan cinta. Ia melihatnya di mata Horeen.
“Aku tidak ingin pergi dari sini tapi sebaiknya kita kembali,” ucap Horeen. Mereka cukup lama meninggalkan teman-teman mereka.
“Ya. Emune juga harus istirahat,” ucap Avena.
Setelah mengenakan pakaian, keduanya melesat kembali ke tempat Emune. Betapa terkejutnya Horeen dan Avena melihat pohon-pohon tinggi dan besar membentuk lingkaran dan mengurung teman-teman mereka. Dari celah antar pohon, Avena bisa melihat Emune dan Proner yang berjaga dengan senjata terhunus. Leonz masih tertidur di dekat Proner.
Marah karena sibuk berkencan dan menyebabkan teman-teman mereka dalam bahaya, Horeen dan Avena mengamuk. Dalam sekejap pohon-pohon besar itu mereka buat melesat dan jatuh di tempat yang jauh.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Avena.
“Tidak apa-apa. Pohon-pohon itu tiba-tiba saja muncul,” jawab Emune. Wajahnya pucat karena terkejut dan kelelahan.
“Jangan khawatir, aku dan Avena bisa mengatasi mereka,” ucap Horeen.
__ADS_1
Mereka bersiap-siap untuk serangan lain yang mungkin saja muncul malam ini.