
Tiga hari sejak penobatan Ratu Agung Orsgadt, Ruang pertemuan yang ada di utara aula dipenuhi oleh orang-orang berwajah serius. Ratu Elizai duduk di kursi utama dengan wajah serius. Ia menatap semua orang yang duduk rapi mengelilingi meja, yaitu para penasehat dan tiga belas orang bangsawan termasuk Proner yang baru dilantik.
Sang ratu tersenyum pada penasehat barunya. Ia adalah Urndie, orang tua terpelajar yang menjadi guru dan sahabatnya di Ulrych. Tak terkira rasa bahagia Ratu Elizai saat bertemu Urndie kemarin. Ia hampir melompat-lompat kegirangan melihatnya seandainya saja Ratu Adelaine tidak ada. Ya, selama beberapa waktu, sang ratu Eimersun mengukuhkan dirinya sebagai guru khusus yang akan mengajari tata krama kerajaan dan membantu merubah penampilannya.
“Semua wilayah sudah dibagi dengan baik, Yang Mulia. Setelah ini kita akan melakukan pendataan ulang semua sumber daya Orsgadt,” lapor Urndie.
“Bagaimana dengan pembangunan tembok perbatasan dan perumahan rakyat?” tanya Ratu Elizai. Ia sangat sedih melihat kehidupan rakyat Orsgadt yang sangat jauh dari sejahtera. Belasan tahun dilanda ketakutan, sumber daya Orsgadt pun terkuras demi memenuhi ambisi Yhourin. Hal yang paling mengerikan adalah begitu drastisnya penurunan jumlah rakyatnya karena perbudakan paksa dan kekejaman lainnya.
“Para arsitek sedang menyiapkan rancangannya, Yang Mulia.”
Rapat itu berlanjut dengan laporan-laporan lain mengenai peta kekuatan dan kondisi perekonomian Orsgadt. Kacau adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini. Meski demikian, sang ratu yakin perubahan akan membawa Orsgadt pada kebaikan.
Ratu Elizai mengikuti jalannya rapat dengan terkagum-kagum. Ia biasanya belajar dari Urndie tapi kali ini dan untuk seterusnya ia harus belajar banyak dari orang-orang bijak yang ada di hadapannya. Ia bersyukur karena ketiga penasehatnya sangat sabar membimbingnya. Ia juga berjanji akan belajar lebih giat agar jadi ratu yang cerdas dan bisa menyejahterakan rakyatnya.
Begitu rapat selesai, sang ratu bergegas pergi ke kamarnya. Ia masuk tergesa-gesa sampai hampir tersungkur karena menginjak gaunnya sendiri. Untung saja ada Elric yang menangkapnya.
“Cara masuk yang aneh, Elizai,” komentar Ratu Adelaine sambil geleng-geleng kepala. Calon mantuku terlalu banyak berkeliaran di luar istana, gumamnya sedikit sedih hanya dalam hati.
“Maaf, Ibu. Aku terburu-buru,” jawab Emune malu. Ia tidak menyangka calon mertuanya ada di kamarnya. Padahal ia berharap bisa berkumpul santai hanya dengan teman-temannya hari ini.
“Ibu rasa kita harus menambah jam pelajaran etika mulai besok. Baiklah, sekarang kau bisa bersantai dengan teman-temanmu tapi Ibu tunggu kehadiranmu di perpustakaan sore ini,” ucap Ratu Adelaine. Ia tersenyum tipis lalu keluar dari kamar dengan keanggunan tanpa cela dari seorang ratu Eimersun.
“Baik, Ibu,” ucap Emune.
Pintu kamar Emune tertutup. Seperti khawatir kalau-kalau Ratu Adelaine sedang menguping di luar, Emune membuka pintu kamarnya dan melongok mencari tahu. Ia langsung menutup pintu kembali saat mendengar suara Ratu Adelaine sedikit keras melarangnya melongok seperti itu. Semua yang ada di kamar Emune tertawa terbahak-bahak.
“Elric, tolong aku. Ajak Ibu pulang ke Eimersun. Kepalaku sakit. Aku bisa mati kalau harus memakai gaun dan belajar tata krama sepanjang hari,” pinta Emune dengan mata berkaca-kaca.
“Ayah saja tidak bisa menyuruhnya pulang, apalagi aku. Ibu sudah terlanjur jatuh cinta pada calon mantunya,” ucap Elric geli.
“Bagaimana kalau kita pergi ke selatan lagi?” tanya Emune sambil meminta dukungan pada teman-temannya karena ia sangat stres menghadapi peran barunya sebagai ratu. Emune menghela nafas berat.
Fiona tertawa geli. Emune memang lucu. Meski sudah menjadi ratu, ia tetap saja Emune, si gadis Ulrych yang sederhana.
“Apa kau yakin Ratu Adelaine tidak akan menyusulmu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Itu bisa saja terjadi,” jawab Emune lemas.
“Sekarang kau tahu kenapa aku selalu kabur dari istana,” ucap Elric. Ia mengajak Emune duduk.
Fiona menahan Emune dan mengajaknya ke kamar ganti. Ia tahu adik angkatnya itu pasti gerah memakai gaun yang berat dan tebal. Bersama Leonz ia membantu Emune berganti pakaian dengan gaun yang lebih ringan dan santai. Mereka lalu kembali ke kamar.
Siang ini, kamar Emune memang penuh dengan kehadiran teman-temannya yang akan berpamitan. Fiona hari ini akan kembali ke Eimersun menyusul Greg dan Arrand yang sudah lebih dulu ke sana. Avena dan Horeen akan ke selatan, ke wilayah para peri. Leonz sudah pasti akan kembali ke hutan Dumina. Jika Elric kembali ke Eimersun besok pagi maka Proner satu-satunya yang tersisa karena ia yang akan menjaga Emune.
“Banyak sekali yang harus kau lakukan Emune. Aku yakin kau bisa,” ucap Fiona. “Jangan khawatir soal Ayah. Aku dan Greg akan menjaganya.”
“Terima kasih. Hmmm, bagaimana kalau kita bertukar?” tanya Emune pada Fiona. Ide itu tercetus begitu saja di kepalanya.
“Bertukar? Kau gila. Tidak mau! Aku mana sanggup berhadapan dengan Ratu Adelaine. Aku masih suka berguling-guling di tanah dan memanjat pohon,” tolak Fiona dengan tegas.
Ucapan Fiona disambut dengan tawa renyah yang lain sementara Emune cemberut. Elric hanya meringis. Ibunya memang galak dan disiplin jika sudah menyangkut tata krama.
__ADS_1
“Nah, aku pamit dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik, Adik Kecil,” ucap Fiona.
Fiona dan Emune berpelukan. Berat bagi Emune melepas kakak angkatnya itu. Emune sudah meminta Arrand, Greg dan Fiona untuk pindah ke Orsgadt tapi mereka menolak dengan halus. Emune sangat mengerti kecintaan Arrand akan kehangatan mentari Eimersun jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku akan menengokmu bulan depan,” janji Fiona pada Emune. Fiona mencium pipi Emune. Adik angkatnya pasti sedih tapi kewajibannya di Orsgadt tidak bisa digantikan oleh orang lain jadi ia harus bersabar.
Setelah kepergian Fiona, giliran Avena dan Horeen berpamitan. Avena sudah seratus persen pulih sejak kelelahan berperang. Horeen terlihat lebih protektif pada Avena. Tentu saja, saat ini Avena sedang mengandung buah cinta mereka.
Bagaimana dengan kutukan Horeen? Gelombang biru Elzenthum yang dipancarkan oleh Emune di medan perang sudah melenyapkannya. Setelah perang usai barulah mereka tahu bahwa Horeen adalah peri cahaya, masih satu garis keturunan dengan Raja Peri Dougraff.
“Kalian akan mengunjungiku setelah bayi ini lahir?” tanya Emune. Ia mendesah sedih karena keduanya akan pergi.
“Tentu saja. Horeen bisa menculikmu sesekali jika kau rindu pada Dunia Ajaib,” goda Avena. Mungkin karena sedang mengandung, wajahnya sinisnya berubah menjadi sangat keibuan.
“Terima kasih. Senang sekali rasanya kalau bisa kabur dari istana sesekali,” ucap Emune. “Sepertinya aku tertular sikap pemberontak Elric,” Emune meringis.
“Kami pasti datang di pernikahan kalian,” ucap Horeen.
“Horeen, kenapa suaramu berubah jadi seperti bapak-bapak?” tanya Emune. Ia jadi ingat pada Raja Peri Dougraff.
“Aku sebentar lagi jadi ayah, bukan? Lagipula usiaku sudah 379 tahun.”
Emune ternganga. “Avena, suamimu tua sekali!” serunya tanpa sadar.
“Hahaha, aku juga baru tahu. Jangan khawatir, usianya sudah setua itu tapi tubuhnya masih segagah Elric,” ucap Avena sambil tersipu malu. Horeen batuk-batuk mendengar ucapan Avena.
Emune tersenyum geli. “Aku selalu mengharapkan yang terbaik untuk kalian,” ucap Emune sambil memeluk Avena.
“Untukmu juga,” balas Avena dan Horeen.
“Horeen peri cahaya jadi dia bisa menghilang seperti itu,” ucap Leonz yang tahu isi kepala Proner.
“Bisakah kau tidak membaca pikiranku?” ucap Proner kesal.
“Itu resiko menjadi Hertena. Kau tidak suka?”
“Bu-bukan tidak suka. Aneh saja rasanya.” Proner mendesah. Terkadang ia berharap Leonz bisa seperti gadis-gadis normal lainnya. Sekarang ia mengerti peringatan dari Raja Zyruone, calon ayah mertuanya.
“Hmmm, baiklah. Aku tidak akan membaca pikiranmu kecuali ada situasi darurat,” janji Leonz.
“Benarkah? Terima kasih.” Proner mencubit pipi Leonz.
Emune dan Elric sekarang duduk berhadapan dengan Leonz dan Proner. Semua terlihat biasa tapi saat hanya dirinya dan Leonz yang bergerak, ia tahu bahwa Leonz sedang membuat ruang khusus untuk mereka berbicara berdua. Sejak menemukan inti Elzenthum pada dirinya, Emune semakin peka pada banyak hal meski belum sempurna karena seperti kata Leonz, perlu waktu untuk menguasai dan melatihnya.
“Masih memikirkan Goenhrad?” tanya Leonz.
“Ya. Aku tahu yang di menara itu hanya ilusi, bukan Goenhrad,” jawab Emune.
Leonz tersenyum. “Itu benar. Aku hanya mengujimu. Kau orang yang hebat, Emune. Sangat pemaaf.”
“Berat untuk memaafkannya tapi lebih berat lagi jika menyimpan dendam. Apa aku benar jika menganggapnya sebagai korban kegilaan Yhourin, sama seperti Raja Thenosyes?” tanya Emune. Pasti ada sejarah kelam yang mendasari semua kejahatan Yhourin.
__ADS_1
“Kau benar. Yhourin terlalu licik dan nekat.”
“Di mana Goenhrad sekarang?”
“Di Imperia. Jangan khawatir, dia tidak akan berulah. Hidupnya tenang sekarang.” Leonz tersenyum. Ia bisa melihat Goenhrad yang sedang menatap ke arah timur sambil memeluk tubuh kecil Felicia. Wajahnya yang tampan memancarkan kelegaan yang teramat sangat.
“Rencana apa yang sedang kau buat, Leonz?” tanya Emune. Jika seorang Hertena sibuk menyelamatkan seorang penjahat seperti Goenhrad, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Emune, aku tidak mau kau banyak berpikir. Tugasmu sebagai ratu sudah sangat berat. Kelak akan ada situasi darurat yang membutuhkan bantuan dari Goenhrad.”
“Bantuan Goenhrad? Leonz, kau membuatku semakin pusing.”
“Hanya itu yang bisa kukatakan. Emune, jadilah ratu yang bijak. Kelak kau akan tahu kenapa aku mengambil langkah ini.” Leonz berkedip pada Emune.
Emune tersadar saat suara Elric dan Proner terdengar kembali. Ia menatap Leonz, mencoba membaca wajah gadis cantik di hadapannya. Leonz tidak akan pernah mengungkap sesuatu jika dianggap tidak perlu. Emune menyerah dan hanya geleng kepala pelan.
“Sudah saatnya untuk pergi,” ucap Leonz. Ia tersenyum santai.
“Secepat ini? Bagaimana kalau Proner merindukanmu?” goda Elric.
Leonz akan membuka mulutnya untuk menyahuti Elric tapi langsung terdiam. Ia sudah berjanji untuk tidak membaca pikiran Proner jadi ia juga tidak akan menyuarakannya meski sudah tahu.
“Jangan khawatir Pangeran Elric, Leonz bisa muncul kapan saja. Khawatirkan saja diri Anda yang harus menempuh jarak jauh dari Eimersun ke sini untuk menemui Yang Mulia Ratu,” jawab Proner mewakili Leonz. Ia menyeringai jahil.
“Aaarghhh! Menyebalkan! Pinjamkan aku cermin ajaib atau apa saja agar bisa melihat Emune setiap hari,” pinta Elric pada Leonz.
“Bukankah sudah ada di hati, Yang Mulia?” tanya Leonz. Ia tahu betapa Emune dan Elric saling mengasihi jadi terpisah sejauh apa pun mereka pasti saling ingat.
“Ha-ha-ha, kau benar,” jawab Elric sedikit malu. Ia menoleh pada Emune yang tersenyum sangat manis.
“Emune, biarkan semesta bekerja selagi kau membangun kembali kejayaan Orsgadt. Kau tidak pernah sendiri, selalu ada kami yang akan menemanimu,” ucap Leonz. Gadis itu memeluk Emune erat. Membuat tanda lingkaran dan tiga garis miring di dalam lingkaran, tepat di belakang tengkuk Emune tanpa menyentuh kulitnya.
“Terima kasih, Leonz,” ucap Emune.
Usai memeluk Emune, Leonz menghampiri Proner. Proner memeluk Leonz dan mengecup keningnya. Leonz membuat lingkaran pelindung dengan sebuah pentagram di dalamnya, di punggung Proner. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menjaga Proner karena calon suaminya itu harus terus menjaga Emune.
Leonz kemudian menghilang. Proner mendesah. Ia tidak pernah membayangkan akan memiliki calon istri yang sangat muda dan memiliki garis keturunan yang rumit, yaitu keturunan campuran peri Hertena dan seorang raja manusia. Betapa anehnya takdir, gumamnya dalam hati. Ia pamit pada Emune dan Elric karena harus ke aula. Ada yang harus dibahas dengan ketiga penasehat kerajaan.
“Elric, menurutmu apa aku bisa jadi ratu yang baik?” tanya Emune saat kedua lengan Elric telah memeluknya.
“Aku yakin kau bisa. Aku baru kali ini bertemu dengan seorang yang teguh pendirian dan berhati baik sepertimu. Kau akan membawa Orsgadt pada kejayaan.”
“Terima kasih. Kau selalu memberiku semangat.”
“Apa pun untukmu, Sayang,” ucap Elric.
Emune merasakan bibir Elric menyentuh bibirnya. Sangat pelan dan lembut. Elric menghentikan ciumannya lalu menarik Emune hingga kepala gadis itu bersandar di dadanya.
“Kemuliaan untuk Orsgadt dan Yang Mulia Ratu,” ucap Elric.
Emune mengulangi kalimat kekasihnya dengan mantap. Perjuangan sebagai ratu Orsgadt belum usai namun baginya ini adalah awal yang bagus. Perasaan damai menguasainya. Senyum bahagia seketika muncul di wajah cantiknya.
__ADS_1
Orsgadt yang agung, Orsgadt yang damai.
TAMAT